
"Mungkin suami mu itu hanya ingin memanas-manasi mu saja, say. Biar dirimu marah, dan cemburu dengan mereka berdua." tebak bang Agus.
"Hhhmm, mungkin juga sih, bang. Tapi ya udah lah, gak usah di bahas lagi. Capek otak ku mikirin masalah itu-itu terus." balas ku.
Aku mulai menarik selimut, dan memiringkan tubuh ku memunggungi bang Agus.
"Loh, kok malah tidur sih, say! Emang nya kita gak ehem-ehem dulu, ya?" tanya bang Agus.
"Gak ah, lagi males." jawab ku pura-pura memejamkan mata.
Bang Agus memeluk ku dari belakang, dan mulai menjalar kan tangan-tangan nakal nya ke bagian tubuh depan ku.
"Ayo lah, say! Masa tega sih, lihat dedek abang kelaparan kayak gini? Dedek abang di kasih makan dulu dong, sayang!"
Bang Agus terus saja merengek manja di telinga ku. Meminta agar aku mau menuruti keinginan nya.
"Aku lagi males, botaaak. Udah ah, jangan ganggu aku lagi, tidur sana! Berisik aja dari tadi." gerutu ku.
Aku tersenyum sendiri melihat tingkah laku bang Agus, yang sedari tadi berusaha merayu ku.
"Gimana abang bisa tidur, kalau dedek abang ini masih bangun terus? Tidur kan dulu lah dedek abang ini, say!" rengek bang Agus lagi.
Bang Agus masih tetap kekeuh dengan permintaan nya. Karena tidak tahan mendengar suara bang Agus, yang terus saja memekakkan telinga ku. Akhir nya aku pun mengalah, dan membalikkan badan menghadap kepada nya.
"Ini muncung kok bising terus sih dari tadi, udah kayak radio rusak aja." gerutu ku.
Aku menutup mulut bang Agus dengan telapak tangan ku. Dan aku juga membelalakkan mata, menatap tajam kepada bang Agus.
"Maka nya di kasih makan dulu dong dedek abang! Biar abang gak bising lagi." jawab bang Agus.
"Ya udah deh, dari pada bikin aku gak bisa tidur, mendingan ngalah aja." balas ku pasrah.
Sebenarnya aku malas untuk meladeni keinginan bang Agus. Karena aku tidak bisa konsentrasi nanti nya, akibat pikiran yang sedang acak adut seperti ini.
Setelah mendapatkan persetujuan ku, bang Agus pun langsung tersenyum sumringah, dan mulai melancarkan aksinya.
"Makasih ya, say. Dirimu memang paling bisa ngertiin kebutuhan abang." balas bang Agus.
"Ya," jawab ku.
__ADS_1
Permainan panas pun akhirnya terjadi lagi. Bang Agus tidak menyia-nyiakan kesempatan yang sudah aku berikan pada nya.
Dia melakukan permainan nya dengan semangat yang menggebu-gebu, dan nafas yang memburu. Aku mulai memejamkan mata, menikmati dan mengikuti alur permainan nya.
Setelah selesai, bang Agus membaringkan tubuh nya di samping ku. Dia tampak sangat kelelahan akibat permainan nya sendiri.
"Udah puas belum, bang? Kalo belum puas, lanjutin lagi lah main nya! Mumpung aku masih mau melayani abang." ujar ku.
"Gak, sayang. Abang udah puas kok. Sekarang kita bobok ya!" jawab bang Agus.
"Oh, ya udah kalo gitu." jawab ku.
Setelah selesai bergumul ria bersama si botak tuyul, kami berdua pun langsung tertidur pulas di bawah selimut, dalam keadaan sama-sama polos.
Pagi menyapa, aku segera beranjak dari ranjang dan membersihkan diri di dalam kamar mandi. Setelah selesai, aku mengguncang-guncang pelan bahu bang Agus untuk membangun kan nya.
"Bang, bangun bang. Udah terang nih, emang nya abang gak kerja ya?" tanya ku.
karena merasa terganggu dengan suara dan guncangan di bahu nya, bang Agus pun langsung membuka mata nya.
