
Keesokkan pagi nya, Darma dan Ayu pun terbangun dan bergegas membersihkan diri ke kamar mandi. Setelah selesai, Ayu langsung berkutat di dapur untuk memasak makanan.
Sedangkan Darma, dia duduk di ruang tamu sambil mengotak-atik ponsel nya. Selesai masak, Ayu pun duduk selonjoran di sofa panjang yang berada tepat di depan Darma.
"Dek, ada yang mau abang omongin." ujar Darma membuka percakapan.
Ayu langsung menoleh ketika mendengar suara suaminya.
"Mau ngomong apa?" tanya Ayu lalu mengambil rokok di atas meja dan menyalakan nya.
"Hmmmm, gimana kalau kita pindah dari kota ini, mau gak?" tanya Darma.
Ayu menautkan kedua alisnya, ia terlihat bingung dengan perkataan suaminya. Sambil menghisap rokok nya, Ayu pun kembali melontarkan pertanyaan nya.
"Emang nya ada masalah apa? Kok tiba-tiba ngajak pindah?" tanya Ayu penasaran.
"Gak ada masalah apa-apa kok, abang hanya ingin kita hidup bahagia seperti dulu lagi." jawab Darma.
Ayu mengernyitkan dahi nya, ia semakin bingung dengan pemikiran suami nya tersebut.
"Ada angin apa, kok tiba-tiba ingin hidup bahagia dengan ku? Emang nya selama ini kau tidak pernah merasa bahagia bersama ku?" selidik Ayu.
Darma menghela nafas berat lalu mendongakkan kepala nya ke atas. Raut wajah nya tampak sedang memikirkan sesuatu. Setelah beberapa saat suasana hening mencekam, Darma pun kembali menatap Ayu lalu berkata...
"Dulu abang merasa sangat bahagia hidup dengan mu. Tapi beberapa bulan terakhir, abang merasa hubungan kita semakin lama semakin berantakan. Itu karena ada nya orang ketiga di antara kita." tutur Darma.
"Bukan cuma orang ketiga aja, tapi juga orang keempat dan kelima." balas Ayu.
Aku menghela nafas sejenak, setelah merasa agak sedikit tenang, Ayu pun melanjutkan ucapan nya.
"Jangan melemparkan semua kesalahan itu pada ku, karena kau juga ikut melakukan nya." ujar Ayu tegas.
"Iya aku tau, kalau aku juga melakukan banyak kesalahan. Maka dari itu aku minta maaf. Aku ingin memperbaiki semua kesalahan yang sudah aku perbuat selama ini." jelas Darma.
Ayu hanya tersenyum miring, mendengar kata-kata penyesalan yang terlontar dari bibir suami nya.
__ADS_1
Setelah mematikan api rokok di dalam asbak, Ayu pun membaringkan tubuh nya di sofa yang sedang di duduki nya.
Ia meletakkan tangan di atas kening nya, lalu menatap langit-langit ruang tamu dengan pandangan kosong. Karena tidak mendapatkan jawaban apapun dari Ayu, Darma pun kembali berceloteh.
"Gimana, dek? Apakah kau mau memaafkan semua kesalahan ku, dan memperbaiki hubungan kita kembali?" tanya Darma.
"Hufff, entah lah. Aku juga tidak yakin, apakah hubungan yang sudah hancur lebur seperti ini masih bisa di perbaiki atau tidak?" tutur Ayu tanpa menoleh sedikit pun kepada Darma.
"Pasti bisa kok, asalkan kita sama-sama berusaha untuk memperbaiki diri masing-masing." ujar Darma dengan penuh keyakinan.
Suasana pun kembali hening, Darma dan Ayu sama-sama terdiam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Beberapa saat kemudian, Ayu pun kembali membuka suara nya.
"Yakin, bisa memperbaiki diri?" tanya Ayu tidak percaya.
"Insya Allah, dek. Kalau memang niat di hati sudah bulat, semua pasti bisa di perbaiki." jawab Darma mantap.
