
"Jadi sekarang gimana, mbak? Apa perlu saya turun tangan untuk menciduk suami mu?" tanya pak kades.
"Gak perlu, pak. Biarin aja mereka seperti itu. Aku juga udah gak perduli lagi kok sama mereka semua." jawab ku.
"Capek-capek in diri aja ngurusin mereka. Capek badan, capek otak, capek semua lah pokoknya." lanjut ku.
"Oh, ya udah kalau memang itu mau nya mbak Ayu. Saya sih sebenarnya sudah geram melihat perbuatan suamimu itu, ingin rasa nya saya mengarak mereka keliling kampung, biar kapok sekalian." tutur pak kades kesal sembari mengeras kan rahang nya.
Pak kades tampak sangat murka dan emosi dengan perbuatan bang Darma dan Yuni. Dia merasa kasihan dan iba, jika aku di perlakukan seperti itu oleh suami gila ku itu.
"Gak usah, pak! Biar aku aja yang membalas perbuatan mereka semua." balas ku santai.
"Ya lah, terserah mbak Ayu aja. Tapi kalau seandainya mbak Ayu butuh bantuan saya, bilang aja ya, mbak. Saya pasti akan selalu siap, kapan pun dan dimana pun mbak Ayu membutuhkan pertolongan saya." ujar pak kades.
"Iya, makasih banyak ya, pak. Nanti aku hubungi kalau udah kepepet, hehehe." jawab ku sembari nyengir kuda.
Pak kades hanya tersenyum, sambil menggeleng-gelengkan kepala nya mendengar penuturan ku.
Setelah perbincangan selesai, aku dan pak kades sama-sama terdiam. Kami sibuk dengan lamunan dan isi kepala masing-masing. Setelah beberapa saat hening, pak kades membuka suara nya kembali.
"Jadi gimana, mbak? Apakah sudah bisa kita mulai sekarang?" tanya pak kades sembari mengecup tengkuk leher ku.
"Silahkan, pak!" jawab ku lirih.
Pak kades langsung tersenyum sumringah, saat mendengar jawaban ku. Tanpa berkata apapun lagi, pak kades pun mulai melakukan kegiatan nya.
Dia mulai mencumbui tubuh ku dari ujung rambut sampai ujung kaki, tanpa ada yang terlewat kan sedikit pun. Sentuhan-sentuhan lembut dari lidah dan jari-jari nakal nya pun, mulai ia berikan pada ku.
Pak kades mulai membuka pakaian ku satu persatu sampai polos, lalu melemparkan nya ke sembarang arah.
Begitu juga dengan pakaian yang melekat di tubuh nya, dia juga melakukan hal yang sama seperti yang di lakukan nya dengan ku.
Setelah keadaan kami sama-sama polos, pak kades pun mulai membaring kan ku secara perlahan di atas ranjang. Dia mencium bibir dan seluruh wajah ku dengan lembut dan mesra.
Usai melakukan pemanasan, pak kades mendekat kan bibir nya ke telinga ku lalu berkata...
"Saya mulai ya, mbak!" bisik pak kades.
"Iya, pak." jawab ku sembari tersenyum manis pada nya.
Setelah mendapatkan persetujuan ku, pak kades pun mulai melakukan tugas utama nya. Dia memberikan pelayanan terbaik nya pada ku, hingga membuat ku terlena dan terbuai dengan gerakan-gerakan lincah nya.
__ADS_1
Aku memejamkan mata, sambil terus menikmati hasil kegiatan pak kades yang sangat memuaskan bagi ku.
Setelah melakukan kegiatan nya selama satu jam lebih, pak kades pun menyudahi permainan ganas nya. Dia mengecup kening ku dengan wajah yang berseri-seri, dan senyum yang terus mengembang di bibir nya.
"Terima kasih ya, mbak Ayu. Saya sangat bahagia bisa menikmati mu hari ini." tutur pak kades.
"Iya sama-sama, pak kades ku sayang. Aku juga bahagia bisa bertemu bapak hari ini." goda ku sembari tersenyum genit pada nya.
"Ah, yang bener?" tanya pak kades sambil menoel-noel hidung ku.
"Iya beneran, pak. Buat apa aku bohong, gak ada guna nya juga." jawab ku dengan bibir mengerucut.
"Hehehe, iya deh saya percaya." balas pak kades.
Pak kades terkekeh geli melihat bibir ku yang sudah maju ke depan. Setelah itu ia menjatuhkan diri di sebelah ku, dengan keringat yang masih membasahi seluruh badan nya.
