SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kepergok Rendi


__ADS_3

Sejak bertengkar dengan mantan istri nya, sikap bang darma semakin dingin pada ku. Dia juga mendiami ku. Kalau pun dia berbicara, itu seperlunya saja. Selebihnya, dia kembali diam. Aku tidak mempermasalahkan hal itu, karena aku tidak mau menambah beban pikiran nya.


Hari terus berganti, seiring berjalan nya waktu, sikap bang darma sudah mulai kembali seperti biasa nya. Dia tidak lagi mendiami ku, dia sudah kembali ke sifat nya semula.


"Mungkin, pikiran nya sudah mulai tenang." Aku membatin, melihat sifat bang darma yang sudah normal seperti biasa nya.


Setelah bang darma pergi bekerja, aku kembali di sibukkan dengan rutinitas sehari-hari. Memasak, mencuci, dan membersihkan rumah, serta berjualan.


Sedang sibuk merapikan barang-barang dagangan, bang Agus datang menemui ku, dia langsung memeluk tubuh ku dari belakang. Aku yang sedang berdiri membelakangi pintu kios, tidak mengetahui kedatangan bang Agus, langsung terlonjak kaget.


"Eh copot, eh copot! ya ampun, bang. Ngagetin aja sih kerjaan nya." Aku melatah, dan berusaha melepaskan pelukan nya yang semakin erat itu.


"Lepasin, bang! kalau ada orang yang lihat gimana coba?" aku terus berusaha melepas kan kedua tangan nya, yang sedang melingkar di perut ku.


"Ini tangan kok kuat banget sih, dari tadi susah banget ngelepasin nya." Gerutu ku dalam hati.


Aku yang sedari tadi meronta-ronta di dalam pelukannya itu pun, akhirnya terlepas juga.


"Huh, akhir nya lepas juga." Batin ku lega.


"Di kasi pelukan kok, malah kayak cacing kepanasan gitu sih, say! gak tau apa, kalau abang udah kangen banget. Udah tiga hari gak meluk dirimu." Protes bang Agus.


"Bukan kayak cacing kepanasan bang, tapi kayak ulat bulu, hihihi!"


Lagian, abang ngapain sih kesini? kalau sampe ada yang lihat kejadian tadi, gimana coba? bisa berabe urusan nya tau gak!" aku mulai kesal, dengan tingkah bang Agus yang seenak jidat nya itu.


"Di luar sepi, say! abang udah pantau situasi nya kok, sebelum kesini tadi. Ya, gak mungkin lah abang sembarang kesini, kalau situasi nya lagi rame." Bang Agus tersenyum dan mengecup kilat bibir ku.


"Jangan gitu lah, bang. Takut nya nanti, ada orang yang lewat. Mereka melihat kita lagi berduaan kayak gini. Lama-lama, orang bisa curiga sama kita."


"Pulang sana gih, aku masih banyak kerjaan nih. Ganggu aja kerjaan nya!" aku mengusir bang Agus, dan kembali merapikan barang-barang dagangan.


"Keluar yok, say! mumpung abang lagi libur kerja nih. Aritu kan udah janji, kita bakalan keluar seharian. Tapi, sampe sekarang gak jadi-jadi!" ajak bang Agus dengan wajah memelas.


"Ya, maklum aja lah, bang. Kami lagi ada masalah dengan si Yuni dan ibu nya itu. Maka nya, aku belom bisa menepati janji ku, bang."

__ADS_1


"Suasana nya saat ini masih kacau, belom normal kayak biasa nya. Nanti, kalau suasana udah kembali aman, kita bakalan keluar kok!" jelas ku pada bang Agus.


"Emang nya, ada masalah apa sama mereka berdua, say? kok abang gak di kasi tau sih!" bang Agus mengerut kan kening nya.


"Oalah, bang. Aku lupa ngasi tau abang, tentang masalah kami dengan mereka berdua. Hahaha, kok aku bisa lupa ya? Faktor U kayak nya ini, mah." Aku menepuk jidat bang Agus.


"Auww...Sakit, say. Dia sendiri yang lupa, malah jidat abang pulak yang jadi sasaran nya!" protes bang Agus.


"Kalau menepuk jidat ku sendiri sakit, bang. Maka nya, jidat abang aja yang aku tepuk." Ucap ku dengan senyum yang sumringah.


"Oohh, udah pintar sekarang, ya! belajar dari mana ilmu kayak gitu, say?" balas bang Agus, dia berjalan mendekatiku dengan senyuman yang cukup horor bagi ku.


