
"Eh, tapi beneran loh, mbak. Aku tadi ada denger si Dina bilang nunggu di hotel. Apa jangan-jangan, yang diajak nya ke hotel itu suami mu ya, mbak?" terka mbak Tuti.
Ayu langsung menggelengkan kepala nya. Ia tidak ingin menceritakan masalah rumah tangga nya kepada orang lain, termasuk si tetangga kepo nya tersebut.
"Enggak ah, mana ada Dina ngomong gitu. Mbak Tuti salah dengar kali." bantah ku.
"Ah, gak mungkin. Orang jelas-jelas tadi aku dengar dia ngomong gitu kok." balas mbak Tuti masih tetap kekeuh dengan pendapat nya.
"Kalo gak percaya, ya sudah." ujar Ayu ketus, sambil terus merapikan barang-barang dagangan nya.
Karena tidak ingin memperpanjang perbincangan, Ayu pun berpura-pura sakit perut dan ingin membuang hajat ke kamar mandi.
"Aduuuuh, perut aku tiba-tiba mules nih, mbak. Aku ke belakang dulu ya, udah kebelet banget nih." ujar Ayu sambil meringis memegangi perut nya.
"Oh oke, silahkan mbak. Kalau gitu aku permisi dulu ya, kapan-kapan kita sambung lagi ngobrol nya." pamit mbak Tuti lalu melangkah keluar dari kios Ayu.
"Iya, mbak." jawab Ayu sambil tersenyum miring, dan melangkah masuk ke dalam rumah.
Sampai di ruang tamu, Ayu duduk selonjoran di sofa panjang lalu menyalakan rokok nya. Dengan pandangan menerawang menatap lurus ke depan, Ayu pun kembali mengingat ucapan musuh bebuyutan nya tadi.
"Hufff, gara-gara mulut si nenek sihir itu, orang-orang jadi pada kepo dengan urusan rumah tangga ku." gumam Ayu sembari menghela nafas berat.
Saat sedang asyik merenung, tiba-tiba Ayu tersentak kaget karena mendengar suara dering ponsel, yang sedang memekik di atas meja.
"Hadehh, bikin kaget aja nih ponsel." gerutu Ayu kesal.
Dengan gerakan ogah-ogahan, Ayu pun segera mengambil ponsel nya. Saat melihat nama si pemanggil, mata Ayu langsung mendelik dengan mulut sedikit terbuka.
"Rendi," gumam Ayu.
Ayu menolak panggilan dari mantan pacar nya, karena ia takut akan mengganggu tidur suaminya.
Dengan gerakan mengendap-endap, Ayu mengintip ke dalam kamar dan melihat Darma sedang tertidur pulas. Setelah memastikan keadaan suami nya, Ayu pun kembali duduk di tempat semula lalu mengotak-atik ponsel nya.
"Kita chattingan aja, suamiku ada di rumah."
Selesai mengetik kata-kata itu, Ayu pun langsung mengirimkan nya kepada Rendi. Tak butuh waktu lama, balasan pesan dari Rendi pun muncul di layar ponsel Ayu.
"Oh, oke sayang." balas Rendi dengan emoji love yang berjejer.
Ayu tersenyum-senyum sendiri, saat melihat pesan dari Rendi. Setelah itu, ia pun kembali membalas nya.
"Abang lagi dimana sekarang?" tanya Ayu.
"Lagi di rumah, sayang. Emang kenapa, kangen ya?" tanya Rendi balik.
"Idih, ge er. Siapa juga yang kangen sama situ? Aku cuma basa-basi aja kok, hehehe." balas Ayu.
"Iiiiissss, jahat banget sih. Kirain tadi kangen, ternyata cuma basa-basi doang." balas Rendi dengan emoji menangis.
Ayu tidak membalas, ia kembali tersenyum sambil terus memandangi pesan dari Rendi. Karena tidak ada balasan dari Ayu, Rendi pun mengirimkan pesan nya kembali.
"Kok diem? Kenapa, takut ketahuan suami mu ya? Emang dia lagi dimana sekarang?" tanya Rendi.
__ADS_1
"Gak lah, ngapain takut? Orang dia lagi tidur kok." balas Ayu.
"Oh, syukur lah. Kirain kalian lagi duduk bareng." balas Rendi lega.
"Enggak," balas Ayu.
"Jadi kira-kira, kapan kita bisa ketemuan lagi?" tanya Rendi.
"Entah lah, aku belum bisa ngasih jawaban sekarang. Soalnya suami ku akhir-akhir ini jarang keluar rumah, jadi aku gak bisa ngasih kepastian. Aku takut mengecewakan mu nanti nya." balas Ayu jujur.
"Yaaaaahh... Jangan kan nanti, sekarang aja abang udah kecewa berat." balas Rendi.
Ayu terdiam sejenak, ia memikirkan cara untuk bisa menghibur Rendi. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya Ayu pun mengetik pesan singkat nya kembali.
"Sabar, sayang. Kalau ada waktu luang, kita pasti bakalan ketemu kok." balas Ayu.
"Iya deh, tapi jangan lama-lama ya! Takut nya keburu karatan nih tombak abang, kalau kelamaan tidak di asah." balas Rendi.
"Iya, cerewet. Oke lah, udahan dulu ya. Kapan-kapan kita sambung lagi. Aku mau istirahat dulu, bye! Emmuaaahhh... Kecup nya dari jauh aja ya, hehehe." balas Ayu.
"Oke, honey. I love you, emmuaaahhh..." balas Rendi, ia juga membalas kecupan ku.
Selesai berbalas pesan dengan Rendi, Ayu pun meletakkan ponsel nya kembali ke atas meja. Setelah itu, ia merebahkan tubuh nya di sofa yang sedari tadi di duduki nya.
