SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Musuh Bebuyutan


__ADS_3

Selesai berbincang dengan Rendi, aku menyeruput es kelapa muda yang ada di depan ku, sampai tandas tak bersisa. Setelah itu, aku pun mengajak Rendi untuk pergi dari tempat itu.


"Balek yok, bang! Aku ngantuk, mau istirahat di kamar aja." pinta ku.


"Loh, kok balek sih, Yu? Emang nya dirimu gak mau ya, menikmati keindahan pantai di sore hari?" tanya Rendi.


"Lain kali aja kita, bang." jawab ku.


"Oh, ya udah kalo gitu." balas Rendi.


Rendi beranjak dari tempat duduk nya, lalu berjalan ke arah warung untuk membayar tagihan makanan, yang berada tidak jauh dari tempat duduk kami.


Setelah selesai membayar, Rendi kembali menghampiri ku dan langsung menggandeng lengan ku, untuk berjalan ke parkiran mobil nya.


"Ayo, Yu!" ajak Rendi.


"Iya," balas ku.


Sampai di dalam mobil, Rendi segera melajukan kendaraan nya menuju hotel tempat kami menginap. Tak lama kemudian, kami berdua pun sudah tiba di depan gedung hotel.


Setelah memarkirkan mobil nya, Rendi kembali menggandeng tangan ku, dan kami pun berjalan beriringan menuju kamar yang berada di lantai dua.


Sesampainya di dalam kamar, aku langsung merebahkan diri di atas ranjang. Sedangkan Rendi, dia duduk di samping ku sambil mengotak-atik ponsel nya.


Seperti nya Rendi sedang fokus berbalas pesan dengan seseorang. Aku hanya diam, sambil memperhatikan gerak-gerik Rendi dari belakang punggung nya.


"Yu, abang keluar bentar, ya! Ada urusan kerjaan dikit nih, nanti abang balek lagi."


Rendi berucap sambil menoleh pada ku, yang sedang berbaring telentang di samping nya.


"Kamu istirahat aja dulu disini, ya! Abang gak lama kok keluar nya, palingan cuma satu jam aja." tambah Rendi lagi.


"Iya, bang." balas ku.


Setelah mengecup kening ku, Rendi pun langsung bangkit dari ranjang, dan melangkah keluar dari kamar.


Setelah Rendi pergi, aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Aku mulai memikirkan tentang rumah tangga ku kembali.


"Mau sampai kapan, aku harus menjalani hidup seperti ini? Aku lelah, aku capek dengan masalah yang tak ada habisnya seperti saat ini." gumam ku.


Tanpa terasa, air mata ku mulai mengalir membasahi pipi ku.

__ADS_1


"Ck, kok aku jadi cengeng gini sih, malu-maluin aja!" gerutu ku sambil mengusap kasar kedua pipi ku.


"Aktifkan ponsel bentar ah, mana tau ada berita-berita heboh yang menggemparkan dunia maya." gumam ku.


Aku bergegas turun dari ranjang, dan berjalan beberapa langkah menuju meja rias, untuk mengambil ponsel yang berada di dalam tas.


Setelah mendapatkan nya, aku segera mengaktifkan ponsel itu, lalu mulai berkecimpung di media sosial.


Sedang fokus melihat berita-berita terbaru, yang lewat di beranda aplikasi biru ku, tiba-tiba ponsel yang sedang aku pegang itu pun berdering.


Mata ku langsung menyipit, melihat nomor baru yang tertera di layar ponsel ku itu.


"Nomor siapa ini?" gumam ku bingung.


Dengan perasaan ragu, aku pun menerima panggilan tersebut.


"Halo, siapa ini?" tanya ku langsung to do point.


"Heh, perempuan gila. Kau masih ingat gak dengan suara ku yang merdu ini?" tanya Dina.


"Oh, orang sinting rupanya. Kirain tadi siapa." jawab ku santai.


"Kurang ajar kali mulut mu itu, bilangin aku sinting. Mau minta di hajar kau, ya?" pekik Dina.


"Wah wah wah, makin hari makin lantam aja mulut mu itu, ya. Oke, kita buktikan aja nanti, siapa yang akan menang!" balas Dina.


"Oke, siapa takut nenek peyot, hahaha!" ledek ku lagi.


