SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kabar Gembira Buat Yuni (Author)


__ADS_3

"Huh, dasar buaya!" umpat Dina kesal.


Dina merasa sangat kesal dan kecewa mendengar jawaban Darma. Dia seperti nya tidak rela jika Darma menyentuh tubuh Ayu lagi.


Dina ingin memiliki Darma seutuh nya seperti dulu, sewaktu mereka masih menjadi suami istri yang sah di mata hukum dan juga agama.


"Kau mau kemana buru-buru gitu?"


Tanya Dina sambil terus memperhatikan gerak-gerik Darma, yang sedang tergesa-gesa memakai pakaian nya kembali.


"Aku mau balek ke rumah jumpain Ayu. Takut nya nanti dia keburu pergi." jawab Darma.


"Nanti aja kau temui dia, sekarang kau temani aku dulu disini. Aku masih menginginkan kehangatan mu, sayang." bujuk Dina.


"Tapi tadi kau suruh aku harus cepat-cepat menemui Ayu. Gimana sih, cepat kali berubah pikiran nya! gerutu Darma sedikit kesal.


"Ya itu kan tadi sebelum kita main. Sekarang aku mau nya kau temani aku disini. Aku masih ingin bercinta lagi dengan mu." balas Dina.


"Ck, tadi kan udah sih. Masa mau nambah lagi, badan ku udah capek semua nih." omel Darma.


"Lemah kali pun tenaga mu, masa baru main sekali aja udah capek?" cibir Dina.


"Suka hati kau lah situ mau bilangin aku apa." balas Darma jengkel.


Darma melangkah keluar dari kamar Dina dan kembali duduk bersandar di lantai ruang tamu.


Beberapa saat kemudian, Dina menyusul Darma ke ruang tamu. Lalu dia duduk di sebelah Darma sambil bergelayut manja di lengan kiri nya.


Saat Dina hendak mendekatkan wajah nya untuk mengecup pipi Darma, tiba-tiba terdengar suara Yuni mengetuk-ngetuk pintu.


Tok tok tok...


"Mak, buka pintu nya, mak!" pekik Yuni.


"Ck, anak ini mengganggu kesenangan ku aja pun. Gak tau apa kalau aku sedang mesra-mesraan sama bapak nya!" batin Dina geram.


"Ya, bentar!" jawab Dina.


Dengan gerakan malas dan wajah yang di tekuk, Dina pun beranjak dari sebelah Darma dan melangkah untuk membukakan pintu.


"Ngapain aja sih dari tadi, mak? Buka pintu aja kok lama kali, bikin kesal aja." ocehYuni sambil melangkah masuk ke dalam.


Dina langsung tersentak kaget saat mendengar ocehan anak nya yang cukup kasar bagi nya. Dina sampai mengelus dada dan menggeleng kan kepala nya melihat tingkah laku anak nya tersebut.


"YUNI, kau gak boleh ngomong kasar gitu sama mamak mu! Kayak gak pernah di didik aja muncung mu itu." bentak Darma kepada anak semata wayangnya.


Mendengar bentakan Darma yang sangat menggelegar, Yuni pun langsung terkejut dan menoleh ke arah sumber suara.


Mata Yuni langsung mendelik, saat melihat bapak nya yang sedang duduk selonjoran di atas lantai ruang tamu.


"Eh, ada bapak rupanya. Kapan datang, pak?" tanya Yuni mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


"Baru dua jam yang lalu." jawab Darma.


Yuni mendudukkan diri nya di samping Darma, lalu mencium punggung tangan bapak nya takzim.


Setelah itu, Yuni pun mulai bermanja-manja dengan bapak nya. Dia membaringkan tubuh nya, dan meletakkan kepala nya di pangkuan Darma sambil memainkan ponsel nya.


Melihat tingkah manja anak gadis nya, Darma pun membelai rambut panjang Yuni dengan lembut sambil berkata...


"Kau itu jadi anak perempuan jangan bandel kali kenapa sih, Yun! Bukan nya bantuin mamak mu di rumah, malah keluyuran aja kerjaan mu." ujar Darma.


"Tadi kan udah Yuni kerjain sih, pak. Sebelum pergi tadi, Yuni tu udah nyapu rumah, udah nyuci piring sama nyuci baju juga." balas Yuni sambil memanyunkan bibir nya.


"Bagus lah kalo gitu, jadi anak perempuan ya memang harus seperti itu. Harus tau kerjaan rumah, harus sopan sama orang tua. Jangan tau nya cuma pacaran sama keluyuran kesana sini aja!" ujar Darma.


Dina yang sedari tadi berdiri di depan pintu pun kembali duduk di tempat nya semula. Dia tersenyum bahagia melihat kedekatan anak dan bapak yang ada di hadapan nya saat ini.


"Yun, mamak ada kabar gembira untuk mu." tutur Dina.


"Kabar gembira apa?" tanya Yuni.


Yuni masih tetap fokus memainkan ponsel nya tanpa menoleh sedikit pun kepada Dina. Sedangkan Darma, dia juga tidak menghiraukan ucapan Dina. Darma terus saja menunduk sembari membelai rambut anak kesayangan nya.


"Mamak sama bapak mu mau rujuk lagi." jawab Dina.


"HAH, yang bener, mak?" pekik Yuni.


Yuni langsung bangkit dari rebahan nya dan duduk bersila di hadapan kedua orang tua nya. Wajah Yuni tampak berbinar-binar saat mendengar ucapan ibu nya barusan.


