SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Berdebat


__ADS_3

"Iya, bang. Nanti aku kasih tau, kalau aku sudah lapar." jawab ku.


Setelah selesai makan martabak, aku menyeruput jus wortel sampai tandas tak bersisa. Lalu, membuang wadah nya ke dalam tong sampah, yang terletak di samping meja tv.


"Kita pergi jalan-jalan yok, say!" ajak bang Agus.


"Jalan-jalan kemana?" tanya ku.


"Kemana aja lah, say. Yang penting kita jalan-jalan keluar. Apa dirimu gak bosan, ngeram di kamar terus?" jawab bang Agus.


Aku ragu menerima ajakan bang Agus. Aku takut ketahuan orang-orang, kalau jalan berduaan dengan lelaki yang bukan suamiku.


"Hhmmm, gimana ya, bang? Sebenar nya sih aku mau, tapi aku takut ada yang kenal sama kita, trus kita di gosipin satu RT." jawab ku.


"Biarin aja lah, say. Ngapain mikirin mulut orang. Yang terpenting sekarang, kita berdua bisa happy-happy. Gimana, mau gak?" tanya bang Agus lagi.


Setelah berpikir sejenak, akhir nya aku menyetujui ajakan bang Agus.


"Oke lah kalo gitu." jawab ku.


Aku bergegas merapikan rambut dan pakaian ku, lalu memoles sedikit wajah ku dengan bedak dan lipstik. Kemudian, aku menyemprot kan parfum ke seluruh tubuh ku.


Bang Agus hanya duduk diam di tepi ranjang, sambil memperhatikan gerak-gerik ku yang sedang berdandan di depan cermin.


Setelah selesai, aku berbalik badan dan mendekati bang Agus yang masih terpaku di tempat duduk nya.


Bang Agus langsung tersenyum, melihat wajah ku yang sudah tampak lebih fresh setelah di dandani.


"Ayok, bang! Aku udah siap nih." ajak ku.


Bang Agus menarik tangan ku, dan membawa tubuh ku ke dalam dekapan nya. Dia menempelkan wajah nya di bagian perut ku. Lalu, bang Agus menciumi aroma tubuh ku yang sudah wangi, karena semprotan parfum tadi.


"Tadi kata nya mau jalan-jalan, kenapa sekarang jadi nemplok kayak cicak gini?" ledek ku sembari mengelus kepala botak nya.


"Gak jadi jalan-jalan nya, say! Abang udah gak selera lagi keluar dari kamar ini." jawab bang Agus.


"Jadi selera nya sekarang apa, botaaak?" balas ku kesal.


"Abang ingin memakan dirimu aja sekarang." jawab bang Agus.


Mata ku langsung terbelalak mendengar kata-kata bang Agus. Tanpa pikir panjang lagi, aku berusaha melepaskan diri dari dekapan nya, dan menjitak kuat kening bang Agus.

__ADS_1


Pletak...


Satu jitakan mendarat indah di kening nya. Bang Agus langsung memekik keras, akibat ulah ku barusan. Dia meringis kesakitan, sambil mengelus-elus kening nya yang tampak sedikit memerah.


"Kejam kali pun wewe gombel satu ini, nyiksa abang terus kerjaan nya." gerutu bang Agus.


"Kapok, siapa suruh bertingkah yang aneh-aneh! Tadi kata nya ngajak keluar. Setelah aku rapi kayak gini, malah gak jadi. Siapa yang gak jengkel coba?" omel ku.


Aku tersenyum geli melihat raut wajah bang Agus, yang masih tampak murung dengan bibir mengerucut, akibat perbuatan ku tadi.


"Udah ah, gak usah pake acara merajuk segala. Udah tua gitu pun, tingkah nya masih aja kayak bocil." lanjut ku.


"Iya cerewet, ayok kita keluar!" balas bang Agus.


"Naaah, gitu dong!" ujar ku sambil tersenyum.


Setelah melewati perdebatan sengit dengan si botak tuyul, akhir nya kami berdua pun mulai melangkah keluar dari kamar hotel. Dan terus melangkah menuju ke tempat parkiran motor.


Sampai di parkiran, aku dan bang Agus bergegas naik ke atas motor, dan langsung pergi meninggalkan hotel tersebut. Di tengah perjalanan, bang Agus kembali membuka suara nya.


"Kita cari tempat makan dulu ya, say!" ujar bang Agus sambil terus melajukan kendaraan roda dua nya.


"Iya terserah, aku ngikut aja." jawab ku.


