
Beberapa menit kemudian, pelayan datang membawa kan makanan dan minuman yang di pesan oleh bang Agus tadi. Setelah makanan tertata rapi di atas meja, pelayan itu pun langsung pergi dan melayani pelanggan lain nya.
"Ayo kita makan, say!" ujar bang Agus.
"Ya," jawab ku singkat tanpa menoleh sedikit pun kepada bang Agus.
Aku yang sedari tadi memalingkan wajah, kini beralih menatap makanan yang berada di atas meja. Tanpa ba-bi-bu lagi, aku mulai memakan makanan itu dengan lahap dan cepat.
Bang Agus sampai melongo, melihat cara makan ku, yang seperti orang kesetanan. Dia tersenyum dan menggelengkan kepala nya, melihat tingkah aneh ku itu.
"Eegghh, alhamdulillah."
Aku bersendawa, sambil menutup mulut dengan satu tangan ku. Mendengar suara sendawa ku, bang Agus langsung terperangah dengan mata yang membulat sempurna.
Bang Agus tampak terkejut, melihat piring yang ada di hadapanku sudah kosong melompong. Hanya menyisakan tulang ayam dan beberapa butir nasi saja.
Sedangkan bang Agus, masih memakan separuh makanan yang ada di piring nya.
"Kok cepat banget makan nya, say? Itu makanan nya di telan atau di buang sih?" tanya bang Agus heran sambil celingukan di bawah meja.
Aku menautkan kedua alis, melihat tingkah bang Agus.
"Abang nyariin apa sih?" tanya ku bingung sambil ikut celingukan di bawah meja.
"Ya nyariin makanan mu lah, say. Siapa tau makanan nya tadi di bawah di bawah sini."
Bang Agus menjawab, sambil masih terus melanjutkan pencarian nya di bawah meja.
"Oalah, kirain nyari apa an, hahaha."
Aku tertawa ngakak melihat tingkah konyol bang Agus. Setelah mendengar suara tawa ku, bang Agus langsung menghentikan pencarian nya, dan melihat ku dengan tatapan mata yang tampak kebingungan.
"Kok malah ketawa sih, bukan nya bantu nyariin. Malah ketawa pulak dia." gerutu bang Agus.
"Makanan yang abang cari itu udah ada disini. Ngapain di cariin lagi sih, botaaak!" jawab ku kesal campur lucu.
Aku tersenyum lebar, sambil menunjuk ke arah perut ku. Bang Agus langsung terpaku melihat perut ku, yang sudah tampak sedikit membuncit karena kekenyangan.
"Kok malah bengong pulak si tuyul satu ini. Cepetan habisin makanan nya tuh! Biar kita balik lagi ke hotel." omel ku.
__ADS_1
"Eh iya, say. Sabar dikit napa!" jawab nya.
Bang Agus kembali memakan makanan nya dengan cepat, hingga membuat nya keselek dan terbatuk-batuk.
Uhuk uhuk uhuk...
Bang Agus langsung mengambil minuman nya, dan menenggak nya hingga tandas. Lalu dia pun menggeser piring nya, tanda sudah selesai makan.
Mata bang Agus berubah menjadi merah dan berair, akibat terbatuk-batuk barusan. Dia mengambil tisu yang berada di depan nya, kemudian membersihkan hidung nya, yang juga tampak mengeluarkan sedikit cairan.
Aku hanya tersenyum miring, melihat kelakuan selingkuhan lima langkah ku itu. Setelah selesai membersihkan hidung dan mulut nya, bang Agus kembali mengoceh kepada ku.
"Gara-gara dirimu ini, say. Maka nya abang sampe keselek kayak gini." sungut bang Agus.
"Kok gara-gara aku pulak, abang aja yang gak hati-hati makan nya. Main telan gitu aja, bukan nya di kunyah dulu!" balas ku tak mau kalah.
Bang Agus mengambil tisu lagi, dan menyemburkan cairan yang masih bersarang di hidung nya. Setelah beberapa kali membersihkan nya, bang Agus kembali menatap ku dengan raut wajah kesal.
"Udah ah, kalau mau protes nanti aja. Sekarang kita pulang ke hotel, yok!" ujar ku.
