SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Biduran


__ADS_3

Setelah puas memanjakan milik ku, bang Agus pun langsung naik ke atas tubuh ku, dan mulai menggerak-gerakkan badan nya.


Sedangkan aku, aku masih seperti biasa nya. Hanya memejamkan mata, sambil mengeluarkan suara-suara yang bisa membuat orang yang mendengar nya, menjadi panas dingin di buat nya.


Dengan semangat yang menggebu-gebu, bang Agus pun terus saja memacu gerakan nya dengan kecepatan penuh. Hingga akhirnya, bang Agus kembali memuncak dan menjatuhkan diri di samping ku.


"Haduuh, puas banget abang, say. Makasih banyak ya, say. Kau memang terdebest lah pokoknya." tutur bang Agus dengan nafas yang tersengal-sengal.


"Ya," balas ku.


Setelah selesai melakukan olahraga sore bersama bang Agus, aku pun mulai beranjak dari ranjang, dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi.


Sesudah membersihkan diri, aku kembali melangkah keluar dengan handuk yang melilit di tubuh ku. Aku melirik ke arah bang Agus yang masih tampak anteng, dengan posisi telentang nya.


"Bang, bersihin dulu gih! Entar lalatan loh itu nya." titah ku sembari menunjuk ke arah milik nya yang sudah terkulai lemas.


"Hahahaha, mana ada lalat disini. Aneh-aneh aja." gelak bang Agus lalu bangkit dari ranjang, dan melangkah ke kamar mandi.


Aku hanya tersenyum miring menanggapi ucapan nya. Sambil menunggu bang Agus selesai, aku pun duduk di pinggir ranjang lalu menyalakan rokok.


Dengan tatapan menerawang, aku kembali mengingat pertengkaran dengan bang Darma tadi. Aku tidak habis pikir dengan jalan pikiran suami ku itu.


Aku juga tidak menyangka, jika dia sudah berani mencuri uang ku, hanya demi menyenangkan hati kedua perempuan luknut tersebut.


Sedang asyik merenung, tiba-tiba bang Agus muncul dan mengejutkan ku. Dia menepuk kedua pundak ku sembari memekik...


Duaarrrr...


"Eh copot eh copot." latah ku saking terkejut nya.


"Hahahaha," gelak bang Agus.


"Iiihhhh, kurang ajar kau, botaaaakkk!" pekik ku kuat.


Aku langsung beranjak dari duduk ku, dan mulai mengejar bang Agus yang sudah lari kocar-kacir mengelilingi ranjang.


"Ampun say, ampun. Abang bener-bener gak sengaja tadi, sumpah."


Tutur bang Agus dengan wajah memelas, dan mengatupkan kedua tangan nya pada ku. Dia tampak sangat menyesali perbuatannya tersebut.


Karena sudah lelah berlarian kesana kemari, akhirnya aku pun berhenti mengejar nya, dan kembali duduk di pinggir ranjang dengan nafas ngos-ngosan.


"Hufff, capek juga ternyata." gumam ku.


Aku menghela nafas dalam-dalam, lalu menghembuskan nya dengan kasar. Setelah itu, aku menoleh ke arah bang Agus yang masih saja berdiri di ujung ranjang.


Dia masih tampak menjaga jarak dengan ku, karena takut di gelitikin oleh tangan-tangan nakal ku. Melihat aura ketakutan di wajah nya, aku pun melambaikan tangan sambil berkata...


"Duduk sini, bang! Ngapain betonggok disitu terus. Nanti pingsan pulak lama-lama berdiri disitu." ledek ku.


"Males ah, nanti abang di gelitikin pulak." tolak bang Agus.

__ADS_1


"Hahaha, takut juga dia rupanya." gelak ku.


"Bukan nya takut, say. Tapi abang paling gak tahan, kalau di gelitikin kayak gitu." balas bang Agus.


"Halah, ngeles aja." cibir ku.


"Beneran, abang gak bohong, suer." lanjut bang Agus sembari membentuk jari nya menjadi huruf V.


"Iya deh, aku percaya. Abang tenang aja, aku gak bakalan gelitikin kok. Tapi ada syaratnya, gimana mau gak?" tanya ku sembari tersenyum manis pada nya.


"Syarat apaan? Kayak mau ngelamar anak orang aja, pake acara syarat-syarat segala." tanya bang Agus mulai sewot.


"Udah, gak usah ngedumel segala. Syarat nya gampang kok, aku cuma minta pijatin badan aja." jawab ku.


"Ooohhh, pijat toh. Bilang dong dari tadi, jadi kan abang gak mikir yang aneh-aneh, hehehe." balas bang Agus nyengir kuda.


"Gimana mau bilang, kalau abang nyerocos terus dari tadi?" tanya ku lagi.


"Eh, iya juga ya, hihihi." jawab bang Agus sembari terkikik geli.


"Cepat lah, sini! Kapan mijat nya kalau cekikikan terus dari tadi." seru ku kesal.


"Iya iya, cerewet kali kekasih ku ini." balas bang Agus.


Bang Agus mulai melangkah kan kaki nya untuk mendekatiku, lalu menyuruh ku untuk berbaring di atas ranjang.


"Baring lah, say! Biar abang pijat sekarang." titah bang Agus.


Aku segera membuka handuk yang melilit di tubuh ku, lalu merangkak naik ke atas ranjang. Setelah itu, aku pun berbaring telungkup membelakangi bang Agus.


