SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Masih Bersama Pak Kades


__ADS_3

Setelah kegiatan penuh keringat berakhir, Ayu dan pak Kades pun segera beranjak dari ranjang, dan masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri masing-masing.


Setelah selesai, mereka berdua pun duduk di pinggir ranjang, dengan keadaan sama-sama memakai handuk di tubuh nya. Sesudah menyalakan rokok, Ayu pun mulai bercerita tentang kehidupan nya.


"Pak, aku boleh curhat gak?" tanya Ayu sedikit ragu.


"Boleh dong, honey. Apa sih yang gak boleh untuk wanita secantik kamu." jawab pak Kades dengan menawan di wajah nya.


Ayu tersipu malu mendengar ucapan pak Kades. Wajah nya langsung memerah seperti kepiting rebus, akibat gombalan maut aki-aki di depan nya.


"Tidak lama lagi, seperti nya hubungan kita akan berakhir." ujar Ayu dengan pandangan kosong menatap lurus ke depan.


"Loh, kok gitu? Emang nya kenapa? Apa mbak Ayu sudah bosan berhubungan dengan saya?" tanya pak Kades bingung.


Ayu menghela nafas panjang, lalu menoleh ke arah pak Kades. Ia menatap wajah lelaki paruh baya itu dalam-dalam, lalu kembali menatap ke depan.


"Bukan karena itu, pak. Tapi karena..."


"Lah, kalau bukan karena itu, trus karena apa?" desak pak Kades.


Ayu menjeda ucapan nya. Ia tampak ragu untuk mengungkapkan nya pada pak Kades. Setelah beberapa saat terdiam, Ayu pun membuka suara nya kembali.


"Karena bang Darma ingin mengajak ku pindah ke luar kota." jawab ku lirih, lalu kembali menghisap rokok yang ada di tangan ku.


"APA? PINDAH KE LUAR KOTA?" pekik pak Kades dengan suara melengking.


Ia tampak sangat terkejut, ketika mendengar berita yang sama sekali tidak dia inginkan.


"Iya, pak. Kami akan pindah keluar kota." lanjut ku.


"Emang ada masalah apa? Maka nya mas Darma ingin pindah dari kota ini?" tanya pak Kades penasaran.


"Aku juga gak tau, pak. Tiba-tiba aja dia ngajak aku pindah. Kata nya sih, biar hubungan kami kembali seperti dulu." jelas Ayu.


Masih dengan mode wajah terkejut, pak Kades pun kembali melontarkan pertanyaan nya pada Ayu.


"Kalau sampean pindah, trus saya gimana?" tanya pak Kades lirih.


Pak Kades terlihat sangat kecewa dan patah semangat dengan kepindahan Ayu. Ia tidak menyangka, kalau wanita yang ia sayangi akan pergi meninggalkan nya.


"Ya...Gak gimana-gimana sih, pak. Kan bapak ada istri, bapak gak bakalan kesepian kok." jawab Ayu sembari tersenyum kecut.


"Iya sih, tapi kan tetap aja saya akan merindukan sampean." ujar pak Kades dengan nada lemah.


Ayu menatap wajah sedih pak Kades dengan serius. Ia sama sekali tidak menyangka, jika pak Kades akan sesedih itu mendengar kepindahan nya.


"Bukan bapak saja yang punya rasa rindu, aku juga pasti akan merasakan nya nanti." balas Ayu.


Pak Kades yang tadi nya menunduk lesu, kini mendongak kan kepala nya. Ia memandangi wajah manis Ayu dengan tatapan sayu.


"Saya sudah terlanjur nyaman berhubungan dengan sampean, mbak. Saya gak bisa ngebayangin, gimana hancurnya hati saya nanti jika sampean beneran pindah dari sini." tutur pak Kades.


Ayu menghembuskan nafas kasar, lalu mematikan api rokok nya di dalam asbak. Setelah itu, ia pun menyandarkan kepala nya di bahu pak Kades, dan melingkarkan kedua tangan nya di pinggang lelaki paruh baya tersebut.


"Aku juga sudah terlanjur nyaman dengan hubungan ini. Tapi ya, apa boleh buat. Kita sama-sama milik orang lain, dan kita tidak akan mungkin bersatu." ujar Ayu lalu mengecup pipi pak Kades.


Melihat tingkah manja Ayu, pak Kades pun tersenyum dan membalas nya. Ia mengecup kening Ayu, dan membelai rambut panjang nya dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Iya juga sih, sampe kapan pun kita tidak akan mungkin bisa bersatu. Tapi kan setidak nya, kita bisa saling menyayangi dan saling mengasihi seperti sekarang ini." balas pak Kades.


Ayu hanya diam, ia tidak membalas perkataan lelaki itu. Ia membingkai dada pak kades dengan jari-jari lentik nya, sambil terus mendengarkan ocehan-ocehan nya.


"Kalau sampean jauh dari jangkauan saya, trus gimana cara nya saya menemui sampean, kalau saya sedang rindu?" tanya pak Kades.