"Loh, gak jadi jalan-jalan ya?" tanya bang Agus.
"Iya, nanti abang pijatin. Ya udah, ayo kita bayar dulu makanan ini di sana!" balas bang Agus sambil menunjuk ke arah meja kasir.
"Oke," balas ku.
Aku dan bang Agus beranjak dari tempat duduk, dan berjalan menuju meja kasir, untuk membayar tagihan makanan yang sudah kami makan tadi.
Setelah selesai, kami berdua langsung naik ke atas motor, dan kembali menuju hotel tempat kami menginap. Sesampainya di dalam kamar, aku duduk bersila di atas kursi sambil menyalakan rokok.
Sambil sesekali menghisap rokok, aku mendongak ke atas. Menatap langit-langit kamar dengan tatapan kosong.
"Kok malah melamun lagi sih, say!" ujar bang Agus sambil memeluk tubuh ku secara tiba-tiba.
Aku yang sedang asyik mengkhayal pun, langsung terkejut, hingga membuat api rokok ku mengenai punggung tangan bang Agus.
"Auww, panas kali, say!" pekik bang Agus sambil mengibas-ngibaskan tangan nya ke udara.
"Sokor! Siapa suruh dari tadi pecicilan aja kerjaan nya." umpat ku jengkel.
__ADS_1
"Siapa yang pecicilan sih, sayang kuuu?" rengek bang Agus kembali memeluk tubuh ku.
"Itu kucing tetangga sebelah yang pecicilan." jawab ku asal.
Mendengar candaan receh ku, bang Agus langsung tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya sendri. Dia tampak sangat terhibur karena ocehan ku barusan.
"Hm hm hm, ketawa aja terus! Nanti keselek lagi, baru tau rasa!" ledek ku.
"Bah, jangan lah di doain kayak gitu, say! Nanti kalo abang keselek beneran, gimana coba?" balas bang Agus.
"Ya gak gimana-gimana lah, kan yang keselek abang, bukan aku." jawab ku santai.
"Iiiisss, bener-bener jahat kali wanita ku ini." balas bang Agus sambil menggeleng kan kepala nya.
"Biarin, udah tau jahat gini kok masih mau?" balas ku sambil menghisap rokok.
"Iya juga, ya. Kok abang masih mau ya, sama orang jahat kayak dirimu?" jawab bang Agus.
Bang Agus mendudukkan diri nya di tepi ranjang, dia melipat satu tangan nya di perut. Lalu satu tangan nya lagi memegang kening. Mirip seperti orang yang sedang berpikir keras.
Suasana pun menjadi hening sejenak. Aku dan bang Agus sama-sama sibuk dengan pikiran masing-masing. Aku kembali mengingat tentang kelakuan bang Darma, yang sudah memamerkan kemesraan nya dengan Dina.
"Apa sebenarnya tujuan bang Darma berbuat seperti itu dengan ku? Kenapa dia sampai memperlihatkan adegan ranjang nya pada ku?"
Aku membatin sambil terus menatap langit-langit kamar, dan sesekali menghisap rokok yang tersisa separuh di tangan ku.
"Say, kita bobok yok!" ajak bang Agus.
Aku langsung tersentak kaget, mendengar suara bang Agus.
"Ya Allah, bang. Bikin kaget aku aja." balas ku sambil mengelus dada saking kaget nya.
"Hehehe, maaf ya, say. Abang gak sengaja. Lagian dirimu pun aneh. Masa ngomong pelan gitu aja, dirimu langsung terkejut sih. Pasti melamun lagi tadi kan?" oceh bang Agus panjang lebar.
"Iya, bang. Aku lagi mikirin bang Darma." jawab ku.
Aku mematikan api rokok di dalam asbak, dan mulai merangkak naik ke atas ranjang. Begitu juga dengan bang Agus, dia juga ikut naik ke atas ranjang, dan membaringkan tubuh nya di samping ku.
"Emang nya suami mu itu kenapa lagi sih, say?" tanya bang Agus.
__ADS_1
"Gak kenapa-kenapa kok, bang. Aku hanya bingung aja dengan kelakuan nya tadi siang. Apa maksud tujuan dia, mempertontonkan adegan ranjang nya dengan Dina kepada ku?" jawab ku.