
"Entah lah, tapi Ayu dulu pernah juga ngalamin kayak gini. Trus dia bilang ini biduran." jawab Darma.
"Oh, trus cara ngobatin nya gimana, dong? Aduuuh, gatel banget ini!" rengek Yuni.
Yuni terus saja menggaruk-garuk tangan dan wajah nya dengan kuku-kuku tajam nya, sampai lecet dan semakin memerah.
"Eh eh eh, jangan di garukin terus! Entar makin parah loh." ujar Darma lalu menarik tangan Yuni agar berhenti menggaruk.
"Habis nya gatel banget sih, Yuni gak tahan. Mau nya garuk-garuk terus." balas Yuni.
Darma berpikir sejenak, dia sedang mencari solusi tentang penyakit yang di derita oleh gadis kecil nya tersebut. Setelah menemukan solusi nya, Darma pun kembali bersuara.
"Ya udah sekarang gini aja, abang tanya kan dulu sama Ayu apa obat nya. Kau sabar aja dulu, jangan di garuk-garuk lagi. Takut nya makin parah pulak nanti." tutur Darma.
"Oke, tanya lah!" balas Yuni menyetujui usul Darma.
Darma mengambil ponsel dari saku celana nya, lalu mengotak-atik nya untuk mencari kontak Ayu. Setelah menemukan nya, Darma langsung menghubungi nomor istri nya tersebut.
Tut tut tut...Tut tut tut...
"Lagi ngapain sih? Kok gak di angkat-angkat." gerutu Darma kesal, karena panggilan nya tak kunjung di terima oleh Ayu.
"Gimana, bang?" tanya Yuni gelisah.
"Belum di angkat, mungkin dia masih tidur." jawab Darma sembari menggelengkan kepala nya.
"Coba lagi lah, siapa tau nanti di angkat." desak Yuni.
"Oke," balas Darma.
Tut tut tut...
Darma pun kembali menghubungi Ayu hingga berulang-ulang kali. Dan akhirnya, Ayu pun menerima panggilan nya dengan suara serak khas bangun tidur.
"Apa?" tanya Ayu ketus.
"Ngapain aja sih dari tadi? Di telpon kok gak di angkat-angkat? Bikin emosi orang aja." bentak Darma.
"Sukak ku lah, mau ku angkat kek, mau enggak kek. Kenapa rupanya, HAH?"
Bentak Ayu balik, lalu memutuskan panggilan sepihak. Darma langsung membelalakkan mata nya, saat panggilan nya di tutup oleh Ayu.
"Aaagghhh, kurang ajar! Berani-beraninya dia menutup panggilan ku." pekik Darma geram.
Dengan hati yang dongkol, Darma pun kembali menghubungi nomor istri nya. Sedangkan Yuni, dia hanya berdiam diri sambil terus memperhatikan gerak-gerik Darma dengan kening mengkerut.
__ADS_1
Setelah beberapa kali melakukan panggilan kepada Ayu, akhirnya Ayu pun kembali menerima panggilan nya.
"APA LAGI SIH? Ganggu orang aja kerjaan nya."
Bentak Ayu dengan suara melengking, hingga membuat Darma sedikit menjauh kan ponsel nya dari telinga nya.
"Gak usah ngegas gitu lah, biasa aja ngomong nya!" balas Darma sewot.
"Gak usah banyak bacot, cepat katakan! Ada perlu kau telpan-telpon aku, hah?" omel Ayu masih dengan nada tinggi nya.
"Selow lah, gak sabaran banget jadi orang." cibir Darma.
"Kalau kau gak ngomong-ngomong juga, aku matiin lagi nih ponsel nya." ancam Ayu.
"Eh eh eh, jangan dong, sayang! Iya iya, abang ngomong nih."
Balas Darma sembari melirik ke arah Yuni, yang sudah memasang wajah horor nya di samping Darma. Yuni tampak sangat kesal, mendengar kata sayang yang keluar dari bibir Darma.
Tanpa menghiraukan tatapan tajam Yuni, Darma pun kembali berceloteh ria dengan istri nya tersebut.
"Seingat abang, kau haritu pernah biduran kan, dek?" tanya Darma.
"Ya, kenapa rupanya?" tanya Ayu balik.
"Gak kenapa-kenapa kok, sayang. Abang cuma pengen tau aja apa obat nya?" jawab Darma santai.
"Auw auw auw, hentikan, Yun! Geli tau gak."
Pekik Darma sembari memiringkan badan nya ke kanan dan ke kiri, untuk menghindari perbuatan nakal Yuni.
"Maka nya jangan manggil sayang-sayang terus sama dia, bikin darting (darah tinggi) aja." oceh Yuni ketus.
