SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Sama Sama Nginap


__ADS_3

"Dari mana saja kau?" bentak bang Darma dengan suara menggelegar.


"Cari makan di luar, emang nya kenapa?"


Tanya ku pura-pura santai, padahal hati sudah dag-dig-dug tidak karuan, akibat mendengar suara yang cukup memekakkan telinga itu.


Aku berusaha tetap tenang semaksimal mungkin, agar tidak terlihat gugup atau pun ketakutan di depan bang Darma.


"Sama siapa kau pergi nya?" tanya bang Darma lagi.


"Naik ojek, aku lagi malas bawa motor sendiri." bohong ku.


"Alasan, pasti kau udah janjian dengan para selingkuhan mu itu kan?" tuduh bang Darma.


"Kau ini memang manusia aneh. Tadi kau nanya, tapi di jawab malah gak percaya." gerutu ku.


"Ya gak percaya lah, kau itu kan bohong terus kerjaan nya." balas bang Darma tetap kekeuh menolak jawaban ku.


"Terserah kau lah situ! Mau percaya kek, mau enggak kek, bodo amat. Minggir, aku mau masuk!" ujar ku.


Aku menerobos masuk ke dalam rumah begitu saja, tanpa menghiraukan bang Darma yang masih terbengong di depan pintu dengan tatapan sinis nya.


Sampai di dalam kamar, aku meletakkan tas di dalam laci meja dan langsung berganti pakaian. Bang Darma turut mengikuti langkah ku sampai ke kamar, dia duduk di tepi ranjang sambil terus memandangi ku.


"Kau udah makan, bang?" tanya ku.


Aku duduk di sebelah bang Darma sambil menyalakan rokok.


"Belum," jawab bang Darma ketus.


"Loh, kok belum makan?" tanya ku heran.


Aku menoleh pada bang Darma dengan kening yang mengkerut. Aku memperhatikan wajah bang Darma yang tampak lusuh dan kusam.


"Gak ada uang." jawab bang Darma.


Aku menautkan kedua alis mendengar jawaban bang Darma. Dia mengacak-acak rambut nya dan membaringkan tubuh nya di atas ranjang, dengan kaki yang menjuntai ke bawah.


"Lah, sisa uang tadi siang kemana?" tanya ku.


"Udah habis buat ongkos ojek kesana kemari." jawab bang Darma masih dengan nada ketus.


"Ke sana kemari itu maksud nya kemana? Ke rumah mantan mu?" tanya ku.


"Ya tadi kerumah dia sebentar, trus keluar cari kerjaan." jawab bang Darma


"Ngapain kau ke rumah dia, ngasih jatah?" selidik ku.


"Iya, sekalian nengok keadaan Yuni. Kata nya dia kurang enak badan." balas bang Darma dengan santai nya.


Aku langsung tersenyum miring mendengar kejujuran bang Darma. Aku mengisap rokok dengan pandangan menerawang. Aku bingung, rumah tangga seperti apa yang sedang aku jalani saat ini.


"Kalau kau dari rumah mereka, kenapa kau gak minta makan aja dengan kedua benalu kesayangan mu itu?" tanya ku lagi.


"Mereka gak masak, gak ada uang kata nya." jawab bang Darma.


"Oh, gitu." balas ku.


Aku mengambil tas dari dalam laci, dan mengeluarkan selembar uang pecahan lima puluh ribuan. Aku memberikan uang itu kepada bang Darma sambil berkata...


"Nah, ini uang nya. Beli makanan sana!" ujar ku menyerahkan uang itu ke tangan bang Darma.


Bang Darma menerima uang pemberian ku, Lalu dia langsung beranjak dari rebahan nya, dan berjalan keluar dengan langkah gontai untuk membeli makanan.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, bang Darma pun kembali dengan membawa satu bungkus makanan di tangan nya.


Kemudian, dia memakan makanan itu di meja ruang tamu sendirian. Bang Darma sama sekali tidak menawari ku, atau pun mengajak ku untuk makan bersama nya.


Setelah selesai menyantap makanan nya, bang Darma pun kembali masuk ke dalam kamar dan duduk di sebelah ku.


"Udah kenyang, bang? Beli makanan apa tadi?" tanya ku.


"Udah, beli nasi goreng." jawab bang Darma.


