SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Pancingan Yuni


__ADS_3

"Seharusnya yang nanya itu bapak, Yun. Ngapain kau ngintip kami main tadi?" tanya Darma balik.


Darma mendudukkan diri di tepi kasur, tepat di samping tubuh polos Yuni. Mata Darma terus saja fokus menatap area pribadi Yuni dengan senyum yang menyeringai.


Melihat arah tatapan mata Darma, Yuni pun langsung tersadar akan keadaan nya saat ini. Dengan cepat Yuni pun segera beranjak dari kasur, dan mengambil handuk yang tergantung di samping lemari pakaian nya.


"Mulus juga badan mu ya, Yun." ujar Darma.


Yuni tidak menanggapi ucapan Darma, dia malah membelakangi Darma dan melilitkan handuk ke badan nya.


"Mendingan bapak keluar aja deh, nanti kalau mamak tahu bisa berabe urusan nya." usir Yuni.


"Mamak mu gak bakalan tau, dia udah pergi keluar sama kawan-kawan nya tadi." balas Darma.


"Kau belum jawab pertanyaan bapak tadi, Yun." ujar Darma.


"Pertanyaan yang mana?" tanya Yuni pura-pura lupa.


"Ngapain kau ngintip permainan kami tadi?" tanya Darma mengulang pertanyaan nya kembali.


"Eh itu...itu..."


Yuni tampak sangat gugup dan gelisah karena mendapat pertanyaan dari Darma. Dia kebingungan mencari alasan yang tepat untuk menjawab nya.


"Itu itu apa, sayang?" tanya Darma.


Darma bangkit dari duduk nya, dan kembali mendekati Yuni yang sedang mematung di depan cermin lemari pakaian.


Tanpa rasa canggung atau pun ragu, Darma langsung memeluk tubuh Yuni dari belakang dan meletakkan dagu nya di bahu Yuni.


Darma memandangi wajah Yuni yang terlihat sedang ketakutan dan panik, dari pantulan cermin yang ada di depan mereka berdua.


"Pak, jangan gini ah! Yuni jadi takut nih." rengek Yuni manja.


Yuni meronta-ronta di dalam pelukan Darma karena risih dengan perbuatan Darma.


"Takut kenapa, sayang? Kan gak di apa-apain sih, cuma di peluk aja kok. Kenapa mesti takut?" tanya Darma.


"Aku risih sama itu bapak. Dari tadi nyenggol-nyenggol belakang ku terus." jawab Yuni malu-malu.


Darma hanya tersenyum miring mendengar penuturan Yuni. Bukan nya melepaskan pelukan nya, Darma malah semakin menjadi-jadi dengan kelakuan nya.


Darma membuka handuk yang melilit di pinggang nya, dan semakin menempel kan benda nya pada Yuni.


Dan itu berhasil membuat Yuni semakin gelisah tidak karuan akibat perbuatan Darma.


"Gak boleh gitu, pak! Kita gak boleh melakukan hal ini." ujar Yuni dengan nafas yang mulai tidak beraturan.


Darma pun langsung tersadar dari kegilaan nya setelah mendengar ucapan Yuni. Darma reflek melepaskan pelukan nya dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai, lalu melilitkan nya kembali ke pinggang nya.


"Maafin bapak, Yun! Bapak khilaf, bapak sama sekali tidak sadar sudah melakukan hal itu dengan mu." tutur Darma.


Darma kembali duduk di tepi kasur sambil menundukkan kepala nya. Dia merasa sangat bersalah dan berdosa atas perbuatan yang di lakukan nya tadi.


"Iya gak papa, pak. Yuni udah maafin kok." balas Yuni sembari tersenyum manis pada Darma.


Yuni mendekati Darma dan berbaring di samping nya, lalu Yuni pun meletakkan kepala nya di pangkuan Darma.


"Jangan bilang-bilang sama mamak mu tentang perbuatan bapak tadi ya, Yun! Nanti mamak mu bisa marah besar sama bapak, kalau dia tau masalah ini." tutur Darma.


Darma menatap wajah Yuni yang ada di pangkuan nya sambil membelai-belai rambut panjang Yuni.


"Iya, bapak tenang aja. Yuni gak bakalan ngomong sama mamak kok." jawab Yuni santai.


Yuni sedikit gelisah dan salah tingkah, saat kepala nya menyenggol milik Darma yang sedikit keluar dari balik handuk nya.


"Aduuuh, punya bapak ini bikin aku merinding aja pun." gerutu Yuni dalam hati.


Yuni kembali membayangkan kejadian yang di lihat tadi di kamar Dina. Pikiran nya jadi traveling kemana-mana kalau mengingat kejadian nikmat itu.


"Andai saja dia bukan bapak ku, pasti aku akan layani keinginan tadi."


Dengan mata yang terpejam, tanpa sadar Yuni sudah bergumam pelan, tapi masih bisa terdengar oleh telinga Darma.

