SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Masih Tetap Acuh


__ADS_3

Setelah beristirahat, sambil bergulung di bawah selimut tebal. Aku mulai membuka mata, dan melihat jam dinding yang menunjukkan pukul sebelas siang.


"Udah jam sebelas, ternyata! Satu jam lagi, bang Darma pasti pulang buat makan siang. Mana, belom masak apa-apa lagi." gumam ku.


"Sebaiknya, aku masak dulu lah. Mumpung, bang Darma belom pulang." batin ku.


Aku segera beranjak dari ranjang, dan berjalan tertatih-tatih ke dapur. Sesampainya di dapur, aku mulai menanak nasi dan menggoreng telur dadar, dengan irisan bawang dan cabai.


Berhubung kondisi badan, masih lemah dan menggigil. Jadi, hanya itu lah yang sanggup aku kerja kan untuk makan siang bang Darma.


Setelah semua nya selesai, aku berjalan ke dalam kamar, dan bergulung kembali di bawah selimut.


Saat ingin memejamkan mata kembali, sayup-sayup terdengar suara bang Darma. Dia membuka pintu, dan masuk ke dalam rumah.


Aku hanya berdiam diri di bawah selimut, dan berpura-pura tidak mengetahui kepulangan nya. Bang Darma sama sekali tidak melihat keadaan ku, di dalam kamar.


Dia langsung pergi ke kamar mandi, dan lanjut menunaikan shalat zhuhur. Setelah itu, bang Darma makan di ruang tamu, dengan lauk yang aku masak tadi.


Bang Darma makan dengan lahap sendirian, tanpa memperdulikan aku sudah makan atau belum. Selesai makan, bang Darma langsung pergi bekerja kembali, dan mengunci pintu dari luar.


Setelah mendengar bang Darma mengunci pintu, dan pergi mengendarai motor nya. Tanpa sadar, air mata jatuh membasahi pipi kusam ku.


Aku sedih melihat sikap bang Darma, yang sama sekali tidak perduli dengan keadaan ku saat ini.


"Ya, Allah. Sebegitu dinginnya kah, sikap mu pada ku, bang? Sampai-sampai, kau tidak memperdulikan keadaan ku, yang sedang lemah dan tidak berdaya ini!" gumam ku lirih.


Ingin rasanya aku menjerit sekuat-kuatnya, untuk menghilangkan sakit di hati ini. sesak rasa nya dada ini melihat sifat bang Darma, suami ku itu.


Karena merasa di abaikan oleh bang Darma, aku langsung menangis sejadi jadinya. Bahkan, sampai sesegukan di bawah selimut. Setelah lelah menangis, selama satu jam. Tiba-tiba, ponsel ku berdering nyaring di atas meja.


Karena mendengar suara yang cukup memekakkan telinga, aku berusaha beranjak dari ranjang secara perlahan. Aku mengambil ponsel itu dari atas meja, dan melihat nama yang tertera di layar ponsel tersebut.


Setelah mendapatkan ponsel, aku kembali berbaring di atas ranjang, dan menyelimuti seluruh tubuh ku dari leher hingga ke kaki.


"Halo, assalamualaikum." salam ku dengan suara serak.


"Wa'laikum salam, udah makan, say? Suara nya kok serak gitu sih, udah sembuh belom? Atau jangan-jangan masih sakit ya, say?" tanya bang Agus tanpa henti.


"Aku belom makan, bang. Dari semalam badan ku masih menggigil terus." jawab ku.


"Aku udah minum obat dari warung, bang. Tapi, gak ada perubahan. Tetap menggigil aja sampe sekarang."

__ADS_1


Aku menjelaskan tentang keadaan ku saat ini, pada bang Agus. Setelah mendengar penuturan ku, bang Agus pun kembali bertanya pada ku.


"Kenapa gak di periksa kan ke klinik, say? Mana suami mu, kenapa dia tidak membawa mu berobat?"


Tanya bang Agus, dengan nada khawatir. Dia sangat mencemaskan keadaan ku, saat ini.


"Bang Darma kerja, bang." jawab ku lirih.


Hanya kata-kata itu lah yang keluar dari bibir ku. Aku tidak sanggup lagi untuk berkata apa pun, kepada bang Agus.


Air mata ku kembali menetes, mengingat sikap bang Darma yang mengacuhkan ku tadi. Dan pada akhirnya, aku kembali menangis sampai sesenggukan.


"Kok malah nangis, say? Emang nya ada apa, kok sampai nangis gitu?" tanya bang Agus penasaran.


"Gak ada apa-apa, bang. Aku hanya sedih aja, dengan sikap bang Darma tadi." jawab ku.


