
Mendengar jawaban Yuni, Dina pun langsung emosi dan semakin menggedor-gedor pintu kamar anak nya tersebut.
"Dasar, anak kurang ajar! Udah di kasih makan, di urusi dari kecil. Eeehh, udah besar malah ngelunjak. Tau gitu, bagusan dulu aku buang aja kau ke jalanan. Biar mampus sekalian." omel Dina geram.
Dengan perasaan kesal dan jengkel, Dina pun kembali ke kamar nya. Tak lama kemudian, ia keluar lagi dan pergi ke warung untuk membeli pembalut.
Sedangkan di dalam kamar, Darma hanya menggeleng-gelengkan kepala nya melihat sikap Yuni, yang selalu melawan dan membantah ucapan ibu nya.
"Kenapa? Kok geleng-geleng kepala gitu?" tanya Yuni heran.
"Gak papa," jawab Darma.
Lalu ia pun beranjak dari kasur, dan memakai pakaian nya kembali.Melihat gerak-gerik Darma, Yuni pun menatap bingung dan melontarkan pertanyaan nya kembali.
"Lololoh, kok pakai baju? Emang mau kemana?" selidik Yuni.
"Mau pulang, males lama-lama disini." jawab Darma.
"Loh, kok pulang sih? Emang males kenapa?" tanya Yuni semakin bingung.
"Gak papa. Udah ah, abang balek dulu, bye!" ujar Darma.
Kemudian ia pun segera keluar dari kamar Yuni dengan langkah tergesa-gesa. Melihat kepergian Darma, Yuni pun bergegas menyusul nya sampai ke depan pintu utama.
Saat membuka pintu, Darma pun langsung terkejut karena mendapati Dina yang juga terburu-buru, hingga membuat tubuh mereka saling bertabrakan dan jatuh ke lantai, dengan posisi Dina menindih tubuh Darma.
Brughh...
"Auuw," pekik Dina dan Darma bersamaan.
Dengan jarak wajah yang sangat dekat, Dina dan Darma pun langsung terpaku dan saling memandang satu sama lain.
Melihat pemandangan yang sangat menyakitkan di depan mata nya, Yuni pun langsung menarik tubuh Dina dan membantu nya untuk berdiri.
"Udah, gak usah pake acara pandang-pandangan segala. Cepat berdiri! Kasian tuh badan bang Darma, ketimpa gajah bengkak." cibir Yuni ketus.
Mendengar kata gajah bengkak, Dina pun kembali emosi dan menarik telinga Yuni dengan kuat. Hingga membuat Yuni menjerit dan meringis kesakitan, akibat ulah ibu nya tersebut.
"Apa kau bilang? Gajah bengkak?" pekik Dina semakin geram.
"Aduh duh duh, lepasin! Sakit kuping ku, maaaakk!" pekik Yuni sambil berusaha melepaskan tangan Dina dari telinga nya.
__ADS_1
Bukan nya melepaskan jeweran nya, Dina malah semakin menambah kekuatan nya, untuk memberi pelajaran kepada Yuni.
"Heh, anak gak tau diri, kau dengar baik-baik ya! Kalau gak ada aku, kau juga gak bakalan ada di dunia ini, paham! Anak kok gak ada sopan santun nya sama orang tua, heran." gerutu Dina.
Setelah merasa puas membalas perbuatan Yuni, Dina pun melepaskan jeweran nya lalu melangkah masuk ke dalam kamar nya.
Sedangkan Darma, ia masih saja kelesotan di lantai, sambil plonga-plongo melihat pertengkaran antara anak dan ibu itu.
Setelah Dina pergi, Darma pun segera bangkit dan melangkah keluar dari rumah, tanpa memperdulikan Yuni yang masih kesakitan memegangi telinga nya dengan wajah cemberut.
"BANG, MAU KEMANA?" pekik Yuni dengan suara cempreng nya.
"Pulang," jawab Darma tanpa menoleh, dan terus melanjutkan langkah nya menuju pangkalan ojek.
"Ck, kok malah pulang sih? Baru aja setengah hari disini, udah pergi lagi, jahat banget."
Gerutu Yuni sambil terus memandangi punggung Darma, yang semakin lama semakin menjauh dari kediaman nya.
Setelah melihat Darma menaiki ojek, Yuni pun kembali masuk ke dalam rumah, dan membanting pintu utama dengan kuat. Hingga membuat dinding rumah nya sedikit bergetar akibat perbuatan nya.
Braaakkk...
Setelah meluapkan kekesalannya, Yuni pun kembali ke kamar dengan langkah gontai dan wajah masam. Sesudah mengunci pintu kamar, Yuni pun merebahkan tubuh nya ke atas kasur, dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang.
"Sebenarnya aku ini anak nya atau bukan sih? Masa dari zaman baholak sampe sekarang, gak ada lembut-lembut nya dikit pun sama ku?" lanjut Yuni heran.
