SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Tidak di Perdulikan


__ADS_3

"Masih sakit ya, dek?"


Tanya bang Darma setelah pulang dari bekerja. Dia melihat ku yang masih bergulung di bawah selimut. Aku pun langsung tersentak kaget karena mendengar suara nya.


"Astaga, tenyata aku ketiduran sampai sore gini. Ini pasti karena pengaruh obat yang aku minum tadi," batin ku.


"Iya, bukan cuma kepala aja yang sakit, tapi meriang juga. Dari tadi badan ku menggigil terus," jawab ku dari balik selimut.


"Udah minum obat belom?" tanya bang Darma lagi.


"Tadi siang udah, sore ini blom. Obat nya udah habis soal nya," nawab ku dengan suara serak.


"Ya udah kalo gitu, abang belikan obat ya!"


Balas bang Darma lalu melangkah pergi ke warung untuk membeli obat. Tak lama kemudian, ia pun kembali masuk ke dalam kamar dan dan menyodorkan obat kepada ku.


"Ini obat nya, dek. Abang mau ambil kan air hangat dulu ke dapur, biar langsung di minum obat nya," ujar bang Darma.


"Ya," balas ku.


Bang Darma bergegas melangkah keluar kamar, dan tak lama kemudian dia datang lagi dengan segelas air hangat lalu meletakkan nya di atas meja.


Setelah memberikan obat pada ku, dia langsung pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan lanjut menunaikan shalat.


Aku segera duduk di tepi ranjang, dan meminum obat yang di berikan oleh bang Darma. Selesai itu, aku kembali membaringkan diri di bawah selimut.


Setelah selesai shalat, bang Darma ikut berbaring dengan ku di atas ranjang sambil memainkan ponsel nya.


"Nanti malam makan gak, dek?"


Bang Darma bertanya tanpa menoleh pada ku yang masih bergulung di bawah selimut tebal.


"Gak," balas ku.


"Berarti gak usah masak nasi lah ya, nasi tadi siang kan masih ada. Cukup lah kalo cuma buat abang aja."


Jawab bang Darma dengan santai nya, sambil terus fokus memainkan ponsel nya. Aku tidak menjawab ucapan nya lagi dan langsung tertidur.


Mungkin karena pengaruh obat yang aku minum tadi, maka nya aku langsung mengantuk dan tertidur lelap.


Aku ketiduran sampai jam delapan malam. Saat membuka mata, bang Darma sudah tidak ada di samping ku. Dia sedang makan sambil menonton tv di ruang tamu.

__ADS_1


"Dia kok gak ada nawarin aku makan ya?Bukan nya tanya mau makan apa? Kepengen apa? Ini kok malah cuek-cuek aja," batin ku kesal.


"Padahal kan dia tau, kalau aku belom makan malam ini," lanjut ku lagi.


Beberapa menit kemudian, bang Darma masuk dan berbaring kembali di samping ku. Dia hanya diam tanpa bertanya apa pun pada ku, yang masih bergulung dan menggigil di bawah selimut.


Bang Darma malah memiringkan tubuhnya dan memunggungi ku. Sikap bang Darma dingin dan cuek, dia sama sekali tidak perduli dengan keadaan ku.


Bahkan, dia juga tidak menawarkan apa pun pada ku. Melihat sikap bang Darma seperti itu, aku pun berusaha untuk berdiri dan berjalan ke dapur dengan tertatih-tatih.


Sampai di dapur, aku membuka lemari makan dan melihat nasi yang sudah habis. Hanya tinggal lauk nya saja yang tersisa yang ada di dalam lemari makan.


Karena merasa sangat lapar, akhir nya aku memasak nasi untuk makan ku sendiri. Setelah selesai memasak nasi, aku kembali ke dalam kamar dan melihat bang Darma yang sudah tertidur dengan nyenyak.


"Ya Allah, dia ini manusia atau bukan sih? Udah tau istri lagi sakit, malah gak perduli sama sekali," gumam ku sembari menetes kan air mata.


Aku kembali duduk di tepi ranjang sambil menyalakan ponsel. Aku melihat pesan teks yang di kirimkan oleh bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.


"Lagi ngapain, say? Udah makan belom? Dari tadi kok gak aktif sih ponsel nya? Pergi ke warung lah say, abang kangen pengen lihat diri mu."


Bang Agus mengirimkan pertanyaan beruntun pada ku. Setelah membaca semua pesan itu, aku pun langsung membalas nya.


Tak butuh waktu lama, bang Agus pun membalas pesan ku.


