SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Janji


__ADS_3

"Abang udah gak tau harus ngomong apa lagi, untuk menghadapi sikap keras kepala mu itu." ujar Rendi kesal.


Melihat ekspresi wajah Rendi yang tampak kesal dan kecewa, aku pun berinisiatif untuk mengajak nya bergumul ria, agar dia kembali ceria dan tidak membahas masalah rumah tangga ku lagi.


"Dari pada mikirin yang gak penting, mendingan kita cari keringat aja yok, bang!" usul ku sambil tersenyum genit pada lelaki ku itu.


"Pintar kali bibir nya ini nyari-nyari alasan, untuk mengalihkan pembicaraan ya!" balas Rendi.


"Ya itu pun kalau mau sih, kalau abang gak mau juga gak papa kok." balas ku pura-pura cuek.


"Ya pasti mau lah, sayang. Siapa juga yang bisa menolak ajakan yang menggiurkan seperti itu." jawab Rendi sambil tersenyum menyeringai memandangi tubuh ku.


"Oh, kirain gak mau tadi." balas ku masih tetap cuek.


"Kucing garong kok di tawarin ikan, ya pasti langsung di caplok lah, hahaha."


Gelak Rendi sembari menindih tubuh ku dan merentangkan kedua tangan ku. Dia menatap wajah ku dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Apa tengok-tengok?" bentak ku dengan suara melengking.


"Astaga, sampe kaget abang kau buat, Yu." jawab Rendi sambil mengelus dada nya.


"Hahaha, sokor! Siapa suruh nengokin aku kayak gitu, serem tau gak. Kayak singa yang mau menerkam mangsanya aja." oceh ku.


"Ya kan sekarang abang memang mau nerkam makanan lezat, yang ada di hadapan abang ini." balas Rendi.


Rendi kembali memandangi wajah ku sambil mengecap-ngecap kan lidah di bibir nya sendiri. Sedangkan aku, aku malah bergidik ngeri saat melihat tingkah laku lelaki tampan yang ada di hadapan ku saat ini.


"Jangan gitu ah, jadi nampak horor aku lihat nya!" ujar ku mendorong pelan tubuh Rendi.


Bukan nya menghentikan tingkah genit nya, Rendi malah semakin menjadi-jadi. Dia seolah-olah berubah seperti zombie yang sedang menghisap darah di leher ku.


Rendi terus saja melakukan perbuatan nakal nya di tubuh ku, dan dia juga memberikan tanda merah yang cukup banyak di sekitaran leher dan juga dada ku.


Aku yang sudah mulai bergairah karena ulah nya itu pun, langsung membalas perbuatan nya. Aku juga memberikan tanda merah di tubuh Rendi sambil sesekali mencium bibir nya.

__ADS_1


Setelah saling memberi kan tanda merah, Rendi pun kembali melanjutkan kegiatan nya. Saat ingin memasukkan juniornya, tiba-tiba Rendi berbisik di telinga ku.


"Kita mulai ya, sayang. Abang udah gak tahan lagi nih." ujar Rendi.


"Iya, bang." balas ku sambil tersenyum semanis mungkin pada lelaki gagah ku itu.


Setelah meminta persetujuan ku, Rendi pun langsung melakukan serangan ganas nya pada ku. Dia tidak henti-hentinya memacu gerakan nya di atas tubuh ku.


Dan itu berhasil membuat ku lepas kendali, sehingga mengeluarkan suara-suara merdu dan indah dari bibir ku.


Setelah satu jam lebih melakukan kegiatan nya, Rendi pun menyelesaikan tugas nya dan membaringkan tubuh basah nya di sebelah kanan ku.


"Makasih banyak ya, sayang." ujar Rendi sambil mengecup kening ku.


"Iya," balas ku.


Selesai bersenang-senang dengan Rendi, aku langsung bangkit dari ranjang dan berjalan ke kamar mandi. Rendi pun turut mengekori langkah ku dari belakang dan ikut membersihkan diri nya.


