
"Kita makan yok, say! Perut abang udah lapar nih, dari tadi." ajak bang Agus.
"Oke," jawab ku.
Aku mulai membuka kotak martabak keju, dan mengambil sepotong. Sedangkan bang Agus, dia membuka bungkusan sate ayam, dan mulai memakan nya.
"Loh, kok yang di makan martabak nya duluan sih, say? Trus, sate nya ini gimana? Siapa nanti yang makan?"
Bang Agus menunjuk ke arah bungkusan sate, yang masih utuh dan belum di buka.
"Udah, abang tenang aja. Nanti bakalan aku makan kok." jawab ku sambil mengunyah martabak dengan lahap.
"Oh, ya udah deh." jawab bang Agus.
"Abang ada beli kan rokok untuk ku gak?" tanya ku.
"Ada, sayang. Tuh, masih ada di dalam tas ransel abang." jawab bang Agus.
Bang Agus menunjuk ke arah tas ransel nya, yang masih tergeletak di atas meja rias. Aku langsung tersenyum, sambil menoleh ke arah tas ransel bang Agus.
"Pintar ya, gak perlu di suruh, udah tau duluan." ujar ku.
Bang Agus yang sedang melahap sate nya itu pun, langsung mendongak kan kepala nya.
"Ya iya lah, say. Abang kan udah hafal semua tentang dirimu." jawab bang Agus.
Aku kembali tersenyum mendengar penuturan bang Agus, lalu mengambil martabak sepotong lagi, dan memasukkan nya ke dalam mulut ku.
"Lapar ya, say?" ledek bang Agus.
"Udah tau pun, pake nanya segala." balas ku cuek.
Aku terus saja mengunyah martabak, dan menggoyang-goyang kan kedua kaki ku di lantai. Bang Agus hanya menggeleng-gelengkan kepala nya melihat tingkah ku, yang kadang terlihat kekanak-kanakan seperti itu.
Setelah menghabiskan dua potong martabak, aku beranjak dari kursi dan melangkah menuju meja rias.
Aku merogoh tas ransel bang Agus, untuk mengambil rokok. Setelah mendapatkan nya, aku kembali melangkah dan duduk di tempat semula.
"Masalah apa lagi yang terjadi di rumah mu, say?" tanya bang Agus.
__ADS_1
"Gak ada masalah apa-apa, bang." balas ku sembari menghisap rokok, dan menghembuskan asap nya ke udara.
"Bohong, kalau gak ada masalah apa-apa, gak mungkin dirimu nginap di hotel ini." balas bang Agus.
"Cerita lah, say! Abang juga ingin tahu tentang keadaan mu sekarang." lanjut bang Agus.
Aku menyandarkan tubuh ku di kursi, dan menyilang kan sebelah kaki ku ke atas. Aku menatap wajah bang Agus, dengan mata yang mulai berembun.
"Entah lah, bang. Aku juga bingung, harus memulai cerita nya dari mana. Terlalu banyak masalah yang datang menghampiri rumah tangga ku saat ini." balas ku.
Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus segera menarik kursi yang di duduki nya, dan mendekat kan nya di depan ku. Setelah itu, bang Agus langsung mendudukkan diri nya di atas kursi.
Kemudian, bang Agus menarik kedua kaki ku dan meletakkan nya di atas pangkuan nya. Aku hanya tersenyum, dan membiarkan nya melakukan hal yang dia inginkan.
Bang Agus mengelus dan memijat-mijat, telapak kaki dan juga jari-jari kaki ku dengan lembut. Dan itu berhasil membuat ku merasa rileks dan nyaman. Sambil terus memijat, bang Agus kembali melontarkan pertanyaan nya pada ku.
"Masalah tentang anak dan mantan istri nya lagi ya, say?" tebak bang Agus.
"Iya," jawab ku.
"Emang nya, mereka berdua buat ulah apa lagi, say?" tanya bang Agus.
"HAH, yang bener, say?" pekik bang Agus.
Bang Agus tampak sangat terkejut, dan membelalakkan mata nya pada ku. Dia syok mendengar penjelasan ku tadi.
