
"Mau aku apa kan uang ini ya? Aku belikan ke emas aja, ah." gumam ku.
Setelah menyimpan uang dari pak kades ke dalam lemari, aku segera berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi, aku bergegas memakai pakaian lalu menutup kios. Kemudian aku mengunci pintu utama dan pergi ke toko emas dengan mengendarai motor matic ku.
Sesampainya nya di tempat tujuan, aku segera memarkir kan motor, di depan toko emas langganan ku. Setelah memilih perhiasan yang di inginkan, aku kembali mengendarai motor menuju ke rumah.
Sampai di depan rumah, aku melihat pintu utama sudah terbuka lebar dan ada beberapa sandal yang tergeletak di depan nya.
"Apa bang Darma udah pulang ya? Sama siapa dia di dalam, kok ada sandal perempuan disini?" batin ku penasaran.
"Kayak nya ada tamu tak di undang nih." lanjut ku lagi.
Aku membatin sambil terus memandangi dua pasang sandal yang berjejer rapi di depan pintu. Setelah memarkirkan motor di teras rumah, aku berjalan masuk ke dalam sambil mengucapkan salam.
"Assalamualaikum,"
"Wa'laikum salam,"
Jawab bang Darma yang sedang duduk dengan dua wanita di atas sofa ruang tamu.
"Hadehh, para benalu ini ngapain lagi sih datang-datang kesini? Bikin mood ku rusak aja." gerutu ku dalam hati.
Aku mengerutkan kening melihat Yuni dan Dina yang sedang tersenyum sinis menatap kedatangan ku. Mereka berdua duduk manis dan menyilang kan kaki nya di depan bang Darma.
"Mau ngapain lagi kalian kesini, hah?" tanya ku tanpa basa-basi.
Aku berdiri tepat di hadapan mereka bertiga, sambil melipat kedua tangan ku di atas perut. Mendengar pertanyaan ku, Yuni langsung berdiri dan berkacak pinggang di depan ku.
"Kami kesini karena di undang bapak ku. Kalau kau mau marah, ya marah aja sama bapak ku." jawab Yuni lantang.
Aku reflek menoleh kepada bang Darma, yang sedari tadi menatap ku dengan raut wajah yang tampak kesal.
Aku menatap mata bang Darma, seolah-olah bertanya kepada nya melalui tatapan mata ku.
Bang Darma yang mengerti arti tatapan ku pun langsung membuka suara nya, tanpa aku tanya terlebih dahulu. Dia menghela nafas sejenak lalu berkata...
"Iya, memang aku yang mengundang mereka kesini. Kita kan sudah sepakat, tidak akan mencampuri urusan masing-masing." jelas bang Darma
__ADS_1
"Apakah kau sudah lupa dengan perjanjian kita kemarin?" tanya bang Darma.
Dina dan Yuni tersenyum miring setelah mendengar penuturan bang Darma. Begitu juga dengan suami ku, dia juga ikut tersenyum seakan-akan sedang meledek ku, di depan anak dan mantan istri nya.
"Oh, ya udah kalo gitu. Kalian lanjutin aja ngobrol nya, aku mau istirahat di kamar." balas ku dengan santai.
Aku melenggang pergi begitu saja meninggalkan mereka bertiga. Dan tiba-tiba, bang Darma menarik tangan ku dengan kuat. Sehingga membuat tubuh ku sedikit terpental ke belakang.
"Enak aja kau mau istirahat. Sini, berikan semua uang mu pada ku! Aku mau belikan anak ku motor." ujar bang Darma.
Bang Darma menadahkan tangan nya di depan wajah ku. Dia memaksa ku untuk memberikan semua uang ku kepada nya.
Aku menghempaskan tangan bang Darma, dan menoleh kepada dua lalat ijo yang masih setia dengan senyuman sinis nya. Aku pun langsung mengeratkan genggaman tangan ku.
Sehingga membuat buku-buku jari ku terlihat sangat jelas. Aku juga mengeraskan rahang, dan melihat ke arah mereka berdua dengan tatapan mata yang menusuk. Setelah itu, aku beralih menatap bang Darma sembari berucap...
"Apa kau bilang? Minta uang ku? Apa aku gak salah dengar?" ledek ku pada bang Darma.
"Kalau kau salah dengar, berarti kuping mu itu budeg dong, hahaha." cibir Yuni.
Yuni dan Dina tertawa terbahak-bahak sambil menunjuk ke arah ku. Bang Darma juga ikut mentertawai ku, sambil terus menadahkan telapak tangan nya di depan wajah ku.
"Heh, para benalu. Kalau kalian mau uang, ya kerja dong! Bukan nya merampok kayak gini." sindir ku kepada Yuni dan Dina.
