
"Ah, yang bener?" tanya bang Agus.
"I-iya bener kok." jawab ku.
Aku sedikit gugup dan malu karena tertangkap basah oleh bang Agus. Untuk mengalihkan pembicaraan, aku pun meminta bang Agus untuk mencari makanan di luar.
"Bang, perut ku udah minta di isi nih, udah lapar kata cacing nya." ujar ku sembari nyengir kuda.
"Hahaha, mulut nya yang lapar kok malah cacing nya pulak yang di jadi kan alasan." gelak bang Agus.
"Kan sama aja sih, botaaak. Cobalah dengerin nyanyian dari perut ku ini!" balas ku.
Aku menarik tengkuk leher bang Agus, dan menempel telinga nya di perut ku. Bukan mendengar suara perut ku, bang Agus malah memainkan lidah nya di area perut ku hingga menjalar sampai ke bawah nya.
"Heh heh heh, aku itu nyuruh dengerin suara perut ku ya, bukan nyuruh ngepel kayak gitu." oceh ku kesal.
"Hehehe, maaf abang kebablasan, say." balas bang Agus.
"Halah, modus. Bilang aja lagi kepengen, pake alasan kebablasan segala." cibir ku.
"Naaah, tu tau. Ayo lah kita main sekali lagi, siap tu abang keluar cari makanan!" balas bang Agus.
"Oke, tapi sekali aja ya Awas kalau minta lebih, aku pelintir nanti dedek nya itu!" jawab ku.
"Waduhhh, jangan gitu lah, say! Bisa loyo lah nanti dedek abang kalau di pelintir kayak gitu." oceh bang Agus.
"Biarin, biar gak minta jatah terus kerjaan nya." balas ku cuek.
"Iya iya, abang janji main nya sekali aja." balas bang Agus dengan senyum sumringah nya.
Setelah selesai membuat kesepakatan, bang Agus pun mulai melakukan kegiatan panas nya kembali. Dia tampak sangat bersemangat dan menikmati permainan nya sendiri.
Sedangkan aku, hanya diam tanpa membalas permainan nya. Aku sama sekali tidak fokus dan tidak bersemangat sedikit pun untuk melakukan kegiatan itu, akibat pengaruh pikiran yang sedang kacau balau tidak karuan.
Setelah merasa puas menikmati tubuh ku, bang Agus pun menyudahi aksinya. Dia mencapai puncak lebih cepat dari biasa nya.
"Tumben abang main nya cepat, biasa nya sampe satu jam lebih. Kok ini cuma setengah jam aja?" tanya ku heran.
"Abang kurang bergairah karena gak ada balasan dari mu, say." jawab bang Agus sedikit kecewa.
"Oh, gitu. Pikiran ku lagi kacau, bang. Maka nya aku gak fokus main nya tadi." balas ku.
"Ya udah gak papa, nanti kita ulangi lagi ya!" ujar bang Agus.
"Iya, tengok nanti lah kalau aku gak malas." balas ku.
Bang Agus hanya memanyunkan bibir tebal nya, saat mendengar jawaban ku yang tidak sesuai dengan keinginan nya.
"Udah, gak usah pake acara merajuk segala. Cepat cari makanan sana, perut ku udah lapar kali nih dari tadi!" ujar ku sambil mencubit pelan pipi nya.
__ADS_1
Bang Agus langsung tersenyum setelah mendapatkan cubitan-cubitan kecil di pipi nya.
"Oke bentar, abang pakai pakaian dulu." balas bang Agus.
Dengan gerakan yang sedikit tergesa-gesa, bang Agus pun memakai pakaian dan sepatu sport nya. Setelah selesai, bang Agus mengambil kunci motor di atas meja rias dan memakai helm nya sambil berkata...
"Mau beli makanan apa, say?" tanya bang Agus.
"Gado-gado sama jus wortel aja, bang. Cemilan nya martabak coklat kacang." jawab ku.
"Udah, itu aja ya? Gak mau beli yang lain lagi?" tanya bang Agus lagi.
"Ada, bang. Kalo nanti abang jumpa brondong ganteng di jalan, bawa kesini ya!" jawab ku asal.
"Untuk apa?" tanya bang Agus bingung sembari mengernyitkan dahi nya.
"Ya untuk nonton adegan ranjang kita lah." jawab ku.
"Hahaha, gila!" umpat bang Agus.
Bang Agus tertawa terpingkal-pingkal sambil memegangi perut nya. Dia tampak sangat terhibur dengan ocehan-ocehan receh ku barusan.
"Udah ah, kapan pergi nya kalau haha hihi terus dari tadi?" omel ku.
"Maka nya jangan ngomong yang aneh-aneh. Gimana abang gak haha hihi coba, kalau permintaan mu gak logika kayak gitu." balas bang Agus.
Setelah selesai mentertawai ku, bang Agus pun mulai melangkah keluar dari kamar untuk membeli makanan.
Aku tersenyum kecut menatap kepergian bang Agus yang sudah mulai menghilang dari pandangan ku.
