SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Hampir Saja Terbongkar


__ADS_3

"Mengganggu? Maksudnya gimana sih, Yu? Aku gak paham." tanya Naya.


"Mereka selalu menipu, dan membodohi suami ku, Nay." jawab ku.


"Bahkan, motor suami ku pun, udah gak ada lagi sekarang. Dan itu semua, akibat perbuatan dua manusia luknut itu." lanjut ku geram.


Aku bercerita sambil mengepalkan tangan, dan menghentak-hentak kan kepalan tangan ku itu, di kursi. Naya hanya terdiam, melihat raut wajah ku yang sudah tampak sangat menakutkan.


"Selow lah muka tu, horor banget sih! Jadi serem aku lihat nya." canda Naya memecah keheningan.


Aku langsung menoleh pada Naya, dan hanya tersenyum tipis, menanggapi candaan nya barusan.


"Nay, mana tau nanti suami ku tanya, bilang aja kita nginap di rumah mama mu, ya! Soal nya kemaren, aku ngasi alasan itu pada suami ku. Bisa kan, Nay?" tanya ku.


"Tuh kan, aku juga yang jadi kambing hitam nya. Dia yang pecicilan ke hotel, aku yang jadi tumbal nya." gerutu Naya.


"Hahaha! Bukan kambing hitam, Nay. Tapi kambing congek." balas ku asal.


"Dasar, edan!" sungut Naya kesal.


"Oke lah kalo gitu. Aku pulang dulu ya, sepupu ku yang cantik! Kapan-kapan kita ngerumpi lagi disini."


Aku berpamitan pada Naya, sambil beranjak dari kursi nya. Naya mengantar ku sampai ke depan pintu. Dia terus memperhatikan ku, sambil melipat kedua tangannya di atas perut.


Sampai di teras, aku mulai menyalakan motor dan menaikinya.


"Aku pulang ya, Nay! Bye bye, sayang ku." canda ku sambil melambaikan tangan pada nya.


"Gilak, kau!" pekik Naya.


Naya memekik, sambil menempelkan jari telunjuk nya di kening. Aku hanya terkekeh, dan mulai melaju kan kendaraan roda dua ku itu, menuju ke rumah.


Sampai di depan rumah, aku langsung memarkirkan motor kesayangan ku itu di teras. Setelah selesai, aku segera membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam.


"Assalamualaikum, wa'laikum salam." aku mengucap kan salam sendiri, dan juga menjawab sendiri.


Setelah berada di dalam, aku langsung bergegas membuka kios, dan membersihkan rumah. Lalu, memasak makanan untuk makan siang.


Setelah semua pekerjaan beres, aku rebahan di ruang tamu, sambil bermain game di ponsel ku. Tak lama kemudian, bang Darma pun pulang. Dia mengucapkan salam, sambil melangkah masuk ke dalam rumah.


"Assalamualaikum," ucap bang Darma.


"Wa'laikum salam," balas ku.

__ADS_1


Seperti biasa, aku langsung menghampiri nya, dan mencium punggung tangan nya takzim. Setelah itu, aku pun kembali duduk di tempat semula. Dan tiba-tiba, bang Darma menanyakan hal yang sangat mengejutkan buat ku.


"Enak ya, nginap di hotel?" sindir bang Darma.


"Degh,"


Aku sangat terkejut, mendengar sindiran pedas dari bang Darma. Tapi, aku berusaha untuk tetap santai. Agar bang Darma tidak semakin curiga, kalau dugaan nya itu ternyata adalah benar.


"Siapa yang nginap di hotel?" tanya ku.


"Ya, kau lah. Emang nya siapa lagi, kalau bukan kau?" jawab bang Darma ketus.


"Apa kau gak baca, pesan teks yang aku kirim kan semalam?" tanya ku balik.


" Ya baca, lah. Tapi kan bisa aja, itu cuma alasan mu. Agar bisa keluyuran bebas, dengan lelaki lain. Siapa yang tau, kalau kau ada di mana semalam?" sindir bang Darma lagi.


Bang Darma terus saja menyindir ku, dengan kata-kata yang cukup menusuk hati. Dia mendudukkan dirinya di depan ku, sambil menyilang kan sebelah kaki nya, dan melipat kedua tangannya di perut.


"Oh, jadi kau gak percaya? Apa kau butuh bukti, atau butuh saksi?" tanya ku sinis.


"Gak perlu, aku sudah tau semua nya." balas bang Darma.


"Sudah tau apa, maksud nya?" selidik ku.


