
"Ngapain masih nonggok di situ, hah? Cepat pergi sana! Kami mau lanjutin lagi main nya." usir Yuni lagi.
"Cuih, aku juga gak sudi lama-lama disini." balas ku sembari membuang ludah ke arah Yuni.
"Bagus lah kalau kau sadar." balas Yuni sinis.
Aku tidak menjawab ucapan Yuni lagi. Aku langsung bergegas melangkah ke dapur untuk mengambil seember air. Setelah itu, aku kembali melangkah ke dalam kamar sambil menenteng satu ember air.
Sampai di kamar, aku langsung menyiram Yuni dan bang Darma dengan air itu, dan melempar kan ember yang sudah kosong itu ke arah Yuni.
"Aaaaaaa,"
Yuni langsung memekik kuat, karena mendapatkan guyuran air plus lemparan ember dari ku.
"Hahahaha, mampus kau kan!" cibir ku.
Aku tertawa terbahak-bahak sambil memegangi perut, di depan kedua manusia tidak tau diri itu. Aku merasa sangat puas dan senang, karena telah memberikan pelajaran kepada mereka berdua.
"Kau itu apa-apaan sih, dek? Tengok nih ranjang nya, jadi basah semua kau buat!" bentak bang Darma.
"Bodo," jawab ku cuek.
"Aaagghhh, dasar perempuan gila!" teriak Yuni.
Aku tersenyum miring melihat Yuni dan bang Darma yang sedang basah kuyup, dalam keadaan sama-sama polos di atas ranjang.
"Masih mending aku siram pakai air dingin, kalau sampai tadi aku siram pakai air panas, bisa langsung ganti kulit kalian berdua kayak ular, hahaha." oceh ku sambil tertawa.
Mendengar ocehan ku, Yuni pun tampak semakin geram dan emosi. Dia mengepalkan tangan nya dan menatap sinis pada ku.
"Usir dia dari sini sekarang, pak! Benci kali aku lihat muka jelek nya itu." perintah Yuni kepada bapak nya.
Bang Darma yang sedari tadi sibuk mengelap badan dan rambut nya pakai handuk pun, langsung melongo saat mendengar perintah dari anak nya.
"Pak, kok malah bengong sih. Cepat usir dia dari sini, biar kita lanjutin lagi main nya. Yuni masih belum puas tadi, gara-gara di ganggu sama perempuan gila satu itu."
Yuni kembali berceloteh sambil menunjuk ke arah ku. Dia tampak sangat kesal dan marah, karena menganggap ku telah mengganggu permainan ranjang mereka.
Setelah mendengar ucapan Yuni, suamiku yang bodoh itu pun langsung mengangguk dan mengusir ku dari kamar.
"Dari pada kedatangan mu cuma bikin rusuh aja, mendingan kau pergi aja lah, dek! Bikin semak aja kau disini." usir bang Darma lantang.
"Iya, betul itu, pak." sambung Yuni menimpali ucapan bang Darma.
Aku kembali tersenyum miring sambil bersidekap di depan mereka.
"Oke, aku akan pergi dari sini. Tapi ingat, jangan salah kan aku jika kalian akan terkenal nanti nya, hahaha." gelak ku.
Aku mulai melangkah keluar dan membanting pintu utama dengan sekuat-kuatnya. Setelah itu, aku langsung naik ke atas motor dan berlalu pergi menuju hotel.
*Kembali ke Author*
Setelah kepergian Ayu, Darma pun langsung bergegas keluar untuk mengunci pintu utama. Setelah itu, Darma kembali masuk ke dalam kamar dan mengelap lantai dan ranjang yang basah akibat perbuatan Ayu.
Selesai membersihkan kamar, Darma kembali duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok nya.
Melihat ekspresi wajah Darma yang sedang melamun, Yuni pun kembali merengek dan bergelayut manja di lengan Darma.
"Pak, ayo kita lanjutin lagi main nya! Yuni masih ingin merasakan punya bapak." desak Yuni.
"Iya sabar, sayang! Tunggu habis ini dulu ya." ujar Darma sambil menunjuk rokok yang ada di tangan nya.
"Ck, matiin aja kenapa sih rokok nya! Masa lebih mentingin rokok dari pada Yuni sih." oceh Yuni kesal.
