
Darma dan Ayu pun bergegas berganti pakaian dan bersiap-siap untuk pergi. Selesai merapikan diri masing-masing, mereka berdua pun keluar dari kamar dan berjalan beriringan menuju pintu utama.
Setelah mengunci pintu, kedua nya pun naik ke atas motor dan berlalu pergi menuju taman kota.
"Kita mau kemana?" tanya Ayu sembari memeluk erat tubuh Darma dari belakang.
"Mau nya kemana?" tanya Darma balik.
"Lah, di tanya kok balik nanya, aneh. Kalo gak ada tujuan, ngapain keluar?" oceh Ayu dari belakang boncengan.
"Ya... Nama nya juga jalan-jalan. Kalo gak ada yang di tuju, ya udah kita ngukur jalan aja." jawab Darma santai sambil terus melajukan kendaraan roda dua nya.
Ayu tidak membalas ucapan suami nya lagi. Ia hanya diam dan terus menempelkan badan nya ke punggung Darma, sambil celingukan kesana kemari melihat deretan ruko-ruko dan pedagang kaki lima yang berjejer di pinggir jalan.
Setelah berkendara selama hampir lima belas menit, Darma pun memarkirkan motor nya di depan salah satu ruko yang bertuliskan ayam geprek di depan nya.
"Loh, kok berhenti disini? Kata nya tadi mau ngukur jalan?" tanya Ayu sembari turun dari motor dan membuka helm nya.
"Perut abang lapar, kita makan dulu yok!" jawab Darma lalu melangkah masuk ke dalam warung.
"Oh, ya udah deh." balas Ayu dan mengekori langkah Darma dari belakang.
Sampai di dalam, mereka berdua pun duduk bersila dan saling berhadap-hadapan, di salah satu meja lesehan yang masih kosong. Tak lama kemudian, salah satu pelayan pun datang menghampiri mereka.
"Mau pesan apa, mas?" tanya si pelayan laki-laki dengan ramah kepada Darma.
"Ayam geprek dua, sama teh hangat dua." jawab Darma.
"Oke, di tunggu ya, mas!" ujar si pelayan dan kembali melangkah ke arah dapur jualan nya, untuk menyiapkan pesanan Darma.
"Oke," balas Darma.
Setelah pelayan itu pergi, Ayu pun memandangi wajah Darma dengan tatapan menyelidik. Melihat ekspresi wajah Ayu yang terlihat aneh, Darma pun menautkan kedua alisnya lalu bertanya...
"Kenapa?" tanya Darma heran.
Lalu ia pun mengambil kerupuk kulit yang sudah tersedia di sebelah nya, dan memakan nya.
Bukan nya menjawab, Ayu malah mengulurkan tangan nya untuk mengambil kerupuk yang sedang di makan Darma, dan memasukkan nya ke dalam mulut nya. Sambil mengunyah, Ayu pun kembali bersuara.
__ADS_1
"Emang abang ada pegang uang, sampai bawa-bawa aku makan disini segala?" selidik Ayu.
"Ya pasti ada lah, sayang. Kalau gak ada, mana mungkin abang berani membawa mu makan disini." jawab Darma dengan nada sombong nya.
Ayu semakin menajamkan tatapan nya. Ia terlihat heran sekaligus bingung, setelah mendengar jawaban suami nya. Ayu sedang memikirkan dari mana Darma mendapatkan uang, sedangkan ia tahu kalau Darma adalah seorang pengangguran akut.
"Dapat uang dari mana? Apa abang udah dapat kerjaan? Atau jangan-jangan, abang nyolong uang ku lagi?" tanya Ayu penasaran.
"Jangan nuduh sembarangan gitu lah, dosa tau gak? Gak perlu kau tahu abang dapat uang dari mana, yang penting kita bisa makan enak hari ini." balas Darma sewot.
Darma memasang wajah masam dan mengalihkan pandangan nya ke arah lain, untuk menutupi kegelisahan nya. Ia tampak gerogi dan salah tingkah, karena mendengar tuduhan Ayu yang benar ada nya.
"Aduh, mati aku. Bisa berabe urusan nya kalau dia tau yang sebenarnya." gerutu Darma dalam hati.
Ayu terlihat sedikit curiga dengan gerak-gerik Darma, yang tampak sedikit aneh menurut pandangan nya. Tetapi walaupun begitu, ia lebih memilih diam karena tidak ingin berdebat di tempat umum.
"Oh, ya udah kalo gitu." balas Ayu santai, sambil terus memakan kerupuk kulit yang ada di depan nya.