"Apa nya dulu yang di pijat, say?" tanya bang Agus.


"Badan sama pinggang aja dulu, siap tu baru kaki sama tangan." jawab ku.


"Oh, woke." balas bang Agus.


Bang Agus langsung membuka handuk nya, lalu duduk di atas pinggul ku. Kemudian dia pun mulai melakukan tugas nya dengan telaten dan serius.


Karena saking enak nya pijatan bang Agus, tanpa sadar aku pun tertidur lelap dan mulai masuk ke alam mimpi. Sedangkan bang Agus, dia masih saja meneruskan kegiatan nya sampai selesai.


"Lololoh, kok malah molor pulak bocah gendeng satu ini?" gumam bang Agus sambil terus memandangi ku yang sudah terlelap.


"Padahal tadi niat nya kalau udah siap mijat, mau minta jatah lagi. Eeehh, malah molor pulak dia." lanjut bang Agus sedikit kecewa.


Bang Agus terus saja bergumam dengan diri nya sendiri. Setelah itu, dia membetulkan posisi tidur ku menjadi telentang, lalu menyelimuti ku dan juga diri nya.


"Ya udah lah, nanti aja minta jatah nya. Nampak nya dia sangat kelelahan, akibat permainan tadi." lanjut bang Agus.


Bang Agus mendarat kan kecupan mesra nya di kening ku, dan melingkarkan tangan nya di perut ku. Dia memeluk ku dari samping, lalu ikut memejamkan mata nya. Tak lama berselang, bang Agus pun mulai terlelap dan menyusul ku ke alam mimpi.


*Kembali ke kediaman Dina*

__ADS_1


Setelah mendapatkan uang seratus ribu dari Ayu, Darma langsung keluar dari rumah nya, dan memanggil ojek pangkalan yang berada tidak jauh dari tempat nya berdiri.


"Ojek, sini!" pekik Darma sembari melambaikan tangan nya ke arah pangkalan ojek tersebut.


"Oke, om."


Jawab salah satu tukang ojek yang masih terlihat sangat muda, sambil mengacungkan jempol nya ke arah Darma. Tak lama kemudian, tukang ojek itu pun tiba di depan Darma.


"Mau di antar kemana, om?" tanya si tukang ojek.


"Ke perumahan ini, ya!" jawab Darma lalu mengatakan alamat rumah Dina.


"Oke siap, om." balas si tukang ojek sembari menyerahkan helm ke tangan Darma.


Darma segera naik ke atas motor sambil memakai helm di kepala nya. Setelah penumpang nya naik dan duduk manis di belakang nya, tukang ojek itu pun mulai menjalankan kendaraan nya, menuju alamat yang sudah di berikan Darma pada nya.


Setibanya di depan rumah Dina, Darma bergegas turun dari motor dan membuka helm di kepala nya. Setelah itu, dia menyerahkan ongkos dan helm itu ke tangan si tukang ojek, sembari berkata...


"Makasih, ya." ujar Darma.


"Iya sama-sama, om." balas si tukang ojek dengan senyum yang mengembang di bibir nya.


Sesudah menerima ongkos dari Darma, tukang ojek itu kembali menyalakan kendaraan nya, dan berlalu pergi dari hadapan Darma.


"Huh, satu masalah udah selesai. Sekarang tinggal satu masalah lagi yang harus aku hadapi." gumam Darma menatap nanar ke arah pintu rumah Dina.


"Kapan sih masalah ini bisa selesai? Perasaan kok betah kali masalah-masalah ini hinggap di hidup ku?" lanjut Darma.


Dengan hati yang berdebar-debar tidak karuan, Darma pun mulai melangkah dan mengetuk pintu sembari mengucapkan salam.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum. Yun, buka pintu nya?" seru Darma.


"Wa'laikum salam, ya bentar!" pekik Yuni.


Tak lama kemudian pintu pun terbuka lebar, dan nampak lah sesosok makhluk berwajah seram di depan Darma. Darma langsung terpekik dengan mata terbelalak lebar, ketika melihat wajah dan tangan Yuni sedikit bengkak dan memerah.


"Astaghfirullahal'azim, muka sama tangan mu kenapa, Yun? Kok bentol-bentol gitu." pekik Darma terkejut.


"Entah lah, Yuni juga bingung. Waktu bangun tidur tadi, tiba-tiba muka sama tangan Yuni gatal-gatal. Trus Yuni garuk-garuk sampe lecet kayak gini." jelas Yuni.


"Udah di kasih obat belum?" tanya Darma sembari melangkah masuk dan duduk di kursi ruang tamu.


"Belum, Yuni juga gak tau obat nya apaan." jawab Yuni mendudukkan diri di sebelah Darma.


Darma memegang dagu Yuni, lalu mendongak kepala anak angkat nya tersebut. Darma pun mulai memperhatikan dengan teliti wajah bengkak Yuni.


Setelah beberapa saat memandangi wajah Yuni, Darma langsung manggut-manggut. Dia seakan-akan tahu, gejala apa yang sedang di alami oleh Yuni.


"Kayak nya sih ini biduran, Yun." ujar Darma.

__ADS_1


"Hah, biduran? Emang biduran itu penyakit apa sih? Kok Yuni baru denger ini ya!" tanya Yuni bingung.


__ADS_2