SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Lakukanlah, Bang!


__ADS_3

Setelah meminta izin pada bang Darma, aku bergegas menutup kios dan menghubungi bang Agus.


"Halo assalamualaikum, bang," salam ku.


"Wa'laikum salam, say. Gimana, jadi gak kita ke hotel?" tanya bang Agus.


"Jadi dong, bang. Abang tunggu aja di tempat biasa, ya! Ntar lagi aku kesana, aku mau siap-siap dulu." jawab ku.


"Oke, sayang ku." balas bang Agus menutup panggilan.


Setelah panggilan berakhir, aku langsung berganti pakaian dan mempersiapkan perlengkapan lain nya untuk di hotel nanti.


Setelah semua nya beres, aku segera berjalan keluar rumah dan mengendarai motor menuju ke rumah sepupu ku.


Sesampainya di tempat tujuan, aku segera menitip kan kendaraan roda dua ku kepada sepupuku yang bernama Naya.


Karena mendengar ada suara motor di depan rumah nya, Naya langsung keluar dan berdiri di depan pintu.


"Nay, aku titip motor disini ya! Besok aku ambil lagi." ucap ku sambil memarkirkan motor itu di teras rumah nya.


"Emang nya kau mau kemana, Yu?" tanya Naya penasaran.


"Aku mau bersenang-senang dulu." balas ku.


"Suami mu tau gak kalau kau keluar rumah?" tanya Naya lagi.


"Ya tau lah, Nay. Tadi aku udah minta izin kok sama bang Darma." jawab ku.


"Oh, kirain gak tau. Emang nya mau kemana sih? Bikin kepo aku aja nih bocah!" sungut Naya semakin penasaran.


"Ada deeh, mau tau aja urusan orang!" ledek ku sambil tersenyum manis pada Naya.


"Hayo, mau ngapain? Kayak nya aku ada mencium bau-bau yang gak beres nih!" tebak Naya.


"Sssttt, berisik! Udah ah, aku berangkat dulu ya,bye." ujar ku.


Setelah selesai berbincang dengan Naya, aku pun segera memesan ojek online. Tak butuh waktu lama, ojek yang aku pesan pun tiba di depan rumah Naya.


"Dengan mbak Ayu, ya?" tanya si tukang ojek pada ku.


"Iya, bang. Sesuai alamat ya, bang!" jawab ku.


"Oke siap, mbak." balas si tukang ojek.

__ADS_1


Tanpa basa-basi lagi, aku segera naik ke atas motor dan memakai helm yang di berikan si tukang ojek. Sedangkan Naya, dia hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat kepergian ku dari rumah nya.


Sampai di taman kota, aku segera turun dari motor dan membuka helm, lalu menyerahkan helm itu nya kepada si tukang ojek.


"Makasih ya, bang." ucapku sambil menyerahkan ongkos ke tangan nya.


"Iya sama-sama, mbak." balas nya.


Setelah menerima ongkos, tukang ojek itu pun mulai melajukan kendaraan nya dan berlalu pergi dari hadapan ku.


Tak lama kemudian, bang Agus pun muncul sambil tersenyum-senyum di depan ku.


"Kenapa cengar-cengir gitu, bang?" tanya ku.


"Gak papa, say. Ayo cepetan naik, nanti keburu ada yang lihat!" desak bang Agus.


"Oke," balas ku.


Aku segera naik ke atas motor dan memeluk tubuh bang Agus dari belakang. Setelah itu, bang Agus pun langsung melajukan kendaraan nya menuju hotel.


Sampai di lokasi, aku dan bang Agus segera bergegas masuk ke dalam gedung hotel. Selesai memesan kamar, dan menerima kunci dari resepsionis. Kami berdua kembali berjalan ke lantai dua.


Sampai di depan pintu, aku dan bang Agus pun bergegas masuk ke dalam kamar sesuai dengan nomor yang tertera di kunci.


"Sabar, bang. Gak usah terburu-buru gitu, waktu kita masih panjang kok." bisik ku.


Bang Agus yang sedang sibuk mencium leher ku itu pun langsung menghentikan aksinya, dan menatap ku dengan mata sayu nya.


Dia juga menindih dan mengungkung tubuh ku dengan kedua tangan nya.


"Tapi abang udah gak tahan lagi, sayang!" rengek bang Agus manja.


"Abang ingin segera memberikan kepuasan seperti yang kau inginkan, sayang." lanjut bang Agus.


Mendengar kata kepuasan, aku pun langsung menganggukkan kepala tanda setuju. Aku juga sudah tidak sabar ingin merasakan nya dengan bang Agus di atas ranjang.


"Lakukan lah, bang! Lakukan lah tugas mu pada ku yang haus akan belaian dan sentuhan ini!" pinta ku.


Dengan nafas yang mulai tidak karuan, aku meminta bang Agus untuk segera kembali melakukan kegiatan nya.


"Baik lah, say. Abang akan melayani mu sampai kau merasa puas." bisik bang Agus.


Mendengar kata-kata indah ku barusan, bang Agus pun langsung melancarkan aksinya kembali. Dia menyentuh ku dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan lembut, dan aku sangat menyukai perbuatan nakal nya itu.

__ADS_1


Bang Agus melakukan kegiatan nya selama kurang lebih satu setengah jam. Disela-sela kegiatan nya, bang Agus sempat bertanya padaku dengan nafas nya yang tidak karuan.


"Udah puas belum, say?" tanya bang Agus.


Aku yang sedang memejamkan mata pun langsung menatap wajah bang Agus, karena mendengar pertanyaan dari nya barusan.


"Emang nya kenapa, bang? Abang udah kecapean ya?" tanya ku balik.


"Kalau abang sih gak akan ada capek nya kalau soal yang beginian, say. Takut nya dirimu yang sudah kecapean!" balas bang Agus.


"Aku juga sama seperti abang kok, gak akan ada capek nya kalau di giniin terus. Aku gak akan ada bosan nya melakukan ini, bang." balas ku.


"Baik lah, say. Kita teruskan aja sampe selesai ya?" ujar bang Agus.


"Iya, bang. Teruskan lah, aku juga masih menginginkan nya!" balas ku lagi.


Aku menjawab sambil tersenyum genit pada selingkuhan lima langkah ku itu.


"Ah, bang Agus. Kau memang lelaki paling perkasa yang pernah aku rasakan!" batin ku tersenyum bahagia.


Setelah pergumulan panas selesai, aku dan bang Agus melangkah menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah itu, bang Agus pun menawarkan makanan pada ku.


"Kamu mau makan gak, say? Kalau mau biar abang keluar cari makanan." tawar bang Agus.


"Nanti aja, bang! Aku belum lapar." balas ku.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas bang Agus.


Hanya dengan menggunakan handuk yang melilit di tubuh ku, aku duduk di tepi ranjang sambil memperhatikan bang Agus yang terlihat sibuk mengotak-atik ponsel nya.


"Ada masalah apa, kok serius banget sih dari tadi?" tanya ku.


Aku sedikit penasaran melihat raut wajah bang Agus yang tampak sangat serius dengan ponsel nya.


"Gak ada apa-apa, say. Abang cuma minta izin libur besok sama bos." jawab bang Agus.


"Oh, kirain ada apa." balas ku lega.


"Emang nya kenapa, say?" tanya bang Agus balik.


"Gak ada apa-apa, bang. Aku cuma tanya aja kok." jawab ku sambil merebahkan diri kembali di atas ranjang.


"Apa mau minta lagi ya, say?" tanya bang Agus dengan senyum yang menyeringai mendekati ku.

__ADS_1


__ADS_2