"Oke, say." balas bang Agus.


Aku dan bang Agus menyusuri jalan raya dengan santai, sambil bercanda ria di atas motor. Tak lama kemudian, bang Agus menghentikan laju kendaraan nya di depan warung makan lesehan, yang terletak di pinggir jalan.


Setelah memarkirkan motor nya, bang Agus langsung menggandeng tangan ku. Kami berdua pun mulai berjalan beriringan, dan masuk ke dalam warung makan tersebut.


Sampai di dalam, aku dan bang Agus duduk bersebelahan di atas lantai yang sudah di lapisi karpet tebal.


"Mau pesan apa, bang?" tanya si pelayan kepada bang Agus.


Bukan nya menjawab, bang Agus malah menoleh kepada ku.


"Mau makan apa, say?" tanya bang Agus.


"Hhmmm, ayam bakar kecap aja lah, bang." jawab ku.


Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus langsung menoleh ke arah si pelayan sambil berkata...

__ADS_1


"Ayam bakar kecap nya dua porsi ya, mas! Trus, minum nya es teh dua." ujar bang Agus.


"Oke, di tunggu ya, bang!" jawab si pelayan.


Bang Agus hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah si pelayan itu pergi dari hadapan kami, bang Agus mengambil ponsel ke dalam saku baju kemeja nya.


Kemudian, dia mulai mengotak-atik ponsel nya dengan wajah yang tampak serius. Aku yang sedari tadi sedang memperhatikan nya, mulai sedikit penasaran dengan kegiatan nya tersebut.


"Lagi chattingan sama siapa sih, bang?" tanya ku sambil melirik ke arah ponsel nya.


"Sama bos abang, say. Besok abang minta izin libur." jawab bang Agus.


"Emang nya abang mau kemana? Kok sampe minta libur segala?" tanya ku semakin penasaran.


"Ya mau nemani dirimu lah, say. Abang gak tega ninggalin dirimu sendirian di dalam kamar." jawab bang Agus.


Setelah selesai berkirim pesan dengan bos nya, bang Agus menyimpan ponsel nya kembali ke dalam saku baju nya. Lalu, dia mengambil kedua tangan ku, kemudian dia mencium punggung tangan ku dengan mesra.


"Abang sangat menyayangi mu, say. Abang gak rela, jika dirimu di sakiti seperti ini oleh suami mu." ujar bang Agus.


Bang Agus mengecup kilat kening ku, lalu merangkul pundak ku dengan satu tangan nya.


"Menikah lah dengan abang, say! Tinggal kan saja suami mu itu. Dia sudah tidak pantas lagi untuk mu, say!" lanjut bang Agus.


"Aku sudah minta cerai dengan nya, bang. Tapi, dia sama sekali tidak menghiraukan permintaan ku itu." balas ku.


"Kenapa dia tidak mau menceraikan mu? Apa alasan nya untuk tetap mempertahankan mu, say?" tanya bang Agus.


"Entah lah, aku juga gak tau, bang. Yang jelas, dia gak mau melepaskan ku sampai kapan pun." jawab ku.


"Memang laki-laki aneh, padahal kita sudah tau sendiri, gimana perbuatan nya dengan mantan istri nya itu." gerutu bang Agus.


"Kenapa dia gak balikan aja sama mantan nya itu? Kenapa dia tetap mempertahankan mu? Abang benar-benar gak habis pikir, dengan jalan pikiran suami mu itu, say."


Bang Agus terus saja mengoceh, tentang masalah rumah tangga ku dengan bang Darma. Dia tampak sangat kesal dan geram, atas perbuatan bang Darma.


"Udah lah, bang. Ngapain pulak abang mesti repot-repot mikirin mereka berdua? Aku yang jalanin pun, cuek-cuek aja kok. Kenapa jadi abang sibuk ngurusin mereka?" balas ku.


Aku sedikit kesal mendengar penuturan bang Agus barusan. Aku tidak suka, kalau dia terlalu ikut campur dalam urusan pribadi ku. Melihat wajah ku yang mulai cemberut, bang Agus pun kembali bersuara.


"Bukan gitu, say. Abang cuma kasian aja lihat dirimu. Kalau memang dia sudah tidak mau lagi dengan mu, ya lepas kan aja lah! Kenapa harus di gantung-gantung kayak gini." jelas bang Agus.

__ADS_1


Aku tidak menjawab sepatah kata pun ucapan bang Agus. Aku memalingkan wajah ke samping, untuk menghindari tatapan mata bang Agus.


__ADS_2