SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Pulang ke rumah


__ADS_3

"Ada-ada aja tingkah botak ku ini." gumam ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.


"Kira-kira, bang Darma lagi ngapain ya? Aktifkan ponsel dulu, ah. Siapa tau ada perbuatan yang lebih gila lagi, yang akan di tunjukkan nya dengan ku." batin ku.


Aku beranjak dari kursi dan berjalan menuju meja rias, untuk mengambil ponsel. Setelah mendapatkan nya, aku segera mengaktifkan nya, dan melihat pesan-pesan masuk dari bang Darma dan Rendi.


"Banyak bener nih pesan, apa tangan bang Darma gak capek ya, main ponsel terus."


Aku membatin, sambil terus melihat pesan yang di kirim kan oleh bang Darma. Ada dua puluh pesan dari bang Darma, dan ada dua belas pesan dari Rendi.


"Lagi dimana istri ku, sayang? Apakah dirimu masih bersama para selingkuhan mu? Kenapa gak pulang-pulang ke rumah, takut ya? Pulang dong, sayang! Abang kangen banget nih."


Itulah sebagian pesan yang di kirim kan oleh suamiku, bang Darma. Aku hanya tersenyum miring membaca tulisan bang Darma. Aku sama sekali tidak berminat untuk membalas pesan nya.


Setelah selesai membaca pesan dari bang Darma, aku beralih melihat pesan dari Rendi, mantan kekasih ku.


"Kamu lagi dimana, Yu? Kenapa gak pernah ngubungi abang? Kamu baik-baik aja kan, sayang? Abang sangat khawatir dengan keadaan mu sekarang. Kalau kamu sudah membaca pesan abang, tolong di balas ya, Yu! Biar abang bisa tenang."


Ini lah penggalan pesan dari Rendi. Dia tampak sangat mengkhawatirkan keadaan ku. Dia juga sangat mencemaskan kondisi ku.


"Aku baik-baik aja, bang. Jangan khawatir, ya. Aku gak papa kok, nanti aku kabari abang lagi, kalau aku ada waktu senggang."


Aku membalas pesan Rendi, lalu segera menonaktifkan ponsel ku kembali, dan meletakkan nya di atas meja rias.


"Apa aku pulang aja ya, sekarang. Mau sampai kapan aku disini terus? Bosan juga lama-lama berkurung di kamar ini." batin ku sambil mengamati sekeliling kamar hotel.


"Jam dua belas siang nanti, aku check out aja lah dari hotel ini. Aku pulang ke rumah aja dulu. Apa pun yang akan terjadi di sana nanti, itu urusan belakangan. Yang penting, aku pulang aja dulu." gumam ku.


Tak lama kemudian, bang Agus keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang nya.


"Bang, jam dua belas nanti, kita check out aja ya. Aku mau pulang ke rumah." ujar ku.


"Ada perlu apa pulang ke rumah, say?" tanya bang Agus.


"Aku mau menyelesaikan masalah dengan suami ku, bang. Aku ingin meminta kejelasan tentang hubungan kami." jawab ku.


"Kejelasan yang seperti apa, say? Apa kalian akan bercerai? Atau malah sebalik nya." tanya bang Agus.


Aku menghela nafas panjang, mendengar pertanyaan bang Agus. Aku juga bingung, apa yang akan aku lakukan setelah sampai di rumah nanti. Apakah akan berpisah, atau malah kembali rujuk dengan bang Darma.


"Kok diam malah diam, bingung ya?" tanya bang Agus.


"Iya, bang. Aku bingung mau ngapain nanti di rumah." jawab ku jujur.


"Gak usah bingung, say. Yang terpenting sekarang, dirimu itu harus tetap kuat. Harus bisa ikhlas, menerima apa pun keputusan dari suami mu nanti." balas bang Agus memberi semangat pada ku.


"Iya, aku ngerti, bang. Makasih ya, bang. Udah ngingetin aku, udah nyemangati aku." balas ku sambil menyunggingkan senyum pada bang Agus."


"Dan satu lagi, say. Kalau seandainya terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, cepat hubungi abang ya! Biar abang yang akan menghadapi suami mu itu." tambah bang Agus.


"Abang tenang aja, aku masih sanggup menghadapi mereka semua kok."


"Kalau sampai mereka melakukan kekerasan dengan ku, maka aku tidak akan segan-segan melaporkan mereka semua ke kantor polisi. Gampang kan." balas ku.


