
"Ya, siapa tau aja lupa." ujar bang Darma sambil terus meringis menahan sakit di kepala nya.
"Kalo sama mu, mungkin aku bisa lupa. Tapi kalau sama yang nama nya duit, aku gak bakalan bisa lupa, paham!" balas ku ketus.
"Ya ya ya, aku tau kok. Kau itu kan memang cewek matre, mata duitan, plus gatal." cibir bang Darma kesal.
Aku tersenyum miring mendengar cibiran pedas bang Darma. Aku sama sekali tidak merasa tersinggung atau pun marah di kata-katain seperti itu, karena memang itu kenyataan nya.
"Kalo iya emang nya kenapa, hah? Masalah buat loe?" tanya ku lantang.
"Ya, masalah lah. Kau itu kan masih istri ku, suami mana yang gak emosi kalau melihat istri nya di jamah lelaki lain, hah?" omel bang Darma.
"Oh, gitu ya! Trus istri mana yang gak emosi, melihat suaminya menjamah tubuh wanita lain, hah? Apa lagi melihat dengan mata kepala sendiri?" tanya ku membalikkan pertanyaan nya.
"Ya...Ya itu beda lah. Aku ini kan laki-laki, aku bebas melakukan apa pun yang aku mau, termasuk bercinta dengan perempuan mana pun." jawab bang Darma dengan santai nya.
"Bahkan, aku juga bisa memiliki dua atau tiga istri. Apa kau lupa, kalau laki-laki boleh berpoligami?" lanjut bang Darma.
Tawa ku langsung pecah, saat mendengar penuturan bang Darma yang sangat lucu menurut ku. Masih dengan mencengkram erat rambut nya, aku pun kembali melanjutkan ocehan ku.
"Hahahaha, poligami? Gak salah tuh?" gelak ku.
"Ngasih makan satu istri aja kau udah megap-megap, apa lagi mau nambah istri lagi. Bisa-bisa kau mati berdiri nanti nya, hahaha." cibir ku.
Mendengar cibiran ku, wajah bang Darma pun langsung berubah masam, dan memanyunkan bibir nya ke depan. Dia tampak nya sangat tersinggung dengan ucapan ku barusan.
"Aku pasti sanggup kok. Kau lihat aja nanti, kalau aku udah dapat kerja yang gaji nya besar, aku pasti bakalan sumpal mulut kotor mu itu dengan uang." balas bang Darma.
"Gak usah kebanyakan mengkhayal, entar lama-lama gila pulak, hahaha." ledek ku kembali tertawa ngakak.
"Lihat aja nanti, aku pasti akan buktikan ucapan ku tadi." lanjut bang Darma.
"Iya iya, tenang aja. Nanti bakalan aku lihat kok. Tapi bukan keberhasilan mu, malah kehancuran mu, hahahaha." gelak ku lagi.
__ADS_1
"Kau..."
Ucapan bang Darma terjeda, karena aku langsung mendahului nya dengan cepat.
"Udah, gak usah mengalihkan pembicaraan. Cepat, balikin uang ku sekarang!" pinta ku sembari menadahkan tangan pada nya.
"Iya, aku balikin. Tapi lepasin dulu tangan mu ini, sakit tau gak?" rengek bang Darma.
"Enggak, aku gak bakalan lepasin sebelum kau memberikan uang itu pada ku." balas ku masih tetap kekeuh menolak permintaan nya.
"Ck, dasar batu!"
Umpat bang Darma masih dengan wajah masam nya. Dia mengeluarkan beberapa lembar uang dari dalam saku celana nya, lalu menyerahkan nya pada ku.
"Nah, ini uang mu haram mu! Masih utuh kok, belum aku pakai sama sekali." ujar bang Darma.
"Bagus lah, aku juga gak sudi uang hasil keringat ku kau pakai untuk foya-foya, dengan para benalu itu." balas ku.
