SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Rencana Yang Gagal


__ADS_3

Selesai makan, aku pun menyimpan sisa makanan itu ke dalam lemari makan, lalu lanjut mencuci piring. Setelah semuanya beres, aku kembali duduk di sofa panjang lalu menyalakan rokok.


Begitu juga dengan bang Darma, dia duduk di depan ku sambil menghisap rokok nya, dan mengotak-atik ponsel nya kembali.


Aku memperhatikan raut wajah nya yang berubah-ubah, saat melihat layar ponsel nya sendiri. Karena penasaran, akhirnya aku pun bertanya pada nya.


"Ada apa? Kenapa muka mu kayak bunglon gitu?" tanya ku dengan kening mengkerut.


Mendengar pertanyaan ku, bang Darma pun langsung menoleh dan menatap ku bingung. Dia menautkan kedua alisnya, lalu balik bertanya.


"Kayak bunglon? Maksud nya apa sih?" tanya bang Darma.


"Maksud nya, kenapa muka mu berubah-ubah gitu? Apa ada masalah?" tanya ku lagi.


"Gak ada sih. Aku cuma penasaran aja, sebenarnya Yuni sakit beneran atau bohongan." jawab bang Darma.


"Ooohh, itu toh. Kirain apaan. Emang siapa yang bilang kalau Yuni lagi sakit?" selidik ku.


Aku menatap serius kepada nya, sambil sesekali menghisap rokok yang ada di tangan ku. Mendapat tatapan seperti itu dari ku, bang Darma pun kembali gelisah dan sedikit panik. Dia tampak kebingungan untuk menjawab pertanyaan ku.


Melihat gelagat aneh bang Darma, aku pun semakin penasaran dan kembali melontarkan pertanyaan pada nya.


"Kenapa diam? Emang siapa yang ngabarin? Babon nya ya?" tebak ku.


Karena mendapat pertanyaan yang bertubi-tubi dari ku, dengan terpaksa akhirnya bang Darma pun membuka suara nya kembali.


"I-iya, Di-Dina yang ngabarin." jawab bang Darma terbata-bata.


"Tu kan, bener dugaan ku tadi. Pasti babon nya yang punya ulah." lanjut ku.


Bang Darma hanya diam mendengar ocehan ku. Dia kembali menatap layar ponsel nya, yang sedari tadi masih menyala di tangan nya. Melihat keterdiaman bang Darma, aku pun kembali melanjutkan ocehan ku.


"Emang dia bilang apa aja? Apa dia meminta mu untuk datang kesana?" tebak ku lagi.


"I-iya," jawab bang Darma masih terbata.

__ADS_1


Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya secara kasar. Aku sudah filing, pasti Dina dan Yuni sedang merencanakan sesuatu untuk meluluhkan hati suami ku itu.


"Dasar benalu gak tau diri. Baru aja satu hari di tinggal bang Darma. Eeehh, udah sibuk nyuruh dia kesana lagi." umpat ku dalam hati.


Sebenarnya aku kesal dan jengkel, mendengar mereka meminta bang Darma untuk datang kesana. Tapi aku tidak bisa berbuat apa-apa, semua keputusan ada di tangan bang Darma. Apakah dia mau menemui mereka atau tidak.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya bang Darma pun memutuskan untuk menemui mereka. Dia ingin melihat keadaan Yuni, apakah benar-benar sakit, atau cuma alasan saja, agar bang Darma mau datang kesana.


"Dek, abang kesana bentar ya! Abang cuma mau mastiin aja, apa Yuni beneran sakit atau tidak." pamit bang Darma.


"Ya, pergi lah!" jawab ku ketus.


Setelah mendapat izin dari ku, bang Darma pun langsung bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju pintu utama. Setelah bang Darma keluar dari rumah, aku pun langsung berdiri dan melangkah menuju kios.


"Dari pada nganggur, mendingan buka kios aja. Siapa tau ada yang datang bayar hutang atau belanja." gumam ku.


Sesudah membuka kios, aku mulai membersihkan dan merapikan barang-barang dagangan ku tersebut dengan kemoceng. Setelah selesai, aku kembali masuk ke dalam rumah dan merebahkan diri di sofa panjang.


"Sedang apa bang Darma di sana ya? Apa benar dia hanya ingin melihat keadaan Yuni? Atau jangan-jangan, dia sedang asyik memuaskan hasrat mereka berdua?"


