SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Ngerjain Rendi


__ADS_3

Setelah keluar dari mobil, aku dan Rendi berjalan masuk ke dalam hotel. Kemudian, kami menghampiri meja resepsionis, untuk melakukan check in terlebih dahulu.


Selesai membayar dan menerima kunci kamar, Rendi merangkul pundak ku untuk berjalan beriringan bersama nya, menuju kamar yang berada di lantai dua.


Sesampainya di dalam kamar, aku meletakkan tas di atas nakas yang berada di samping tv. Kemudian, aku menjatuhkan diri di atas ranjang.


Melihat posisi ku yang sedang telentang di ranjang, dengan kaki menjuntai ke bawah, Rendi pun langsung menindih tubuh ku. Dia mencium kilat bibir ku, lalu berkata...


"Apa yang sedang kau pikirkan, sayang?" tanya Rendi sambil membingkai wajah ku.


"Biasa lah, bang. Masalah rumah tangga ku yang tak kunjung selesai." jawab ku.


"Oh, emang nya kenapa lagi suami mu? Apa dia buat masalah lagi?" tanya Rendi.


"Ya, begitu lah kira-kira. Udah ah, gak usah di bahas lagi! Aku lagi males ngomongin soal itu." jawab ku lirih.


"Ya udah, gak usah di omongin lagi! Sekarang, kita mulai aja ya, bersenang-senang nya." ujar Rendi.


"Iya, mulailah! Aku juga udah pengen banget nih. Puasin aku ya, bang!" goda ku sambil menggigit bibir bawahku.


"Pasti dong, sayang. Abang pasti akan memuaskan mu. Abang akan memberikan pelayanan terbaik untuk mu, sayang ku." bisik Rendi dengan nafas yang mulai memburu.


Selesai berbisik manja di telinga ku, Rendi pun mulai membuka pakaian nya satu persatu. Setelah tubuh nya polos tanpa sehelai benang pun, kini dia beralih membuka pakaian ku sampai habis tak bersisa.


Rendi tersenyum menyeringai melihat tubuh polos ku, yang sedang terpampang di depan mata nya. Tanpa basa-basi lagi, Rendi langsung menenggelamkan wajah nya di bawah perut ku.


Dia memainkan lidahnya dengan sangat lincah dan gesit. Sehingga membuat ku menggeliat-geliat tidak karuan, akibat menahan geli dan nikmat dari perbuatannya.


Setelah selesai bermain-main di bawah, Rendi pun memulai kegiatan utama nya. Rendi memacu gerakan nya dengan semangat yang menggebu-gebu. Dan akhirnya, kami berdua pun mencapai puncak secara bersamaan.


"Terima kasih ya, sayang. Aku mencintai mu." bisik Rendi sambil mengecup kening ku.


"Iya, sama-sama, bang." balas ku dengan senyum yang merekah.


Setelah pergumulan panas selesai, aku dan Rendi bergegas bangkit dari ranjang, dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi.


Selesai membersihkan diri masing-masing, aku dan Rendi duduk di tepi ranjang, lalu menyalakan rokok. Suasana hening sesaat, tidak ada percakapan di antara kami berdua.


Aku dan Rendi sibuk dengan pikiran masing-masing. Setelah beberapa saat berdiam diri, Rendi pun mulai membuka suara nya.


"Mau sampai kapan, kita akan seperti ini, Yu? Sampai kapan aku harus menunggu mu?" tanya Rendi.

__ADS_1


"Aku juga gak tau, bang. Biar lah waktu yang akan menjawab nya." balas ku.


"Huh, sudah ku duga. Pasti selalu begitu jawaban nya. Tak pernah ada kepastian yang keluar dari bibir mu."


Rendi membuang nafas kasar, mendengar penuturan ku. Dia terlihat sangat kecewa, dengan jawaban ku.


"Udah tau jawabannya bakalan seperti itu. Kenapa abang masih nanya lagi, aneh?" balas ku kesal.


"Ya, siapa tau aja jawaban mu bisa berubah. Ternyata harapan lain dengan kenyataan. Jawaban mu masih sama seperti hari-hari sebelumnya." ujar Rendi.