__ADS_1


"Cari wanita lain aja, pak. Untuk mengobati rasa rindu bapak itu." jawab Ayu lirih.


Pak Kades langsung menautkan kedua alisnya. Ia benar-benar tidak menduga, kalau Ayu akan mengatakan hal itu pada nya.


"Gak semudah itu, honey. Yang nama perasaan itu tidak bisa di paksakan. Walaupun banyak wanita cantik di luaran sana, tapi kalau hati saya tidak berkenan, maka sulit untuk mendapatkan pengganti seperti dirimu." jelas pak Kades panjang lebar.


"Hehehehe, iya juga sih." balas Ayu sembari nyengir kuda.


Setelah perbincangan berakhir, pak Kades pun menatap wajah Ayu lalu berkata...


"Kira bersenang-senang lagi yok, honey! Saya masih ingin berbagi kenikmatan lagi dengan mu. Gimana, mau gak?" tanya pak Kades.


"Silahkan, pak! Pintu gua ini akan selalu terbuka untuk tongkat sakti bapak." jawab Ayu sembari tersenyum genit.


Ayu segera naik ke atas ranjang dan membuka handuk yang melilit di tubuh nya. Setelah itu, ia pun membaringkan tubuh nya dan melebarkan kedua kaki nya.


"Mendekat lah, sayang! Kita akan nikmati kebersamaan kita ini dengan keringat dan desah*n." rengek Ayu manja sambil melambaikan tangan nya ke arah pak Kades.


Melihat posisi Ayu yang sangat menantang dan menggiurkan, pak Kades pun langsung menelan ludah nya dengan kasar. Mata pak Kades terbelalak lebar, melihat pintu gua yang di tumbuhi rumput halus di sekeliling nya itu, sudah terpampang jelas di hadapan nya.


"Owh, honey. Kau memang sangat pandai membangkitkan gairahku." ujar pak Kades.


Lalu ia pun melepas handuk nya, dan melempar nya ke sembarang arah. Pak Kades merangkak naik ke atas ranjang dengan senyum menyeringai di bibir nya.


Setelah wajah nya berada tepat di depan gua Ayu, pak Kades pun langsung menyerang nya secara membabi-buta.


Ia menikmati nya dengan rakus, hingga membuat Ayu semakin tidak terkendali, karena menahan rasa geli dan enak yang sangat luar biasa dari sentuhan lidah pak Kades.


"Auw, geli pak. Udah cukup, pak. Aku udah gak sanggup lagi." racau Ayu sambil meliuk-liukkan tubuh nya.


Bukan nya menghentikan kegiatan nya, pak Kades malah semakin brutal dengan aksinya. Ia semakin memperdalam penjelajahan lidah nya, dan itu berhasil membuat Ayu memuncak, dan mengeluarkan cairan hangat nya di mulut pak Kades.


Dengan sigap, pak Kades pun langsung melahap nya sampai bersih dan mengkilap seperti semula.


"Iiiiihhh, pelan-pelan dong, pak! Sakit tau gak?" rengek Ayu lalu memanyunkan bibir nya.


"Hehehe, maaf honey. Saya gak sengaja, habis nya saya tidak tahan melihat keindahan gua mu ini. Rasa nya pengen cepat-cepat merasakan nya." goda pak Kades sembari tersenyum dan mengerlingkan mata nya.


"Ah, bapak bisa aja." balas Ayu.


Melihat kelakuan genit pak Kades, Ayu pun kembali tersipu malu dan memalingkan wajah nya ke samping.


Tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan lagi, pak Kades pun mulai melakukan kegiatan nya. Ia berpacu dengan kecepatan tinggi dan nafas yang memburu tidak karuan. Keringat dingin pun mulai bermunculan di wajah dan juga tubuh nya.


Sedangkan Ayu, dia tetap seperti biasa nya. Ayu mulai memejamkan mata nya, lalu menikmati permainan pak Kades dengan nafas yang tersengal-sengal, dan suara desah*n yang sangat merdu.


Karena sudah merasa lelah, pak Kades pun menyudahi kegiatan nya. Ia menyemburkan benih nya ke dalam rahim Ayu dengan hentakan-hentakan kuat.


"Huh, capek nyaaaa." gumam pak Kades, lalu menjatuhkan tubuh nya di samping Ayu.


"Terima kasih ya, honey. Saya merasa sangat bahagia dan puas, kalau sudah bersama dengan mu." tutur pak kades sembari mengecup kening Ayu.


"Iya sama-sama, pak. Aku juga begitu kok. Aku juga merasakan kepuasan yang sangat luar biasa, kalau sudah bersama dengan bapak." balas Ayu.


Kemudian ia pun memeluk tubuh pak Kades, dan menenggelamkan wajah nya ke dada aki-aki tersebut.


"Serius?" tanya pak Kades.


"Bukan serius lagi, dua rius malah, hihihi." jawab Ayu sembari cekikikan.


