
Setelah terlelap selama beberapa jam, aku mulai terjaga dari tidur panjang ku. Selesai merenggang kan otot-otot yang kaku dan pegal, aku membangun kan bang Agus dengan mengguncang pelan lengan nya.
"Bang, bangun. Ayo kita mandi! Siap tu langsung pulang." seru ku.
"Kok pulang, emang nya udah jam berapa sih ini, hoam?"
Tanya bang Agus sembari menguap dan mengucek-ngucek kedua mata nya.
"Udah siang, ayo buruan kita mandi! Bentar lagi udah waktu nya kita check out." ujar ku.
Bukan nya menurut, bang Agus malah memeluk ku dan membisikkan kata-kata yang bisa membuat ku bergidik ngeri, saat mendengarkan nya.
"Kita ambil jatah dulu ya, say. Siap tu baru kita pulang." bisik bang Agus.
"Ah, males lah. Besok-besok aja kalau mau ambil jatah lagi." jawab ku sembari memutar bola mata malas.
"Gak mau, abang mau nya sekarang." balas bang Agus masih tetap kekeuh dengan keinginan nya.
"Gak usah bandel kenapa sih, botaaak! Waktu nya udah mepet nih." gerutu ku kesal.
"Gak papa, kita main nya bentar aja kok. Mau ya, say." desak bang Agus.
"Ck, degil kali pun botak gila satu ini. Udah di tolak pun masih aja tetap ngotot, heran." gerutu ku lagi.
"Hehehe, nama nya juga lagi pengen, say. Mau gimana lagi coba? Tengok nih, dedek nya gak bisa di ajak kompromi!"
Oceh bang Agus sembari memperlihatkan milik nya pada ku, yang sudah tegak lurus seperti kayu. Mata ku pun langsung membulat, saat melihat mainan ku sudah bangun dengan sempurna.
"Ya udah lah kalo gitu, mubasir juga kalo di anggurin. Udah kadung bangun soal nya." balas ku pasrah.
"Yes, akhirnya di kasih juga. Makasih ya, say." ujar bang Agus girang.
"Ya," jawab ku.
Setelah mendapatkan persetujuan ku, bang Agus pun mulai melakukan aksinya. Dia mengabsen seluruh tubuh ku dengan lembut dan mesra. Hingga membuat ku yang tadi nya enggan melayani nya pun mulai bergairah.
Apa lagi di saat bang Agus memanjakan lidahnya di area milik ku, itu semakin membuat ku tidak karuan akibat menahan rasa geli yang begitu nikmat.
"Udah cukup, bang. Aku udah gak sanggup lagi menahan nya. Aku udah mau keluar." rengek ku manja.
"Keluar kan aja, say! Biar abang lahap semua nya sampe habis." seru bang Agus.
"Oke," balas ku.
__ADS_1
Karena sudah tidak tahan lagi, akhirnya nya aku pun keluar dan langsung di sambut oleh bang Agus. Dia melahap semua nya sampai habis dan bersih tak bersisa sedikit pun.
Setelah selesai, bang Agus merangkak naik ke atas tubuh ku dan mulai melakukan tugas utama nya.
Dia memasukkan nya dengan sekali hentakan yang cukup kuat, hingga membuat ku sedikit tersentak karena terkejut dengan ulah nakal nya tersebut.
Setelah masuk dengan sempurna, bang Agus pun mulai menggerakkan badan nya dengan kecepatan tinggi, dan senyum menyeringai di bibir nya.
Aku hanya memejamkan mata sambil terus menikmati, hasil perbuatan bang Agus yang sedang memberikan pelayanan nya pada ku.
Setelah menyelesaikan tugas nya, bang Agus pun mengecup kening ku sembari berkata...
"Makasih banyak ya, say. Udah mau menuruti keinginan abang." tutur bang Agus.
"Iya," balas ku sembari tersenyum.
Setelah itu, bang Agus segera turun dari ranjang lalu mengajak ku untuk membersihkan diri di kamar mandi.
Ayo, kita mandi, say!" seru bang Agus.
"Iya, botak." jawab ku.
Aku bergegas bangkit dan mengekori langkah bang Agus dari belakang. Sampai di kamar mandi, aku dan bang Agus membersihkan diri masing-masing dengan sedikit tergesa-gesa.
Setelah selesai, kami berdua kembali bergegas memakai pakaian dan bersiap-siap untuk pulang ke rumah masing-masing.
