
* Kembali ke kediaman Ayu *
Setelah memberitahu Dina, bahwa Yuni dan bang Darma sedang bersenang-senang di hotel, aku merebahkan diri di atas ranjang lalu mengisap rokok kembali, dengan senyum yang terus mengembang di bibir ku.
"Kira-kira, mereka bertiga lagi ngapain ya sekarang? Apa lagi perang, atau lagi nangis-nangis kejer, atau malah Dina ikutan gabung dengan mereka?"
Gumam ku dengan pandangan menerawang menatap langit-langit kamar.
"Ah, biarin aja lah. Mau perang kek, mau guling-guling kek, mau jungkir balik kek, bodo amat. Yang penting, mereka tidak mengganggu ketenangan ku lagi, hahaha." gelak ku.
Sedang asyik memikirkan nasib ketiga benalu itu, tiba-tiba aku tersentak kaget, karena mendengar suara ponsel yang berdering nyaring di atas meja.
Kring kring kring...Kring kring kring...
"Astaghfirullah, kaget aku." ucap ku sembari mengelus-elus dada saking kaget nya.
Dengan hati yang masih berdebar-debar akibat terkejut, aku pun merentangkan tangan ke arah meja, untuk meraih ponsel yang masih memekakkan telinga itu.
Setelah mendapatkan nya, aku langsung membelalakkan mata, saat melihat nama si pemanggil yang tertera di layar ponsel.
"Hah, pak kades? Kira-kira, ada perlu apa ya dia ngubungi aku?"
Gumam ku sambil terus memandangi layar ponsel yang masih menyala di depan ku. Dengan perasaan ragu, aku pun menerima panggilan dari salah satu sumber keuangan ku itu.
"Halo, assalamualaikum." salam ku.
"Wa'laikum salam, nona cantik." balas pak kades.
Aku hanya senyum-senyum sendiri mendengar ucapan pak kades. Dia memang selalu memuji ku, kalau sudah berbicara atau pun bertatap muka dengan ku.
"Ah, bapak bisa aja." ujar ku dengan nada manja.
"Ada perlu apa, pak? Tumben, bapak ngubungi aku sore-sore gini?" tanya ku penasaran.
"Saya kangen banget sama mbak Ayu, udah lama juga kita gak jumpa. Kira-kira bisa gak kita ketemuan sekarang, mbak?" tanya pak kades penuh harap.
"Emang bapak lagi dimana sekarang?" tanya ku balik.
"Saya masih di kantor, mbak. Tapi kalau mbak Ayu mau, saya akan langsung meluncur ke hotel. Gimana mau gak, mbak?" tanya pak kades.
Aku tidak langsung menjawab pertanyaan pak kades. Aku merenung sejenak memikirkan tawaran dari pak kades.
"Aku terima atau tidak ya, tawaran nya ini?" batin ku bingung.
Setelah beberapa saat berpikir dan menimbang-nimbang, akhirnya aku memutuskan untuk menerima tawaran pak kades.
"Ah, terima aja lah. Lumayan juga tuh, buat nambah-nambah uang celengan ku." batin ku.
__ADS_1
Karena tidak mendengar suara ku, pak kades pun kembali bertanya pada ku.
"Jadi gimana, mbak? Bisa gak kita ketemuan sekarang?" tanya pak kades mengulang pertanyaan nya.
"Eh, iya bisa kok, pak. Bapak langsung aja meluncur kesana, bentar lagi aku nyusul. Aku mau siap-siap dulu." jawab ku gelagapan.
"Wah, syukur lah kalau bisa. Saya seneng banget dengar nya. Oke lah, saya kesana sekarang ya, mbak. Nanti saya kirim nomor kamar ya, bye." pamit pak kades dengan nada girang tak terhingga.
Setelah panggilan berakhir, aku segera beranjak dari ranjang, lalu bersiap-siap untuk pergi menemui pak kades.
Selesai berganti pakaian dan menyampirkan tas ransel di pundak, aku segera keluar dari kamar dan melangkah menuju pintu utama.
Saat hendak membuka pintu, tiba-tiba ponsel ku berbunyi tanda ada pesan teks masuk. Ternyata pesan itu dari pak kades, dia mengirim kan nomor kamar yang sudah di sewa nya, di hotel yang pernah kami tempati tempo hari.
"Kamar nomor 110 ya, mbak." pesan pak kades.
"Oke, pak. Aku otewe sekarang." balas ku mengirimkan pesan itu kepada pak kades.
Setelah membalas pesan pak kades, aku menyimpan ponsel kembali ke dalam tas, lalu melangkah keluar dari rumah bang Darma.
Sesudah mengunci pintu, aku bergegas naik ke atas motor, lalu melajukan kendaraan roda dua ku itu menuju hotel. Tak butuh waktu lama, aku pun sudah tiba di depan gedung hotel berlantai empat tersebut.
Setelah memarkirkan motor di tempat yang sudah tersedia, aku segera melangkah masuk ke dalam hotel, dan langsung menapaki anak tangga untuk menuju ke lantai dua.
Sesampainya di depan pintu kamar nomor 110, aku mengetuk-ngetuk pintu tanpa mengeluarkan suara sepatah kata pun. Tak butuh waktu lama, akhirnya nya pintu pun terbuka lebar.
