
Setelah mengistirahatkan diri selama kurang lebih dua jam, aku mulai membuka mata dan melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul empat sore.
"Huh, gara-gara si botak tuyul nih. Badan ku jadi pegel semua lemas banget rasa nya, hoam."
Aku menggerutu dan menguap lebar sambil menggeliatkan tubuh ku kesana sini, persis seperti ular yang sedang ganti kulit.
Setelah capek menggeliat, aku segera bangkit dari ranjang dan langsung berjalan ke kamar mandi.
Selesai mandi, lanjut menunaikan shalat ashar di dalam kamar. Setelah itu, aku menyapu halaman dan menyiram bunga.
Saat sedang menyapu, mata ku langsung tertuju pada seseorang yang sedang duduk manis di depan rumah nya, sambil menyeruput kopi dan menghisap rokok nya.
"Itu si botak ngapain sih, pake acara mampang disitu segala. Udah kayak patung Pancoran aja tuh orang, hihihi."
Aku terkikik sendiri membayangkan bang Agus jadi patung Pancoran. Aku kembali melirik pada nya yang masih tampak anteng duduk di depan rumah nya.
Sesekali bang Agus mengerlingkan sebelah matanya pada ku. Dia juga membentuk love dengan kedua tangan nya, lalu mengarahkan nya pada ku.
"Dasar, botak gila." gerutu ku pelan.
Aku menggeleng-gelengkan kepala, saat melihat tingkah kocak bang Agus yang seperti anak ABG.
Selesai menyapu halaman, aku masuk ke dalam rumah dan tiba-tiba," braakk." Suara tabrakan yang sangat keras terdengar di telinga ku. Ternyata telah terjadi kecelakaan tepat di depan rumah ku.
"Astaghfirullahal'azim, ada apa tuh?" pekik ku kuat.
Aku langsung berlari ke depan rumah, dan melihat dua pengendara motor yang sudah terkapar dan bersimbah darah di jalan aspal tersebut.
Lutut ku langsung lemas ketika melihat kejadian yang ada di depan mata ku itu. Aku mengelus dada sambil terus beristighfar.
Para warga sekitar pun mulai berdatangan memenuhi lokasi tempat kejadian kecelakaan, termasuk aku dan bang Agus.
Mulut ku masih terus beristighfar tanpa henti, sambil melihat kedua korban itu. Sebenarnya aku paling takut melihat kejadian seperti itu. Tapi rasa penasaran ku mampu mengalahkan rasa takut ku.
Darah segar mulai mengalir dan berceceran di mana-mana. Seperti nya luka kedua pengendara motor itu cukup parah, aku sampai bergidik ngeri melihat nya.
"Ya Allah, semoga saja mereka berdua selamat, amin amin ya rabbal a'lamin." doa ku dalam hati.
Suasana di depan rumah menjadi sangat ramai dan padat. Berhubung situasi sudah semakin sempit dan berdesak-desakan saking ramai nya, akhirnya aku pun mundur dan berdiri di depan pintu rumah saja.
Dari depan pintu, aku masih terus memperhatikan kerumunan warga yang sedang mengelilingi korban kecelakaan itu.
Beberapa menit kemudian, polisi pun tiba di lokasi. Para polisi itu langsung mengamankan kedua korban beserta motor nya.
__ADS_1
Setelah itu, mobil ambulans juga tiba. Para warga pun mulai mengangkat kedua korban kecelakaan, yang sedang tidak sadarkan diri itu ke dalam mobil ambulans.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un, semoga saja mereka bisa di selamat kan ya Allah, amin!" aku kembali berdoa kepada sang pencipta.
Setelah kedua korban itu di bawa mobil ambulans, para polisi dan warga pun mulai mengangkat kedua motor yang sudah hancur remuk itu, ke dalam mobil pickup sebagai barang bukti.
Setelah kepergian para polisi, warga sekitar pun mulai membersihkan lokasi kejadian. Bang Agus juga turut membantu membersihkan darah, dan bekas serpihan-serpihan yang hancur dari kedua motor yang bertabrakan tadi.
Aku masih saja berdiri di depan pintu, sambil terus memperhatikan warga. Mereka masih terlihat sibuk membersihkan lokasi kecelakaan yang berada tepat di depan rumah ku itu.
Satu jam kemudian, lokasi kecelakaan itu pun sudah kembali bersih seperti semula. Para warga sekitar sebagian juga sudah mulai membubarkan diri masing-masing.