Tak lama berselang, sang pelayan pun tiba dengan dua nampan di tangan nya. Selesai menata makanan dan minuman di atas meja, ia pun tersenyum sembari berkata...
"Silahkan, mas, mbak!" ujar sang pelayan.
"Oke, makasih ya, bang." jawab Ayu sembari membalas senyuman nya.
Darma tidak menjawab sepatah kata pun, ia hanya mengangguk menanggapi ucapan pelayan tersebut. Tanpa berbicara apapun lagi, mereka berdua pun langsung menyantap makanan itu dengan santai dan tenang.
Setelah acara makan selesai, Darma dan Ayu pun beranjak dari tempat duduk masing-masing, dan melangkah menuju meja kasir untuk membayar tagihan nya. Selesai pembayaran, mereka berdua segera keluar dan menaiki motor nya kembali.
"Sekarang mau kemana lagi?" tanya Ayu.
"Kira-kira ada yang mau di beli gak?" tanya Darma balik.
"Gak ada," jawab Ayu.
"Oh, ya udah deh, kita balek aja ya!" ujar Darma.
"Ya," jawab Ayu singkat.
Setelah mendengar jawaban istri nya, Darma pun melajukan motor nya menuju arah pulang.
__ADS_1
Setibanya di depan rumah, Darma pun memarkirkan kendaraan nya di atas teras. Setelah itu, ia pun masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.
Sedangkan Ayu, ia masih berada di halaman rumah. Ayu mengerutkan kening ketika melihat Agus, selingkuhan lima langkah nya itu sedang duduk santai di depan rumah nya, sambil menyeruput secangkir kopi.
Saat tatapan mereka bertemu, Agus pun langsung tersenyum lebar dan mengerlingkan mata nya kepada Ayu. Melihat tingkah konyol selingkuhan nya, Ayu pun hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala nya.
Setelah saling tatap-tatapan dengan Agus, Ayu pun masuk ke dalam rumah dan duduk selonjoran di depan Darma.
"Kok lama kali di luar? Ngapain aja?" tanya Darma heran.
"Gak ada, cuma lihatin tanaman aja bentar." bohong Ayu, lalu mengeluarkan ponsel dari saku nya dan mulai memainkan game kesukaan nya.
"Oh," balas Darma lalu menyalakan ponsel nya.
Ia langsung percaya begitu saja dengan ucapan istrinya, tanpa menaruh curiga sedikitpun. Saat sedang asyik bermain game, tiba-tiba satu pesan dari Agus muncul di layar ponsel nya.
Ting...
"Ketemuan yok, say! Abang kangen nih."
Ayu menghela nafas panjang, setelah membaca isi pesan selingkuhan nya. Sebelum membalas pesan itu, Ayu sempat kan melirik ke arah Darma yang juga sedang sibuk mengotak-atik ponsel nya.
"Gak bisa, ada suamiku di rumah. Lain kali aja ya, sekalian ada yang mau aku omongin juga nanti." balas Ayu.
"Oh, oke lah. Emang mau ngomongin soal apa? Soal pernikahan kita ya?" tanya Agus.
Ayu menautkan kedua alisnya, saat membaca pertanyaan Agus yang tidak masuk akal menurut nya.
"Hush, ngawur aja. Bukan soal itu, tapi soal pindah rumah. Udah ah, nanti-nanti aja ngobrol nya, aku lagi sama bang Darma nih oke, bye!" balas Ayu.
Tak lama kemudian, pesan beruntun dari Agus pun masuk dan memenuhi layar ponsel Ayu.
"Ck, bandel kali pun botak tuyul satu ini. Udah di bilang nanti aja ngobrol nya. Eeehh, malah makin banyak pulak pertanyaan nya." gerutu Ayu dalam hati.
Dengan perasaan kesal, Ayu pun mulai membaca satu persatu pesan yang di kirimian oleh Agus.
"Pindah? Siapa yang pindah, say? Kok gak di balas sih? Emang lagi ngapain? Lagi ngambil jatah ya?"
Selesai membaca, Ayu tidak berminat untuk membalas nya. Ia malah memblokir sementara nomor Agus, agar selingkuhan nya itu tidak terus-menerus mengirimkan pesan kepada nya.
__ADS_1
"Dari pada bikin pusing, mending blokir aja dulu. Kalau keadaan sudah aman, baru di buka lagi." batin Ayu.
Sesudah memblokir nomor Agus, Ayu pun melanjutkan permainan game nya, sambil sesekali melirik ke arah Darma yang masih tampak asyik dengan benda pipih nya.