Saat sedang asyik membersihkan area pribadi ku, tiba-tiba Rendi memeluk tubuh ku dari belakang sambil berkata...


"Kita main sekali lagi disini yok, Yu!" bisik Rendi.


"Iya, emang nya kenapa?" tanya Rendi.


"Gak enak lah, bang. Sakit semua nanti badan ku kalau baring di lantai ini." jawab ku sambil menunjuk lantai keramik kamar mandi.


"Ya gak usah baring lah, kita main nya berdiri aja. Gimana, kamu mau gak?" tanya Rendi sambil menaik turunkan alis nya.


"Ck, ada-ada pun permintaan hantu satu ini!" gerutu ku kesal.


"Hm hm hm, di tanyain kok malah ngedumel pulak dia." cibir Rendi.


"Gimana aku gak ngedumel coba? Kalau permintaan abang aneh-aneh gitu." balas ku tak mau kalah.


"Ya gak aneh lah, sayang. Malah sensasi nya lebih asyik tau gak, kalau main di kamar mandi dari pada di atas ranjang." balas Rendi.

__ADS_1


"Ya udah lah terserah abang aja!" jawab ku pasrah.


"Naaah, gitu dong! Itu baru nama nya anak pintar dan penurut." balas Rendi sambil mengacak-acak rambut ku dengan senyum sumringah nya.


Aku hanya memanyunkan bibir menanggapi celotehan Rendi.


"Ini orang kok gak ada capek-capek nya sih. Baru aja siap main, eh sekarang udah minta main lagi. Hadehh, bikin lemas badan ku aja kerjaan nya." batin ku heran.


Setelah selesai otot-ototan, Rendi pun kembali melakukan aksinya. Dia melancarkan serangannya sampai bertubi-tubi, hingga membuat ku sangat kelelahan dengan aksinya tersebut.


Selesai melakukan kegiatan nya, Rendi pun mengangkat tubuh ku ke atas ranjang dan menyelimuti seluruh badan ku sampai sebatas bahu.


"Sekarang kita tidur ya, sayang! Mata abang udah ngantuk banget nih. Badan abang juga pegel-pegel semua rasa nya." ujar Rendi.


"Kapok, maka nya jangan kegatalan kali jadi orang! Sekarang rasakan lah akibat nya, hahaha." umpat ku sambil tertawa terbahak-bahak.


"Iiiisss, jahat kali sih kekasih ku ini. Bukan nya bantu di pijatin kek, ini malah di ledekin pulak sama dia." gerutu Rendi sambil meringis memegangi pinggang nya.


"Enak kali mau minta di pijatin, sorry-sorry aja lah yau. Badan ku pun juga capek kok. Lagian salah sendiri minta main terus, kayak gak ada waktu lain aja!" oceh ku kesal.


Setelah mendengar ocehan-ocehan ku, Rendi pun langsung memajukan bibir nya ke depan. Dia terus saja memegangi dan memijat-mijat pinggang nya sendiri.


"Ya udah deh, besok aku bantu pijatin pinggang nya. Sekarang kita tidur dulu aja ya, mata ku udah berat kali nih." bujuk ku berusaha meyakinkan Rendi.


"Bener ya, awas aja kalo bohong. Bakalan abang gempur terus nanti dirimu itu sampe lemas!" ancam Rendi sambil tersenyum menyeringai menatap mata ku.


"Iya tenang aja, besok pasti bakalan aku pijatin kok." balas ku santai.


"Iya, abang percaya kok. Makasih ya, sayang ku cinta ku." ujar Rendi sambil memeluk tubuh ku dan dengan erat.


"Iya, sama-sama." balas ku.


Rendi mendekat kan bibir nya untuk mengecup kening dan kedua pipi ku sebagai pengantar tidur sambil berbisik...


"Ayo kita tidur, sayang!" lanjut Rendi.

__ADS_1


"Oke, bang." balas ku.


Setelah melewati perdebatan sengit dengan Rendi, akhirnya kami berdua pun mulai memejamkan mata dan tertidur lelap, dengan posisi yang saling berpelukan di bawah selimut.


__ADS_2