
Setelah mendengar sindiran ku, Yuni pun mulai mendongakkan kepala nya. Dia menatap wajah ibu nya dan mulai mengeluarkan air mata buaya nya di depan kami semua.
"Kok malah nangis sih, Yun? Sebenarnya kau itu bener-bener di pukul atau gak sih sama perempuan gila itu?" selidik Dina.
Bukan nya menjawab, tangis Yuni malah semakin pecah. Bahkan dia sampai sesegukan di depan ibu nya.
Bang Darma tampak heran dengan tingkah anak nya. Dia melihat Yuni dengan kening yang mengkerut.
Suasana sidang pun menjadi hening sesaat, hanya suara tangisan Yuni yang masih terdengar di telinga kami bertiga.
"Udah, gak usah banyak drama! Tinggal bilang iya atau tidak aja pun lelet kali." cibir ku pada Yuni.
Aku mulai membuka percakapan dengan nada santai, dan aku juga masih berdiri di depan pintu dengan di temani oleh tongkat sakti ku yaitu si kayu balok.
"Diam kau perempuan gila! Yang aku tanya itu anak ku bukan kau." bentak Dina ketus.
"Anak mu itu gak bakalan ngakuin kesalahan nya." balas ku.
"Karena apa? Karena dia itu sama seperti kau. Tukang tipu, tukang bohong, tukang fitnah, tukang adu domba. Dan masih banyak lagi tukang-tukang lain nya." lanjut ku.
"Memang kurang ajar kali mulut mu itu ya! Mau minta di tabok lagi kayak nya mulut kotor mu itu!" balas Dina.
Dina tampak semakin emosi dan geram mendengar penuturan ku barusan. Dia mulai mendekati ku lagi dan maju beberapa langkah di depan ku.
"Eits, kau itu budeg atau pekak sih? Kau gak dengar ya aku tadi ngomong apa, hah?" tanya ku dengan suara lantang.
"Kalau kau berani mendekati ku. Maka balok ini yang akan melayang ke kepala mu itu!" balas ku dengan tatapan sinis.
"Apa kau masih ingat dengan kata-kata ku tadi?" lanjut ku.
Aku memberi peringatan kepada Dina sambil menodongkan kayu balok ku pada nya. Dia pun kembali mundur dan mendekati anak kesayangan nya lagi.
"Cepat ngomong, YUN!" bentak bang Darma.
Setelah sekian lama terbengong seperti ayam penyakitan, akhirnya bang Darma pun kembali membuka suara nya.
"Jangan kau buat suasana nya jadi semakin kacau kayak gini!" tambah bang Darma.
Dina dan Yuni pun langsung terlonjak kaget, mendengar suara bang Darma yang cukup memekakkan telinga.
"Ma-maafin Yuni, pa-pak! Yuni memang bohong tadi karena Yuni kesal sama dia, pak."
Yuni terbata-bata menjawab pertanyaan bang Darma sambil menunjuk ke arah ku. Aku yang di tunjuk pun langsung mengerutkan kening.
__ADS_1
"Kesal kenapa?" selidik bang Darma.
"Tadi siang Yuni datang kesini. Trus dia marah-marah sama Yuni sambil nendang meja." bohong Yuni lagi.
Yuni menjelaskan pada bang Darma sambil kembali menunjuk ke arah ku. Aku langsung tersenyum miring setelah mendengar kebohongan anak tiri ku itu.
Setelah mendengar pengakuan Yuni, bang Darma pun langsung menoleh pada ku dengan wajah yang tampak geram, dan juga mengepalkan kedua tangan nya.
"Kau itu apa-apaan sih, dek? Anak ku datang kesini bukan nya di baikin malah di marah-marahin. Pake nendang meja segala pulak!" omel bang Darma pada ku.
Prok prok prok...
"Wow, amazing! Kalian sungguh keluarga yang saaaangat serasi. Gak anak, gak bapak, gak mantan istri, semua nya sama saja. Sama-sama SETAN kalian semua!" bentak ku kuat.
Aku membentak dengan suara yang melengking sambil bertepuk tangan melihat kekompakan mereka bertiga, yang mulai mengeroyok ku secara bersamaan.
"Jaga ucapan mu itu, dek! Atau kalau tidak abang akan..."
Bang Darma mengangkat satu tangan nya ke udara. Dia ingin melayangkan telapak tangan nya itu ke wajah ku.
