
Setelah memberikan pelajaran berharga, kepada anak tiriku Yuni. Aku pun mulai mengistirahatkan tubuh dan pikiran ku, dengan rebahan di atas sofa.
"Hoam, berat kali rasa nya mata ku ini." gumam ku.
Aku menguap dan melirik ke arah jam dinding, yang sudah menunjukkan pukul tiga sore.
"Tidur bentar, ah! Mumpung masih jam segini, hoam."
Aku terus saja menguap dan menggeliat di atas sofa. Saking enak nya menggeliat kan badan. Tanpa sadar, ternyata badan ku sudah berada di pinggir sofa, dan akhirnya...
"Bruuukk,"
"Adoooh! Sakit banget pinggang ku." pekik ku.
"Ck, ada-ada aja pun. Mau istirahat bentar, kok malah jatuh pulak! Apa aku gak boleh istirahat, ya?" gerutu ku.
Aku memekik sambil meringis, memegangi pinggang ku yang terasa remuk. Akibat jatuh dari atas sofa barusan.
Setelah agak mendingan, aku merentang kan tangan untuk mengambil bantal, yang berada di atas sofa yang aku gunakan tadi.
"Tidur di bawah aja, lah! Kalo tidur di atas, takut nya jatuh lagi nanti." batin ku.
Aku pun mulai memejamkan mata, sambil tidur telentang di atas lantai keramik, tanpa beralaskan apa pun lagi.
Setengah jam kemudian, aku tersentak kaget. Karena mendengar suara berisik, yang berasal dari depan pintu rumah kami.
"Hadeehh, gangguan apa lagi sih, ini? Mau tenang sebentar aja pun, susah kali." gerutu ku.
Tanpa melihat, atau pun beranjak dari posisi tidur ku. Aku langsung berteriak, karena merasa kesal, sudah terganggu dari tidur lelap ku tadi.
"Woyy! Muncung siapa sih itu, kok bising kali? Gak tau apa, kalau orang lagi tidur?" pekik ku.
Setelah memekik kuat, aku kembali menggeliat dan mengucek-ngucek mata, yang masih terasa sangat berat dan perih. Akibat terbangun secara tiba-tiba.
"Kok kayak suara Yuni sama bang Darma, ya?" batin ku.
"Hoam, ngantuk nyaaa!"
Sambil terus menguap, dan mengucek-ngucek mata, aku mulai beranjak dari lantai, dan berjalan menuju pintu.
Sampai di depan pintu, mata ku langsung membulat sempurna. Melihat adegan yang sedang berlangsung, di hadapan ku itu.
Setelah melihat itu, aku pun bergegas masuk ke dalam kios. Untuk mengambil kayu balok sepanjang satu meter, yang terletak di belakang pintu kios ku itu.
Sesudah mendapatkan nya, aku kembali berjalan ke arah pintu utama, dan mulai lagi berdiri di sana.
__ADS_1
Ternyata, tiga sosok manusia yang berada di teras itu, sama sekali tidak menyadari keberadaan ku. Yang sudah berdiri tegak, di depan pintu. Sambil memegangi kayu balok, yang juga berdiri di dekat kaki ku.
"Woyy, apa-apaan ini, HAH?" bentak ku dengan suara menggelegar.
Bang Darma yang sedang memeluk erat, tubuh Dina dari belakang pun. Langsung melepaskan kedua tangan nya, karena terkejut mendengar suara ku.
Mereka semua tampak ketakutan, melihat kayu balok yang ada di tangan kiri ku. Bang Darma, Yuni, dan Dina, mereka bertiga terpaku di tempat nya masing-masing.
"Kau mau ngapain, dek? Megangin kayu, kayak gitu!" tanya bang Darma memulai percakapan.
"Seharusnya, aku yang bertanya! Ngapain kau peluk-peluk dia kayak tadi, hah?" tanya ku balik.
Aku berucap sambil menunjuk ke arah Dina, dengan menggunakan kayu balok, yang ada di tangan ku itu.
Dina langsung mundur beberapa langkah, ke belakang. Karena dia takut, melihat kayu yang aku tunjukkan ke arah nya barusan.
"Abang bukan sedang memeluk dia, dek. Tapi, abang sedang mencegah nya. Agar dia, tidak berbuat kasar dengan mu, dek!" jawab bang Darma.
"Halah, alasan!" cibir ku.
"Serius, dek! Abang gak ada maksud apa pun, sama dia. Abang cuma ingin mencegah nya, karena dia mengancam akan menghajar mu, dek."
"Ngapain abang repot-repot, untuk mencegah nya? Abang pikir aku takut, sama tikus got kayak dia ini, hah?" balas ku lantang.
"Seujung kuku pun, aku gak akan pernah takut sama dia, ingat itu!" lanjut ku.