__ADS_1


"HAH, kau ngomong apa tadi, Yun?"


Tanya Darma berpura-pura tidak mendengar dengan jelas ucapan Yuni barusan.


Mendengar pertanyaan Darma, Yuni pun langsung reflek menutup mulut nya dan memiringkan tubuh nya, lalu dia menenggelamkan wajah nya di perut Darma.


"Gak ada ngomong apa-apa kok, pak. Bapak salah dengar kali." balas Yuni.


"Mana mungkin bapak salah dengar. Kau bilang tadi mau melayani bapak, kalau seandainya bapak ini bukan bapak mu. Ya kan, itu yang kau bilang tadi kan?" tutur Darma.


Yuni tidak menjawab ucapan Darma, dia terus saja menyembunyikan wajah nya di perut Darma.


"Bapak mau tanya sekali lagi dengan mu, dan kau harus menjawab dengan sejujur-jujur nya." ujar Darma.


"Mau nanya apa lagi sih, pak? Dari tadi kok nanya-nanya terus kerjaan nya." balas Yuni sewot.


"Ya maka nya di jawab, biar bapak gak nanya terus sama mu!" balas Darma tak kalah sewot.


"Iya iya Yuni jawab, sekarang bapak mau nanya soal apa?" tanya Yuni sembari memanyunkan bibir nya.


"Ngapain kau ngintip permainan kami tadi, hah?" tanya Darma dengan wajah serius.


"Ck, itu lagi itu lagi. Apa bapak gak bosan nanyain itu-itu terus? Kayak gak ada pertanyaan lain aja." gerutu Yuni kesal.


"Udah gak usah pake acara ngedumel segala, cepat jawab!" desak Darma.


"Tadi tu awal nya Yuni gak sengaja. Pas Yuni pulang, Yuni mendengar suara berisik kalian dari dalam kamar. Trus karena penasaran, Yuni langsung ngintip dari lubang pintu." jelas Yuni.


"Tapi kok bapak bisa tau sih, kalau Yuni tadi ngintip kalian?" tanya Yuni.


"Ya tau lah, suara mu aja kedengaran sampe ke dalam." jawab Darma.


"Hah, masa sih, pak?" pekik Yuni.


"Iya, ngapain bapak bohong. Suara aneh mu itu kedengaran sampai ke kuping bapak tadi. Maka nya bapak tau kalau kau lagi ngintip kami main." jelas Darma.


"Waduhhh, gawat nih. Kalau mamak sampai tau, bisa kena omel habis-habisan aku nanti." gerutu Yuni.


"Oh, syukur lah kalo mamak gak tau." gumam Yuni lega.


"Hhmmm, Yuni boleh nanya sesuatu gak, pak?" tanya Yuni ragu.


"Boleh, mau nanya apa?" tanya Darma balik.


"Tapi janji, bapak jangan marah ya!" jawab Yuni.


"Iya bapak janji, emang nya mau nanya soal apa?" tanya Darma lagi.


"Soal permainan bapak tadi." jawab Yuni lirih.


Yuni tidak enak hati untuk mengutarakan rasa ingin tahu nya kepada Darma. Dia tampak ragu untuk menanyakan hal itu kepada bapak nya.


Kening Darma langsung mengkerut saat mendengar pertanyaan Yuni. Dia terlihat sedikit syok mendengar kata-kata yang keluar dari bibir Yuni barusan.


"Emang nya kenapa dengan permainan bapak tadi? Apa kau juga ingin merasakan permainan itu? Atau jangan-jangan kau sudah merasakan nya?" selidik Darma.


Yuni hanya diam tanpa menjawab sepatah kata pun pertanyaan Darma. Dia tampak sedikit panik karena Darma mulai mencurigai nya.


"Eng-enggak kok, pak. Yuni mana pernah melakukan hal itu." jawab Yuni gugup.


"Serius? Kok bapak gak percaya ya." tanya Darma lagi.


"Serius, pak. Kalo bapak gak percaya, lihat aja sendiri! Punya Yuni masih asli kok, belum tersentuh sama sekali." jawab Yuni dengan polos nya.


Darma langsung membelalakkan mata nya saat mendengar tawaran yang menggiurkan dari Yuni. Darma yang tadi nya sudah sadar akan kesalahannya, kini malah kembali menggila karena terpengaruh oleh kepolosan Yuni.


Batang pohon yang tadi nya sudah mulai tumbang pun kini hidup kembali, akibat mendengar ucapan Yuni tadi.


"Beneran, bapak boleh lihat? Emang kau gak malu kalau bapak melihat nya? " tanya Darma dengan senyum menyeringai nya.


"Iya, beneran. Kenapa Yuni mesti malu sama bapak sendiri?" tanya Yuni balik.


"Ya, siapa tau aja kau malu." ujar Darma.

__ADS_1


"Ya gak lah, pak. Yuni gak malu kok. Kalau bapak memang mau lihat, ya silahkan aja!" balas Yuni.