Tak lama berselang, bang Darma pulang. Dia di antar oleh teman kerja nya yang bernama Rusli.
"Makasih ya, Rus," ujar bang Darma.
"Oke, kang." jawab Rusli.
Setelah mengantar kan bang Darma, Rusli pun langsung pamit pulang ke rumah nya. Setelah kepergian Rusli teman nya itu, bang Darma tampak heran melihat situasi yang bisa di bilang masih ramai.
Karena sebagian warga masih ada yang berkumpul secara berkelompok, di sekitar area depan rumah ku.
"Ada apa, dek? Kok banyak orang ngumpul-ngumpul gitu?" tanya bang Darma.
Bang Darma menghampiri ku di depan pintu dan aku pun langsung mencium punggung tangan nya, dan berjalan masuk ke dalam rumah. Bang Darma mengikuti langkah ku dari belakang.
"Barusan ada kecelakaan di depan rumah kita, bang."
"HAH, kecelakaan apa, dek?" pekik bang Darma.
Dia langsung terkejut saat mendengar penuturan ku. Aku pun ikut terlonjak kaget, mendengar suara nya yang cukup kuat menurut ku.
"Ya Allah, bang. Kaget sih kaget, tapi jangan bikin orang jantungan juga lah!" gerutu ku kesal.
Aku mengelus-elus dada karena saking terkejut nya mendengar suara nyaring bang Darma.
"Hehehe, abang gak sengaja, dek. Maaf ya!" ucap bang Darma.
"Udah buat orang terkejut batin, malah cengengesan pulak dia." balas ku sewot.
"Kan abang udah minta maaf sih, dek!" protes bang Darma.
"Ya udah, gak usah di bahas lagi!" balas ku kesal.
__ADS_1
Setelah perdebatan sengit selesai, bang Darma kembali bertanya tentang kecelakaan yang terjadi tadi.
"Jadi gimana ceritanya tentang kecelakaan tadi, dek?" tanya bang Darma.
"Masih penasaran juga ternyata." balas ku ketus.
"Ya iya lah, dek. Cepat lah ceritakan, abang kan juga mau dengar tentang kejadian tadi!"
"Iya iya, aku akan ceritain. Tadi itu ada tabrakan tepat di depan rumah kita." ujar ku.
"Trus, yang tabrakan mobil atau motor?" tanya bang Darma.
"Motor sama motor, bang. Kayak nya tabrakan nya itu kuat, karena motor nya hancur bahkan sampai ringsek." jawab ku.
"Trus orang nya gimana, dek?" tanya bang Darma makin penasaran.
"Korban nya ada dua orang. Laki-laki semua, mereka berdua luka parah." jawab ku.
"Tapi gak ada yang meninggal kan, dek?" tanya bang Darma lagi.
"Hussh, kalo ngomong itu jangan asal njeplak aja kenapa sih, bang!" omel ku geram.
"Iya iya, salah lagi!" balas bang Darma pasrah.
"Maka nya kalo ngomong itu di pikir dulu, jangan asal keluar aja. Bikin emosi juga lama-lama!" balas ku makin kesal.
"Iya maaf, dek. Jadi gimana keadaan korban nya itu?"
"Mereka berdua pingsan gak sadar kan diri. Darah nya juga banyak banget, sampai ngalir di jalan saking banyak nya." jelas ku.
"Aku aja sampai ngeri nengok nya. Gak tega lihat keadaan mereka berdua." lanjut ku.
Aku langsung bergidik ngeri saat mengingat kejadian tadi. Sedang kan bang Darma, dia masih tetap serius menatap ke arah ku.
"Trus, gimana itu..."
Sebelum bang Darma meneruskan ucapan nya, aku pun langsung memotong dengan cepat.
"Udah, mandi sana! Nanti aja aku ceritakan lagi." ujar ku.
"Iya, cerewet!" balas bang Darma.
Aku menyuruh bang Darma untuk pergi membersihkan diri nya. Dia pun langsung menurut, dan segera beranjak dari tempat duduk nya.
__ADS_1
Bang Darma mulai berjalan dengan langkah gontai menuju kamar mandi.
*Langkah rezeki pertemuan dan maut, itu semua sudah di atur oleh yang maha kuasa. Kita sebagai hamba nya, hanya bisa merencanakan dan dia(Allah) yang menentukan.*