Setelah lelah berperang dengan isi kepala nya sendiri, Yuni pun mulai memejamkan mata sambil memeluk boneka Annabelle kesayangan nya. Tak lama berselang, ia pun terlelap dengan posisi miring menghadap tembok.
Sedangkan Darma, ia sudah tiba di depan rumah nya. Setelah membayar ongkos ojek, ia pun melangkah masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum," salam Darma sembari membuka pintu, dan celingukan kesana kemari.
Karena tidak ada yang menjawab salam nya, akhirnya ia pun menjawab nya sendiri sambil berjalan menuju kamar pribadi nya.
"Wa'laikum salam," gumam nya.
Setibanya di dalam kamar, Darma pun tersenyum manis saat melihat istri nya yang sedang tertidur pulas di atas ranjang. Ia merasa senang, karena Ayu tidak keluyuran saat diri nya pergi ke rumah Dina.
Padahal dia tidak tahu, kalau istri nya baru saja bersenang-senang dengan pak Kades di hotel.
"Huh, syukur lah dia gak kemana-mana waktu ku tinggal tadi." gumam Darma sembari menghela nafas lega.
__ADS_1
Setelah beberapa saat memandangi Ayu, Darma pun membuka seluruh pakaian nya, lalu menggantinya dengan celana pendek dan kaos oblong. Kemudian, ia pun duduk di tepi ranjang dan menyalakan rokok.
Saat sedang asyik menikmati rokok nya, tiba-tiba mata Darma beralih ke arah laci meja yang berada tepat di samping nya.
"Tumben-tumbenan laci ini ada kunci nya, biasa nya gak pernah ada." batin Darma heran, sambil memandangi kunci yang tergantung di laci meja tersebut.
"Kira-kira isi nya apa ya? Apa jangan-jangan ada uang di dalam laci itu?" lanjut Darma menduga-duga.
Karena merasa penasaran dengan isi laci di depan nya, Darma pun akhirnya memutuskan untuk melihat nya. Tapi sebelum itu, ia memperhatikan Ayu terlebih dahulu, dan memastikan kalau istri nya itu benar-benar tertidur pulas.
Setelah di rasa aman, Darma pun mulai memutar kunci nya, dan membuka laci itu dengan sangat pelan dan berhati-hati.
Klek...
Setelah laci terbuka, Darma pun mengambil tas kecil sambil terus melirik ke arah Ayu, yang masih terlelap dengan posisi membelakangi nya.
Dengan gerakan yang sangat hati-hati, Darma pun membuka tas kecil itu, lalu mengeluarkan dompet kulit milik Ayu. Dengan perasaan yang deg-degan, Darma pun memberanikan diri untuk membuka dompet itu.
Dan akhirnya, mata Darma pun langsung mendelik ketika melihat satu ikat uang merah yang berjumlah sepuluh juta. Dan belum lagi uang biru nya yang berjumlah sekitar lima juta rupiah.
"Wow, silau men." gumam Darma dengan wajah berbinar cerah.
Tanpa pikir panjang lagi, Darma pun langsung menghitung uang itu dengan cepat dan lincah. Setelah selesai, ia pun kembali melirik ke arah Ayu dengan ekor mata nya, lalu bergumam...
"Banyak bener nih duit. Kira-kira dapat dari mana ya uang sebanyak ini? Apa dari hasil jualan baju? Atau jangan-jangan, dari hasil jual diri lagi?" tebak Darma.
"Ah, bodo amat lah. Mau dari hasil apa pun itu, aku gak akan perduli. Yang penting, aku bisa cuil dikit nih duit. Lumayan, buat jaga kantong." gumam Darma sembari tersenyum jahat.
Dengan hati yang berbunga-bunga seperti tanaman yang bermekaran di taman kota, Darma pun mengeluarkan uang itu sebanyak satu juta lima ratus ribu dan segera mengantongi nya.
Setelah itu, ia pun menyimpan dompet itu ke dalam tas, dan meletakkan nya kembali ke dalam laci lalu mengunci nya.
"Hufff, mudah-mudahan aja dia gak ingat jumlah uang nya."
Gumam Darma penuh harap, sambil menatap punggung istri nya yang masih tampak anteng dengan tidur lelap nya.
Setelah berhasil mencuri uang Ayu, Darma pun menyimpan uang itu ke dalam dompet nya. Kemudian, ia ikut merebahkan tubuh nya di belakang Ayu.
Dengan senyum yang mengembang di bibir nya, Darma pun melingkarkan tangan nya ke pinggang Ayu dan memeluk erat tubuh istri nya tersebut.
"I love you sayang, emmuaaahhh." bisik Darma.
__ADS_1
Setelah mengecup tengkuk leher Ayu, Darma pun mulai memejamkan mata nya. Tak lama kemudian, ia pun ikut terlelap dan menyusul Ayu ke dalam mimpi nya.