
Darma berbaring miring di sebelah Yuni, lalu menopangkan kepala di telapak tangan. Dia memandangi wajah Yuni dengan mata sendu, sambil sesekali mendarat kan kecupan hangat nya di kening Yuni.
Karena merasa terganggu, akhirnya Yuni pun terbangun dari tidur lelap nya. Dia mengucek-ngucek mata, lalu menatap wajah Darma dengan senyum sumringah di bibir nya.
"Sejak kapan ada disini?" tanya Yuni.
Dia melingkarkan tangan nya ke pinggang Darma, lalu memeluk tubuh kekar itu dengan sangat erat. Melihat tingkah manja gadis kecil nya itu, Darma pun langsung menyambut nya dengan senang hati.
Dia membalas pelukan Yuni, dan kembali memberikan kecupan yang bertubi-tubi ke wajah Yuni, lalu berkata...
"Baru aja sayang." jawab Darma.
"Oohhh, kirain udah lama." balas Yuni lalu merenggang pelukan nya pada Darma.
Setelah itu, Yuni dan Darma bangkit dari baring nya, dan duduk bersebelahan di tepi kasur. Yuni menyandarkan kepala nya di bahu Darma, dan membingkai dada bidang Darma dengan jari-jari nya.
"Abang kemana aja sih? Dari kemaren kok gak ada datang kesini?" tanya Yuni.
"Kenapa, kangen ya?" tanya Darma balik.
Yuni tidak menjawab, dia hanya mengangguk mengiyakan ucapan Darma. Sedangkan Darma, dia hanya tersenyum melihat anggukan Yuni, lalu kembali memeluk tubuh ramping nya sembari berucap...
"Sama sayang, abang juga kangen." lanjut Darma.
Mendengar jawaban Darma, Yuni pun langsung mendongak dan menatap wajah Darma dengan kening mengkerut.
"Bohong, kalo abang kangen, kenapa gak datang-datang? Apa jangan-jangan, abang di larang ya sama perempuan gila itu?" selidik Yuni.
"Gak lah, mana berani dia ngelarang-ngelarang abang. Abang tu lagi sibuk nyari kerjaan, maka nya gak sempat datang kesini." bohong Darma.
"Halah, alasan. Bilang aja abang lagi enak-enak kan sama dia di sana. Ya kan, ngaku aja deh!" tebak Yuni mulai sewot.
"Eng-enggak kok, mana ada abang enak-enakan sama dia. Yang ada kami itu berantem terus dari kemaren." balas Darma sedikit gugup.
Karena malas berdebat, akhirnya Yuni pun hanya memanyunkan bibir nya, dan berpura-pura percaya dengan kata-kata Darma barusan.
"Udah lah, iya kan aja. Dari pada nanti ujung-ujungnya jadi berantem, mendingan ngalah aja." batin Yuni pasrah.
Untuk mengalihkan pembicaraan, Darma pun berpura-pura menanyakan tentang kesehatan Yuni.
__ADS_1
"Kata mamak mu, kau lagi sakit ya? Tapi kok badan mu gak panas?" tanya Darma sambil menempelkan punggung tangan nya ke dahi dan leher Yuni.
Bukan nya menjawab, Yuni malah menautkan kedua alisnya. Dia tampak kebingungan, mendengar pertanyaan Darma yang cukup aneh menurut nya.
"Siapa yang sakit? Orang aku baik-baik aja kok. Palingan itu cuma akal-akalan mamak aja, biar abang cepat datang kesini." jelas Yuni.
"Hah, iya kah? Kurang ajar betul mamak mu itu. Masa dia tega menumbalkan anak nya, hanya demi kesenangan sendiri? Benar-benar perempuan gak waras tuh orang!" umpat Darma.
Darma mengepalkan tangan dan mengeraskan rahangnya. Dia tampak sangat geram dan kesal dengan kebohongan yang sudah di lakukan Dina pada nya.
"Apa? Kesenangan sendiri? Maksud nya gimana sih?" batin Yuni. Dia sama sekali tidak mengerti akan maksud ucapan Darma.
Yuni yang tampak semakin bingung pun, mulai mengangkat kepala nya dari bahu Darma. Dia memandangi wajah Darma yang terlihat sangat emosi tersebut.
"Emang mamak bilang apa aja sama abang?" tanya Yuni penasaran.
"Dari kemaren, mamak mu itu sibuk ngubungi abang terus. Dia bilang, katanya kau lagi sakit. Trus, abang di suruh cepat-cepat datang kesini." jelas Darma.
Darma menjeda ucapan nya. Dia menghela nafas panjang, setelah itu dia pun kembali menceritakan kebohongan Dina pada Yuni.
"Setelah abang datang, mamak mu langsung menggoda abang. Dia sengaja berpakaian seksi untuk menyambut kedatangan abang., Trus dia juga ngajak abang ke dalam kamar nya, dan nyuruh abang untuk muasin hasrat nya ta..."