"Oh," balas ku.


Saat bang Darma hendak menyalakan rokok, tiba-tiba ponsel nya berdering di dalam saku celana nya. Aku yang sedang memainkan ponsel ku pun, hanya melirik sekilas ke arah bang Darma.


Setelah itu, aku kembali berpura-pura menyibukkan diri dengan ponsel yang ada di tangan ku.


Aku mulai menajamkan pendengaran ku, untuk menguping pembicaraan bang Darma, dengan seseorang yang sedang menghubungi nya tersebut.


"Halo, ada apa lagi sih? Tadi kan aku udah kesana. Trus, kau mau apa lagi sekarang?" tanya bang Darma ketus.


Raut wajah nya tampak sangat kesal dengan lawan bicara nya. Berhubung pengeras suara nya tidak di aktifkan oleh bang Darma, jadi aku tidak bisa mendengar suara si penelepon itu.


Setelah mendengar jawaban dari lawan bicara nya, bang Darma pun langsung mengerutkan kening nya.


"Ya udah, kau tunggu aja di sana! Aku berangkat sekarang." jawab bang Darma menutup panggilan.


Setelah panggilan berakhir, bang Darma pun menoleh pada ku yang masih berpura-pura sibuk bermedia sosial di sebelah nya.


"Dek, abang jenguk Yuni bentar ya! Kata Dina, Yuni lagi demam tinggi sekarang." jelas bang Darma.


"Ya pergi lah, urus lah kedua benalu tercinta mu itu!" balas ku acuh tanpa menoleh sedikit pun kepada bang Darma.


"Ck, kok gitu sih ngomong nya, dek? Biar bagaimana pun dia itu..."


Aku memotong ucapan bang Darma dengan nada ketus. Setelah mendengar penuturan ku, bang Darma pun bangkit dari tempat duduk nya dan melangkah keluar dari kamar.


Aku memandangi kepergian suami ku itu dengan tatapan nanar. Saat ini dia lebih mementingkan para benalu itu dari pada diriku.


Sebenarnya ada perih di hati ini melihat sikap bang Darma seperti itu. Tapi ya mau bagaimana lagi, nasi sudah menjadi bubur. Kami berdua sudah sepakat untuk tidak mencampuri urusan masing-masing.


"Huh, ternyata berpura-pura tegar itu sakit juga rasa nya." gumam ku.


Aku menghela nafas berat, lalu merebahkan tubuh lelah ku ke atas ranjang. Aku menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong dan hampa.


"Apakah begini rasa nya berbagi suami dengan orang lain, ya?" batin ku.


Sedang asyik merenung tentang nasib, tiba-tiba aku langsung tersentak seketika. Aku sangat terkejut karena mendengar suara ponsel yang berdering di atas meja.


"Hadehh, bikin kaget aja nih ponsel!" gerutu ku.


Dengan gerakan malas, aku segera mengambil ponsel dan menerima panggilan yang berasal dari bang Darma.


"Ya, ada apa?" tanya ku tanpa basa-basi.


"Hmmm, malam ini abang gak bisa pulang, dek. Abang nginap disini jagain Yuni, dia lagi sakit soal nya. Kau gak marah kan, dek?" tanya bang Darma ragu.


"Ya, terserah kau aja. Aku gak akan perduli apa pun yang akan kau lakukan disana." jawab ku santai.


"Oh, ya udah kalau gitu. Abang cuma mau ngabarin aja, biar kau gak nungguin abang pulang." balas bang Darma.


"Siapa juga yang nungguin kau pulang? Gak usah kepedean kali jadi orang!" balas ku sewot.


Aku memutuskan panggilan dari bang Darma secara sepihak. Malas rasa nya mendengar kan ocehan-ocehan tidak berguna nya itu.

__ADS_1


"Dari pada tidur sendirian disini, mendingan aku bersenang-senang dengan para lelaki ku. Tapi sama siapa aku nginap malam ini, ya? Sama Rendi atau sama bang Agus?" gumam ku bingung.


Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun memutuskan untuk menginap dengan bang Agus.


"Sama bang Agus aja lah, udah lama juga gak nginap sama dia." gumam ku.


