
"Hmmm, emang nya kenapa, bang? Kok tiba-tiba abang nanya nya gitu?" tanya ku balik.
"Ya gak papa, say. Abang hanya ingin tau aja, abang ingin dengar kejujuran mu." balas bang Agus.
"Kalau seandainya ada lelaki lain di hati ku, apakah abang masih mau dengan ku?" selidik ku.
Setelah mendengar ucapan ku, bang Agus langsung mengusap wajah nya, dengan kedua telapak tangan nya secara kasar.
"Emang nya lelaki mana lagi yang ada di hati mu itu, say?" tanya bang Agus dengan wajah frustasi.
"Hhmm, dia...dia..."
Aku menggantung kata-kata ku. Aku ragu untuk mengucapkan nya. Aku jadi tidak tega untuk menyakiti hati bang Agus, yang selalu baik dan mencintai ku dengan tulus.
"Dia siapa, say? Cepat katakan!" desak bang Agus.
"Dia...dia mantan pacar ku dulu, bang." jawab ku lirih.
Akhirnya, kata-kata itu pun berhasil lolos dari bibir ku. Setelah mengatakan hal itu, aku memejamkan mata dan menghembuskan nafas kasar ke udara.
"Maaf kan aku, bang. Tak ada niat sedikit pun di hati ku, untuk menyakiti perasaan mu, bang Agus." batin ku.
"Apakah dia orang yang pernah datang ke kios mu itu, say?" selidik bang Agus semakin penasaran.
"Iya," jawab ku.
"Astaga, say. Dirimu kok tega banget sih, mengkhianati cinta abang? Apa lagi yang kurang dari abang, say?" tanya bang Agus.
Raut wajah bang Agus tampak sangat gusar dan kecewa, setelah mendengar kenyataan pahit ini. Dia menjatuhkan diri di atas ranjang, dan menatap langit-langit kamar sambil berkata...
"Abang gak tau lagi harus ngomong apa sama mu, say. Kenapa harus ada orang lain lagi selain abang, kenapa, say?" tanya bang Agus.
Aku tidak menjawab pertanyaan bang Agus. Aku mengunci mulut ku rapat-rapat, agar tidak menambah luka di hati nya.
"Coba beritahu abang, apa yang kurang dari abang, say? Biar abang perbaiki kesalahan abang itu!" ujar bang Agus.
"Abang gak ada kesalahan apa-apa. Yang salah itu aku, bukan abang." jawab ku.
__ADS_1
"Aku bukan wanita baik-baik, bang. Kalau abang merasa kecewa dengan ku, dan ingin meninggalkan ku. Gak papa, bang. Aku akan menerima nya dengan lapang dada." lanjut ku lagi.
Bang Agus bangkit dari ranjang dan berjalan mendekati ku. Kemudian, dia berjongkok di hadapan ku, dan menatap wajah ku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Abang bener-bener gak nyangka akan begini jadi nya, say. Abang pikir, hanya abang saja yang ada di hati mu." ujar bang Agus.
Bang Agus meletakkan kepala nya di pangkuan ku, dan menggenggam telapak tangan ku dengan erat.
"Tapi ternyata, masih ada orang lain lagi yang mengharapkan mu." lanjut bang Agus.
"Maaf, bang. Aku memang wanita kotor, aku memang tidak pantas untuk kau cintai, bang." balas ku.
Mendengar penuturan ku, bang Agus langsung berdiri dan membungkuk kan badan nya. Dia memegangi kedua pipi ku, dan mencium kilat bibir ku.
"Kau adalah wanita yang paling abang cintai, say. Abang tidak akan membiarkan orang lain memiliki mu, say. Tidak akan." ujar bang Agus serius.
Setelah selesai mengutarakan isi hati nya, bang Agus mengangkat tubuh ku ke atas ranjang.
"Apakah abang boleh menikmati ini lagi, say?" tanya bang Agus sambil menciumi leher ku.
