SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Tingkah Aneh Naya


__ADS_3

"Sssttt, berisik!" balas ku cuek.


"Hihihi,"


Naya cekikikan sendiri sambil menutup mulut nya karena melihat kelakuan-kelakuan aneh ku.


Aku sama sekali tidak menanggapi tingkah Naya yang sedang mentertawai ku. Aku tetap cuek dan acuh sambil meletakkan gelas kosong ke atas meja, lalu menyandarkan tubuh ku di bahu kursi.


"Sakit kepala mu udah sembuh belum, Yu?" tanya Naya.


"Ya belum lah, nyet. Kau pikir sakit kepala ku ini kayak yang di tv-tv itu apa? Baru aja minum obat udah langsung sembuh." oceh ku ketus.


"Eh, iya juga ya, hahaha." gelak Naya sambil menepuk-nepuk kuat bahu ku.


"Adoooh, sakit tau gak! Tangan mu ini mau minta patah kan ya." omel ku kesal.


"Widiih, sadis euy, hihihi." ledek Naya sambil cekikikan kembali.


"Kau itu kenapa sih, dari tadi kok cekikikan terus? Entar kesurupan mak kunkun baru tau rasa loh." gerutu ku.


"Hussh, sembarangan! Nanti kalo aku kesurupan beneran gimana coba?" tanya Naya sembari menyenggol lengan ku.


"Ya gak gimana-gimana sih, palingan aku carikan dukun untuk mu." jawab ku asal.


"Dukun? Emang nya buat apa nyari dukun segala?" tanya Naya dengan kening mengkerut.


"Ya buat ngobatin sedeng mu itu lah." jawab ku.


"Hahaha, gila. Bukan nya manggil ustadz malah manggil dukun pulak dia." gelak Naya.


Aku hanya tersenyum kecut melihat Naya yang sedari tadi tiada henti-hentinya tertawa. Sedangkan aku jangan kan tertawa, tersenyum sumringah aja rasa nya berat sekali.


Beban pikiran yang harus selalu bersarang di kepala ku, sungguh sangat menyiksa jiwa ku saat ini.


Aku masih saja memikirkan ucapan yang keluar dari bibir bang Darma sewaktu di rumah tadi. Kata-kata itu selalu saja terngiang-ngiang di telinga ku, dan itu membuat ku menjadi tidak tenang dan gelisah.


"Kau itu kenapa sih, muka mu kok murung terus dari tadi?" tanya Naya.


"Gimana aku gak murung, kalo masalah yang sedang aku alami seberat itu!" jawab ku.


"Huh, iya juga sih. Kalau saja aku yang ada di posisi mu, mungkin aku gak akan sanggup menjalani hidup seperti itu."


Ujar Naya sambil menghela nafas panjang dan menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong.


"Kau itu termasuk tabah juga ya, Yu. Kau sanggup menghadapi ujian sebesar itu. Kalau aku sih udah pasti angkat tangan, kalau menghadapi masalah seperti itu." lanjut Naya.


"Ya habis nya mau gimana lagi, Nay?Sebenarnya sih aku juga udah gak sanggup, tapi kalau aku pergi dari rumah suamiku, rencana ku bisa berantakan nanti nya." jelas ku.


"Emang rencana apa an sih?" selidik Naya.


"Gak usah kepo, suatu hari nanti kau juga bakalan tau sendiri." jawab ku.


"Iiiisss, pelit kali manusia langka satu ini. Masa sama sepupu sendiri pake rahasia-rahasiaan segala sih, bikin jiwa kepo ku meronta-ronta aja kerjaan nya." omel Naya.


"Biarin, emang gue pikirin." balas ku cuek.


"Huuuu, dasar sepupu gak ada akhlak!" umpat Naya kesal.


Naya tampak sangat penasaran dengan ku. Dia ingin sekali mengetahui tentang rencana ku itu.


"Kira-kira rencana mu itu menguntungkan gak?" selidik Naya lagi.


