SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Merajuk


__ADS_3

Selesai berbincang-bincang mengenai bang Darma dan para pengikut nya, pak Kades pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Ya udah, mbak Ayu yang sabar ya! Mudah-mudahan aja mas Darma bisa berubah seperti dulu lagi." ujar pak Kades menyemangati ku.


"Ya, mudah-mudahan aja, pak." jawab ku lirih.


"Oke lah kalo gitu, sekarang kita pulang yok! Soal nya saya ada janji dengan istri, mau ngajak dia jalan-jalan ke mall." ujar pak Kades.


"Oke," jawab ku singkat.


Aku dan pak Kades bergegas melangkah masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai, kami berdua pun langsung bersiap-siap untuk keluar dari kamar hotel tersebut.


"Saya keluar duluan ya, mbak. Ini uang jajan untuk sampean." ujar pak kades sembari menyerahkan setumpuk uang ke tangan ku.


"Oke, makasih banyak ya, pak." balas ku dengan wajah berbinar.


"Ya, sama-sama." balas pak Kades lalu memeluk ku dan mengecup kening dan kedua pipi ku.


Setelah berpamitan, pak Kades pun mulai melangkah keluar dari kamar dan terus melangkah sampai ke parkiran. Sampai di dalam mobil nya, pak Kades segera melajukan kendaraannya dan pergi meninggalkan halaman hotel.


Sedangkan aku, aku masih duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok. Dengan pandangan menerawang, aku kembali mengingat perbuatan bang Darma yang semakin merajalela dengan perbuatan nya.


"Aku gak menyangka, hanya demi menyenangkan hati mereka, kau sampai tega berbuat keji seperti itu dengan ku, bang. Kau memang laki-laki jahat...jahat..."


Pekik ku dengan suara melengking, sambil memukul-mukul ranjang untuk meluapkan emosi yang sudah tidak terbendung lagi.


Setelah beberapa saat merenung, aku pun mematikan api rokok di dalam asbak, lalu berjalan keluar dari kamar dengan langkah yang sedikit terburu-buru.


Sesudah menyerahkan kunci kamar kepada resepsionis, aku kembali berjalan ke arah parkiran motor. Setelah sampai, aku langsung naik ke atas motor dan menjalankan nya dengan kecepatan sedang.


Setiba nya di depan rumah, aku segera memarkir motor di teras dan melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.


Ceklek...


"Assalamualaikum, wa'laikum salam." ujar ku menjawab salam ku sendiri.


Aku celingukan kesana kesini, memperhatikan setiap sudut ruangan yang sunyi senyap, seperti rumah tak berpenghuni sambil terus berjalan menuju kamar.


Setelah menyimpan tas di laci meja, aku pun merebahkan tubuh lelah ku ke atas ranjang dengan kaki yang menjuntai ke bawah.

__ADS_1


"Haduuh, capek nyaaaa." gumam ku sembari membuang nafas panjang.


"Kira-kira, si brokokok itu lagi ngapain ya di sana? Apa dia lagi asyik nyoblos gawang nya Yuni? Atau malah gawang nya Dina?" lanjut ku dengan tatapan nanar memandangi langit-langit kamar.


"Ah, biarin aja lah. Persetan dengan mereka semua. Ngapain juga aku mesti pusing-pusing mikirin mereka? Bikin sakit kepala ku aja." gerutu ku.


Selesai bergelut dengan isi kepala sendiri, aku pun membetulkan posisi baring ku, dan mulai memejamkan mata sambil memeluk guling.


"Dari pada mikirin hal yang gak penting, mendingan aku molor aja." gumam ku.


Tak butuh waktu lama, aku pun mulai terlelap dan masuk ke alam mimpi yang indah, dengan posisi miring menghadap tembok.


Baru saja tertidur selama setengah jam, tiba-tiba aku tersentak dan membuka mata, ketika mendengar suara dering ponsel yang berada di dalam laci.


"Ck, siapa sih? Ganggu istirahat ku aja." gerutu sembari beranjak dari ranjang, lalu mengambil ponsel yang masih berdering itu dengan gerakan lemas.