"Boleh dong, sayang. Kapan pun abang minta, aku akan selalu siap menerima nya." bisik ku dengan mata terpejam, dan mengelus-elus kepala plontos bang Agus dengan lembut.
Setelah mendapatkan persetujuan ku, tanpa basa-basi lagi bang Agus pun kembali melakukan kegiatan panas nya. Dia sangat pandai memuaskan hasrat ku, dengan sentuhan dan belaian nya.
Setelah selesai memanja kan tubuh ku, aku dan bang Agus pun akhirnya tertidur pulas karena kelelahan, akibat kegiatan yang menguras keringat barusan.
Setelah beristirahat selama beberapa jam, aku mulai membuka mata perlahan dan menggeliat kan badan. Aku melirik ke samping, dan melihat teman tidur ku itu masih menutup mata nya. Bang Agus masih tertidur lelap di samping ku.
"Aku kerjain dikit, ah." gumam ku pelan sambil tersenyum-senyum sendiri, memandangi wajah bang Agus.
Dalam keadaan polos, aku naik ke atas tubuh bang Agus, dan duduk di bawah perut nya. Setelah posisi nya pas, aku mulai menggerakkan badan ku dengan santai.
Dan itu berhasil membuat bang Agus mengeluarkan suara indah nya, dengan mata yang masih terpejam.
"Nakal sekali dirimu, say. Ngerjain abang kayak gini." ujar bang Agus manja.
"Tapi abang suka kan?" balas ku.
__ADS_1
Bang Agus langsung membuka mata nya, karena mendengar suara ku.
"Iya, sayang. Abang suka banget." jawab bang Agus dan kembali memejamkan mata nya.
Setelah selesai mengerjai bang Agus, aku langsung bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Begitu juga dengan bang Agus, dia mengikuti langkah ku dari belakang, dengan handuk yang melilit di pinggang nya.
"Mau makan gak, say?" tanya bang Agus setelah keluar dari kamar mandi.
"Nanti aja, bang. Aku belum lapar." jawab ku.
"Oh, ya udah." balas bang Agus sambil memakai pakaian dan sepatu nya.
"Abang mau kemana?" tanya ku penasaran.
"Mau pulang ke rumah bentar, say. Nanti abang kesini lagi. Ada yang mau abang ambil di rumah." jelas bang Agus.
"Oh iya, tapi jangan lama-lama ya, bang!" balas ku.
"Iya, abang cuma sebentar aja kok, sayang." jawab bang Agus sembari mengecup kening ku.
Selesai berpamitan, bang Agus langsung keluar dari kamar, dan membawa helm di tangan nya. Setelah kepergian bang Agus, aku segera mengunci pintu, dan duduk di kursi sambil menyalakan rokok.
"Lihat ponsel bentar, ah. Mana tau ada berita terbaru dari bang Darma." batin ku.
Aku mulai menyalakan ponsel, dan melihat beberapa pesan yang masuk. Mata ku langsung terbelalak lebar, melihat foto-foto bang Darma, yang sedang bercumbu dengan Dina di atas ranjang.
Mereka berdua berciuman dengan mesra dalam keadaan polos, tanpa sehelai benang pun yang melekat di tubuh mereka berdua.
Ada juga foto yang memperlihatkan bang Darma, yang sedang berada di atas tubuh Dina. Dan ada beberapa foto mesra lagi, yang dikirim oleh bang Darma di ponsel ku.
"Apa maksud nya dia ngirimin aku foto-foto ini, ya? Apa bang Darma ingin memanas-manasi ku, atau mungkin dia ingin balas dendam pada ku? " batin ku bingung.
Kring kring kring...
Bang Darma menghubungi ku dengan panggilan video call. Dengan ragu, aku pun langsung menerima panggilan nya. Dan setelah tersambung, mata ku langsung membulat melihat adegan live bang Darma dan Dina.
"Hai, sayang. Apakah kau juga melakukan kegiatan seperti ini, dengan para lelaki mu itu?"
__ADS_1
Bang Darma berucap sambil mengarahkan ponsel nya ke tubuh Dina, yang sedang berada di bawah kendali nya.