Gumam ku menduga-duga, dengan pandangan kosong menatap langit-langit ruang tamu.


Setelah menempuh perjalanan selama hampir sepuluh menit, akhirnya Darma pun tiba di depan rumah Dina. Sesudah membayar ongkos ojek, Darma pun segera berjalan menuju pintu, lalu mengetuk nya beberapa kali sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum," salam Darma.


"Wa'laikum salam, ya bentar!" pekik Dina dari dalam.


Dina keluar dari kamar nya, lalu berlari kecil untuk membuka kan pintu. Hanya dengan menggunakan lingerie yang tipis dan transparan, Dina pun membuka pintu dengan senyum yang mengembang di bibir tipis nya.


Setelah pintu terbuka, mata Darma pun langsung terbelalak lebar, ketika melihat penampilan Dina yang sangat menggiurkan di depan nya.


Darma mematung di tempat nya berdiri, sambil memandangi tubuh seksi Dina. Saking terpesona nya, sampai-sampai Darma menelan ludah nya dengan kasar sampai berulang-ulang kali.

__ADS_1


Melihat wajah Darma yang sedang tergiur dengan penampilan nya, Dina pun langsung tersenyum miring, dan semakin membusung kan dada nya ke depan Darma.


Dan itu berhasil membuat Darma semakin tidak karuan. Dia semakin membulatkan mata nya, dengan mulut yang menganga lebar.


"Hahahah, akhirnya berhasil juga jebakan batman ku. Sebentar lagi, pasti dia akan mengajak ku bercinta sampai puas." batin Dina girang.


"Ka-kau habis ngapain, Din? Kok pakaian mu seksi gitu?"


Tanya Darma gugup, sambil terus memandangi dua benda kenyal Dina yang tampak menyembul keluar.


"Gak ngapa-ngapain kok, sayang. Aku memang sengaja memakai pakaian ini, hanya untuk menyambut kedatangan mu." jawab Dina sambil tersenyum genit, dan menggigit bibir bawah nya.


Darma langsung tersentak kaget, saat mendengar penuturan Dina yang dengan terang-terangan mengutarakan niat nya tersebut.


"A-apa maksud mu?" tanya Darma tergagap.


"Ah, kau ini. Masa gitu aja gak paham sih? Ayo masuk, kita ngobrol nya di kamar ku aja, biar lebih asyik!" ajak Dina.


Tanpa menunggu jawaban Darma, Dina pun langsung menarik tangan mantan suami nya itu, lalu membawa nya ke dalam kamar. Bagaikan lembu yang di cucuk hidung nya, Darma pun hanya menurut dan mengikuti langkah Dina tanpa berkata apapun lagi.


Sampai di dalam kamar, Dina pun segera mengunci pintu dan merangkak naik ke atas ranjang. Dia membuka semua pakaian nya, lalu melebarkan kedua kaki nya di hadapan Darma.


"Ayo sini sayang, cepat puas kan aku! Nikmati lah tubuh ku ini sesuka hati mu. Kita akan bersenang-senang hari ini, tanpa gangguan dari siapapun." rengek Dina sambil melambaikan tangan nya ke arah Darma.


Mendengar kata-kata tanpa gangguan dari siapapun, Darma pun langsung tersadar seketika. Dia teringat akan niat utama nya datang ke rumah itu.


"Kau bilang Yuni sakit, dimana dia sekarang? Aku mau lihat keadaan nya." tanya Darma.


Wajah Dina yang tadi nya berseri-seri, kini berubah masam. Dia tampak sangat kesal, saat Darma menanyakan tentang keadaan anak nya tersebut.


"Ada tuh, lagi tidur di kamar nya. Dia baru aja minum obat, trus langsung tidur." jawab Dina.


Setelah mendengar jawaban Dina, Darma pun langsung keluar dari kamar, tanpa memperdulikan Dina yang masih telentang di atas ranjang dengan tubuh polos nya.


"Dar, mau kemana? Kok aku di tinggal gitu aja sih?" pekik Dina kesal.

__ADS_1


Darma sama sekali tidak menghiraukan pertanyaan Dina, dia terus saja melangkah kan kaki nya menuju kamar Yuni.


Sesampainya di depan pintu, Darma pun langsung masuk ke dalam, lalu mendekati tubuh Yuni yang sedang terbaring di atas kasur dengan mata tertutup.


__ADS_2