Dina langsung berdiri dari tempat duduk nya lalu berjalan mendekati ku. Dia ingin melayangkan telapak tangan nya ke pipi ku.
Dan dengan gerakan cepat, aku pun langsung menepis nya dengan kasar. Aku juga mendorong kuat tubuh Dina, hingga membuat nya tersungkur dan jatuh ke lantai.
Yuni dan bang Darma pun langsung berdiri karena melihat perbuatan ku barusan. Anak dan bapak itu mendekati Dina dan membantunya untuk bangun dari lantai. Mereka mendudukkan Dina di tempat nya semula.
Setelah membantu Dina, bang Darma kembali ke tempat duduk nya. Sedangkan Yuni, dia berjalan dengan langkah cepat ke arah ku dan...
Plak...
Telapak tangan Yuni mendarat indah di pipi ku. Dia melakukan nya dengan sangat cepat, sehingga membuat ku tidak dapat mengelak atau pun menepis tangan nya.
"Dasar, perempuan gila! Berani sekali kau berbuat kasar dengan mamak ku. Rasa kan lah pembalasan ku itu!" pekik Yuni dengan lantang.
Mendapatkan perlakuan kasar dari Yuni, aku pun tidak tinggal diam. Dengan wajah yang memerah karena menahan amarah dan geram, aku pun langsung membalas perbuatan nya itu sebanyak tiga kali.
__ADS_1
Plak plak plak...
Setelah itu, aku juga mendorong tubuh Yuni dengan sekuat tenaga, hingga membuat Yuni terjengkang dan jatuh mengenai pinggiran sofa.
"HENTIKAN!" bentak bang Darma.
Bang Darma membentak ku dengan suara menggelegar. Dia terlihat sangat murka dengan ku, akibat perbuatan yang telah aku lakukan terhadap anak kesayangan nya.
"Kau memang perempuan gila, gak tau diri. Berani sekali kau berbuat seperti itu kepada anak ku." lanjut bang Darma.
Wajah bang Darma langsung berubah merah padam dan tampak sangat menyeramkan. Bang Darma segera beranjak dari duduk nya, untuk menolong Yuni yang masih duduk kelesotan di atas lantai.
Setelah selesai memapah tubuh Yuni kembali ke atas sofa, bang Darma pun langsung mendekati ku. Dia mencengkram kerah baju ku dengan kuat, dan menatap mata ku dengan penuh kebencian.
"Kau ingat baik-baik ucapan ku ini! Kalau sampai sekali lagi kau berbuat kasar dengan anak ku, maka jangan salah kan aku jika aku akan memberikan mu pelajaran yang sangat berharga nanti nya. Camkan itu!"
Bang Darma mengancam ku dan menghempaskan tubuh ku ke lantai. Yuni dan Dina langsung tertawa lepas, melihat tontonan gratis yang sangat menghibur bagi mereka berdua.
"Hahaha, sukurin kau perempuan gila!" cibir Yuni.
"Ck ck ck, kacian banget cih!" sambung Dina menimpali cibiran Yuni.
Bang Darma tersenyum miring melihat keadaan ku yang masih terduduk di atas lantai, akibat perbuatan nya tadi. Melihat mereka bertiga tertawa bahagia, aku pun langsung bangkit dari lantai dan duduk di atas sofa.
"Pak, ambil paksa aja uang itu dari dalam tas nya!" titah Yuni.
Yuni menyuruh bang Darma untuk menggeledah tas ku, dan merampas semua uang simpanan ku.
Bang Darma langsung menoleh pada Yuni, lalu mengangguk kan kepala nya. Bang Darma setuju dengan usulan anak nya.
Tanpa pikir panjang lagi, bang Darma kembali mendekati ku. Dia menarik dengan paksa tas selempang kecil yang sedang melingkar di dada ku.
"Berikan tas ini pada ku!" bentak bang Darma.
"Gak akan, aku gak akan pernah memberikan nya pada kalian semua!" pekik ku kuat.
Aku berusaha sekuat tenaga untuk terus mempertahankan tas yang sedang di tarik oleh bang Darma.
Dan pada akhirnya, aku dan bang Darma pun saling tarik-menarik hingga membuat tali tas ku putus. Bang Darma berhasil mendapatkan tas ku. Dia langsung menggeledah tas selempang ku itu, lalu mengeluarkan semua isi nya.
__ADS_1
Bang Darma menautkan kedua alisnya. Dia tampak heran, melihat semua isi tas ku yang hanya ada bedak, lipstik, dan parfum saja.
"Kok gak ada apa-apa sih, di dalam tas ini? Dimana kau menyimpan semua uang mu?" tanya bang Darma.