"Iya bener, bang. Maka nya aku kabur dari rumah. Karena tadi bang Darma memaksa ku, agar mau menyerahkan semua nya, untuk di berikan kepada anak dan mantan nya." jelas ku.
"Kurang ajar sekali mereka bertiga, berani nya main keroyokan. Kenapa gak bilang sama abang tadi, say? Biar abang sendiri, yang akan menghadapi mereka semua." ujar bang Agus geram.
"Gak usah, bang. Biarin aja, aku juga udah males meladeni mereka." balas ku pasrah.
"Ya gak bisa gitu lah, say. Kalo di diemin terus, lama-kelamaan mereka bisa makin ngelunjak nanti nya." ujar bang Agus.
Aku menghembuskan nafas kasar, mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh bang Agus. Dia mengoceh panjang lebar, sambil terus memijat kaki dan betis ku.
"Jadi, aku harus bagaimana, bang? Aku malas ribut-ribut dengan mereka. Aku juga udah capek, terus-terusan berantem dengan Yuni dan Dina." jawab ku.
"Dan ada satu hal lagi, yang membuat rumah tangga ku jadi semakin berantakan, bang." lanjut ku.
__ADS_1
"Apa tuh?" tanya bang Agus.
"Bang Darma sudah tau, kalau aku berselingkuh di belakang nya." jawab ku.
"Loh, kok dia bisa tau, say? Siapa yang ngasih tau sama dia?" tanya bang Agus penasaran.
Aku mendongakkan kepala. Menatap langit-langit kamar, dan kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku.
"Aku yang ngasih tau, bang." jawab ku.
Bang Agus menautkan kedua alisnya, dia menghentikan pijatan tangan nya di kaki ku, dan menatap mata ku dalam-dalam.
"Emang nya dirimu udah bosan ya, hidup seatap dengan suami mu itu?" tanya bang Agus.
"Maksud abang?"
Aku langsung mengerutkan kening, mendapatkan pertanyaan aneh dari bang Agus.
"Maksud nya gini loh, sayang ku. Dirimu kan udah berkata jujur, tentang hubungan kita. Itu artinya, dirimu udah siap untuk bercerai dengan suami mu. Gitu loh maksudnya." jelas bang Agus.
"Oh," balas ku singkat.
"Jawaban nya kok cuma oh doang sih, say? Gak ada jawaban lain, gitu?" tanya bang Agus heran.
Aku mencondongkan wajah ku ke hadapan bang Agus. Kemudian, aku mencium kilat bibir nya. Setelah itu, aku kembali menjatuhkan tubuh ku di sandaran kursi.
Bang Agus langsung terpaku sejenak, dia tampak bingung dengan perbuatan ku barusan. Aku melirik sedikit ke arah bang Agus, yang masih terdiam di tempat duduk nya. Setelah itu, aku pun kembali membuka suara.
"Bang Darma tidak tahu, dengan siapa aku berselingkuh, bang. Aku tidak menyebutkan nama selingkuhan ku pada nya. Aku hanya mengatakan, kalau saat ini aku sedang menjalin hubungan dengan lelaki lain." jelas ku panjang lebar.
"Ooohhh, kirain suami mu udah tau, kalau selingkuhan istri nya, hanya berjarak lima langkah dari rumah nya." balas bang Agus.
"Gak, bang. Suami ku sama sekali tidak tau, tentang hubungan kita." ujar ku.
Bang Agus hanya manggut-manggut, menanggapi ucapan ku. Raut wajah nya tampak kecewa, setelah mendengar penuturan ku barusan.
"Ya udah, gak usah di bahas lagi. Nanti aja kita lanjutin cerita nya. Sekarang kita mandi yok, say! Badan abang udah gerah banget, nih." ajak bang Agus
Bang Agus beranjak dari tempat duduk nya, dan mengambil handuk yang masih terlipat rapi di samping tv. Kemudian, dia melangkah masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
Aku mengangguk, dan menyampirkan handuk di bahu ku, lalu mengekori langkah nya dari belakang.