Rendi menghisap rokok nya secara perlahan, lalu menghembuskan asap nya dengan kasar ke udara.


Dengan perasaan ragu, aku memberanikan diri untuk menggenggam tangan Rendi, dan menatap mata nya dalam-dalam.


"Kalau kita memang berjodoh, kita pasti akan bersatu, bang." ujar ku dengan mimik wajah serius.


"Iya sih, Yu. Tapi kan..."


"Ssstttt, diem!" ujar ku sambil menempelkan jari telunjuk ku di bibir Rendi.


"Abang ada dengar suara aneh, gak?" tanya ku pelan.


"Ada suara ini."


Aku menggeser sedikit posisi duduk ku, dan tiba-tiba...


Prooottt...


"Ah, lega nyaaa." ujar ku sambil tersenyum miring.


Aku membuang angin, yang sedari tadi aku tahan di dalam perut ku. Dan itu berhasil membuat Rendi terlonjak kaget, dan langsung menjauh dari ku, sambil menutup hidung nya.


"Iiiisss, jorok banget sih, Yu! Bau tau gak?" umpat Rendi.


"Ups! Sorry, bang. Aku kelepasan, hahahaha."


Aku tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. Aku tidak bisa menahan tawa, karena melihat ekspresi wajah Rendi, yang tampak sangat lucu menurut ku.


"Bukan jorok, bang. Itu demi kesehatan. Kata dokter, kita gak boleh menyimpan angin di dalam perut. Bisa fatal akibat nya, hihihi." jelas ku sambil terkikik geli.


"Ah, ngeles aja kalo di bilangin." omel Rendi masih terus menutup hidung nya.

__ADS_1


"Ngapain sih tutup hidung terus? Bau nya udah hilang kok, udah gak ada lagi." ujar ku.


Rendi mulai menurunkan tangan nya ke bawah, lalu dia mengendus-endus di sekitar tempat nya berdiri.


"Udah gak bau lagi kan? Ngeyel sih, di bilangin. Lagian dari tadi, memang gak ada bau apa-apa kok. Abang aja yang terlalu lebay." gerutu ku.


"Masa gak bau, sih? Suara nya aja tadi kuat gitu kok, ya gak mungkin lah gak ada bau nya." balas Rendi.


"Gak percaya ya sudah. Orang dari tadi aku duduk di sini, gak ada bau apa-apa kok." jawab ku santai.


"Duduk sini, bang! Nanti pingsan pulak, kelamaan berdiri di situ, hihihi." ledek ku.


Dengan langkah pelan, Rendi pun mulai mendekat dan duduk di samping ku.


"Bang, aku lapar. Cari makanan, gih!" rengek ku sambil memegang perut.


"Mau makan apa, sayang?" tanya Rendi.


"Hmmmm, mie Aceh aja, bang. Enak kayak nya tuh." jawab ku.


"Oke," balas Rendi.


Setelah mendengar jawaban ku, Rendi segera memakai pakaian dan sepatu nya. Lalu, dia mengambil kunci mobil yang terletak di atas meja rias.


"Tunggu disini bentar ya, abang keluar dulu!" pamit Rendi.


"Oke, jangan lama-lama ya, bang!" jawab ku.


"Iya, bentar aja kok."


Rendi berucap sambil membuka pintu, lalu melangkah keluar dari kamar. Aku mengekori langkah Rendi dari belakang.


Setelah Rendi pergi, aku segera menutup pintu, dan langsung mengunci nya kembali. Setelah itu, aku berjalan beberapa langkah menuju tas kecil, yang tergeletak di atas nakas.


"Aktifkan ponsel bentar, ah."gumam ku.


Aku merogoh tas untuk mengambil ponsel. Setelah ponsel aktif, ada tiga pesan masuk dari bang Darma. Dan ada empat pesan dari bang Agus.


"Wah, para lelaki ku ini, ternyata mengkhawatirkan keadaan ku juga rupanya." gumam ku.


Aku tersenyum miring, melihat pesan-pesan yang di kirim kan bang Darma dan bang Agus.

__ADS_1


__ADS_2