Setelah bang Agus keluar dari kamar, aku melangkah mendekati tas ransel yang tergeletak di atas meja rias.
Aku segera mengambil ponsel dari dalam tas, dan melihat beberapa pesan dan panggilan tak terjawab dari bang Darma.
Aku memang sengaja mengecilkan suara dering ponsel ku, agar tidak menggangu kebersamaan ku dengan si botak tuyul.
"Kira-kira ada perlu apa ya, hantu satu ini ngubungi aku? Apa dia mau ngebahas masalah uang yang di minta nya tadi siang?"
"Atau dia mau ngomongin masalah pernikahan nya dengan benalu itu?" batin ku.
Aku terus saja menduga-duga sambil menatap layar ponsel yang ada di tangan ku. Sedang fokus memikirkan bang Darma, tiba-tiba orang yang sedang di pikirkan pun menghubungi ku kembali.
Ponsel ku bergetar-getar di dalam genggaman tangan ku. Aku terus memandangi nama "SUAMIKU" yang tertera di layar ponsel itu dengan tatapan nanar.
"Angkat gak ya?" batin ku bingung.
Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun menerima panggilan dari bang Darma.
"Ada apa?" tanya ku dengan nada ketus setelah menerima panggilan nya.
__ADS_1
"Jangan galak-galak gitu dong, sayang. Entar cantik nya hilang loh." goda bang Darma.
"Gak usah banyak bacot muncung mu itu. Cepat katakan, ada perlu apa lagi kau ngubungi aku?" tanya ku lagi.
"Mana uang yang abang minta tadi, dek? Udah ada belum?" tanya bang Darma balik.
"Ada nih di dalam tas ku. Jangan kan enam juta, lima puluh juta pun ada." bohong ku.
"Waaahh, banyak banget uang mu, dek. Bagi lah dikit buat modal abang nikah sama Dina!" pinta bang Darma.
"Hahahaha, jangan mimpi!" balas ku sambil tertawa terbahak-bahak.
"Tolong lah, dek! Abang sangat butuh bantuan mu sekali niiii aja. Nanti pasti abang balekkan kok kalau Abang udah kerja." ujar bang Darma.
Bang Darma terus saja memohon-mohon pada ku, agar aku memberikan pinjaman uang kepada nya untuk biaya pernikahan nya dengan Dina.
"Cuih, ingat ya suamiku sayang. Sampai mati pun aku tidak akan sudi memberikan sepeser pun uang ku untuk kalian." balas ku lantang.
"Ck, gak boleh gitu lah, dek! Sama suami sendiri gak boleh pelit-pelit gitu, dosa tau gak." oceh bang Darma.
"Gak bakalan dosa kalau pelit sama suami modelan kayak kau itu." balas ku.
"Siapa bilang gak dosa? Itu nama nya durhaka sama suami sendiri tau gak."
"Aku yang bilang, kenapa rupanya, hah?" tanya ku balik.
"Kau itu sekolah apa enggak sih dulu nya? Kok bodoh kali tentang pelajaran agama mengenai rumah tangga." cibir bang Darma.
"Aku gak sekolah, kenapa emang nya? Masalah buat loe?" balas ku.
"Oh, pantesan lah bodoh kali gitu." cibir bang Darma lagi.
"Ya, aku memang bodoh. Apa lagi semenjak menikah dengan mu, kebodohan ku semakin berlipat-lipat ganda jadi nya." balas ku ketus.
"Lagian kalau pun aku pintar dan sekolah tinggi, mana mungkin aku mau menikah dengan laki-laki level rendah seperti mu." lanjut ku.
"Aku pasti akan menikah dengan laki-laki yang berkelas dan bertitel. Bukan laki-laki kayak kau itu, udah lah pengangguran banyak tingkah pulak tu." cibir ku.
Aku terus saja menghina dan merendahkan harga diri bang Darma, agar dia tahu kalau aku bukan lah wanita yang gampang di tindas begitu saja oleh nya.
"Makin lama kok makin lantam gitu sih mulut mu itu, dek. Apa kau dulu nya gak pernah di ajari sopan santun sama orang tua mu, hah?" tanya bang Darma geram.
Mendengar nama orang tua ku di sebut-sebut, akhirnya emosi ku pun langsung naik sampai ke ubun-ubun.
"Jangan kau bawa-bawa orang tua ku di dalam masalah kita, DARMA!" pekik ku.
"Asal kau tau ya manusia luknut, aku akan bersikap sopan dengan orang-orang yang menghargai ku. Bukan dengan orang-orang yang gak tau diri seperti kalian bertiga itu." balas ku menutup percakapan.
Setelah mengucapkan kata-kata itu, aku pun langsung memutuskan panggilan secara sepihak.
__ADS_1
Aku tidak ingin semakin terpancing emosi, hanya karena mendengar ucapan yang tidak berguna dan tidak berbobot dari suami gila ku itu.
"Hufff, bikin tensi ku naik aja hantu gila satu ini." umpat ku sambil melemparkan ponsel ke atas ranjang.