"Hhmmmm, ada apa sih, say? Pagi-pagi gini kok udah mbeo mulut nya." gerutu bang Agus sambil menggeliat kan badan nya.
"Kan semalam udah bilang, kalau abang udah minta libur sama bos." jawab bang Agus.
"Oh, iya ya aku lupa, hihihi." balas ku.
Aku terkikik geli melihat wajah bantal bang Agus.
"Mandi sana, bang! Biar gak kusut gitu muka nya." ujar ku.
"Ntar lagi lah, say. Abang masih ngantuk banget nih, hoam."
Bang Agus kembali bergulung di bawah selimut, dan memejamkan mata nya.
"Dasar bocah ndablek! Di suruh mandi kok malah molor lagi dia." gerutu ku.
Aku naik ke atas ranjang dalam keadaan rambut yang masih basah, dan handuk yang melilit di tubuh ku. Kemudian, aku menindih tubuh bang Agus, dan membiarkan air dari rambut basah ku menetesi wajah nya.
Akibat kenakalan ku itu, bang Agus langsung terkejut dan segera memeluk tubuh ku. Dia menarik handuk ku, dan membuang nya ke lantai.
__ADS_1
"Nakal kali wanita ku ini, apa mau minta di kerjain lagi ya?" ujar bang Agus.
"Lepasin, bang! Siapa juga yang minta di kerjain lagi. Aku tuh nyuruh abang mandi, bukan minta di kerjain." sungut ku kesal.
Aku meronta-ronta di dalam pelukan bang Agus. Bukan nya melepaskan tubuh ku, dia malah mencium bibir ku dengan rakus.
"Iiihhhh, jorok kali sih tuyul satu ini. Mulut masih bau jigong gitu kok malah nyiumi mulut ku pulak!" umpat ku.
Aku terus berusaha melepaskan diri dari pelukan erat bang Agus. Setelah terlepas, aku langsung beranjak dari atas tubuh bang Agus, dan mengambil handuk yang tergeletak di lantai.
Aku kembali melilitkan handuk itu ke tubuh ku, dan merias diri di depan cermin. Bang Agus memperhatikan ku dari atas ranjang, dengan senyum yang menyeringai.
"Gak usah senyum-senyum gitu. Mandi gih, biar nanti aku kasih jatah lagi!" ujar ku sembari duduk di atas kursi dan menenggak air mineral.
"Hah, beneran, say?" balas bang Agus.
Bang Agus bergegas bangkit dari ranjang, dan mendekati ku dengan tubuh yang polos seperti bayi baru lahir.
"Di pakai dulu lah handuk nya, bang! Gak malu apa, dedek nya gak di tutupi gitu? Merusak pemandangan ku aja!" ujar ku sambil terus melihat ke arah pangkal paha bang Agus.
"Kenapa harus malu, say? Kan cuma dirimu aja yang lihat!" jawab bang Agus.
Bang Agus semakin mendekati ku, dengan raut wajah yang tampak horor dan menakutkan. Aku sampai bergidik ngeri, melihat ekspresi wajah bang Agus, yang persis seperti ingin menerkam mangsa nya.
"Iiihhhh, jauh-jauh sana! Serem tau gak?" pekik ku sambil mendorong pelan tubuh bang Agus.
"Serem apa nya sih, sayang? Orang ganteng gini kok di bilang serem pulak." balas bang Agus.
"Idih, narsis banget sih jadi orang." cibir ku.
"Hahaha, ya udah. Abang mandi dulu ya, habis tu abang tagih janji mu tadi." gelak bang Agus.
"Ya, mandi lah sana! Di suruh mandi kok susah kali dari tadi." gerutu ku kesal.
" Hehehe, iya iya abang mandi. Persiapkan diri mu ya, say. Abang akan memakan mu habis-habisan hari ini!" ujar bang Agus.
"Ogah," balas ku cuek.
Bang Agus hanya tersenyum mendengar jawaban ku. Kemudian, dia pun mulai melangkah kan kaki nya menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri nya.
__ADS_1
"Ada-ada saja tingkah botak ku ini." gumam ku sambil menggeleng-gelengkan kepala.