"Iya, beneran, sayang. Kami akan rujuk lagi dalam waktu dekat ini." sambung Darma membenarkan ucapan Dina.


Karena saking bahagia nya, Yuni langsung reflek memeluk Darma dan mengecup kedua pipi nya.


Setelah itu, Yuni pun beralih kepada Dina. Yuni juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan nya kepada Darma tadi.


Sesudah mencurahkan kebahagiaan nya kepada kedua orang tua nya, Yuni pun kembali bertanya pada Dina.


"Emang kapan acara nikahan nya, mak? Trus kapan kita pindah ke rumah bapak?" tanya Yuni.


"Kalau nikah nya sih dalam minggu ini. Tapi kalau masalah pindah, kita gak akan pindah kemana-mana. Kita akan tetap tinggal disini." jawab Dina.


"Loh, kok gitu, mak? Kenapa kita gak pindah ke rumah bapak aja?" selidik Yuni.


Dina menoleh ke arah Darma yang masih tampak santai sambil menyalakan rokok nya. Dina seakan-akan ingin meminta bantuan Darma, untuk menjelaskan masalah itu kepada anak mereka.


"Tanya sendiri lah sama bapak mu! Biar dia yang jelasin kenapa kita masih tetap tinggal disini." jawab Dina.


Setelah mendengar penuturan ibu nya, Yuni pun langsung menoleh pada Darma. Yuni memandangi wajah kusut bapak nya dengan tatapan yang penuh tanda tanya.


"Kenapa kami gak bisa tinggal di rumah bapak?" tanya Yuni.


"Karena masih ada ibuk mu di sana." jawab Darma sambil menghisap rokok yang ada di tangan nya.

__ADS_1


"Lololoh, kok masih ada dia pulak di sana? Emang nya bapak sama dia gak bercerai ya?" selidik Yuni.


"Enggak, sampe kapan pun bapak gak akan menceraikan nya. Kecuali dia sendiri yang menceraikan bapak." jawab Darma.


"Lah trus, status mamak sebagai apa kalau rujuk lagi sama bapak?" tanya Yuni semakin penasaran.


"Mamak mu jadi istri kedua bapak. Kami cuma nikah di bawah tangan aja, bukan nikah di kantor agama." jawab Darma masih dengan mode santai nya.


"Ck, kenapa gak di cerai aja sih, pak? Ngapain juga masih di pertahankan perempuan gila kayak dia itu?" tanya Yuni kecewa.


"Bapak masih mencintai nya, dan bapak gak akan pernah melepaskan nya kecuali dia sendiri yang pergi dari hidup bapak." jawab Darma.


Darma menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong menerawang. Dia tiba-tiba teringat saat-saat bahagia bersama Ayu.


Darma juga kembali mengingat kenangan-kenangan indah yang telah di lalui nya dengan Ayu dulu, waktu sebelum pertengkaran itu terjadi di antara mereka berdua.


"Maaf kan kesalahan abang, dek! Keputusan ini pasti sangat menyakitkan buat mu."


Darma berucap dalam hati sambil memejamkan mata nya. Ada sedikit rasa penyesalan di hati nya, karena sudah melukai hati dan perasaan istri yang sangat di cintai nya.


"Ya udah kalau gitu, nanti aja kita bahas lagi masalah ini. Bapak mau pulang ke rumah sebentar. Ada urusan yang mau bapak selesai kan dengan ibuk mu." pamit Darma.


"Iya, pak." balas Yuni.


"Din, aku pulang dulu ya. Nanti malam aku kesini lagi." pamit Darma kepada Dina.


"Oke, tapi ingat pesan ku tadi ya. Kalau dia gak mau ngasih uang dan perhiasan nya, kau rampas paksa aja semua nya! Kalau bisa rampas sekalian motor nya, biar dia kapok." tegas Dina.


"Iya, aku akan usahain ngomong baik-baik dulu sama dia." balas Darma.


Mereka bertiga mulai beranjak dari tempat duduk masing-masing dan berjalan menuju pintu utama.


Dina dan Yuni berdiri di depan pintu sambil terus memandangi kepergian Darma yang pulang ke rumah nya dengan menggunakan ojek.


Tak butuh waktu lama, Darma pun tiba di depan rumah nya. Setelah membayar ongkos ojek, Darma segera bergegas masuk ke dalam rumah nya, dan berjalan dengan langkah cepat menuju kamar sambil berteriak...


"Dek, abang mau minta..."


Ucapan Darma langsung terhenti saat melihat keadaan kamar yang kosong melompong. Darma tercengang dan mematung seketika karena tidak mendapati Ayu di dalam kamar nya.


"Loh, dia kemana?" gumam Darma bingung.


"Apa dia sedang bercinta dengan para selingkuhan nya ya?" lanjut Darma lagi.


Darma terus saja menduga-duga tentang keberadaan istri nya. Dia tampak bingung dan gelisah, karena memikirkan istri nya yang saat ini entah dimana rimba nya.


"Kau lagi dimana, dek? Apa yang sedang kau lakukan di luaran sana?" gumam Darma.


Setelah beberapa saat merenung dan menduga-duga, Darma pun memutuskan untuk menunggu kepulangan Ayu.


"Mudah-mudahan aja setelah aku bangun nanti, dirimu udah ada di samping ku, dek!" batin Darma.

__ADS_1


Darma merebahkan tubuh nya di atas ranjang, dan mulai memejamkan mata nya sambil memeluk guling.


Tak lama berselang, Darma pun tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi indah nya.


__ADS_2