Aku menyalakan rokok kembali, dan menyilangkan sebelah kaki ku. Melihat reaksi ku yang masih terlihat santai, bang Agus pun mulai berjalan mendekati ku, lalu dia berjongkok di hadapan ku.


"Iya sih, say. Tapi, abang takut terjadi apa-apa dengan mu. Abang gak bisa tenang, kalau harus membiarkan mu sendirian, kembali ke rumah itu." ujar bang Agus.


Bang Agus menatap wajah ku dengan serius. Dia tampak gelisah dan risau dengan keputusan ku, untuk kembali ke rumah bang Darma.


"Gak papa, bang. Aku udah siap lahir dan batin, untuk menghadapi bang Darma. Dia gak akan berani macam-macam dengan ku, percaya lah!" balas ku.


Aku terus berusaha meyakinkan bang Agus, agar dia tidak terlalu mengkhawatirkan ku.

__ADS_1


"Aku masih bisa menjaga diri ku sendiri kok, bang. Gak usah cemas ya, botak! Aku pasti akan baik-baik saja." tambah ku lagi.


"Iya, sayang. Abang percaya kok, dirimu itu memang wanita hebat, wanita kuat. Buktinya, abang aja selalu di siksa oleh dirimu." balas bang Agus.


"Hahaha, makanya jangan bandel jadi orang. Kalo di omongin itu harus nurut, jangan ngebantah terus kerjaan nya." gelak ku.


Aku tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah bang Agus, yang tampak murung akibat ucapan ku barusan.


"Kok muka nya jadi jelek gitu, sih? Senyum dong, botak! Biar tambah ganteng nya." goda ku.


Wajah bang Agus malah semakin cemberut, mendengar ledekan ku. Dia menundukkan kepala nya, dan dia juga sama sekali tidak menjawab ucapan ku.


"Apa harus di kasih jatah dulu ya, biar cemberut nya ilang." gumam ku pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga bang Agus.


"Ayo, say!" ajak bang Agus langsung mendongakkan kepala nya.


"Ayo kemana?" tanya ku bingung.


"Tapi tadi kata nya mau ngasi jatah abang. Kok malah bingung gitu sih." jawab bang Agus.


"Oh, kirain ayo kemana! Tapi habis main, kita langsung pulang aja ya, bang!" balas ku sambil mematikan api rokok ke dalam asbak.


"Oke siap, say." jawab bang Agus.


Tanpa pikir panjang lagi, bang Agus langsung mengangkat tubuh ku ala bridal style. Kemudian, dia merebahkan tubuh ku secara perlahan ke atas ranjang.


"Abang mencintai mu, say. Saaangat mencintai mu." bisik bang Agus sambil menciumi leher ku.


"Aku juga mencintaimu, bang." balas ku.


Bang Agus tersenyum sumringah, mendengar penuturan ku barusan. Dia tampak sangat bahagia, mendengar kata-kata indah itu dari bibir ku.


"Kita mulai ya, say!" bisik bang Agus lagi.


"Ya, bang. Lakukan lah, aku akan menerima nya dengan senang hati." jawab ku.


Aku tersenyum bahagia, melihat tubuh bang Agus yang sudah basah oleh keringat nya sendiri. Setelah beberapa jam berpacu, akhir nya bang Agus pun menyudahi kegiatan nya.


"Kita mandi lagi yok, bang! Habis tu, kita langsung keluar." ujar ku.


"Oke, say." jawab bang Agus.


Aku dan bang Agus beranjak dari ranjang, dan sama-sama melangkah masuk ke kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, kami berdua langsung bergegas memakai pakaian, dan membereskan barang masing-masing.


"Masih ada barang yang tertinggal gak, bang? Coba di cek lagi!" tanya ku.


"Gak ada, say. Semua nya udah simpan disini." jawab bang Agus, sambil menunjuk ke arah tas ransel yang ada di bahu nya.


"Ayo, kita keluar sekarang!" lanjut bang Agus.


"Ya," jawab ku.


Aku dan bang Agus berjalan keluar dari kamar, dan menapaki anak tangga menuju ke lantai satu. Setelah menyerahkan kunci kepada resepsionis, kami berdua kembali berjalan menuju parkiran motor.


"Hati-hati ya, say! Jangan ngebut-ngebut bawa motor nya." ujar bang Agus.


"Iya, bawel." jawab ku.