"Aku sudah tau, kalau kau berselingkuh di belakang ku!" tebak bang Darma.


"Tenang, Yu tenang! Jangan gegabah, jangan panik, dan jangan terlihat gugup. Santai aja!" batin ku menyemangati diri sendiri.


"Jangan sembarangan kalo ngomong, mana bukti nya kalau aku selingkuh?" tanya ku lantang.


"Gak perlu ada bukti apa pun, tanya kan aja pada diri mu sendiri. Bener gak, kata-kata ku tadi?" balas bang Darma.


Aku pun tidak bisa berkata apa-apa lagi. Mulut ku rasa nya sangat kaku, untuk menjawab pertanyaan bang Darma tadi.


"Ya Allah! Apakah ini akhir, dari kisah rumah tangga ku? Apakah hari ini, semua rahasia ku akan terungkap?" tanya ku dalam hati.


Bang Darma menatap wajah ku, dengan penuh rasa curiga dan tanda tanya. Aku menghela nafas kembali, dan menjawab semua pertanyaan bang Darma.


"Kau itu, gak usah cari-cari masalah lah, bang! Jangan menuduh ku yang tidak-tidak. Kalau kau tidak melihat nya langsung, dengan mata kepala mu sendiri." jawab ku tegas.


"Siapa yang cari-cari masalah? Aku kan tadi cuma tanya aja. Kalau memang itu semua gak bener, ya udah gak usah marah!" balas bang Darma.


Kening ku langsung mengkerut, mendengar ucapan bang Darma. Seolah-olah, dia hanya ingin menjebak ku. Padahal sebenarnya, dia tidak tahu apa-apa, tentang perselingkuhan ku itu.

__ADS_1


"Dia ini apa-apa an, sih! Tadi nuduh aku yang tidak-tidak. Sekarang malah cuma tanya aja, kata nya. Enteng banget, jawaban nya!" gerutu ku dalam hati.


"Jadi, sekarang mau gimana? Apa sebenarnya mau mu, bang?" tanya ku serius.


"Gimana apa nya sih, dek?" tanya bang Darma mulai melunak.


"Ya, tentang semua tuduhan mu tadi lah!" jawab ku.


"Hahaha! Abang tadi cuma pengen ngetes, kejujuran mu aja kok, dek. Gak ada maksud apa-apa, cuma itu aja!"


Bang Darma menjawab, sambil tertawa lepas di depan ku. Melihat dari gelagat nya, seperti nya dia memang benar-benar tidak mengetahui, fakta yang sebenarnya.


Dia hanya ingin berusaha, untuk memancing ku. Agar aku bisa keceplosan, dan tanpa sengaja berkata jujur dengan nya.


"Pintar juga kau, bang!" batin ku.


"Ya udah, mandi sana! Biar kita cepat makan, aku udah lapar kali nih!" desak ku.


"Ya," jawab bang Darma.


Dia mulai melangkah menuju kamar mandi, untuk membersihkan diri nya. Setelah selesai, bang Darma langsung melaksanakan shalat zhuhur.


Sambil menunggu bang Darma shalat, aku pun bergegas menghidangkan makanan, yang aku masak tadi di atas meja.


"Abang udah selesai, dek. Ayo, kita makan sekarang!" ajak bang Darma.


"Iya," jawab ku dengan malas.


Acara makan siang pun di mulai, aku dan bang Darma makan bersama, di ruang tamu. Setelah selesai, bang Darma pun kembali pergi bekerja, dengan menggunakan ojek.


Setelah kepergian bang Darma, aku kembali merebahkan diri di atas sofa panjang. Aku menatap langit-langit ruang tamu, sambil mengingat kata-kata yang di ucapkan bang Darma tadi.


"Untung aja, aku tadi gak terpancing dengan tuduhan bang Darma. Kalo sampe aku keceplosan, bisa berabe urusan nya." gumam ku.


"Huh, hampir saja terbongkar!"


Aku menghembuskan nafas kasar, mengingat kejadian yang sangat mendebarkan itu. Sedang asyik menghayal, tiba-tiba ada orang mengetuk pintu, sambil mengucapkan salam.


Tok tok tok...


"Assalamualaikum,"


"Wa'laikum salam," balas ku sambil membangun kan diri, dari rebahan.

__ADS_1


Mata ku langsung menyipit, dengan kening yang mengkerut. Setelah melihat orang yang sedang berdiri, di depan pintu.


"Ngapain kau kesini?" tanya ku.


__ADS_2