Tawa pak Kades pun langsung pecah, setelah mendengar candaan receh Ayu barusan.


"Hahahaha, sampean bisa aja." gelak pak Kades sambil mengacak-acak rambut Ayu.

__ADS_1


Setelah bercanda ria dan berhaha-hihi berdua, pak Kades dan Ayu pun memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.


"Berhubung hari sudah sore, kita balek yok, pak! Takut nya nanti ada yang nyariin, kalau kita gak pulang-pulang." ujar Ayu.


"Oke, honey." balas pak Kades sembari tersenyum, dan kembali mendarat kan kecupan-kecupan kilat nya di wajah Ayu.


Ayu tidak menolak atau pun menghindar, ia hanya pasrah menerima perlakuan nakal pak Kades. Setelah selesai dengan kecupan nya, pak Kades pun mengangkat tubuh Ayu ala bridal style ke dalam kamar mandi.


Sesudah membersihkan diri, mereka berdua pun segera bergegas memakai pakaian masing-masing.


Selesai merapikan diri dan membereskan barang-barang pribadi, pak Kades pun mendekati Ayu dan menyelipkan uang ke tangan nya, lalu berkata...


"Ini untuk beli jajan." ujar pak Kades.


"Oke, makasih ya, pak." balas Ayu dengan senyum mengembang di bibir nya.


Setelah menyimpan uang itu ke dalam tas selempang nya, Ayu pun memeluk tubuh pak Kades dan mengecup kilat bibir nya.


Mendapat perlakuan mendadak seperti itu dari Ayu, pak Kades pun tidak tinggal diam. Ia membalas perbuatan Ayu dengan lembut dan mesra. Hingga membuat Ayu sedikit terlena atas kelakuan lelaki tersebut.


Setelah beberapa saat saling bertukar saliva, tiba-tiba Ayu tersadar dan segera melepaskan bibir nya dari mulut pak Kades.


"Jangan di lanjutin lagi, pak. Takut nya kita gak jadi pulang, gara-gara ulah bapak." ujar Ayu lalu kembali merapikan diri di depan cermin meja rias.


"Hehehe, bisa jadi sih." balas pak Kades sambil menggaruk-garuk kepala nya yang tidak gatal.


Setelah itu, Ayu pun menggandeng tangan pak Kades, dan mengajak nya untuk segera pulang.


"Ayo pak, kita pulang sekarang!" seru Ayu.


"Oke, honey." balas pak Kades.


Sesudah menutup pintu kamar, mereka berdua pun jalan beriringan menuju meja resepsionis. Setelah menyerahkan kunci kepada petugas yang berjaga, Ayu dan pak Kades pun kembali berjalan menuju parkiran.


"Oke, kota pisah disini aja ya, pak. Hati-hati di jalan, bye!" ujar Ayu lalu melepaskan gandengan pak Kades, dan berjalan ke arah motor nya.


"Oke," balas pak Kades, lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan nya ke jalan raya.


Setelah melihat kepergian pak Kades, Ayu pun menaiki kendaraan roda dua nya, dan mulai menjalankan nya menuju rumah.


Setibanya di tempat tujuan, Ayu pun memarkirkan motor nya dan masuk ke dalam rumah sambil mengucapkan salam.


Ceklek...


"Assalamualaikum, wa'laikum salam." Ayu membalas salam nya sendiri.


Setelah menutup pintu kembali, ia pun berjalan menuju kamar sambil celingukan kesana kemari mencari sosok Darma.


"Lah, belum pulang-pulang juga rupanya hantu satu itu." gumam Ayu.


Sesampainya di kamar, Ayu menyimpan tas selempang nya di dalam laci meja. Setelah itu, ia pun segera berganti pakaian, dan merebahkan tubuh lelah nya di atas ranjang.


"Sebenarnya dia itu kemana sih? Masa cuma ngecek kerjaan doang, sampe seharian penuh?" gumam Ayu sambil menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong.


"Apa jangan-jangan dia ke rumah para benalu itu ya?" tebak Ayu.


"Ah, masa bodo aja lah. Biarin aja dia bersenang-senang dengan mereka. Toh aku juga sudah bersenang-senang dengan pak Kades tadi." lanjut Ayu.


Ayu tersenyum-senyum sendiri, mengingat kejadian demi kejadian yang sudah di lalui nya bersama pak Kades. Ia begitu sangat menikmati permainan gila pak Kades.


"Perasaan, makin hari kok makin ganas aja tuh aki-aki. Hadehh, bikin aku makin ketagihan aja di buat nya." gumam Ayu.


Ia terus saja mengingat pergumulan panas nya dengan pak Kades, yang mampu membuat nya melayang-layang menikmati nya.

__ADS_1


Setelah beberapa saat mengkhayal, Ayu pun mulai memejamkan mata nya. Dengan posisi miring menghadap tembok, Ayu pun memeluk guling dan mulai masuk ke alam bawah sadar nya.


__ADS_2