Setelah mendapatkan nya, aku memutar bola mata malas saat melihat nama si pemanggil.


"Hadehh, botak tuyul lagi, botak tuyul lagi. Gak capek apa, gangguin aku terus? Kayak gak ada kerjaan lain aja nih orang." gerutu ku membuang nafas kasar.


Aku merebahkan diri kembali, lalu menerima panggilan dari selingkuhan lima langkah ku tersebut.


"Bah, kok gitu sih ngomong nya? Lagi kesurupan ya?" ledek bang Agus.


"Ya, kesurupan jin iprit." jawab ku asal.


"Hahahaha, gendeng." gelak bang Agus


"Udah, gak usah pake acara haha hihi segala. Cepat ngomong, ada perlu apa telpan-telpon aku?" desak ku ketus.


"Widiih, sadis bener wanita ku ini. Udah kayak kaleng rombeng aja mulut nya, nyerocos terus dari tadi." cibir bang Agus.


"Biarin, mau kaleng rombeng kek, mau kaleng Kong Guan kek, bodo amat." balas ku masih ketus.


"Ck ck ck, mimpi apa lah aku semalam? Kok tiba-tiba kena sembur kayak gini." gerutu bang Agus sembari berdecak heran.


"Mimpi buruk." balas ku asal.


Mendengar jawaban ku, bang Agus pun langsung terdiam sejenak. Seperti nya dia bingung dengan sikap ku, yang akhir-akhir ini sering berubah-ubah. Setelah beberapa saat hening, akhir nya bang Agus pun kembali berceloteh.

__ADS_1


"Kau itu sebenarnya kenapa sih, say? Kok hobi kali ngomel-ngomel gak jelas kayak gitu? Emang nya abang ada salah apa sih sama mu?" tanya bang Agus.


"Gak kenapa-kenapa kok, aku cuma lagi pusing aja mikirin bang Darma." jawab ku dingin.


"Emang kenapa lagi dengan suami mu? Apa dia sudah berbuat kasar dengan mu?" tanya bang Agus penasaran.


"Gak lah, mana berani dia macam-macam dengan ku." jawab ku.


"Serius?" tanya bang Agus tidak percaya.


"Iya serius, untuk apa aku bohong? Gak ada guna nya juga." jawab ku.


"Kalau gak ada masalah, trus ngapain juga mikirin dia?" selidik bang Agus.


"Gak papa. Udah ah, nyinyir kali pun dari tadi. Bikin tambah mumet endas ku aja." omel ku.


"Iya iya, abang gak akan tanya-tanya lagi deh." balas bang Agus pasrah.


"Naaah, gitu kan bagus sih. Gak nyerocos terus kayak knalpot bocor." ujar ku.


"Ck, jahat banget sih. Masa abang di bilang kayak knalpot bocor?" gerutu bang Agus kesal.


"Udah, gak usah ngedumel segala. Entar tambah jelek loh, hihihi." ledek ku sembari terkikik geli.


"Siapa yang ngedumel? Abang kan cuma..."


Sebelum bang Agus meneruskan kata-kata nya, aku pun langsung menyambar nya dengan cepat.


"Udah ah, gak usah nanya-nanya lagi! Aku mau tidur nih, ngantuk banget mata ku." ujar ku.


Karena merasa kesal dengan semua ocehan ku, akhirnya bang Agus pun pasrah dan mengakhiri panggilan nya.


"Oke, tidur lah, bye!" balas bang Agus lalu menutup panggilan sepihak.


Aku mengerutkan kening sambil menatap layar ponsel, saat mendengar ucapan bang Agus.


"Lah, cuma di omongin gitu aja kok malah merajuk pulak dia, kumat!" gumam ku heran.


"Ah, biarin aja lah. Nanti kan baik sendiri gilak nya." lanjut ku.

__ADS_1


Dengan perasaan sedikit bingung, aku pun meletakkan ponsel di atas meja, dan kembali melanjutkan tidur ku yang sempat tertunda tadi.


__ADS_2