SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Janjian


__ADS_3

"Hmmmm, abang mau..."


Bang Agus menjeda kata-kata nya. Dia tampak ragu untuk mengungkapkan nya kepada ku.


"Mau apa, botaaak?" desak ku.


"Abang mau peluk dirimu, say." jawab bang Agus.


Aku menautkan kedua alis, mendengar penuturan bang Agus barusan.


"Kalau cuma mau peluk aja, kenapa ngomong nya ragu-ragu gitu?" tanya ku heran.


"Abang takut, say. Takut dirimu marah." jawab bang Agus lirih.


"Ya gak lah, ngapain aku mesti marah?" balas ku.


"Jadi, abang boleh peluk dirimu ya, say?" tanya bang Agus dengan senyum yang merekah.


"Ya boleh, tapi jangan lama-lama ya! Takut nya nanti ada orang yang lihat kita." jawab ku sambil celingukan kesana-kesini, melihat situasi di luar kios.


"Oke, makasih ya, say." balas bang Agus girang.


Aku hanya mengangguk sebagai jawaban. Setelah meminta persetujuan ku, bang Agus pun mulai melangkah mendekati ku. Dia memeluk erat tubuh ku. Dan dia juga mencium kening dan kedua pipi ku.


"Udah kan, bang? Sekarang lebih baik abang pulang! Gak enak nanti di lihat orang, kalau abang berlama-lama disini." ujar ku.


"Iya, say. Abang balek dulu, bye!"


Bang Agus berpamitan sambil tersenyum dan melambaikan tangan nya padaku.


"Iya, bye."


Aku juga tersenyum dan membalas lambaian tangan nya. Setelah bang Agus pergi, aku kembali membersihkan barang-barang dagangan ku.


Setelah selesai, aku duduk di kursi plastik yang ada di dalam kios, sambil mengotak-atik ponsel. Sedang asyik bermedia sosial, tiba-tiba terdengar suara orang mengucapkan salam.


"Assalamualaikum, mbak Ayu." salam bu RW sambil melangkah masuk ke dalam kios.


"Wa'laikum salam, bu RW." balas ku menyunggingkan senyum pada nya.


"Ada perlu apa ya, bu?" tanya ku.


"Saya mau lihat-lihat baju dan hijab, mau saya kirimkan ke kampung. Kebetulan, ada kerabat saya yang mau pulang kampung besok. Jadi, saya mau titip baju buat keluarga saya di sana, mbak." jelas bu RW panjang lebar.


"Ohh, gitu. Oke silahkan, bu!" balas ku ramah.


"Iya, mbak." jawab bu RW.


Sesudah di persilahkan, bu RW langsung gerak cepat untuk memilah-milih barang yang di inginkan nya.


Beberapa saat kemudian, bu RW pun kembali menghampiri ku, sambil membawa beberapa helai baju gamis dan hijab.


"Ini baju-baju dan hijab nya, tolong di total ya, mbak!"

__ADS_1


Ujar bu RW, sambil meletakkan semua barang-barang itu ke atas meja kasir, yang berada di samping ku.


"Ini aja ya, bu? Gak mau ambil yang lain lagi?" tanya ku.


"Bentar, mbak! Saya mau lihat-lihat sandal dan tas dulu." jawab bu RW.


"Oke, bu." jawab ku.


Sambil menunggu bu RW selesai memilih, aku pun mulai menghitung barang-barang yang sudah di pilih nya tadi.


Tak lama kemudian, bu RW kembali dan meletakkan dua tas jinjing, dan tiga pasang sandal wedges wanita.


"Udah ini aja, mbak. Silahkan di total ya, mbak!"


Bu RW berucap, lalu mendudukkan dirinya di kursi plastik yang berada tepat di depan ku


"Oke siap, bu." jawab ku.


Aku kembali menghitung tambahan barang yang di ambil bu RW. Setelah selesai, aku menyerahkan catatan harga barang-barang itu ke tangan nya.


"Ini total nya, bu! Satu juta tiga ratus lima puluh ribu." ujar ku.


"Oh iya, mbak." balas bu RW.


Setelah melihat jumlah barang, bu RW pun langsung merogoh tas kecil nya. Lalu dia membuka dompet, dan menyerahkan beberapa lembar uang merah kepada ku.


"Ini uang nya, mbak." ujar bu RW.


Aku menerima uang pemberian bu RW. Kemudian, menyerahkan satu kantong plastik besar, yang berisikan barang-barang itu kepada nya.