Yuni sengaja memancing Darma, agar Darma mau melihat dan menyentuh milik nya. Dan ternyata, pancingan Yuni pun berhasil. Darma tampak sangat tergiur ingin melihat nya, dan bahkan dia juga ingin merasakan nya.


"Ya udah kalo gitu, sini bapak lihat! Bapak mau periksa dulu, bapak mau buktiin sendiri benar atau tidak omongan mu tadi." ujar Darma.


"Yes, akhirnya berhasil juga pancingan ku." Yuni bersorak dalam hati.


Dengan senyum yang mengembang, Yuni pun langsung merubah posisi nya. Dia menelentang kan tubuh nya di atas kasur dan membuka handuk yang menutupi badan nya.


Darma yang kembali kerasukan setan pun langsung melongo, saat melihat pemandangan indah yang ada di depan mata nya.


Tanpa pikir panjang lagi, Darma pun langsung berlutut di depan Yuni dan memberikan sentuhan-sentuhan lembut nya pada Yuni.


Darma memanjakan Yuni dengan dengan lidah nya, dan itu berhasil membuat Yuni menggeliat-geliat tidak karuan, karena menahan rasa geli dan nikmat akibat perbuatan Darma.


Setelah puas melakukan kegiatan nya, Darma pun kembali bertanya pada Yuni.


"Yun, bapak boleh minta lebih gak?" tanya Darma.


"Maksud nya?" tanya Yuni bingung.


"Bapak ingin melakukan hal yang sama, seperti yang kau lihat di kamar mamak mu tadi." jawab Darma.


"Apa?" pekik Yuni.


"Ssstttt, jangan berisik! Takut nya nanti ada orang yang dengar suara mu." bisik Darma sambil menutup mulut Yuni dengan tangan nya.


"Ta-tapi, pak. Yu-Yuni takut ha-hamil." jawab Yuni gugup dan cemas.


"Gak bakalan hamil kok, bapak bisa pastiin itu." balas Darma berusaha meyakinkan Yuni.


"Ya...Ya udah deh kalo gitu. Terserah bapak aja." jawab Yuni pasrah.


"Biarin aja lah bapak melakukan nya. Dari pada penasaran terus dengan punya bapak, mendingan aku nurut aja. Biar rasa penasaran ku hilang." batin Yuni.


Darma tersenyum bahagia setelah mendengar jawaban Yuni. Wajah nya langsung bersinar cerah karena mendapatkan kesempatan untuk melakukan nya.


Dengan semangat yang menggebu-gebu, Darma pun langsung melancarkan aksinya. Dia menerobos masuk dan mulai melakukan kegiatan nya bersama Yuni.


Dan pada akhirnya, pergumulan panas pun terjadi di atas kasur Yuni. Darma tampak sangat bersemangat dan menikmati permainan nya.


Sedangkan Yuni, dia hanya memejamkan mata dan menghayati setiap gerakan yang di lakukan Darma.


Setengah jam kemudian, Darma pun menyudahi kegiatan nya. Dia menjatuhkan diri di samping tubuh Yuni, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.


"Enak gak, sayang?" tanya Darma.


"Enak," jawab Yuni malu-malu.


"Kapan-kapan kita main lagi ya, mau gak?" tanya Darma.


"Ma-mau, Yuni takut ketahuan mamak." jawab Yuni gugup.


"Rasa nya sih memang nikmat banget, tapi kalau ketahuan mamak bisa hancur semua nya." batin Yuni cemas.


"Gak usah takut, mamak mu gak bakalan tau kok, percaya lah!" balas Darma sembari mengecup kening Yuni.


"Ya udah, bapak keluar dulu ya. Takut keburu mamak mu pulang." ujar Darma.


Darma langsung bangkit dari kasur dan memakai handuk nya kembali. Kemudian dia pun keluar dari kamar Yuni dengan hati yang sangat bahagia.


Sesampai nya di dalam kamar Dina, Darma kembali merebahkan diri dan menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong menerawang.


"Kau itu sebenarnya bukan darah daging ku, Yun. Makanya aku berani melakukan hal itu pada mu." gumam Darma.


"Kau itu sebenarnya tercipta dari benih laki-laki lain, bukan dari benih ku sendiri."


"Aku bisa pastikan kalau kau memang bukan anak kandung ku, karena aku sama seperti Ayu. Aku mandul dan tidak bisa memiliki anak sampai kapan pun." lanjut Darma.


Darma terus saja merenung tentang keadaan yang sedang di alami nya. Sedangkan Yuni, dia tersenyum-senyum sendiri mengingat kejadian yang baru saja di lakukan nya bersama Darma.


"Ah, bapak memang benar-benar hebat. Dia mampu membuat ku melayang-layang tadi. Aku jadi pengen merasakan nya lagi." gumam Yuni.

__ADS_1


__ADS_2