"Emang nya, dia kenapa? Apa dia udah berbuat yang tidak-tidak dengan mu, say?" selidik bang Agus.


"Gak ada, bang. Dia hanya mengacuhkan ku, dan dia juga mengabaikan keadaan ku. Itu aja kok, gak ada yang lain lagi." tambah ku.


"Kok gitu sih sikap nya, say! Lagian suami mu itu pun aneh, udah tau istri lagi sakit, bukan nya di bawa berobat. Malah pergi kerja pulak dia!" umpat bang Agus kesal.


Aku meyakinkan bang Agus, bahwa aku baik-baik saja.


"Ya, gak gitu juga lah, say. Yang nama nya istri lagi sakit itu, ya di bawa berobat. Bukan nya, malah di abaikan kayak gitu!" lanjut bang Agus.


Aku hanya terdiam, mendengar kan semua ucapan bang Agus. Aku bingung harus ngomong apa lagi dengan nya. Karena sudah tidak ada lagi jawaban dari ku, bang Agus pun kembali berceloteh.


"Buka pintu rumah mu itu, say! Aku mau masuk, mau pijatin badan mu pakai minyak angin." titah bang Agus.


"Bisa jadi, badan mu masuk angin tuh. Makanya menggigil terus kayak gitu!" tambah bang Agus.


"Emang nya hari ini abang gak kerja, ya?" tanya ku heran.


"Gak, say. Hari ini aku libur, cepat lah buka pintu nya tuh! Biar aku masuk sekarang, mumpung lagi sepi nih di luar." ucap bang Agus lagi.


"Oke, bang. Aku buka pintu nya sekarang!" jawab ku.


Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung beranjak dari ranjang, dan mulai berjalan perlahan. Setelah bersusah payah, berjalan sampai ke depan pintu, aku langsung membuka lebar pintu tersebut.


Dan tak lama kemudian, bang Agus pun datang, dan langsung masuk ke dalam. Setelah itu, dia bergegas menutup dan mengunci pintu itu kembali.

__ADS_1


Bang Agus menoleh pada ku, yang sedari tadi masih berdiam diri di samping pintu. Bang Agus menatap wajah ku yang masih pucat, dan berkeringat dingin.


Tanpa basa-basi lagi, bang Agus langsung menggendong tubuh ku, ala bridal style ke dalam kamar. Dia membaringkan tubuh ku, secara perlahan di atas ranjang. Lalu, mengecup lembut kening ku.


"Badan mu masih terasa anget, say. Muka mu juga masih pucat banget, tuh."ujar bang Agus.


Bang Agus menempelkan punggung tangan nya, di kening dan leher ku.


Aku hanya terdiam, tanpa berkata apa pun lagi. Aku sangat terharu melihat sikap bang Agus, yang terlihat begitu sangat mengkhawatirkan keadaan ku, saat ini.


"Mau makan apa, say? Aku pesan kan di online aja ya, biar cepat!" tanya bang Agus.


"Soto medan aja, bang. Sama teh susu, ya!" jawab ku pelan.


"Oke, say." jawab bang Agus.


Bang Agus langsung mengeluarkan ponsel, dari saku celana nya. Setelah selesai memesan makanan, bang Agus meletakkan ponsel nya itu ke atas meja.


"Dimana minyak angin nya, say? Biar aku pijatin badan mu, sekarang!" tanya bang Agus.


Bang Agus celingukan kesana sini, mencari minyak angin tersebut.


"Dalam laci kecil di bawah meja itu, bang!" balas ku.


Aku menjawab, sambil menunjuk ke arah bawah meja.


"Oh oke, say."


Bang Agus langsung membuka laci itu, dan mengambil minyak angin aroma terapi tersebut.


"Sini, buka baju nya dulu!"


Bang Agus membuka baju ku, secara perlahan. Lalu, memoles kan minyak angin itu, ke seluruh tubuh ku. Setelah itu, dia mulai memijat-mijat punggung, tangan, dan kaki ku dengan telaten dan lembut.


Ya, Allah. Aku sangat terharu, dengan sikap nya saat ini. Kelembutan, perhatian, dan kasih sayang nya. Ternyata, benar-benar tulus pada ku.


Sedangkan bang Darma suami ku, jangan kan memperlakukan ku seperti ini, menanyakan keadaan ku saja tidak ada.


"Salah kah, jika aku merasa lebih nyaman dengan lelaki lain, di banding kan dengan suamiku sendiri?"


Aku membatin, sambil terus menatap bang Agus yang sedang memijat kaki ku dengan lembut, dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


__ADS_2