Aku mulai melepaskan cengkraman tangan ku dari rambut nya. Setelah itu, aku mendudukkan diri di tepi ranjang, lalu menghitung uang yang di kembalikan bang Darma.
"Helehh, gaya mu. Kalau memang gak sudi, trus ngapain kau nyolong uang ku, hah?" oceh ku lantang.
"Oh, itu. Tadi nya sih aku cuma mau ngerjain kau aja. Biar kau kelabakan, nyariin uang mu yang tak seberapa itu." bohong bang Darma.
"Halah, alasan. Bilang aja kau memang butuh uang ini, buat ngasih benalu-benalu kesayangan mu itu. Iya kan, ngaku aja deh!" cibir ku sembari tersenyum miring.
Bang Darma terdiam sejenak, dia mengambil rokok yang tergeletak di atas meja, lalu menyalakan nya. Dengan pandangan kosong menerawang, dia pun kembali membuka suara nya.
"Ya, aku memang membutuhkan uang itu untuk pegangan, sampai aku mendapatkan pekerjaan kembali." jawab bang Darma mengakui perbuatannya.
"Naaah, bener kan dugaan ku. Kau nyolong uang ku, pasti karena memang membutuhkan nya, bukan karena mau ngerjain aku." balas ku ketus.
Bang Darma tidak menjawab ucapan ku. Dia kembali menghisap rokok nya, sambil terus menatap lurus ke depan. Sedangkan aku, aku membuka laci meja dan menyimpan uang itu kembali ke dalam tas.
__ADS_1
Bang Darma melirik gerak-gerik ku dengan ekor mata nya, lalu dia pun kembali bersuara.
"Lololoh, kok malah di simpan sih uang nya?" tanya bang Darma dengan kening mengkerut.
"Lah, trus mau di apain kalau gak di simpan, hah?" tanya ku balik.
"Aku mau pinjam, buat makan sama buat ongkos kesana kemari." jawab bang Darma santai.
"Wah wah wah, enak betul hidup mu ya! Tadi kau bilang, uang ku ini uang haram. Trus sekarang, kau mau minjam uang haram ini? Hahaha, mimpi." gelak ku.
"Ck, jangan gitu lah, dek! Gak boleh pelit-pelit sama suami sendiri, dosa loh. Apa kau mau di cap sebagai istri durhaka, hah?" tanya bang Darma.
"Biarin, emang gue pikirin. Mau durhaka kek, mau ini itu kek, bodo amat." jawab ku ketus.
Bang Darma menoleh pada ku sembari menautkan kedua alisnya. Dia heran melihat sikap ku yang semakin lama semakin menjadi-jadi dengan nya.
"Kau itu kok makin hari makin berubah gini sih, dek? Kemana Ayu yang ku kenal dulu? Yang lembut, penyayang, dan baik hati?" tanya bang Darma.
"Oh, Ayu yang itu ya. Kalau Ayu yang itu sih, udah minggat, udah balik ke tempat asal nya." jawab ku asal.
"Emang tempat asal nya di mana?" tanya bang Darma lagi.
"Planet Yupiter." balas ku asal njeplak.
"Hahahaha, gemblung." gelak bang Darma sembari menoyor jidat ku.
"Heh heh heh, ngomong sih ngomong. Tapi tangan nya jangan main juga lah." oceh ku kesal.
"Eh, iya maaf. Abang reflek, hehehe." balas bang Darma sembari nyengir kuda.
Aku tidak menghiraukan ucapan bang Darma. Aku malah merebahkan diri di atas ranjang, dengan kaki yang menjuntai ke bawah. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.
"Dek, minta uang mu lah! Perut ku laper nih, belum makan seharian." pinta bang Darma dengan wajah memelas.
__ADS_1
"Ogah, minta aja sama para benalu mu itu." balas ku cuek.
"Ck, kok bahas mereka lagi sih! Bikin mood ku rusak aja." gerutu bang Darma.