"Dan kau, manusia yang gak tau diri! Mau ngapain lagi, kau pijak kan kaki kotor mu itu di rumah kami, HAH?" bentak ku pada Dina.
"Kalau bukan karena anak ku, gak akan sudi aku datang kesini lagi." jawab Dina.
Dia berkacak pinggang, dan membusung kan dada nya pada ku.
"Heleh, ngeles pulak. Bilang aja masih kegatalan sama suami ku, ya kan?"
"Cuih, amit-amit jabang bayi. Kalo aku kegatalan sama laki-laki macam dia!" jawab Dina.
Dina membuang ludah di dekat kaki nya, sambil menunjuk ke arah bang Darma, yang berada tidak jauh dari tempat nya berdiri.
Bang Darma hanya terdiam, tanpa berbuat apa pun. Melihat tingkah mantan istri nya seperti itu, pada nya.
"Udah udah! Gak usah banyak bacot lagi, muncung mu itu! Apa sebenarnya tujuan utama kalian berdua, datang kesini?" tanya ku pada Dina dan Yuni.
"Ngadu apa lagi, hantu satu ini sama mu, hah?" lanjut ku.
Aku bertanya, sambil mengarah kan ujung kayu balok ku, ke arah Yuni. Yang di tunjuk pun langsung terkejut, dan mundur dua langkah ke belakang, untuk mendekati ibu nya.
__ADS_1
"Jaga mulut mu! Enak aja, kau bilangin anak ku hantu. Dia ini anak ku, bukan anak hantu." jawab Dina.
"Oh, gitu ya? Berarti, kalo anak nya hantu, mamak nya setan dong, hahaha!" ledek ku.
Aku tertawa terpingkal-pingkal, sambil terus memegangi kayu balok, yang ada di samping ku.
"Kurang ajar kau, perempuan gila! Awas kau ya, akan aku robek-robek mulut kotor mu itu!" ancam Dina.
Dina maju beberapa langkah depan. Dia ingin mendekati ku dan mencakar wajah ku. Aku pun tidak tinggal diam, aku langsung mengarah kayu balok ku ke wajah Dina.
"Selangkah lagi kau dekati aku. Maka, jangan salah kan aku. Kalau kayu ini, akan menghantam kepala mu itu!" ancam ku dengan wajah serius.
Dina pun langsung mundur, dan berdiri di tempat semula. Sedang kan bang Darma, dia hanya melongo, mendengar ancaman gila ku itu.
"Lihat tuh, tingkah istri gila bapak! Makin hari, makin menjadi-jadi aja ulah nya. Tadi siang aja, aku di pukul sama dia, pak."
Yuni mengadu kepada bang Darma. Dia ingin memfitnah ku, di depan bapak dan mamak nya. Aku sama sekali tidak gentar atau pun takut, atas fitnahan nya itu.
"Apa benar yang di kata kan Yuni itu, dek?" tanya suami ku yang bodoh itu.
Mereka bertiga menatap sinis pada ku. Namun, aku masih tetap santai. Karena, aku tidak merasa melakukan apa pun, kepada anak kesayangan mereka itu.
"Jawab, DEK?" bentak bang Darma pada ku.
Aku hanya tersenyum, menanggapi bentakan suami ku itu. Setelah menarik nafas dalam-dalam, aku pun kembali membuka suara.
"Jangan tanya aku, bang. Tanya kan aja sama anak mu sendiri! Bener atau tidak, yang di kata kan nya tadi?" jawab ku.
Bang Darma langsung menoleh kepada Yuni, dengan tatapan menusuk, dan penuh dengan pertanyaan.
"Kalau memang, aku memukul nya tadi siang. Coba kau suruh anak mu itu, visum ke rumah sakit! Ada gak, bekas pukulan ku itu di badan nya?" lanjut ku lagi.
"Gimana, Yun? Kalau memang kau benar-benar di pukul. Ayok, kita ke rumah sakit sekarang! Biar mamak laporkan perempuan gila ini, ke kantor polisi!" ajak Dina pada Yuni.
Yuni langsung membelalakkan mata nya, mendengar ajakan ibu nya itu. Dia terlihat sangat panik, dan kebingungan.
"Ja-jangan, mak! Ga-gak usah pergi ke rumah sakit!" jawab Yuni terbata-bata.
"Emang nya kenapa, Yun? Kan biar tau, mana yang benar dan mana yang salah?" bang Darma menimpali ucapan Dina.
"Dasar, tukang mengadu domba!" ucap ku sinis pada Yuni.
Yuni menundukkan kepalanya, dia tidak berani menatap mata kami bertiga.
"Maka nya, kalau punya mulut itu di jaga." cibir ku.
__ADS_1
"Jangan asal-asalan aja, kalo ngomong! Apa lagi, sampe memfitnah orang lain, dosa tau!" lanjut ku.