"Ups, mampus aku. Bakalan perang dunia kayak nya nih." batin Darma panik.
Dia melirik ke arah Yuni yang sedang memberikan tatapan menusuk, dengan ekor mata nya.
Mendengar kenyataan yang sangat menyakitkan dari bibir Darma, wajah Yuni pun langsung merah padam. Emosi nya meledak seketika. Dia sama sekali tidak menyangka, jika ibu nya tega melakukan hal itu pada nya.
"APA YANG SUDAH KALIAN LAKUKAN DI BELAKANG KU, HAH?" pekik Yuni dengan suara menggelegar, dan nafas yang naik turun tidak karuan.
Darma langsung terlonjak kaget dengan jantung yang berdebar-debar kencang. Dia tampak sangat terkejut, saat mendengar pekikan Yuni yang sangat memekakkan telinga itu.
Karena tidak ingin ada kesalahpahaman di antara mereka bertiga, Darma pun mulai menjelaskan dan berusaha meyakinkan Yuni, kalau tidak terjadi apapun di antara dia dan Dina.
"Tenang dulu dong, sayang. Jangan marah-marah gitu, entar cepat tua loh." canda Darma sambil tersenyum kecut.
"Gak usah mengalihkan pembicaraan. Cepat katakan, apa yang sudah kalian lakukan tadi?" desak Yuni.
"Iya iya, sabar dikit napa sih. Abang pasti cerita kok." balas Darma berusaha menenangkan emosi Yuni.
__ADS_1
"Kau tenang aja ya, sayang! Gak ada terjadi apa-apa kok, sumpah." lanjut Darma sambil membentuk jari nya menjadi huruf V.
Yuni tidak menanggapi ucapan Darma. Dia masih tetap setia dengan wajah garang nya, dan mata yang mendelik lebar. Melihat tatapan horor Yuni, Darma pun kembali gelisah dan salah tingkah.
Dia terlihat bingung, harus bagaimana lagi cara nya untuk meluluhkan hati gadis kecil nya tersebut.
Dengan pikiran yang pusing dan acak adut tidak karuan, Darma pun berinisiatif untuk kembali ke rumah nya, dengan alasan ada panggilan interview di salah satu PT, tempat dia mengajukan lamaran kerja.
"Eh, ponsel abang getar nih. Bentar ya, abang nerima panggilan dulu!" bohong Darma, sambil memegangi ponsel yang ada di saku celana nya.
Yuni tidak menjawab, dia tetap bungkam sambil terus memperhatikan gerak-gerik Darma, yang sedang menempel kan ponsel di telinga nya, dan berpura-pura menerima panggilan di depan nya.
Setelah selesai dengan kebohongan nya, Darma pun langsung memasukkan ponsel nya kembali, lalu berkata...
"Abang pergi dulu ya, Yun. Tadi ada panggilan interview dari PT XX. Abang di suruh datang sekarang juga. Kau gak papa kan abang tinggal sendiri disini?" tanya Darma.
"Ya, aku gak papa kok, pergi lah!" jawab Yuni lirih.
"Oke, makasih ya sayang atas pengertian nya. Abang pergi dulu, bye." pamit Darma lalu mengecup kilat kening Yuni, dan melangkah keluar dari kamar.
"Ya," jawab Yuni lagi, sambil terus menatap kepergian Darma dengan wajah sendu nya.
Tanpa sadar, air mata Yuni pun menetes membasahi kedua pipi nya. Dia terlihat sedih dan terluka atas perbuatan ibu kandung nya, yang berusaha untuk merayu dan merebut Darma dari nya.
"Setega itu kah kau dengan ku, mak? Kau sudah tau, kalau dia itu milik ku. Tapi, kenapa kau masih menginginkan nya?" gumam Yuni dengan penuh rasa kecewa, dan masih dengan deraian air mata di pipi nya.
Setelah beberapa saat merenung tentang perbuatan ibu nya, Yuni pun beranjak dari kasur dan menyambar handuk yang tergantung di belakang pintu.
Dengan langkah malas, Yuni pun berjalan keluar menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, dia kembali ke dalam kamar, lalu kembali berpakaian. Selanjutnya, dia pun merias diri di depan cermin, lalu mengotak-atik ponsel nya untuk bermedia sosial.
Sedangkan Darma, dia kembali ke rumah nya dengan wajah kusut dan lusuh. Dia membaringkan tubuh lelah nya di sofa panjang, lalu meletakkan lengan nya di dahi.
"Kau kenapa? Kok murung gitu? Perang dunia lagi ya, sama benalu mu itu?" tanya Ayu yang tiba-tiba muncul dari dalam kamar.
"Ck, bisa diem gak sih! Berisik kali muncung mu itu." bentak Darma dengan suara tinggi.
Darma sangat kesal mendengar pertanyaan Ayu yang benar ada nya. Dia membentak Ayu tanpa menoleh sedikit pun kepada istri nya tersebut.
__ADS_1