"Ya iya lah, yang pastinya rencana ku itu akan menguntungkan dan juga menghancurkan, hahaha." jawab ku

__ADS_1


Aku tertawa dengan suara yang cukup memekakkan telinga. Karena saking kuat nya suara tawa ku, sampai-sampai Naya langsung reflek menutup mulut ku dengan kedua tangan nya.


"Ssstttt, bising kali muncung mu ini! Nanti rumah ku di lempar batu pulak sama tetangga sebelah, gara-gara suara cempreng mu itu."


Naya mengoceh sambil terus membekap mulut ku, hingga membuat ku sesak dan susah untuk bernafas.


"Iiihhhh, lepasin! Tangan mu bau tau gak, uwek-uwek!" gerutu ku.


Aku melepas paksa tangan Naya dari mulut ku. Setelah itu, aku pun langsung mual-mual di depan nya sampai mata ku menjadi merah dan berair.


Naya yang melihat reaksi ku seperti itu pun langsung mengendus-endus telapak tangan nya sendiri.


"Tadi aku makan sambal terasi, maka nya tangan ku jadi bau gini, hihihi." ujar Naya sambil cekikikan sendiri.


"Hadehh, pantesan aja lah tangan mu bau gitu." gerutu ku.


"Lagian kau itu kok jorok banget sih jadi cewek, bukan nya di cuci dulu kek sampe bersih. Ini enggak, malah megangin mulut ku pulak tu, hiiiiii." omel ku bergidik ngeri.


"Halah, gitu aja kok lebay kali sih, wangi nya seger gini kok di bilang bau pulak. Rusak hidung mu itu ya!" ledek Naya.


Naya kembali mengendus-endus telapak tangan nya. Setelah itu, dengan gerakan cepat dia pun langsung menempel kan telapak tangan nya itu tepat di hidung ku.


Akibat ulah Naya, akhirnya aku pun kembali mual-mual karena tidak sanggup menahan bau yang ada di tangan nya.


"Dasar, kamvreeeet! Awas kau ya, aku akan bikin perhitungan dengan mu, tengok aja lah nanti!" umpat ku geram.


"Hahahaha, gak takut, week!" ledek Naya sambil menjulurkan lidah nya pada ku.


Setelah selesai berhaha-hihi dengan sepupu gendeng ku itu, tiba-tiba ponsel ku berdering nyaring di dalam tas ransel yang tergeletak di atas kursi yang berada di sebelah ku.


Kring kring kring...


"Siapa yang nelpon, Yu?" tanya Naya.


"Iya sih, hehehe." balas Naya sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


Aku menggeleng-gelengkan kepala sambil merogoh tas ransel untuk mengambil ponsel. Setelah mendapatkan nya, kening ku langsung mengkerut saat melihat nama "Botak Tuyul" yang tertera di layar ponsel itu.


Setelah melihat ekspresi wajah ku yang sedikit berbeda, Naya pun langsung mendekat dan melirik ke arah ponsel yang ada di genggaman tangan ku.


"Botak Tuyul? Siapa itu, Yu? Kok nama nya aneh gitu sih, kayak gak ada nama lain aja." tanya Naya penasaran.


"Dia itu selingkuhan lima langkah ku yang pernah aku ceritakan haritu dengan mu. Kau masih ingat gak?" tanya ku balik.


"Ya ingat lah, kau pikir aku ini pikun apa!" gerutu Naya.


"Ya, siapa tau aja kau mendadak amnesia, hahaha." gelak ku.


"Udah, gak usah haha hihi terus. Cepat angkat ponsel nya, keburu mati panggilan nya tuh!" titah Naya.


"Oke," balas ku.


Aku mulai menerima panggilan dari bang Agus. Kemudian aku juga mengaktifkan pengeras suara nya, agar manusia kepo yang ada di sebelah ku itu juga bisa mendengarkan percakapan kami berdua.


"Halo assalamualaikum, bang." salam ku.


