
"Loh, kok jawab nya cuma lumayan sih? Gak ada embel-embel lain nya?" tanya Darma heran.
Ayu menoleh dan menautkan kedua alisnya. Dia terlihat bingung dengan pertanyaan suaminya.
"Embel-embel apa maksud nya?" tanya Ayu balik.
"Ya embel-embel misalnya, makin enak kek, makin nikmat kek, atau makin hot kek. Gitu loh maksud nya." jelas Darma.
Ayu memutar bola mata malas, ketika mendengar ocehan Darma yang cukup aneh menurut nya.
"Kau mau aku jujur atau bohong?" tanya Ayu lagi.
"Ya pasti jujur lah, masa bohong sih! Eneng-eneng wae." jawab Darma mulai kesal lalu menghisap rokok nya kembali.
"Ya itu tadi lah kejujuran ku. Ngapain di tanya lagi? Kan tadi udah aku jawab." ujar Ayu ketus.
"Hufff, ya udah lah lupain aja. Percuma juga ngomong sama batu, pasti ujung-ujungnya bakalan berantem lagi." tutur Darma sembari membuang nafas kasar.
"Hahahaha, udah tau gitu pun masih aja mau nanyain aku. Bener-bener aneh bin ajaib nih orang." ledek ku sembari tertawa ngakak.
Dengan wajah cemberut dan bibir mengerucut, Darma pun berbaring miring menghadap tembok sambil memeluk guling. Dia sengaja membelakangi Ayu, karena merasa kesal dengan pengakuan Ayu tadi.
Padahal dia sudah berusaha semampunya untuk memuaskan Ayu. Tapi nyata nya, respon Ayu malah biasa-biasa saja, tidak seperti yang di bayangkan nya.
"Orang udah capek-capek muasin dia, malah jawab nya cuma lumayan doang. Bikin mood ku rusak aja." gerutu Darma pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Ayu.
"Heh heh heh, kuping ku belum budeg ya. Aku masih bisa dengar semua ocehan mu itu." sindir Ayu.
"Syukurlah kalo dengar, biar sadar sekalian." cibir Darma tanpa menoleh sedikit pun kepada Ayu.
Ayu hanya tersenyum mendengar segala ocehan suaminya. Setelah beberapa saat hening, Ayu pun ikut merebahkan tubuh nya di belakang Darma.
"Udah, gak usah pake acara ngedumel segala. Udah tengah malam nih, kita bobok yok!" ujar Ayu lalu menyelimuti tubuh Darma dengan kain panjang.
Darma tidak bereaksi apa pun, dia tetap bungkam dan terus membelakangi Ayu. Dia terlihat masih kesal dan kecewa dengan perkataan istrinya yang tidak sesuai dengan keinginan nya.
Melihat tidak ada respon apapun dari suami nya, aku pun hanya tersenyum dan mulai memejamkan mata nya. Tak lama berselang, ia pun tertidur pulas dan masuk ke alam mimpi yang indah.
Sedangkan Darma, dia masih krusak-krusuk di samping Ayu. Dia tidak bisa tidur karena masih memikirkan banyak hal, termasuk ucapan istrinya tadi.
"Emang sehebat apa sih selingkuhan nya itu di ranjang? Masa permainan ku tadi bisa kalah? Padahal aku udah udah lama loh goyang nya. Masa cuma di bilang lumayan?" gerutu Darma.
"Apa karena kurang cumbuan ya? Atau karena punya ku ini kurang gede? Atau mungkin, ada atau atau lain nya?" lanjut Darma.
__ADS_1
Darma terus saja menduga-duga tentang kekurangan nya saat bercinta dengan Ayu. Dia tampak frustasi memikirkan cara agar istrinya tidak menyeleweng lagi di luaran sana.
Setelah beberapa saat merenung dan berpikir, Darma pun mulai membalikkan badan nya. Dia menatap nanar wajah Ayu yang tampak teduh dan cantik saat terlelap.
"Apa yang harus aku lakukan agar kau tidak menduakan ku lagi, dek?" batin Darma.
"Aku rindu Ayu yang dulu, yang selalu menyayangi ku, yang selalu memanjakan ku dengan belaian tangan mu, yang selalu ceria dengan segala tingkah konyol mu, dan masih banyak lagi yang aku rindukan darimu." lanjut Darma lagi.
Dia terus saja memandangi wajah istri nya dengan mata yang mulai berembun. Hingga tanpa sadar, air mata yang sudah menggenang di pelupuk mata nya pun mulai menetes, dan membasahi kedua pipi nya.
Darma terlihat sedih dan terluka, saat mengenang masa-masa indah bersama istri tercinta nya. Dia tampak sangat terpukul atas kejadian-kejadian yang menimpa rumah tangga nya saat ini.
"Apa aku harus membawa nya pindah dari kota ini ya, biar bisa hidup bahagia seperti dulu lagi?" gumam Darma.
"Hmmmm, ide bagus tuh. Besok aku akan coba omongin ke dia ah, siapa aja tau dia mau." lanjut Darma sembari manggut-manggut.
Selesai berbicara dengan diri sendiri, Darma pun mulai mengulurkan tangan nya untuk membelai wajah Ayu, sambil sesekali mengecup kening nya.