Ayu kembali terdiam, ia bingung harus berkata apa lagi tentang masalah ini. Di satu sisi, ia sangat kecewa dengan perbuatan Darma. Tapi di sisi lain, ia juga merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab kehancuran rumah tangga nya sendiri.
"Kalau kita pindah, trus rumah ini gimana?" tanya Ayu.
"Jual rumah itu tidak semudah membalikkan telapak tangan. Butuh waktu lama untuk mencari pembeli yang cocok." tutur Ayu.
"Iya, aku tau. Sambil nunggu-nunggu rumah ini laku, gimana kalau kita ngontrak dulu disana?" usul Darma masih tetap kekeuh ingin berpindah tempat.
Ayu tidak langsung menjawab, ia kembali bungkam dan sibuk bergelut dengan isi kepala nya sendiri. Banyak hal yang harus ia pertimbangkan jika pindah dari kota ini, termasuk memikirkan para selingkuhan nya yang juga menjadi sumber keuangan nya.
"Gimana ini? Apa yang harus aku lakukan sekarang? Apakah aku harus menerima tawaran nya, dan memperbaiki kesalahan-kesalahan yang sudah terjadi selama ini?" batin Ayu bingung.
Aku membatin sambil terus memandangi langit-langit ruang tamu dengan tatapan menerawang. Begitu juga dengan Darma, ia juga sedang memikirkan banyak hal, termasuk Dina dan Yuni.
Setelah beberapa menit memikirkan para selingkuhan masing-masing, Ayu pun beranjak dari sofa lalu melangkah menuju dapur.
"Mau kemana, dek?" tanya Darma saat melihat pergerakan Ayu.
Mendengar pertanyaan suami nya, Ayu pun menghentikan langkah nya dan menoleh ke arah sumber suara.
__ADS_1
"Mau makan, abang mau makan juga gak?" tanya Ayu balik.
"Iya, bawa kesini aja makanan nya, biar kita makan bareng!" titah Darma.
"Oke," jawab Ayu.
Lalu ia pun melanjutkan langkah nya, dan menghidangkan makanan yang sudah di masak nya di atas meja ruang tamu.
Setelah semua makanan dan alat-alat makan lain nya terhidang, Ayu dan Darma pun mulai menyantap makanan itu dengan santai dan hening, tanpa percakapan apa pun lagi.
Sambil mengunyah makanan nya, Ayu sesekali melirik ke arah Darma yang tampak sangat lahap, memakan gulai nangka dan sambal teri buatan nya.
"Lapar apa doyan, bang?" ledek Ayu.
"Dua-duanya, hehehe." jawab Darma sembari nyengir kuda.
Kemudian, ia pun menambah nasi dan juga lauk pauk ke dalam piring nya, lalu menyantap nya kembali. Melihat suami nya yang sangat lahap, Ayu pun tersenyum dan melanjutkan makan nya.
"Syukur lah kalau kau masih menyukai masakan ku, bang." batin Ayu senang.
Setelah acara makan selesai, mereka berdua pun kembali bersantai dan duduk di tempat semula.
Saat hendak menyalakan rokok, tiba-tiba ponsel Darma berdering tanda panggilan masuk. Setelah melihat nama si pemanggil, Darma pun langsung melirik ke arah Ayu.
"Kenapa gak di angkat? Emang siapa yang nelpon?" selidik Ayu heran, saat melihat gerak-gerik Darma yang sedikit mencurigakan.
"Yu-Yuni," jawab Darma gugup.
"Oh, si biang kerok toh. Kirain tadi siapa." balas Ayu santai.
Darma tidak membalas ucapan Ayu, ia lanjut menyalakan rokok nya sambil sesekali melirik ke arah benda pipih, yang sedari tadi terus saja berdering memekakkan telinga.
"Angkat aja lah! Siapa tau dia sangat merindukan belaian mu." cibir Ayu sembari tersenyum miring meledek suami nya.
"Ck, biarin aja. Aku lagi malas meladeni omongan mereka." balas Darma lalu menolak panggilan Yuni dan menonaktifkan ponsel nya.
__ADS_1
"Halah, lagu lama. Di depan ku bilang malas, nanti di belakang ku langsung nyosor kayak bebek." cibir Ayu lagi.