
Aku tersenyum miring, melihat pesan-pesan yang di kirim kan bang Darma dan bang Agus.
"Lagi dimana, say? Kios nya kok udah tutup jam segini? Abang lihat, motor mu juga gak ada di teras. Pergi sama siapa, say?" deretan pesan dari bang Agus.
Aku membuang nafas kasar, setelah membaca pesan-pesan dari selingkuhan lima langkah ku itu.
"Huh, aku harus jawab apa, ya? Kan gak mungkin aku jujur sama si botak, kalau aku lagi di hotel sama Rendi." batin ku bingung.
Setelah berpikir sesaat, aku pun mulai mengetik balasan untuk pesan dari bang Agus.
"Aku lagi di rumah sepupu, bang. Ada keperluan mendadak tadi."
Aku mengirim kan kata-kata itu kepada bang Agus, agar dia tidak khawatir tentang keberadaan ku saat ini. Tak butuh waktu lama, bang Agus pun langsung membalas pesan yang baru aku kirim kan tadi.
"Oh, lagi di rumah sepupu mu ya, say. Kirain pergi kemana tadi. Ada keperluan mendadak apa di sana, say?" selidik bang Agus.
"Sepupuku minta di temani ke rumah orang tua nya, bang." bohong ku.
"Ohhh, gitu. Ya udah deh, hati-hati ya di sana! Salam buat sepupunya." balas bang Agus menutup percakapan.
"Iya, bang. Nanti aku sampai kan." balas ku.
Setelah selesai berbalas pesan dengan si botak, aku pun mulai membuka pesan dari bang Darma suamiku.
"Pergi kemana kau, dek? Dasar istri durhaka! Melawan suami terus kerjaan mu, gak takut kualat kau ya? Kau pasti lagi di hotel sama para selingkuhan mu itu kan?" pesan dari bang Darma.
Aku memutar bola mata malas, membaca pesan dari suami ku itu.
"Balas gak, ya?" batin ku.
Aku pun kembali berpikir dan merenung sejenak. Beberapa saat kemudian, aku mulai menggerakkan jari-jari ku untuk membalas pesan bang Darma.
Ah, balas aja lah." gumam ku.
"Sukak ku lah mau pergi kemana, apa rupanya urusanmu? Mau ke hotel kek, mau ke mall kek, mau ke laut kek, bukan urusan mu!"
Aku mengirim kan pesan balasan itu kepada bang Darma. Tak lama berselang, bang Darma pun langsung membalas nya.
"Ya, gak bisa gitu lah! Kau itu kan masih istri ku, aku berhak melarang mu untuk pergi dari rumah." balas bang Darma tak mau kalah.
"Aku kan udah sering bilang, gak usah kau urusin aku lagi! Urus aja dua benalu yang kau sayangi itu." balas ku.
Mungkin karena kesal dengan kata-kata ku barusan, bang Darma pun akhirnya melakukan panggilan video pada ku.
"Ck, dia ini mau ngapain sih pake acara video call segala? Bikin emosi aja nih orang."
__ADS_1
Aku menggerutu kesal, sambil terus memandangi layar ponsel yang sedang berdering di tangan ku.
"Matiin aja lah, biar aman." gumam ku.
Aku menolak panggilan dari bang Darma, dan langsung menonaktifkan ponsel itu. Kemudian, aku menyimpan nya kembali ke dalam tas, yang tergeletak di atas nakas.
Aku kembali duduk di tepi ranjang sambil menyalakan rokok. Beberapa menit kemudian, terdengar suara ketukan pintu dari luar kamar.
Tok tok tok...
"Yu, buka pintu nya!" pekik Rendi.
"Ya bentar, bang!" jawab ku sambil berlari kecil untuk membuka pintu.
Setelah pintu terbuka lebar, Rendi langsung melangkah masuk dengan beberapa bungkusan di tangan nya.
Rendi meletakkan semua bungkusan itu di atas meja. Lalu, dia membuka sepatu dan menaruh nya di samping pintu.
"Duduk sini, bang! Kita makan sama-sama, aku udah lapar banget nih." ujar ku.
"Iya, bawel." balas Rendi sambil mendudukkan dirinya nya di kursi yang berada di depan ku.
Tanpa basa-basi lagi, aku dan Rendi pun mulai membuka bungkusan itu satu persatu.
Setelah semua makanan dan minuman di buka, kami berdua pun langsung memulai acara makan bersama. Aku dan Rendi melahap makanan itu dalam suasana hening, tanpa percakapan apa pun lagi.