__ADS_1
"Iya iya, bapak matiin nih." balas Darma sambil mematikan api rokok nya ke dalam asbak.
Setelah itu, Darma pun kembali menyerang tubuh Yuni dengan senyum yang menyeringai.
"Bapak akan melayani mu sampai kau puas hari ini." bisik Darma sembari menggigit-gigit kecil telinga Yuni.
"Iya lakukan lah, pak! Memang itu lah yang Yuni mau." balas Yuni sambil tersenyum bahagia.
"Oke, kita mulai dari awal lagi ya main nya!" bisik Darma lagi.
"Iya, pak. Cepat lah mulai, Yuni udah gak tahan lagi nih." jawab Yuni.
Darma kembali melakukan kegiatan nya dengan Yuni. Dia memanjakan area pribadi Yuni dengan lidah nya dengan durasi waktu yang cukup lama. Hingga membuat Yuni menggeliat-geliat tidak karuan akibat ulah nakal Darma.
Setelah merasa puas, Darma pun langsung naik ke atas tubuh Yuni dan mulai memasukkan nya secara perlahan.
Setelah itu, Darma pun mulai melakukan gerakan nya dengan lincah dan liar. Dan itu berhasil membuat Yuni semakin terlena dan mengeluarkan suara-suara indah nya.
"Wow, enak banget. Lebih kencang lagi, pak! Biar Yuni makin puas." oceh Yuni dengan mata terpejam.
"Oke, sayang." balas Darma.
Sesudah mendengar ocehan-ocehan manja Yuni, Darma pun semakin bersemangat dan semakin menambah kecepatan nya.
Setelah hampir satu jam melayani Yuni, Darma pun mencapai puncak dan menyudahi kegiatan nya.
"Oh, sayang. Kau memang benar-benar sangat luar biasa. Bapak sampai ketagihan ingin terus memakan mu." tutur Darma sambil mengecup kening Yuni dan kembali mencium bibir Yuni.
Selesai mencium bibir Yuni, Darma pun langsung mencabut tongkat nya dan merebahkan diri di sebelah Yuni.
"Sama, pak. Yuni juga ketagihan sama yang satu ini." balas Yuni sembari memegangi tongkat Darma.
"Sebelum kita pulang ke rumah mamak, nanti kita puas-puasin dulu main nya ya, pak.
Setelah pergumulan panas berakhir, Darma pun duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok nya kembali.
Dengan pandangan menerawang, Darma kembali mengingat tentang Ayu. Dia sebenarnya merasa kasihan dan tidak tega dengan istri nya itu.
Tapi dia juga tidak munafik, dia tidak bisa menahan hasrat nya jika sudah melihat tubuh mulus Yuni.
"Maafkan aku, dek. Maaf atas luka yang telah aku toreh kan di hati mu. Kau pasti sangat kecewa dan terluka atas perbuatan ku ini." batin Darma.
Saat sedang asyik dengan renungan nya, tiba-tiba ponsel Darma pun berdering nyaring di atas meja, yang berada tepat di samping ranjang.
"Dina, mau apa dia menghubungi ku?" gumam Darma.
Kening Darma langsung mengkerut saat melihat nama yang tertera di layar ponsel nya.
"Siapa yang nelpon, pak?" tanya Yuni sembari bangkit dari rebahan nya dan duduk di sebelah Darma.
"Mamak mu." jawab Darma.
"Angkat aja, pak! Siapa tau mamak lagi butuh sesuatu." usul Yuni.
Tanpa menjawab ucapan Yuni, Darma pun menerima panggilan dari mantan istri nya dan mengaktifkan pengeras suara nya. Agar Yuni juga bisa mendengarkan percakapan nya dengan Dina.
"Ya, ada apa?" tanya Darma ketus.
"Yuni ada di rumah mu gak?" tanya Dina.
"Ya, dia ada disini. Emang nya kenapa?" tanya Darma balik sambil menoleh pada Yuni.
"Mau ngapain dia kesana? Bukan nya bantuin kerjaan rumah, malah keluyuran terus kerjaan nya." omel Dina kesal.
__ADS_1
"Kata nya dia suntuk di rumah, maka nya dia main kesini." bohong Darma.
"Ck, dasar anak pemalas. Suruh dia pulang sekarang, cuci baju sama masak lauk. Aku mau pergi shopping dulu sama kawan-kawan ku!" perintah Dina.