Seru pak kades dengan wajah berbinar cerah, dan senyum yang sumringah di bibir nya. Aku pun hanya mengangguk, lalu melangkah masuk ke dalam kamar hotel tersebut.
Sampai di dalam, aku meletakkan tas di atas nakas, lalu mendudukkan diri di pinggir ranjang. Aku menyalakan rokok lalu menghembuskan asap nya ke udara dengan kasar.
"Ada apa, mbak? Kenapa muka nya di tekuk gitu? Mbak Ayu lagi ada masalah ya, sama suami nya?" tanya pak kades sembari ikut duduk di sebelah ku.
"Ya biasa lah, pak. Nama nya juga rumah tangga, pasti banyak godaan dan cobaan nya." jawab ku lirih.
"Iya juga sih, bener apa yang mbak bilang itu." balas pak kades membenarkan ucapan ku.
Pak kades merubah posisi duduk nya menjadi di belakang ku. Dia melingkar kan kedua tangan nya di pinggang ku, lalu menempelkan badan nya di punggung ku. Setelah itu, dia meletakkan dagu nya di bahu kanan ku.
"Wes koyo anak nyet ae wong tuwek siji iki." gumam ku pelan, tapi masih bisa di dengar oleh pak kades.
"Hah, apaan, mbak? Mbak Ayu ngomong apa tadi?" tanya pak kades bingung.
"Eh itu, pak. Aku bilang bapak ganteng banget hari ini. Bikin aku terpesona aja, hehehe." jawab ku asal.
"Ah, masa sih, mbak?" balas pak kades semakin mempererat pelukan nya.
"Iya serius, pak. Aku gak bohong. Bapak emang ganteng banget hari ini. Beda dengan hari-hari sebelum nya." jelas ku.
__ADS_1
Aku sengaja memuji-muji pak kades, agar dia semakin senang dan memberikan uang yang banyak pada ku.
Dan ternyata, dugaan ku itu benar adanya. Pak kades tampak sangat bahagia mendengar ucapan ku barusan.
Aku memperhatikan raut wajah pak kades dari pantulan cermin yang ada di depan ku. Aku melihat senyuman yang tidak pernah luntur dari bibir pak kades, setelah mendengar pujian ku tersebut.
"Pak, jangan senyam-senyum terus. Entar kesambet loh, hihihi." canda ku sembari cekikikan sendiri.
"Loh, kok mbak Ayu tau kalau saya lagi senyum-senyum?" tanya pak kades heran.
"Lah itu, aku lihat nya dari situ." jawab ku.
Aku menunjuk ke arah cermin yang berada tepat di depan kami berdua. Pak kades mengikuti arah jari telunjuk ku, lalu tawa nya pun langsung pecah, saat melihat pantulan wajah nya sendiri dari cermin tersebut.
"Oalah, pantesan aja mbak Ayu bisa tau. Jadi malu saya, hahahaha." oceh pak kades sembari tertawa terbahak-bahak.
Aku hanya tersenyum menanggapi ucapan pak kades, sambil terus memperhatikan tingkah nya dari pantulan cermin. Setelah lelah mentertawai diri nya sendiri, pak kades pun kembali membuka perbincangan.
"Mbak, kalau boleh saya tau. Apa alasan mas Darma, sampai tega melakukan hal itu pada mbak Ayu?" tanya pak kades penasaran.
"Maksud nya melakukan apa?" tanya ku bingung.
Aku sama sekali tidak mengerti, arti dari pertanyaan pak kades. Dia seakan-akan mengetahui tentang satu hal, tapi dia tampak tidak enak hati untuk mengatakan langsung pada ku.
"Hmmmm, tapi janji ya! Mbak ayu jangan marah sama saya." tutur pak kades ragu.
"Iya bapak tenang aja, aku gak bakalan marah kok. Bapak ngomong aja langsung, ada apa sebenarnya?" desak ku mulai penasaran.
"Hmmm, sebenarnya nya sih saya gak enak mau ngomongin nya. Tapi kalau saya gak ngomong, saya kasihan sama mbak Ayu." ujar pak kades bingung.
"Gak papa, pak. Bapak ngomong aja, saya gak papa kok, percayalah!" balas ku.
Aku berusaha meyakinkan pak kades kalau aku baik-baik saja.
Setelah mendengar penuturan ku, pak kades pun langsung menghela nafas panjang. Kemudian dia mulai menceritakan kejadian, yang pernah di lihat nya.
"Beberapa hari yang lalu, saya pernah melihat mas Darma dengan anak nya masuk ke dalam hotel. Saya sudah beberapa kali melihat mereka berdua melakukan hal itu." tutur pak kades.
"Oooohh, kalau masalah itu sih saya udah tau, pak." balas ku santai.
"Loh, mbak Ayu tau dari mana? Apa mbak Ayu juga sudah memergoki mereka?" selidik pak kades.
"Iya," jawab ku.
"Oalah, kirain mbak Ayu belum tau. Saya tadi sempat ragu juga, untuk mengatakan hal ini kepada mbak Ayu. Eeehh, ternyata mbak Ayu udah tau duluan rupanya." oceh pak kades.
"Iya, pak. Aku udah beberapa kali melihat perbuatan mereka, dengan mata kepala ku sendiri." lanjut ku lagi.
__ADS_1