Aku segera menghubungi bang Agus, untuk mengajak nya menginap di hotel malam ini. Setelah panggilan tersambung, aku pun langsung mengutarakan niat ku itu kepada nya.


"Halo assalamualaikum, botak." salam ku.


"Wa'laikum salam, say. Tumben malam-malam gini ngubungi abang. Emang nya suami mu kemana? Dia belum balek-balek juga ya dari tadi?" tanya bang Agus heran.


"Tadi dia udah balek sebentar, trus pergi lagi. Kata nya anak nya lagi sakit, jadi dia harus nginap di sana." jelas ku.


"Halah, alasan dia aja nya itu, say. Palingan dia lagi enak-enakan sama mantan istri nya itu." tebak bang Agus.


"Ya, mungkin juga sih.Tapi ya udah lah biarin aja, aku juga udah gak perduli lagi kok dengan mereka semua." balas ku.


"Kita keluar yok, bang! Kita nginap di hotel biasa, mau gak?" tanya ku.


"Ya pasti mau lah, sayang kuuu. Ayo, kita pergi sekarang! Mumpung keadaan lagi sepi nih di luar." ujar bang Agus.


"Oke, tunggu bentar ya! Aku mau siapin keperluan untuk di sana nanti." balas ku.


"Iya, say. Abang tunggu di seberang jalan rumah mu, ya!" ujar bang Agus.


"Oke," balas ku menutup percakapan.


Setelah panggilan terputus, aku bergegas berganti pakaian dan memasukkan alat-alat makeup ke dalam tas ransel. Kemudian, aku juga memasukkan satu stel pakaian ke dalam tas yang akan aku bawa itu.


"Kalau kau bisa, aku juga bisa, bang." umpat ku pada bang Darma.


Selesai beberes, aku pun segera melangkah keluar dari kamar dengan tas ransel di pundak ku. Setelah mengunci pintu, aku langsung berjalan dengan langkah cepat ke arah bang Agus, yang sudah menunggu ku di atas motor nya.


"Ayo kita jalan, bang!" ujar ku.


"Oke, say." balas bang Agus.


Setelah aku naik ke atas motor, bang Agus pun langsung menyalakan motor nya, dan melajukan kendaraan roda dua nya itu menuju hotel.


Sesampainya di depan gedung hotel, aku dan bang Agus segera masuk ke dalam dan memesan kamar di meja resepsionis. Setelah mendapatkan kunci kamar, kami berdua pun kembali berjalan menuju ke lantai dua.


Sampai di dalam kamar, aku meletakkan tas ransel di atas nakas. Kemudian, aku membuka semua pakaian sampai polos tak bersisa.


Setelah itu, aku pun berbaring di atas ranjang dengan posisi kedua kaki yang terbuka lebar, dan lutut yang sedikit di tekuk. Sehingga menampilkan pemandangan yang sangat indah bagi bang Agus.


Aku tersenyum melihat wajah bang Agus yang sedang terpesona melihat posisi ku tersebut.


"Sini, sayang! Kita akan nikmati malam ini bersama-sama. Kita akan bersenang-senang di atas ranjang ini sampai sepuasnya." rengek ku.


"Oh wanita ku, kau memang sangat pandai menggoda. Baik lah, sayang. Abang akan turuti keinginan mu itu." balas bang Agus.


"Cepat layani aku, bang! Aku udah gak sanggup lagi menahan hasrat ini, sayang." rengek ku lagi.


Dengan nafas yang sudah tidak beraturan lagi, aku pun terus saja merengek dan gelisah, karena sudah di selimuti oleh gairah ku sendiri.


Setelah membuka seluruh pakaian nya, bang Agus pun langsung melakukan tugas nya. Dia memberikan pelayanan yang sangat memuaskan bagi ku.


Aku mulai memejamkan mata, sambil mengeluarkan suara-suara indah yang menggema di seluruh ruangan kamar hotel tersebut.


Setelah menyelesaikan tugas nya, bang Agus pun menjatuhkan dirinya di samping ku, dengan keringat yang membasahi seluruh tubuh nya.


"Terima kasih ya, say. Abang sangat bahagia malam ini." bisik bang Agus sambil mengecup kening ku.

__ADS_1


"Iya, bang. Aku juga bahagia bisa bersamamu malam ini." balas ku.


__ADS_2