"Ya, nanti aku suruh." jawab Darma.
"Ya udah kalo gitu, bilang sama dia kunci rumah aku letakkan di bawah pot bunga." ujar Dina lagi.
"Iya, nanti aku bilang kan." balas Darma sambil menutup panggilan dari Dina.
"Tuh, kau dengar sendiri kan mamak mu ngomong apa tadi?" tanya Darma.
"Iya Yuni dengar, tapi Yuni malas pulang ke rumah. Yuni masih ingin bermanja-manja dengan bapak lagi." jawab Yuni.
Darma menghela nafas panjang ketika mendengar penuturan anak nya. Dia bingung harus bagaimana cara memberikan pengertian kepada Yuni.
"Ya udah, kita main sekali lagi. Tapi siap tu kita langsung balek kesana ya!" ujar Darma.
"Oke, pak." jawab Yuni dengan senyum sumringah di bibir nya.
Setelah percakapan mereka berakhir, Yuni pun kembali merebahkan diri nya dan melebarkan kedua kaki nya di depan Darma.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Darma pun kembali mengulangi perbuatan nya. Dia tidak ada bosan-bosan nya untuk melayani hasrat Yuni yang terus saja meminta kepuasan dari nya.
"Udah puas belum, sayang?" tanya Darma di sela-sela kegiatan nya.
"Belum, teruskan aja, pak! Yuni lagi enak-enak nya nih." jawab Yuni sambil terus memejamkan mata nya.
Yuni sangat menikmati pelayanan yang di berikan Darma kepada nya. Hingga membuat nya ingin terus di puas kan oleh Darma.
"Udah dulu ya, sayang. Bapak capek banget nih, nanti aja kita sambung lagi main nya di kamar mu." tutur Darma.
Darma langsung menjatuhkan diri nya di samping tubuh Yuni dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya dan nafas yang ngos-ngosan.
"Yaaaahh, kok malah berhenti sih, pak?" tanya Yuni kesal.
"Badan bapak udah capek banget, Yun. Nanti kita lanjutin lagi ya!" bujuk Darma.
"Tapi kan Yuni belum puas, pak. Masa di gantung gitu sih main nya, tanggung banget." gerutu Yuni sambil memanyunkan bibir nya.
"Udah ah, bapak capek. Ayo kita mandi, siap tu kita langsung pulang!" ujar Darma.
Darma mulai beranjak dari ranjang dan berjalan menuju ke kamar mandi. Dengan gerakan malas, Yuni pun mengekori langkah Darma dari belakang dan ikut mandi bersama nya.
Selesai mandi, mereka berdua memakai pakaian masing-masing, dan berjalan keluar dari kamar menuju pintu utama.
Setelah mengunci pintu, Yuni pun mulai memesan taksi online dari ponsel nya. Tak butuh waktu lama, taksi online yang di pesan nya pun tiba di depan rumah Darma.
Yuni dan Darma pun langsung masuk ke dalam taksi, dan pergi menuju rumah kontrakan Dina.
Sesampainya di tempat tujuan, Yuni mengambil kunci rumah di bawah pot bunga dan segera membuka pintu. Sampai di dalam, Yuni mengunci pintu kembali dan langsung memeluk tubuh Darma dengan erat.
"Ayo, pak! Kata nya tadi mau di lanjutin lagi di kamar Yuni." ujar Yuni.
Yuni melepaskan pelukan nya dan menarik tangan Darma menuju ke arah kamar nya.
"Bapak masih capek, sayang. Nanti aja ya main nya, sekarang bapak mau istirahat dulu di kamar mamak mu." bujuk Darma.
"Tapi kan bapak tadi udah janji sama Yuni, bakalan puasin Yuni lagi." balas Yuni.
"Iya, nanti bapak puasin. Tapi sekarang bapak mau tidur dulu bentar ya, biar nanti makin kuat tenaga bapak main nya." bujuk Darma lagi.
"Hmmmm, ya udah deh kalo gitu." balas Yuni pasrah.
__ADS_1
Setelah bersusah payah membujuk Yuni, akhirnya Darma pun bisa bernafas lega, karena Yuni sudah mengizinkan nya untuk beristirahat sejenak.