
"Aku takut kena penyakit." jawab bang Darma.
"Oh," balas ku.
Setelah perbincangan dengan bang Darma selesai, aku pun mulai memiringkan tubuh ku untuk membelakangi nya. Begitu juga dengan bang Darma, dia juga memunggungi ku sambil memeluk guling nya.
Tak butuh waktu lama, akhir nya kami berdua tertidur lelap dengan posisi masing-masing. Pagi menjelang, seperti biasa nya aku dan bang Darma mulai melakukan kegiatan sehari-hari.
Sejak pertengkaran kemarin, aku dan bang Darma saling berdiam diri. Tidak ada percakapan apa pun di antara kami. Suasana di dalam rumah sunyi mencekam seperti tidak berpenghuni.
Walaupun begitu, aku tetap mengerjakan pekerjaan rumah seperti biasa nya. Memasak, mencuci, membersihkan rumah, dan berjualan.
Setelah selesai dengan semua pekerjaan rumah, aku duduk di sofa sambil mengotak-atik ponsel ku.
"Say, abang boleh ke rumah mu gak?" bang Agus mengirimkan pesan teks pada ku.
"Mau ngapain kesini?" tanya ku balik.
"Abang kangen, say. Pengen peluk dirimu, boleh gak?" jawab bang Agus.
Aku terdiam sejenak tidak langsung menjawab pertanyaan nya. Aku masih berpikir apakah memperbolehkan bang Agus datang atau tidak.
Karena tidak ada jawaban dari ku, bang Agus pun kembali mengirimkan pesan nya.
"Kok gak di balas, say? Boleh gak abang datang sekarang?" tanya bang Agus lagi.
Aku menghela nafas panjang saat membaca pesan dari bang Agus. Dan dengan gerakan malas, aku pun kembali mengetik dan mengirim pesan itu pada nya.
"Boleh," jawab ku singkat.
"Oke, abang kesana sekarang!" balas bang Agus.
Setelah selesai berbalas pesan dengan selingkuhan lima langkah ku, aku meletakkan ponsel di atas meja dan merebahkan diri di atas sofa panjang yang sedang aku duduki.
Baru saja hendak menutup mata, tiba-tiba bang Agus datang dan menindih tubuh ku. Setelah itu, dia langsung menarik tangan ku untuk masuk ke dalam kamar lalu mengunci pintu.
"Abang kangen banget dengan mu, say. Sudah beberapa malam ini abang susah tidur, gara-gara mikirin dirimu, sayang."
Bang Agus berbisik sambil memeluk tubuh ku. Raut wajah nya tampak sangat senang, karena bisa bertemu dengan ku.
__ADS_1
Bang Agus terlihat begitu merindukan ku, karena sudah beberapa hari ini dia tidak melihat ku.
"Kemana aja sih, say? Kok jarang kelihatan, kios nya juga tutup terus beberapa hari ini?" tanya bang Agus.
Bang Agus melepaskan pelukan nya dan mendudukkan ku di tepi ranjang. Dia berdiri di depan ku sembari mendekap erat tubuh ku. Wajah ku menempel di perut nya dan tangan ku melingkar di pinggang nya.
"Aku lagi banyak masalah, bang. Maka nya aku jarang keluar rumah." jawab ku.
"Emang ada masalah apa?" tanya bang Agus.
Bang Agus melepas dekapan nya dan berjongkok di depan ku. Dia meletakkan kepala nya di pangkuan ku, dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang ramping ku.
"Biasa lah,masalah rumah tangga." jawab ku lirih.
Aku membelai dan sesekali mencium kepala plontos bang Agus dengan lembut. Mendapatkan ciuman yang berulang-ulang di kepala nya, bang Agus langsung menatap ku sembari berkata...
"Say, abang mau ini boleh gak?" tanya bang Agus.
Bang Agus menunjuk ke arah pangkal paha ku, dan aku pun langsung mengangguk menyetujui permintaan nya.
Setelah melihat anggukan ku, bang Agus langsung bergegas membuka semua pakaian nya. Kemudian dia juga membuka pakaian ku satu persatu. Setelah itu, bang Agus pun mulai melakukan kegiatan nya.