"Iya, sama-sama, mbak. Kalau begitu, saya pamit dulu ya, mbak. Assalamualaikum." ujar bu RW sambil melangkah keluar dari kios ku.


"Iya, bu. Wa'laikum salam." balas ku.


Setelah kepergian bu RW, aku bergegas masuk ke dalam kamar dengan langkah cepat. Sampai di depan lemari pakaian, aku segera menyelipkan uang itu di sela-sela tumpukan baju ku.


"Nah, kalau gini kan aman. Bang Darma gak bakalan tau, kalau aku menyimpan uang disini." gumam ku sambil menutup pintu lemari.


Selesai menyimpan uang, aku merebahkan diri di atas sofa panjang, lalu membuka ponsel kembali.


Kring kring kring...


Ponsel yang ada di tangan ku bergetar dan berdering nyaring, tanda panggilan masuk. Kening ku langsung mengkerut, melihat nama Rendi yang tertera di layar ponsel.


"Tumben, kira-kira ada perlu apa ya dia menghubungi ku?" batin ku.


"Hmmm, terima gak ya? Ah, angkat aja lah, siapa tau dia ada perlu dengan ku."


Dengan ragu, akhir nya aku pun menerima panggilan dari Rendi.


"Halo, assalamualaikum." salam ku.


"Wa'laikum salam, apa kabar, sayang?" tanya Rendi.

__ADS_1


"Alhamdulillah sehat, bang." jawab ku.


"Syukur lah, kalau begitu." balas Rendi.


"Kabar abang sendiri gimana, sehat-sehat juga kan?" tanya ku balik.


"Iya, Yu. Alhamdulillah, abang juga sehat. Tapi, ada satu yang gak sehat ini, Yu." jawab Rendi.


"Apa tuh?" tanya ku penasaran.


"Dedek abang, Yu. Dia merengek terus minta ketemu dengan mu, sayang." jawab Rendi dengan santai nya.


"Oalah, kirain apa an." gumam ku pelan.


"Kita ketemuan, yok! Udah lama juga kita gak jumpa, abang rindu banget dengan mu, Yu." ajak Rendi.


"Jangan sekarang lah, bang. Aku lagi jualan soal nya. Gimana kalau besok aja, mau gak?" tawar ku.


"Yaaaahh, padahal abang mau nya sekarang. Tapi, ya udah lah gak papa." jawab Rendi dengan nada kecewa.


"Besok jam berapa kita ketemuan nya, Yu?" tanya Rendi.


Aku langsung terdiam sejenak. Aku masih bingung menentukan waktu yang tepat, untuk bertemu dengan Rendi. Setelah beberapa saat berpikir, akhir nya aku membuka suara kembali.


"Jam sepuluh pagi abang jemput aku di rumah. Gimana, bisa gak?" tanya ku.


"Bisa dong, Yu. Apa sih yang gak bisa buat dirimu, hehehe." gombal Rendi.


"Ya ya ya, aku percaya kok." balas ku sambil memutar bola mata malas.


"By the way, emang nya gak papa ya, kalau abang menjemput mu di rumah?" tanya Rendi.


"Gak papa, bang. Besok kan suami ku kerja, jadi kita bisa aman keluar nya." jawab ku.


"Oh gitu. Oke deh, sampai ketemu besok ya, sayang." ujar Rendi menutup panggilan nya.


"Ya," jawab ku singkat.


Setelah panggilan dari Rendi berakhir, aku meletakkan ponsel ke atas meja. Tak lama berselang, bang Darma pun pulang dengan wajah yang masih tampak kusut dan muram.


Bang Darma duduk di depan ku sambil memijat-mijat kening nya.


"Tadi ada orang yang beli dagangan mu gak, dek?" tanya bang Darma.


"Gak ada, emang nya kenapa tanya-tanya segala?" tanya ku balik.


"Uang abang udah gak ada lagi, dek. Jadi, kalau ada barang yang laku, uang nya kasih kan ke abang aja, ya!" ujar bang Darma.


"Enak kali, kau! Aku yang capek-capek kerja, kau pulak yang makan hasil nya." jawab ku ketus.


"Trus, abang dapat uang dari mana lagi, kalau bukan dari hasil jualan mu itu?" tanya bang Darma balik.


"Ya, kerja lah sana! Enak aja mau ngambil uang jualan ku. Sorry-sorry aja la yauw." cibir ku pedas.

__ADS_1


__ADS_2