"Udah, ayo kita keluar!" jawab ku.
Aku dan bang Agus keluar dari kamar, lalu menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju ke meja resepsionis.
Sesudah menyerahkan kunci kepada resepsionis yang sedang bertugas, kami berdua kembali berjalan sampai ke parkiran motor.
"Mau di antar sampe rumah gak, say?" tanya bang Agus sembari memakai helm nya.
"Gak usah, aku bawa motor sendiri kok." jawab ku.
"Oh, ya udah. Hati-hati di jalan ya, say." ujar bang Agus.
"Iya, abang juga hati-hati ya." balas ku.
"Oke, sayang ku." jawab bang Agus sambil mengacungkan jempol nya pada ku.
Setelah saling berpamitan, kami berdua segera menaiki motor masing-masing, dan berlalu pergi dari gedung hotel tersebut.
__ADS_1
Sesampainya di depan rumah bang Darma, aku langsung memarkirkan motor di depan kios, lalu membuka pintu utama dengan kunci cadangan.
Saat pintu terbuka, aku melihat sepasang sandal yang seperti nya tidak asing bagi ku.
"Kayak nya aku pernah lihat sandal ini, tapi dimana ya?" batin ku menduga-duga.
"Ah, mungkin perasaan ku aja kali." gumam ku pelan.
Tanpa merasa curiga sedikitpun dengan sandal itu, aku pun mulai melangkah masuk ke dalam rumah.
Sampai di ruang tamu, aku mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar. Suara itu persis seperti saat aku bergumul ria dengan bang Agus, sewaktu di hotel tadi.
"Jangan-jangan, itu suara bang Darma sama Yuni lagi." batin ku gelisah mulai gelisah.
"Wah wah wah, perbuatan mereka gak bisa di biarin terus nih. Kayak nya mereka berdua harus di beri pelajaran, biar kapok." batin ku sembari menggeleng-gelengkan kepala.
Sebelum memergoki mereka, aku terdiam sejenak untuk memikirkan, bagaimana cara agar membuat mereka kapok dan tidak mengulangi perbuatan nya lagi.
Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya aku pun memiliki ide untuk mengerjai mereka. Aku bergegas keluar dari rumah, lalu mengeluarkan ponsel dari dalam tas untuk menghubungi Dina.
Setelah panggilan tersambung, aku pun menyuruh nya untuk datang. Agar dia bisa melihat kelakuan anak nya dan juga bakalan calon suaminya nanti.
Berhubung Dina juga pernah memergoki perbuatan mereka, maka dari itu Dina langsung percaya dan setuju untuk datang.
Sebelum Dina datang, aku terlebih dahulu memergoki mereka dan melampiaskan kemarahan ku kepada Yuni.
Aku memang sengaja tidak menunggu Dina, karena tangan ku sudah lama terasa gatal ingin menghajar anak tak tau diri itu.
Setelah puas memberikan pelajaran kepada Yuni, akhirnya Dina pun muncul. Dia juga sama seperti ku, sama-sama geram dan emosi melihat perbuatan Yuni dan bang Darma.
Dina menjerit histeris saat melihat keadaan anak nya, yang sedang duduk kelesotan di atas lantai, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh nya.
Tanpa pikir panjang lagi, Dina langsung berlari mendekati Yuni dan menarik kuat rambut anak nya tersebut. Dan itu berhasil membuat Yuni menjerit-jerit kesakitan, akibat aksi ibu nya tersebut.
Sedangkan aku, jangan di tanya lagi. Aku langsung tersenyum bahagia, saat menonton siaran langsung yang sangat seru dari anak dan ibu yang ada di depan ku.
"Ampun, mak. Kepala Yuni sakit banget. Tolong lepasin rambut Yuni, mak!"
Pekik Yuni sambil terus berusaha melepaskan genggaman tangan Dina, yang masih setia melekat erat di rambut panjang Yuni.
Bukan nya melepaskan genggaman nya, Dina malah semakin menjadi-jadi dengan aksinya. Dina menarik dengan sekuat tenaga nya, lalu menghempaskan nya ke lantai.
Hingga membuat tubuh Yuni terjatuh telungkup, di atas lantai keramik putih ruang tamu.
__ADS_1
"Wow, ngeri juga ternyata amukan dari singa betina yang satu ini."
Cibir ku dalam hati sembari bersidekap, dan tersenyum miring melihat mereka berdua.