"Met bobok, sayang. Aku sangat menyayangimu lebih dari yang kau tahu." bisik Darma lalu mendarat kan kecupan-kecupan kilat nya di wajah Ayu.
Setelah mengucapkan kata-kata penghantar tidur, Darma pun melingkarkan tangan nya di pinggang Ayu dan mulai memejamkan mata nya. Tak butuh waktu lama, Darma pun terlelap dan menyusul Ayu ke alam bawah sadar nya.
Sedangkan di kediaman Dina, Yuni terlihat gelisah dan tidak tenang dalam tidur ayam nya. Dia membolak-balik kan badan nya ke kanan dan ke kiri, telentang dan telungkup. Tapi tetap saja tidak membuat nya merasa nyaman.
"Ck, kok gak bisa tidur sih? Padahal tadi udah ngantuk banget, kenapa malah gak bisa merem gini?" gumam Yuni kesal.
Yuni menghela nafas panjang, lalu mendudukkan diri di tepi kasur. Dia memandangi ponsel yang tergeletak di atas meja.
"Sekarang dia lagi ngapain ya? Apa jangan-jangan dia juga memikirkan ku, seperti aku memikirkan nya?" gumam Yuni sambil terus memandangi benda pipih nya.
"Ah, aku telpon aja lah. Siapa tau dia juga memiliki pikiran yang sama dengan ku." lanjut Yuni.
Yuni merentangkan tangan nya ke atas meja untuk meraih ponsel pintar nya. Setelah mendapatkan nya, ia pun mencari nomor kontak Darma lalu menghubungi lelaki pujaan nya tersebut.
Tut tut tut...Tut tut tut...
Yuni menunggu panggilan nya dengan hati yang berdebar-debar. Sedangkan Darma, ia merasa terganggu dengan suara dering ponsel yang sedari tadi tidak henti-hentinya memekik.
"Ck, siapa sih nelpon malam-malam gini? Kurang kerjaan banget." gerutu Darma.
Dengan keadaan setengah sadar dan mata yang masih kunang-kunang, Darma pun turun dari ranjang lalu mengambil ponsel yang sedang menyala di atas meja rias.
Darma langsung mendengus, ketika melihat nama Yuni yang tertera di layar ponsel nya. Karena tidak ingin mengganggu istirahat Ayu, Darma pun keluar dari kamar dan membaringkan tubuh nya di sofa ruang tamu.
__ADS_1
"Ya, ada apa?" tanya Darma setelah menerima panggilan Yuni.
"Lagi dimana?" tanya Yuni.
"Di rumah, emang kenapa?" tanya Darma lagi.
Bukan nya menjawab pertanyaan Darma, Yuni malah terus melontarkan pertanyaan nya.
"Sama siapa?" tanya Yuni.
"Ya sama istri ku lah, emang sama siapa lagi kalau bukan sama dia." jawab Darma sewot.
"Dimana dia sekarang?" tanya Yuni lagi.
"Ada tuh di kamar, emang nya kenapa tanya-tanya dia, hah?" selidik Darma.
"Gak papa, cuma pengen tau aja." jawab Yuni lirih.
Yuni dan Darma terdiam sejenak, mereka sibuk dengan pikiran dan isi kepala masing-masing. Setelah beberapa saat saling bungkam, Yuni pun melanjutkan pertanyaan nya.
"Aku boleh kesana gak?" tanya Yuni.
"Hah, udah gilak kau ya? Mau ngapain kau kesini? Mau cari gara-gara sama Ayu lagi?" tebak Darma.
"Gak lah, aku cuma mau tidur sama kalian berdua." jawab Yuni dengan santai nya.
Mendengar ucapan nyeleneh Yuni, Darma pun langsung memekik dengan mata membulat sempurna.
"APA? Mau tidur sama kami?" tanya Darma memastikan kalau pendengaran nya tidak salah.
"Iya, emang kenapa? Gak boleh ya?" tanya Yuni.
"Ya gak boleh lah, gilak apa? Udah lah, gak usah bertingkah yang aneh-aneh lagi. Aku udah capek tau gak?" bentak Darma.
"Gak usah cari-cari masalah kenapa sih? Jangan bikin aku tambah pusing dengan kelakuan gila mu itu." lanjut Darma.
Air mata Yuni langsung menetes seketika, saat mendengar penuturan Darma yang sangat menyakitkan hati nya. Dia sama sekali tidak menduga, jika Darma akan setega itu kepada nya.
Yuni menangis dalam diam, sembari memegang erat dada nya. Dia menatap lurus ke depan dengan pandangan kosong menerawang. Dengan linangan air mata di kedua pipi nya, Yuni pun terus mendengarkan ocehan-ocehan Darma dari ponsel nya.
Karena tidak ada respon ataupun balasan dari Yuni, Darma pun kembali berkicau dan memutuskan panggilan sepihak.
"Udah ya, gak usah telpan-telpon aku lagi. Aku mau istirahat dulu, bye!" ujar Darma lalu menonaktifkan ponsel nya dan kembali masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
Setelah membaringkan tubuh nya di tempat semula, Darma pun memeluk tubuh Ayu dan mulai memejamkan mata nya kembali. Tak lama kemudian, ia pun kembali tertidur pulas bersama istri tercinta nya.