"Abang, mau ngapain?"


Aku berjalan mundur selangkah demi selangkah ke belakang, aku takut melihat bang Agus yang mulai mendekati ku dengan senyuman horor nya itu.


"Ini orang, lagi kesurupan atau gimana sih? serem banget muka nya." Batin ku.


"Kok jadi takut gitu sih, say? kayak sedang lihat setan aja, hahaha." Bang Agus tertawa melihat raut wajah ku yang mulai ketakutan.


"Maaf, say. Abang cuma bercanda aja kok, hehehe." Bang Agus memeluk kembali tubuh ku.


Dan tiba-tiba,"assalamualaikum, Yu." Salam Rendi yang sudah berdiri di depan pintu, dia melihat bang Agus yang masih memeluk ku.


"Astaghfirullah! aku terlonjak kaget, aku langsung melepaskan pelukan bang Agus.


"Wa'laikum salam,"aku salah tingkah dengan senyum yang di paksa kan. Ya, Rendi memergoki kami berdua yang sedang berpelukan.


Rendi terpaku di tempat, dia menatap kami berdua secara bergantian. Bang Agus yang tidak kenal dengan Rendi pun, terlihat santai. Sedang kan aku, jangan di tanya. Keringat dingin langsung bercucuran di seluruh tubuhku.


"Dia siapa, Yu?" tnya Rendi menunjuk bang Agus.


"Aduh, mati aku. Gimana cara jelasin nya ya!" aku kebingungan menjawab pertanyaan Rendi, sambil menatap kedua lelaki yang ada di depan ku itu.


"Di dia di dia te tetangga ku, bang." Ucap ku terbata-bata.

__ADS_1


Karena mendengar kata tetangga yang keluar dari bibir ku, bang Agus langsung menoleh pada ku. Aku langsung memberikan isyarat jangan bersuara kepada bang Agus, dengan menggeleng-gelengkan kepala ku pada nya.


Bang Agus yang masih berdiri di dekat ku pun, langsung mengerti dan tetap diam di tempat nya.


"Mau cari barang apa, bang?" aku pura-pura bertanya pada Rendi, yang masih terpaku di depan pintu.


Rendi sontak kaget, mendengar pertanyaan ku. Rendi menatap ku heran. Karena melihat isyarat dari tatapan mata ku, yang menyuruh nya untuk pergi, Rendi pun langsung mengerti dan segera pamit pulang.


"Oh gak, Yu. Gak nyari apa-apa kok. Aku cuma mampir aja. Kebetulan tadi lewat sini, maka nya aku mampir!"


"Oke lah kalau begitu, aku balek dulu ya, Yu. Kapan-kapan, aku mampir lagi bye!"


pamit Rendi sambil melambaikan tangan nya.


Rendi berjalan menuju mobil nya, yang terparkir di seberang jalan depan kios ku.


"Hufff, hampir saja terjadi perang besar di sini." Ucap ku dalam hati sambil mengelus dada melihat kepergian Rendi.


"Dia itu siapa, say?" tanya bang Agus menepuk pundak ku. Aku masih terpaku melihat kepergian Rendi barusan.


"Ya, Allah! kaget aku, bang. Kebiasaan kali sih ngagetin aku terus. Bikin jantungan aja kerjaan nya!" aku tersentak kaget.


"Maaf, say. Lagian dari tadi kok melamun terus sih, lihatin dia pergi. Emang nya dia, siapa?" tnya bang Agus semakin penasaran.


"Dia Rendi, kenalan ku waktu masih kerja di karaoke dulu." Jawab ku jujur.


"Ohh, jadi dia orang nya yang bernama Rendi itu!" bang Agus manggut-manggut .


"Abang, pulang gih! ntar lagi bang darma pulang makan siang tu." Usir ku pada bang Agus.


"Oke,say. Abang pulang sekarang, jangan nakal ya di rumah. Cctv abang banyak disini, jadi jangan macam macam ya, sayang ku!" bang Agus mencolek dagu ku.


"Iya, abang ku yang botak. Yang gak pernah betah punya rambut!" ledek ku sambil tersenyum pada nya.


"Hahahaha, ngeledek pulak, dia." Bang Agus tertawa terbahak-bahak sambil berjalan keluar, kembali ke rumah nya yang hanya berjarak lima langkah dari kios ku.

__ADS_1


"Hufff, para lelaki gila itu bikin jantung ku hampir copot aja kerjaan nya." Aku menghela nafas berat.


__ADS_2