SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Emosi Bang Darma


__ADS_3

"Apa maksud kata-kata mu itu, YUN?" bentak bang Darma dengan suara yang menggelegar.


"Ma-maaf, pak. Yuni yang salah, karena sudah meminjamkan motor itu kepada mamak. Yuni benar-benar minta maaf, pak!" jawab Yuni lirih.


"Ya Allah, Yun. Perbuatan mu memang sangat keterlaluan, tega sekali kau berbuat seperti ini kepada bapak mu sendiri, YUN?" Ucap bang Darma.


"Kau itu memang anak gak tau di untung ya, Yun. Udah di kasi kepercayaan, malah menipu bapak mu sendiri."


"Yuni gak ada niat untuk menipu, pak. Mamak melarikan motor itu, tanpa sepengetahuan Yuni, pak." Balas Yuni.


Aku yang sedari tadi menguping pembicaraan mereka pun, hanya bisa terpaku di tempat. Aku hanya terdiam, tanpa berucap sepatah kata pun. Aku bingung mau ngomong apa lagi, tentang masalah ini.


Dari awal, sudah aku peringatkan pada bang Darma, agar jangan terlalu percaya kepada Yuni. Tapi, bang Darma mengabaikan peringatan ku itu. Dan akhirnya sekarang, semua ucapan ku terbukti tanpa meleset sedikit pun.


"Nasib mu lah, bang. Punya anak satu, bukan nya membantu orang tua nya. Malah tambah menyusahkan dan merugikan, akibat tingkah dan perbuatannya itu." Batin ku.


"Maaf, pak. Yuni benar-benar menyesal, pak. Yuni tidak tau kalau mamak punya niat seperti itu, pak!" tambah Yuni.


"Gak ada guna nya lagi, kau minta maaf, Yun. Akibat kebodohan mu itu, bapak jadi kesusahan sekarang."


"Maaf kan Yuni, pak!" balasYuni memelas.


"Bapak gak nyangka, kau berani berbuat seperti itu sama bapak, Yun!" Ucap bang Darma dengan penuh kekecewaan.


"Atau jangan-jangan, dari awal kau sudah sekongkol dengan mamak mu itu, untuk menipu bapak ya, YUN?" Bang Darma kembali emosi.


"Gak, pak! Yuni berani sumpah demi apapun, pak. Yuni benar-benar gak tau masalah ini, pak." Balas Yuni dengan suara serak.


"Gimana ceritanya, kau sampai tidak tau masalah ini, Yun?"


"Kan, kau sendiri yang datang kesini, untuk meminjam motor bapak itu?" tanya bang Darma masih dengan nada tinggi nya.

__ADS_1


Yuni mulai menangis sampai sesegukan, mendengar bentakan demi bentakan dari bapak nya itu. Aku yang mendengar percakapan mereka pun, hanya bisa pasrah menerima kenyataan ini.


Menyesal pun, sudah tidak ada guna nya lagi sekarang, semua nya sudah terlanjur terjadi. Seandainya saja, dari awal bang Darma mendengar kan semua kata-kata ku, mungkin semua ini tidak akan pernah terjadi.


"Setelah pulang dari rumah bapak, motor itu langsung di pinjam sama mamak, pak. Kata nya cuma sebentar aja, ternyata sampai sekarang, mamak belum pulang-pulang juga, pak." Jelas Yuni.


"Trus, Yuni coba nelpon mamak untuk menanyakan motor itu. Mamak bilang, motor nya udah di jual nya, pak!" jawab Yuni.


"Bapak gak habis pikir dengan mu, Yun. Kau itu udah besar, udah dewasa. Tapi, ot*k mu gak ada." Ucap bang Darma kesal.


"Seharusnya, kau itu bisa mikir, Yun. Mana yang baik dan mana yang buruk. Udah tau sifat mamak mu itu kayak ibl*s, masih aja kau percaya dengan nya!" tambah bang Darma.