Kami berdua pun mulai naik ke atas motor masing-masing.


"Aku duluan ya, bang." ujar ku sambil melambaikan tangan pada bang Agus.


Setelah berpamitan, aku bergegas menyalakan motor dan mulai melajukan nya ke jalan raya, menuju ke rumah sepupu ku Naya.

__ADS_1


Sesampainya di rumah Naya, aku langsung turun dari motor, dan berjalan dengan langkah cepat ke depan pintu nya.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum, Nay." salam ku dengan suara yang agak sedikit melengking.


"Wa'laikum salam," balas Naya sambil membuka pintu rumah nya.


"Mau kemana, Yu?" tanya Naya.


"Aku mau pulang ke rumah bang Darma." jawab ku.


"Emang nya kalian udah baikan?" tanya Naya penasaran.


"Belum, Nay. Tapi aku harus tetap pulang kesana, aku ingin menyelesaikan urusan ku dengan nya." jawab ku.


"Oh, gitu. Trus, kau mau masuk ke dalam dulu, atau mau langsung pulang?" tanya Naya lagi.


"Aku mau langsung pulang aja, Nay. Tapi, aku boleh minta tolong gak?" tanya ku.


Naya mengerutkan kening nya, dia melihat ku dengan tatapan yang penuh tanda tanya. Dia memandangi ku dari atas sampai bawah dengan serius.


"Woy, nyet! Kau lagi lihatin apa? Serius kali dari tadi." pekik ku sambil menepuk kuat bahu Naya.


"Aduuuh, sakit bodoh !" umpat Naya meringis kesakitan akibat ulah ku.


"Emang nya kau mau minta tolong apa an? Mau pinjam duit? Atau mau pinjam yang lain?" tebak Naya.


"Gak lah, ngapain aku minjam duit mu. Duit ku aja banyak kok. Nih lihat, banyak kan!" jawab ku.


Aku mengeluarkan semua uang yang ada di dalam tas kecil ku. Lalu, menyerahkan semua uang itu ke tangan Naya.


"Tolong kau simpan kan semua uang ku ini ya, Nay!" ujar ku.


Setelah menyerahkan uang itu, aku langsung membuka semua perhiasan yang ada di badan ku. Kemudian, aku juga menyerahkan semua perhiasan ku itu ke tangan Naya.


"Banyak banget duit mu, Yu. Berapa semua jumlah nya, duit mu ini?"


Naya bertanya dengan mata yang membulat lebar, karena melihat setumpuk uang yang ada di tangan nya.


"Itu total nya lima belas juta. Tolong kau simpan kan, ya! Aku gak mau uang itu jatuh ke tangan bang Darma. Dia pasti akan merampas nya secara paksa, kalau dia tau aku megang uang sebanyak itu." jelas ku.


"Oh, gitu toh. Oke lah, aku akan simpan duit mu ini baik-baik. Tapi, jangan lupa upah megang nya ya, hehehe." balas Naya sambil cengar-cengir.


"Huuuuu, dasar mata duitan! Tenang aja, Nay. Kau pasti akan aku kasi imbalan kok, gampang itu. Yang penting kau jaga uang ku itu baik-baik, oke!" jawab ku.


"Oke siap, bos." balas Naya.


"Ya udah kalo gitu, aku pamit dulu ya. Besok aku kesini lagi." ujar ku sambil naik ke atas motor.


"Iya, hati-hati di jalan ya, Yu!" pekik Naya.


"Oke," jawab ku sambil mengacungkan jempol pada Naya.


Aku kembali melajukan kendaraan roda dua ku ke jalan raya, menuju ke rumah suami ku. Tak butuh waktu lama, akhir nya aku pun sudah sampai di depan rumah bang Darma. Rumah yang menjadi tempat tinggal ku, selama enam tahun lebih ini.


Setelah memarkirkan motor, aku mulai berjalan perlahan ke depan pintu. Dengan hati yang sedikit was-was, aku mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok..


"Assalamualaikum,"


"Wa'laikum salam, ya bentar!" pekik bang Darma dari dalam rumah.

__ADS_1


Tak lama berselang, pintu rumah pun terbuka lebar. Aku langsung menautkan kedua alis, melihat wajah bang Darma yang sedang tersenyum sumringah, menyambut kedatangan ku.


"Akhirnya kau pulang juga, sayang." ujar bang Darma.


__ADS_2