"Mbak, maaf ya. Saya gak bisa lama-lama disini, soal nya istri saya nyuruh cepat pulang tadi pagi. Mau ngajak jalan-jalan ke mall kata nya." ujar pak kades.
"Oh, iya gak papa, pak. Bapak pulang aja duluan, aku masih mau istirahat dulu disini." balas ku.
Aku segera bangkit dari ranjang, lalu mengajak pak kades untuk membersihkan diri di kamar mandi.
"Ayo kita bersihin dulu, pak!" seru ku sembari menarik tangan pak kades.
Ia mulai bangkit dari baring nya, lalu mengikuti langkah ku dari belakang. Aku dan pak kades membersihkan diri masing-masing, di bawah guyuran air shower yang hangat.
Setelah selesai, kami berdua keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di tubuh masing-masing.
Sesudah mengeringkan rambut nya, pak kades langsung bergegas memakai pakaian nya kembali.
Sedangkan aku, aku hanya duduk di tepi ranjang sambil terus memperhatikan gerak-gerik pak kades, yang tampak sibuk merapikan diri nya di depan cermin.
Setelah penampilan nya rapi seperti semula, pak kades mengeluarkan uang dari dalam saku celana nya, lalu menyerahkan nya pada ku sembari berucap...
"Sekali lagi, terima kasih banyak ya, mbak Ayu. Kapan-kapan kalau saya ada waktu luang, kita jumpa lagi disini." tutur pak kades.
Aku menerima uang pemberian pak kades dengan wajah berbinar-binar, lalu berdiri di hadapan nya. Aku memeluk pak kades dan mengecup kedua pipi nya. Dan yang terakhir, aku mencium bibir nya sekilas.
"Oke, pak. Terima kasih juga atas pemberian nya ini." balas ku sembari menunjukkan setumpuk uang biru yang masih ada di dalam genggaman ku.
"Iya sama-sama, mbak. Oke lah kalau begitu, saya pamit dulu ya, mbak. Sampai ketemu lagi, bye!" ujar pak kades.
__ADS_1
Pak kades membalas pelukan ku, lalu mendaratkan kecupan-kecupan kilat nya di wajah dan juga bibir ku. Setelah itu, pak kades pun keluar dari kamar sambil menenteng tas kerja nya.
Setelah kepergian pak kades, aku menutup pintu lalu mengunci nya. Kemudian, aku kembali duduk di tepi ranjang sambil menghitung uang pemberian pak kades.
"Wah, lumayan juga nih." gumam ku dengan senyum yang mengembang.
Aku segera berdiri lalu menyimpan uang itu ke dalam tas ransel, yang tergeletak di atas nakas. Setelah itu, aku mengambil ponsel lalu mengotak-atik nya sambil rebahan di atas ranjang.
"Sepi juga sendirian disini." gumam ku.
"Kira-kira kalau jam segini, Rendi lagi ngapain ya?" lanjut ku sembari melihat jam yang ada di layar ponsel, yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Ah, telpon aja lah. Siapa tau dia bisa datang kesini." gumam ku lagi.
Setelah beberapa saat bermonolog dengan diri sendiri, akhirnya aku pun memutuskan untuk menghubungi Rendi.
Tut tut tut...
"Halo, lagi dimana, bang?" tanya ku setelah panggilan tersambung.
"Lagi di tempat kerja, sayang. Ni lagi siap-siap mau pulang. Emang ada apa? Kok tumben banget ngubungi abang?" tanya Rendi.
"Hmmmm, abang bisa gak datang ke hotel M?" tanya ku sembari menggigit bibir bawah ku.
"Bisa, kapan?" tanya Rendi balik.
"Sekarang, kamar nomor 110." jawab ku.
"Oke, abang kesana sekarang." balas Rendi.
"Oke, aku tunggu. Hati-hati di jalan ya, bye." ujar ku.
"Ya," balas Rendi singkat.
Aku menutup panggilan, lalu meletakkan ponsel di samping tempat ku berbaring. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Aku kembali mengingat tentang bang Darma dan Yuni.
"Sedang apa kau sekarang, bang? Apakah kau juga melakukan hal yang sama, seperti yang aku lakukan saat ini?" gumam ku.
Aku sedang membayangkan bang Darma, yang sedang asyik bersenang-senang dengan anak nya tersebut. Hingga tanpa sadar, air mata ku mengalir tanpa permisi.
"Ck, kok malah nangis sih, cengeng banget! Ngapain juga di tangisi hantu kayak dia itu, bikin sakit hati aja."
__ADS_1
Gerutu ku sembari menghapus kasar air mata dengan punggung tangan ku.