"Ya, udah lah. Yang penting, besok kau harus kesini jumpai bapak! Kau harus jelas kan lagi masalah ini, sama bapak. Dengar kau, Yun?" perintah bang Darma.


"Iya, pak. Besok Yuni akan datang kesana." Balas Yuni pasrah.


Bang Darma langsung memutuskan panggilan nya secara sepihak, dan meletakkan ponsel nya di atas meja. Setelah itu, bang Darma menoleh pada ku dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Kenapa, bang. Kok, abang melihat aku seperti itu?" tanya ku penasaran.


"Maaf kan abang ya, dek! Abang sangat menyesal, tidak mendengar kan semua kata-kata mu semalam."


"Ya udah lah, bang. Gak ada guna nya abang menyesal sekarang, semua nya sudah terlanjur. Yang penting sekarang, abang udah tau gimana sifat asli mereka berdua."


Aku berucap, sambil mengelus-elus punggung bang Darma. Aku memberikan semangat pada nya, agar dia tidak rapuh dan putus asa atas kejadian ini.


"Udah lah, bang. Tak usah di sesali lagi, yang penting mulai sekarang, jangan pernah percaya, apa pun permintaan anak mu itu." Ucap ku penuh penekanan.


"Karena, semua permintaan nya itu, sebenarnya adalah suruhan dari babon nya, bukan keinginan Yuni sendiri!" Tambah ku lagi.


"Iya, dek. Mulai sekarang, abang akan dengar kan semua kata-kata adek! Abang gak akan menuruti, apa pun permintaan Yuni lagi, dek."

__ADS_1


"Abang menyesal, dek. Menyesal dan kecewa dengan keputusan abang semalam."


"Ya udah, masalah ini kita buat pelajaran aja, untuk ke depan nya. Jangan sampai terulang lagi, untuk yang ketiga kali nya. Ingat itu, bang!"


"Iya, dek. Sekali lagi, maaf kan abang ya, dek!" ucap bang Darma lirih.


"Iya, bang. Sekali ini aku maaf kan. Tapi, kalo sampe kejadian ini terulang lagi, maka jangan salah kan aku. Kalau perpisahan, terjadi di antara kita!" ancam ku tegas pada bang Darma.


"Abang janji, dek. Kejadian ini gak akan pernah terulang lagi."


Bang Darma berucap dengan wajah yang serius pada ku.


"Oke, aku akan pegang janji abang itu. Dan jangan pernah, abang kecewa kan aku lagi!"


"Iya, dek. Abang janji." Ucap bang Darma.


Setelah mengucapkan penyesalan nya pada ku, bang Darma merenggang pelukan nya dan mencium kening ku.


"Sekarang, abang tidur lah! Besok kita akan dengar kan, penjelasan dari Yuni."


"Iya, dek. Makasih ya, dek. Masih memberikan abang kesempatan lagi!"


"Iya, bang. Udah lah, gak usah di bahas lagi" Balas ku.


Setelah mendengar kan penuturan ku, bang Darma mengangguk kan kepala nya. Dan dia mulai merebahkan tubuh nya, sambil memeluk guling memunggungi ku. Tak lama kemudian, terdengar suara dengkuran halus dari nafas nya.


"Kasihan sekali kau, bang. Sebenarnya aku gak tega melihat mu seperti ini. Tapi, kalau aku tidak tegas dengan mu, kau pasti akan di manfaatkan terus oleh kedua lalat ijo itu."


Aku membatin sambil terus menatap punggung bang Darma, yang sudah tertidur lelap itu.


"Hah, semoga kejadian ini bisa membuat mu jera, bang. Mudah-mudahan saja, kau tidak melakukan kebodohan ini lagi, di hari-hari berikut nya. Amin amin ya rabbal a'lamin." Doa ku dalam hati.

__ADS_1


Setelah beberapa menit merenung, aku membaringkan tubuh ku di samping bang Darma. Aku mulai memejamkan mata, sambil memeluk guling.


Tak butuh waktu lama, aku pun menyusul bang Darma, ke alam mimpi yang indah.


__ADS_2