"Aaagghhh, awas kau ya! Aku akan sobek mulut mu itu, tengok aja lah nanti! Aku gak akan main-main dengan ucapan ku ini." pekik Dina geram.


"Silahkan, aja! Aku gak akan pernah gentar, untuk menghadapi setan alas seperti mu, hahaha!" ledek ku.


Aku kembali tertawa terbahak-bahak, membayangkan ekspresi wajah Dina. Dia pasti sangat murka dan kepanasan, karena mendengar celotehan ku barusan.


"Dasar perempuan luknut! Kau..."


Dengan cepat, aku pun langsung memotong ucapan Dina.


"Udah ah, aku lagi malas meladeni kegilaan mu itu. Lagian, kau itu mau ngapain sih? Kok kerajinan kali nelpon-nelpon aku terus. Kau kangen ya sama aku?" cibir ku.


"Cuih, najis! Kepedean kali kau jadi orang." jawab Dina.

__ADS_1


"Hahahaha, trus kau mau ngapain? Cepetan ngomong, aku gak punya banyak waktu lagi nih!" desak ku.


"Halah, sok kali kau. Kayak pejabat aja, gak punya banyak waktu. Kau itu kan cuma pengacara, alias pengangguran banyak acara, hahaha." ledek Dina.


"Naaah, tu tau. Maka nya cepetan, mau ngomong apa kau sama ku?" desak ku lagi.


"Aku cuma mau bilang, kalau kau mau minggat, jangan nanggung-nanggung gitu kenapa, sih?" ujar Dina.


"Mendingan kau minggat yang jauh sekalian, biar aku dan Yuni yang akan menggantikan mu di rumah Darma." lanjut Dina lagi.


Aku langsung tersenyum miring, mendengar ocehan yang tidak berbobot dari Dina.


"Ooohhh, masalah itu toh. Heh, dengerin ya perempuan yang gak laku-laku! Mending kau tanya sendiri aja dengan suami ku itu, mau gak dia menerima mu lagi?" balas ku.


"Ya, pasti mau lah. Darma itu masih cinta dengan ku." jawab Dina dengan pede nya.


"Jangan kepedean kali jadi manusia! Kau itu bagaikan pungguk yang merindukan bulan." balas ku.


"Kau itu masih punya harga diri gak, sih? Murahan banget jadi perempuan. Kau gak malu ya, mengemis cinta laki-laki yang sama sekali tidak menginginkan mu." cibir ku.


"Jangan sembarangan kalo ngomong! Siapa juga yang ngemis-ngemis sama dia? Dia nya aja yang masih kegatalan sama ku." jawab Dina sewot.


"Bukan nya terbalik, ya? Perasaan, yang sering kegatalan itu kau lah, bukan suamiku." balas ku tak mau kalah.


"Mana ada, ngarang aja kerjaan mu!" bantah Dina.


"Itu memang fakta yang sebenar nya, bukan ngarang." balas ku.


"Udah lah, aku lagi gak mood meladeni khayalan tingkat tinggi mu. Aku ngantuk mau tidur, bye orang sinting. Hahaha!" ledek ku sambil menutup panggilan dari Dina.


"Dasar kau..."


Tut tut tut...


Dina tidak sempat untuk mengumpat ku lagi, karena aku langsung memutuskan panggilan nya.


Setelah selesai bercekcok ria bersama musuh bebuyutan, aku langsung menonaktifkan ponsel kembali. Lalu menyimpan nya ke dalam tas kecil, yang tergeletak di atas meja rias.


"Huh, ada-ada tingkah perempuan sinting satu itu. Apa hidup nya gak bisa tenang ya, kali tidak menggangu hidup ku?" gumam ku.


Aku naik kembali ke atas ranjang, untuk mengistirahatkan badan dan isi kepala, yang terasa lelah dan penat. Akibat ulah benalu yang tidak tahu diri itu.

__ADS_1


"Dari pada mikirin hal yang gak penting, mendingan tidur aja lah, hoam." lanjut ku.


Aku menguap sampai berkali-kali. Lalu aku mulai memejamkan mata, sambil memeluk guling. Tak lama berselang, aku pun tertidur pulas di atas ranjang.


__ADS_2