Berhubung waktu nya sangat mepet, akhir nya bang Agus menyudahi permainan nya lebih cepat dari biasa nya.
"Nanti setelah jam makan siang, kita lanjutin lagi main nya ya, say!" ujar bang Agus.
"Iya," balas ku.
Setelah permainan berakhir, aku dan bang Agus pun bergegas memakai pakaian masing-masing. Kemudian bang Agus pamit pulang sambil mengecup kening ku.
"Abang balek dulu, say. Nanti abang kesini lagi." ujar bang Agus.
"Oke," balas ku.
Selesai berpamitan, bang Agus keluar dari kamar dan berjalan keluar menuju ke rumah nya. Setelah kepergian bang Agus, aku melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan hasil perbuatan bang Agus barusan.
Setelah selesai, aku menyalakan rokok dan kembali merebahkan diri di ruang tamu. Sekitar lima belas menit kemudian bang Darma pun pulang.
Dia melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengucapkan salam. Melihat kepulangan nya, aku pun segera menghidangkan makanan, dan meletakkan nya di depan bang Darma yang sudah bersila di atas lantai.
__ADS_1
Setelah itu, kami berdua pun langsung memakan makanan itu dengan suasana hening, tanpa percakapan apa pun. Aku dan bang Darma sibuk dengan isi kepala masing-masing.
Selesai makan, bang Darma langsung pergi kembali ke tempat kerja nya, tanpa mengucapkan sepatah kata pun pada ku. Dia masih terus mempertahankan wajah dingin nya dan mode bisu nya.
Setelah bang Darma pergi, aku duduk selonjoran di lantai dan menyandarkan punggung ku di kaki sofa. Lalu aku pun menyalakan rokok kembali.
Sedang asyik dengan lamunan ku, tiba-tiba bang Agus menepuk pundak ku dari belakang.
"Say, lagi mikirin apa sih? Abang perhatiin dari tadi dirimu melamun terus." tanya bang Agus.
"Gak ada mikirin apa-apa, bang. Kok abang bisa tau kalau aku sedang melamun? Emang nya udah berapa lama abang perhatiin aku?" tanya ku penasaran.
"Udah dari tadi, say. Udah hampir sepuluh menit abang berdiri di belakang mu." jawab bang Agus.
"Loh, kok aku gak ada dengar suara sandal nya?" tanya ku heran.
Aku menautkan kedua alis sembari menoleh kepada bang Agus yang sudah duduk di depan ku, sambil cengar-cengir salah tingkah.
"Iya, suara sandal abang memang gak kedengaran. Karena abang memang sengaja masuk kesini secara diam-diam." jawab bang Agus santai.
"Ohhh, pantesan lah kalo gitu. Emang nya hari ini abang gak kerja ya?" tanya ku penasaran.
"Gak, say. Hari ini abang lagi of." jawab bang Agus.
Aku kembali melamun sambil menghisap rokok yang masih ada di tangan ku. Melihat reaksi ku yang kembali diam, bang Agus pun merengek manja pada ku.
"Ayo, say! Kita main lagi kayak tadi." ajak bang Agus.
Bang Agus menggenggam tangan ku dan kembali mengajak ku berjalan masuk ke dalam kamar. Setelah mengunci pintu, bang Agus melancarkan aksi nya kembali.
Dia mengulangi permainan nya di atas tubuh. Aku yang sedang terlena dengan pelayanan nya pun, hanya memejamkan mata sambil mengeluarkan suara-suara indah dari bibir ku.
Bang Agus terus saja memanjakan tubuh ku dengan sangat lincah dan liar. Setelah berpacu selama kurang lebih satu jam dengan berbagai gaya dan posisi, bang Agus pun menyelesaikan tugas nya.
Dia membaringkan tubuh nya di samping ku, dengan nafas yang masih tampak tidak karuan.
"Gimana, say? Dirimu merasa puas gak dengan permainan abang tadi? Kalo belum puas, biar abang akan lanjutkan lagi sekarang?" tanya bang Agus.
"Udah cukup, bang. Lain kali aja kita ulangi lagi main nya!" jawab ku.
__ADS_1
"Oh, ya udah kalo gitu." balas bang Agus.