"Kenapa di buka semua?" tanya ku heran.
"Gerah, Yu." jawab Rendi santai.
"Kan ada AC, kenapa masih gerah?" tanya ku lagi.
"Mungkin karena baru siap makan, maka nya badan abang jadi gerah gini." jawab Rendi.
"Oh, mungkin juga sih." balas ku.
Aku dan Rendi saling terdiam satu sama lain. Kami berdua sedang hanyut dalam pikiran dan khayalan masing-masing.
Aku menghisap rokok sambil menerawang, menatap ke arah ranjang dengan pandangan kosong. Dan Rendi, dia juga melakukan hal yang sama dengan ku. Rendi menghisap rokok yang ada di jari tangan nya sambil melamun.
"Kita mau pulang atau nginap di sini, Yu?" tanya Rendi membuka perbincangan.
"Entah lah, bang. Aku juga bingung, mau nginap atau pulang." jawab ku.
Aku menoleh pada Rendi, dan menatap wajah manis nya dengan tatapan yang sulit di artikan.
__ADS_1
"Kalau hati mu masih ragu, lebih baik kita nginap aja dulu di sini, sampai pikiran mu tenang kembali." ujar Rendi.
"Hmmmm, sebenarnya sih aku masih malas untuk bertemu dengan suami ku. Tapi...tapi kalau aku gak pulang, suami ku pasti bakalan marah besar dengan ku." jawab ku ragu.
"Trus, sekarang mau nya gimana? Mau pulang atau mau nginap?" tanya Rendi.
"Mau nya sih nginap, bang. Tapi lama-lama bosan juga di dalam kamar terus." jawab ku.
"Kalau dirimu bosan, kita kan bisa pergi jalan-jalan sih, sayang. Gitu aja kok bingung." balas Rendi.
Rendi beranjak dari tempat duduk nya. Lalu, dia mendekati ku sambil menyunggingkan senyum genit nya.
"Eh eh eh, mau ngapain?" tanya ku sedikit gugup.
Aku mulai curiga dengan gerak-gerik Rendi, yang seperti nya menginginkan sesuatu dari ku. Bukan nya menjawab, Rendi malah semakin mendekat dan mencondongkan tubuh nya pada ku.
"Abang mau ini, sayang."
Rendi menarik pelan tengkuk leher ku, lalu dia mencium bibir ku dengan lembut. Mendapatkan perlakuan seperti itu, aku pun memejamkan mata dan mulai terlena dengan perbuatan Rendi.
Dengan mata yang masih terpejam, aku membalas ciuman Rendi, dan melingkarkan kedua tangan ku di leher nya. Karena mendapatkan balasan dari ku, Rendi pun langsung mengangkat tubuh ku ke atas ranjang.
"Kita main sebentar ya, sayang! Habis tu, kita keluar jalan-jalan." bisik Rendi.
Aku mengangguk, mengiyakan permintaan Rendi. Setelah mendapatkan persetujuan ku, Rendi pun mulai melakukan permainan nya, dengan penuh semangat.
Setelah melakukan pergumulan panas sekitar hampir satu jam, Rendi pun menyudahi permainan nya.
"Huh, capek juga ternyata olahraga terus kayak gini." gumam Rendi.
Rendi berbaring telentang di samping ku, dengan nafas yang masih tampak sesak.
"Kapok, siapa suruh minta jatah terus-terusan." cibir ku.
"Tapi dirimu suka kan, sayang? Bukti nya dirimu menikmati nya tadi." goda Rendi.
Rendi tersenyum dan mengerlingkan mata nya pada ku. Mendengar godaan maut Rendi, aku langsung tersipu malu, dan memeluk separuh tubuh nya.
"Ya pasti suka lah, bang. Kan abang tau sendiri, kalau aku memang paling suka yang begituan." jawab ku.
Aku mencium pipi Rendi, lalu menenggelamkan wajah ku di ceruk leher nya.
"Sama, sayang. Abang juga paling suka melakukan olahraga seperti tadi. Rasa nya, abang gak ada puas-puas nya, untuk melakukan hal itu dengan mu." balas Rendi.
Rendi mengecup kening ku dan membalas pelukan ku. Dia mendekap tubuh ku dengan sangat erat, sehingga membuat ku semakin susah untuk bernafas.
__ADS_1
"Iiihhhh, lepasin! Sampe sesak nafas ku ini abang buat." omel ku.
"Hehehe, maaf ya, sayang. Abang gak sengaja." balas Rendi.