Aku pun langsung siaga di tempat. Sebelum tangan bang Darma mendarat di wajah ku, aku sudah mendorong dada nya duluan dengan menggunakan kayu balok ku.
Mendapatkan serangan itu, bang Darma pun langsung meringis kesakitan sambil memegangi dada nya.
"Sukurin! Siapa suruh berani macam-macam sama ku." balas ku.
"Apa kalian juga mau bernasib sama kayak dia, hah?" tanya ku.
Aku bertanya pada Yuni dan Dina, sambil memutar-mutar kan kayu balok itu di hadapan mereka berdua.
Melihat reaksi mereka yang sama-sama tampak ketakutan, aku pun langsung mempunyai ide yang sangat brilian untuk mengerjai anak beranak yang ada di hadapan ku itu.
"Kerjain dikit, ah! Mumpung lagi pada ngumpul semua nya, hihihi." batin ku terkikik geli.
Aku mulai melangkah perlahan, menuju ke arah Yuni dan ibu nya sambil terus memutar-mutar kan kayu balok ku tadi.
Melihat tingkah ku seperti itu, mereka berdua pun mulai berjalan mundur secara perlahan juga.
"Kenapa kalian mundur, hah? Kenapa muka kalian langsung pucat kayak mayat hidup gitu?" tanya ku sambil terus mendekati mereka berdua.
"Apa yang akan kau lakukan pada kami perempuan gila?" tanya Dina.
Dina masih saja mengeluarkan suara lantang nya pada ku. Walaupun keringat dingin sudah mulai bermunculan di kening nya, namun Dina tetap sombong dan angkuh dalam mengucapkan kata-kata nya.
__ADS_1
Dia sama sekali tidak mau terlihat lemah di depan ku dan juga di depan bang Darma.
"Oh, kau ingin tau apa yang akan aku lakukan ya?" tanya ku dengan senyum yang menyeringai.
Dina tidak menjawab, dia hanya melihat ku dengan tatapan menusuk dan penuh kebencian.
"Ini lah yang akan aku lakukan pada kalian berdua!"
"Braaakkk,"
Aku memukul kuat tiang kayu penyangga teras yang berada di samping Yuni. Mereka berdua pun langsung terpekik berjamaah, sambil menutup telinga nya masing-masing.
Bang Darma langsung terkejut ketika mendengar suara hantaman kuat, dari tiang penyangga yang aku pukul tadi. Dia langsung memelukku dari belakang sambil memegangi tangan ku.
Bang Darma ingin mengambil kayu balok itu dari tangan ku. Tapi aku langsung berontak dan dengan kekuatan penuh, aku pun melepaskan diri dari pelukan nya. Lalu kemudian aku menginjak kaki bang Darma dengan sekuat tenaga.
Dan itu berhasil membuat nya terpekik kuat sambil memegangi kaki nya.
"Aduuuh, dek! Kejam kali sih, sama abang." ucap bang Darma.
Suami ku itu melompat-lompat kesakitan, sambil terus memegangi jari-jari kaki nya.
"Mampus," jawab ku asal.
Dina dan Yuni hanya berdiam diri di tempat. Mereka terus memandangi bang Darma yang masih tampak sangat kesakitan akibat ulah ku barusan.
"Dan untuk kalian berdua! Apa kalian juga mau bernasib sama seperti tiang itu?"
Aku bertanya sambil mengarahkan kayu balok di tangan ku, ke arah tiang yang aku pukul tadi.
"Kalau badan kalian berdua tidak ingin remuk seperti tiang itu. Sebaiknya kalian pergi dari sini sekarang juga!" ujar ku.
"Tapi kalau kalian ingin hancur seperti tiang itu sih gak papa. Tetap lah disini! Biar aku buktikan pada kalian berdua, kalau aku tidak pernah main-main dengan ucapan ku sendiri." oceh ku panjang lebar.
Yuni dan Dina hanya diam tanpa menjawab apa pun pada ku. Karena tidak mendapatkan jawaban dari bibir mereka berdua, aku pun kembali memukul tiang itu sampai patah dan roboh.
Melihat aksi gila ku itu, Yuni dan Dina pun langsung lari pontang-panting keluar dari teras, tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi pada ku.
Mereka berdua lari kocar-kacir ke arah pangkalan ojek yang berada tidak jauh dari rumah kami.
Setelah melihat kepergian kedua hantu itu, aku pun mulai bernafas lega sambil mengucap syukur.
"Alhamdulillah, akhir nya selesai juga!" gumam ku.
__ADS_1