"Iya iya, ampun. Abang gak akan manggil sayang lagi sama dia." ujar Darma.
"Oke, sekali ni aku ampuni. Tapi awas ya, kalau sampai di ulangi lagi, aku gak akan mau ngasih jatah abang lagi, ingat itu!" ancam Yuni.
"Iya, sayang. Abang gak akan ulangi lagi kok, sumpah." balas Darma berusaha meyakinkan Yuni.
Mendengar penuturan Darma, Yuni pun langsung menghentikan serangan nya, dan kembali anteng mendengar kan percakapan suami istri tersebut.
"Woy, setan! Gak usah kebanyakan drama kalian disitu. Cepat ngomong, aku gak punya banyak waktu untuk meladeni orang-orang gak penting seperti kalian." pekik Ayu dari sambungan ponsel nya.
"Ya sabar dong, ngebet amat sih! Abang cuma mau tanya, apa obat untuk biduran?" tanya Darma.
"Emang siapa yang biduran?" tanya Ayu balik.
__ADS_1
"Yuni," jawab Darma.
"Oh, benalu gila itu rupanya." balas Ayu.
Setelah mengetahui kalau Yuni yang mengalami biduran, Ayu pun berinisiatif untuk mengerjai mereka.
"Siram pakai bensin aja, trus di bakar!" ujar Ayu asal.
"HAH, gila kau ya? Masa di bakar sih, aneh-aneh aja." umpat Darma.
"Kalau gak gini aja, suruh dia berendam di got depan rumah nya seharian. Pasti sembuh tuh biduran nya, percaya lah." lanjut Ayu.
"Ck, serius lah! Di tanyain bener-bener, kok malah bercanda terus kerjaan nya." balas Darma mulai kesal.
"Kalau gak percaya ya sudah. Aku kan cuma ngasih solusi yang terbaik, hahahaha." gelak Ayu dengan suara yang cukup memekakkan telinga.
"Udah ah, makin lama kok makin ngawur aja. Percuma ngomong sama orang gila kayak kau itu, aku pun ikut-ikutan gila jadi nya." cibir Darma ketus.
Tanpa menunggu jawaban Ayu, Darma langsung memutuskan panggilan nya. Dia tidak ingin menambah kesal di hati nya, hanya karena mendengar ocehan-ocehan receh istri nya tersebut.
Setelah panggilan terputus, Darma pun kembali menyimpan ponsel nya ke dalam saku celana. Setelah itu, dia memandangi wajah Yuni yang semakin bertambah bengkak.
"Dia bilang apa tadi, bang? Apa dia udah ngasih tau apa obat nya?" selidik Yuni.
"Enggak, dia gak mau ngasih tau." jawab Darma lirih.
Darma tidak tega dan merasa sangat kasihan, atas apa yang menimpa Yuni saat ini. Dia menatap nanar wajah Yuni, lalu membelai-belai rambut pirang nya sembari berkata...
"Sabar ya, sayang. kita tunggu aja sampe mamak mu pulang. Siapa tau dia bisa ngasih solusi." tutur Darma menyemangati Yuni.
"Kelamaan, bang. Yuni udah gak tahan lagi nih, gatel banget rasa nya." balas Yuni lalu kembali menggaruk-garuk tangan dan juga wajah nya.
Melihat Yuni mulai menggaruk kembali, Darma pun langsung menepis tangan gadis kecil nya tersebut. Dia memegangi kedua tangan Yuni, agar dia tidak lagi menggaruk-garuk biduran nya.
"Udah, jangan di garukin terus! Nanti tambah parah loh luka mu itu." ujar Darma.
Dia menunjuk ke arah lengan Yuni yang sudah lecet dan memerah, akibat garukan kuku nya sendiri. Mendengar ucapan Darma, Yuni pun mengikuti arah telunjuk ayah angkat nya tersebut, dan tiba-tiba...
"Aaaaaaa," pekik Yuni dengan suara melengking.
Yuni tampak sangat terkejut, saat melihat kondisi tangan nya yang sudah mirip seperti macan tutul. Karena saking kuatnya suara pekikan Yuni, sampai-sampai Darma pun terlonjak kaget mendengar nya.
"Astaga, Yun. Bikin kaget aja kerjaan mu." gerutu Darma dengan mata terbelalak.
Yuni sama sekali tidak memperdulikan keterkejutan Darma, dia malah menangis dan meraung-raung seperti anak kecil, di samping lelaki pujaan nya tersebut.
__ADS_1
"Huu huu huu, gimana ini, bang. Muka Yuni jadi cacat gini, jelek banget. Huu huu huu." oceh Yuni sambil terus menangis sejadi-jadinya.