Sambil menghisap rokok dan menatap langit-langit ruang tamu, Ayu pun kembali memikirkan tentang hubungan gelap nya dengan Rendi.
"Gimana cara nya memutuskan hubungan dengan Rendi ya?" gumam Ayu bingung.
"Kalau aku minta dia untuk menjauhi ku, dia pasti gak bakalan mau. Bisa jadi, dia malah semakin nekat nanti." lanjut Ayu.
Sedang asyik-asyiknya merenung, tiba-tiba Ayu terkejut melihat kedatangan pak Kades yang sudah berdiri tegak di depan pintu rumah nya.
"Hai, mbak Ayu. Apa kabar?" sapa pak Kades sembari tersenyum, dan melambaikan tangan nya.
Visual : Pak Kades
Ayu langsung terperangah dengan mata membulat, saat memandangi penampilan pak Kades yang terlihat sangat rapi dengan jas hitam nya.
"Wah, ganteng bener nih aki-aki." batin Ayu.
Setelah beberapa saat terpaku, Ayu pun langsung tersadar ketika pak Kades menjentikkan jari nya di depan wajah nya.
"Mbak, kok malah bengong sih? Kesambet ya, hihihi." ledek pak Kades.
"Ssstttt, jangan berisik, pak! Ada suamiku di dalam kamar." bisik Ayu sembari menempel kan jari telunjuk nya di bibir pak Kades.
"Ups, sorry. Saya gak tau kalau ada mas Darma di rumah." balas pak Kades sembari menutup mulut nya sendiri.
"Iya gak papa, yang penting bapak jangan berisik. Takut nya nanti dia kebangun pulak." ujar Ayu dengan suara pelan, seperti orang yang sedang berbisik-bisik.
"Oke, mbak." balas pak Kades.
__ADS_1
Ayu pun segera mengajak pak Kades ke dalam kios, untuk melanjutkan percakapan mereka disana.
"Ayo, pak! Kita ngobrol nya di kios aja."
Seru Ayu sambil menarik tangan pak Kades menuju kios nya. Mendapat perlakuan mendadak seperti itu, pak Kades pun hanya pasrah dan mengekori langkah Ayu dari belakang.
Sesampainya di dalam kios, pak Kades pun langsung duduk di kursi plastik yang sudah tersedia. Sedangkan Ayu, ia memegang kemoceng lalu berpura-pura membersihkan barang dagangan nya kembali.
"Kita ngomong nya pelan-pelan aja ya, pak. Takut nya nanti ada yang nguping." bisik Ayu.
"Oke, manis." jawab pak Kades sambil mencubit gemas pipi ku.
Sambil terus berpura-pura membersihkan barang, Ayu pun mulai membuka percakapan kembali.
"Bapak mau ngapain kesini?" tanya Ayu.
"Ya karena kangen lah, mbak. Masa gitu aja gak paham sih?" balas pak Kades, sembari celingukan ke arah luar kios untuk melihat keadaan sekitar.
"Oh, kirain ada perlu apa." balas Ayu santai sambil terus melakukan kegiatan nya.
"Jadi gimana, mbak? Hari ini kita bisa ke hotel gak?" tanya pak Kades.
"Gak bisa, pak. Kan bapak tau sendiri kalau bang Darma ada di rumah." jawab Ayu.
"Iya sih, tapi ya siapa tau aja mbak Ayu bisa curi-curi waktu untuk saya." ujar pak Kades.
Ayu menoleh sekilas, lalu kembali menyibukkan diri dengan kepura-puraan nya.
"Kalau hari ini tetap gak bisa, pak. Gimana kalau besok aja? Kira-kira bapak ada waktu gak?" tanya Ayu.
"Oke, saya usahakan ya, mbak. Kalau memang bisa, saya akan kabari secepatnya." jawab pak Kades lalu bangkit dari kursi, dan memeluk tubuh Ayu dari belakang.
Mendapat serangan mendadak dari pak Kades, Ayu pun langsung terlonjak kaget dan segera melepaskan pelukan lelaki paruh baya tersebut.
"Lepasin, pak! Entar kalau ada yang lihat, bisa berabe urusan nya." ujar Ayu panik.
"Hehehe, maaf ya mbak, saya khilaf. Habis nya saya gak tahan, kalau lihat body mbak Ayu yang aduhai." balas pak Kades lalu melepaskan pelukan nya, dan mengecup kilat bibir ku.
"Halah, alasan. Bilang aja lagi pengen. Ya kan, ngaku aja deh?" ledek Ayu.
"Hehehe, tau aja dia." balas pak Kades sembari menoel-noel dagu Ayu.
Melihat kelakuan genit pak Kades, Ayu pun hanya tersenyum dan melanjutkan aktivitas nya kembali. Setelah melihat jam yang melingkar di pergelangan tangan nya, pak Kades pun memutuskan untuk pamit pulang.
"Kalau begitu, saya pamit dulu ya, mbak. Besok saya kabari, kalau saya ada waktu luang." ujar pak Kades, lalu mencium kening Ayu dan memeluk tubuh nya kembali.
"Oke, pak." balas Ayu.
Selesai berpamitan, pak Kades pun melangkah keluar dan berlalu pergi dari hadapan Ayu.
"Huh, akhirnya pergi juga tuh aki-aki gatal." gumam Ayu sembari menghela nafas lega.
Setelah kepergian pak Kades, Ayu kembali masuk ke dalam rumah dan membaringkan tubuh nya di ruang tamu. Saat hendak memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara Darma yang memanggil-manggil Ayu dari dalam kamar.
__ADS_1
"DEK, SINI BENTAR!" pekik Darma dengan suara melengking.