"Wa'laikum salam, kamu lagi dimana, say? Rumah mu kok tutup terus dari tadi?" tanya bang Agus.


"Lagi di rumah sepupuku, bang." jawab ku.


"Ah, yang bener?" selidik bang Agus.


"Iya beneran, botaaaakkk. Kalo gak percaya, video call aja biar tau aku lagi dimana!" jawab ku.

__ADS_1


"Oke," balas bang Agus.


Bang Agus pun segera mengalihkan panggilan nya menjadi video call. Dia langsung tersenyum saat melihat wajah ku yang terpampang jelas di dalam ponsel nya.


"Abang mau lihat sepupuku?" tanya ku.


"Boleh, mana orang nya coba abang lihat!" jawab bang Agus.


Aku langsung mendekatkan ponsel ku ke wajah Naya yang sedari tadi masih duduk kelesotan di sebelah ku.


"Hai, bang. Aku Naya sepupunya Ayu." sapa Naya sambil melambaikan tangan nya.


"Oh, iya. Salam kenal ya, nama ku Agus." balas bang Agus sambil tersenyum manis pada Naya.


"Ternyata sepupu mu cantik juga ya, say." ujar bang Agus.


"Ya iya lah, nama nya juga cewek, ya pasti cantik lah. Kalau cowok, baru nama nya ganteng." balas ku sewot.


Ada sedikit rasa kesal di hati ku, setelah mendengar pujian yang di lontarkan bang Agus kepada Naya.


"Hehehe, iya juga ya." balas bang Agus.


Bang Agus jadi salah tingkah karena melihat raut wajah ku yang sudah berubah masam.


"Abang ada perlu apa nelpon-nelpon aku, hah?" tanya ku ketus.


"Gak ada perlu apa-apa kok, say. Abang cuma khawatir aja dengan keadaan mu." jawab bang Agus.


"Abang gak usah khawatir, aku baik-baik aja kok disini. Kalau gak ada yang mau abang omongin lagi, aku matiin aja ya ponsel nya!" balas ku masih ketus.


"Ja-jangan lah, say. Masa mau di matiin sih ponsel nya, abang kan belum siap ngomong." ujar bang Agus.


"Lah trus, mau ngomong apa lagi?" tanya ku.


Aku melirik sedikit ke arah Naya dengan ekor mata ku. Naya tampak tersenyum-senyum sendiri, sambil terus memandangi wajah bang Agus yang ada di layar ponsel ku.


"Ini bocah kenapa sih senyum-senyum terus dari tadi." batin ku heran.


Aku masih saja berpura-pura cuek dan acuh, dengan tingkah Naya yang ada di sebelah ku.


Karena saking asyiknya memandangi wajah bang Agus, sampai-sampai Naya tidak sadar, kalau sedari tadi aku terus memperhatikan gerak-gerik nya dari lirikan mata ku.


"Abang kangen, say. Kita ketemuan sekarang, yok!" ajak bang Agus.


"Oke, tunggu aja di hotel biasa! Entar lagi aku nyusul." balas ku.


"Oke, say. Abang berangkat sekarang ya." ujar bang Agus.


"Iya," balas ku.


Aku langsung menutup panggilan video call dari bang Agus secara sepihak. Setelah itu, aku bergegas menyimpan ponsel ke dalam tas, tanpa menoleh atau pun mengeluarkan suara kepada Naya.


"Kalian mau kencan di hotel ya, Yu?" tanya Naya.


"Iya, emang nya kenapa? Apa kau mau ikut?" tanya ku balik.


"Emang nya boleh?" tanya Naya balik.


"Boleh-boleh aja sih, kalau memang kau gak punya otak." cibir ku pedas.


"Hahaha, dasar edan! Ya gak mungkin lah, aku mau ikut bergabung bersama kalian berdua di dalam kamar hotel, aneh-aneh aja." balas Naya sambil tergelak.


"Nah, tu tau." balas ku dingin.

__ADS_1


__ADS_2