"Kok gak ngabarin abang sih, say? Kamu mau makan apa, biar abang belikan sekarang? Kalo gak buka pintu nya tuh, biar abang datang ke rumah mu, abang mau besuk dirimu," balas bang Agus.


"Gak usah berbuat yang aneh-aneh lah, bang. Ada bang Darma di rumah. Gak usah belikan apa-apa, aku udah makan kok," bohong ku.


"Abang serius, say. Abang mau besuk dirimu ke rumah, sekalian bawa kan makanan juga untuk mu," balas bang Agus masih tetap kekeuh ingin menjenguk ku ke rumah.


"Gak usah bang, makasih. Aku mau istirahat aja," balas ku.


"Oh, ya udah kalo gak mau, istirahat lah! Mudah-mudahan besok udah sehat lagi seperti biasa," balas bang Agus pasrah.


"Aamiiin, ya udah aku istirahat dulu ya, assalamualaikum," balas ku.


"Iya, wa'laikum salam," balas bang Agus.


Setelah selesai berbalas pesan dengan si botak tuyul, aku segera berjalan ke dapur untuk mengisi perut yang sudah mulai keroncongan. Aku makan dengan lauk sisa dari bang Darma tadi. Selesai makan, aku meminum obat dan kembali bergulung di bawah selimut.


Keesokan harinya, bang Darma tetap cuek dan acuh pada ku. Dia tetap diam dan tidak bertanya, apakah aku sudah sembuh atau belum. Dia tetap pergi bekerja seperti biasa nya.

__ADS_1


Kring kring kring...


Ponsel ku berdering di atas meja. Dengan gerakan lemah, aku pun merentangkan tangan untuk mengambil ponsel, lalu menerima panggilan dari bang Agus.


"Ya halo," sapa ku.


"Udah sembuh belom, say? Kalau belom, biar abang antar kan berobat ke klinik, mau gak? tanya bang Agus dengan nada khawatir.


"Gak usah repot-repot, bang. Aku minum obat dari warung aja. Nanti juga bakalan sembuh sendiri kok, gak usah khawatir!" jawab ku.


"Jangan bandel kenapa sih kalau di bilangin. Di ajak berobat kok malah gak mau. Nanti kalau sakit nya tambah parah, gimana coba?" balas bang Agus kesal.


"Gak lah, cuma demam aja kok, nanti juga sembuh sendiri," jawab ku tetap kekeuh menolak ajakan nya.


"Ya udah lah kalau gitu, terserah dirimu aja lah!" balas bang Agus makin kesal karena penolakan ku.


"Buka lah pintu rumah mu itu, say. Biar abang bisa masuk. Abang mau pijat dan kerokin badan mu, biar cepat sembuh," titah bang Agus.


Aku tersenyum mendengar ucapan bang Agus yang tampak sangat mengkhawatirkan keadaan ku. Sedang kan suamiku, dia malah sama sekali tidak memperdulikan ku. Padahal kalau dia sakit, aku selalu merawat nya dengan baik.


Tiba giliran aku yang sakit seperti ini malah di abaikan.Jangan kan merawat ku, bertanya aku sudah makan atau belum saja tidak.


"Ya Allah, sesak rasa nya dada ini melihat sikap suami ku seperti itu," jerit ku dalam hati.


Malahan orang yang sama sekali tidak pernah aku perduli kan, yang begitu sangat mengkhawatirkan keadaan ku saat ini.


"Bang Agus, setulus itu kah cinta mu pada ku?" tanya ku dalam hati.


Setelah beberapa saat merenung, aku pun kembali membalas ucapan bang Agus.


"Gak usah bang, makasih. Nanti aku minta pijat sama bang Darma aja. Udah dulu ya bang, aku mau istirahat lagi, assalamualaikum," balas ku menutup panggilan sepihak.


"Kalau terus di ladeni omongan nya, bisa-bisa sampai sore pun gak bakalan siap-siap percakapan nya." gerutu ku dalam hati.


"Oke, istirahat ya say, wa'laikum salam," jawab bang Agus pasrah.


Setelah selesai menerima panggilan dari bang Agus, aku berjalan ke dapur untuk menyeduh teh manis hangat, lalu membawa nya ke kamar dan meletakkan teh itu di atas meja.


"Aku harus sarapan walaupun hanya sedikit, biar bisa minum obat," gumam ku pelan.


Aku mengambil beberapa roti kering di dalam toples, lalu memakan nya bersama teh manis. Setelah itu, aku meminum obat dan kembali bergulung di bawah selimut.

__ADS_1


__ADS_2