SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Kekesalan Rendi


__ADS_3

Selesai memakai pakaian, aku dan Rendi bergegas berjalan keluar dari kamar menuju parkiran.


Sesampainya di dalam mobil, Rendi segera menjalankan kendaraan nya menuju salah satu rumah makan di sekitaran hotel.


"Kita cari rumah makan yang dekat sini aja ya, Yu!" ujar Rendi.


"Iya, terserah abang." balas ku.


Setelah mendengar jawaban ku, Rendi pun membelokkan mobil nya di depan rumah makan Padang sederhana.


"Ayo kita keluar, Yu!" seru Rendi sambil membuka sealbeat yang terpasang di dada nya.


"Oke," balas ku.


Aku dan Rendi keluar dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah makan dengan bergandengan tangan.


Setelah mendapatkan tempat duduk, sang pelayan pun datang menghampiri kami berdua.


"Mau pesan apa, bang?" tanya si pelayan kepada Rendi.


"Ayam bakar dua porsi sama teh hangat dua juga ya, mbak!" jawab Rendi.


"Oke siap di tunggu ya, bang!" ujar si pelayan.


"Oke," balas Rendi.


Setelah kepergian si pelayan, Rendi menoleh kepada ku yang sedang duduk anteng sambil bermain ponsel di sebelah nya.


"Lagi lihatin apa sih, Yu? Serius banget dari tadi." tanya Rendi penasaran sambil mencuri-curi pandang ke arah ponsel ku.


"Lagi lihat-lihat media sosial, bang." jawab ku.


"Oh, kirain lagi chattingan sama seseorang." sindir Rendi.


"Ciyeee, kayak nya ada yang lagi cemburu buta nih!" ledek ku.


Rendi tampak kesal karena mendengar ledekan ku barusan. Dia memanyunkan bibir nya dan memalingkan wajah nya ke samping.


"Gak lah, siapa juga yang cemburu.." balas Rendi dengan nada ketus.


"Yakin?" tanya ku.


Aku menoel-noel dagu Rendi sambil tersenyum miring melihat tingkah kekanak-kanakan nya itu.


"Enggak," jawab Rendi tanpa menoleh pada ku.

__ADS_1


Tawa ku pun langsung pecah, saat mendengar jawaban Rendi yang sangat lucu menurut ku.


"Hahaha, dasar gendeng!" umpat ku sambil tergelak.


Selesai menggoda lelaki ku itu, sang pelayan pun tiba sambil membawa makanan di kedua tangan nya.


Setelah semua makanan terhidang di atas meja, sang pelayan pun pamit untuk kembali melayani pelanggan lain nya.


"Silahkan di nikmati hidangan nya, kak, bang! Kalau butuh sesuatu, panggil saya aja ya!" ujar si pelayan.


"Oke makasih, mbak." jawab Rendi sambil menyunggingkan senyum manis nya.


Setelah pelayan rumah makan itu pergi, aku dan Rendi pun langsung memakan makanan itu dengan santai sambil berbincang-bincang kembali.


"Gimana kabar rumah tangga mu sekarang, Yu? Apakah masih baik-baik saja, atau malah semakin parah?" tanya Rendi sambil menyendok kan makanan ke dalam mulut nya.


"Ya begitu lah kira-kira." jawab ku lirih.


Hilang sudah selera makan ku, karena mengingat kembali kejadian sewaktu di rumah bang Darma tadi.


Rendi langsung menoleh sambil mengernyitkan dahi nya setelah mendengar jawaban ku barusan.


"Maksud nya?" tanya Rendi lagi.


"Nanti aja aku ceritakan di kamar." jawab ku sambil menyuapkan makanan ke dalam mulut ku.


Setelah percakapan berakhir, aku dan Rendi pun kembali melahap makanan masing-masing sampai habis. Tak butuh waktu lama, akhirnya acara makan bersama pun selesai.


"Mau langsung balek ke hotel, atau mau jalan-jalan dulu, Yu?" tanya Rendi.


"Balek ke hotel aja, bang." jawab ku.


"Oke, ayo kita bayar dulu makanan nya!" ujar Rendi.


"Ya," balas ku.


Rendi mulai bangkit dari tempat duduk nya lalu berjalan menuju meja kasir. Begitu juga dengan ku, aku beranjak dari kursi dan mengikuti langkah Rendi dari belakang.


Setelah membayar tagihan makanan, aku dan Rendi pun melangkah masuk ke dalam mobil dan kembali ke hotel tempat kami menginap.


Sampai di dalam kamar, aku mendudukkan diri di pinggir ranjang sambil menyalakan rokok.


"Coba ceritakan masalah yang sedang terjadi di dalam rumah tangga mu sekarang, Yu!" pinta Rendi sambil duduk di samping ku.


"Terlalu sakit untuk di ceritakan, bang." balas ku menunduk kan kepala.

__ADS_1


"Emang nya suami mu ada berbuat apa, hingga membuat mu sulit untuk menceritakan nya?" tanya Rendi semakin penasaran.


"Apakah dia berbuat kasar dengan mu, Yu?" tebak Rendi.


Aku menggeleng kan kepala, lalu menatap Rendi dengan mata yang sudah berembun. Melihat tatapan mata ku, Rendi pun langsung memelukku dan membelai rambut panjang ku.


"Ceritakan lah, sayang! Curahkan semua isi hati mu itu, agar kau bisa lebih tenang dan tidak tertekan seperti ini lagi." ujar Rendi.


Aku membalas pelukan Rendi dengan deraian air mata yang membasahi kedua pipi ku. Aku merasa sangat sedih dan terluka, atas perbuatan bang Darma yang semakin semena-mena terhadap ku.


"Gak ada, bang. Dia gak ada berbuat kasar dengan ku." jawab ku sambil melepaskan pelukan ku dari tubuh Rendi.


"Lah trus, apa yang membuat mu sampai sesedih ini?" tanya Rendi sembari mengusap air mata ku dengan jari tangan nya.


"Dia memang tidak melukai raga ku, tapi dia melukai hati dan perasaan ku." jawab ku.


"Melukai yang bagaimana maksud nya?" selidik Rendi.


Rendi terus saja menatap ku dengan serius. Dia tampak sangat khawatir melihat kondisi ku saat ini.


Setelah menghela nafas dalam-dalam, aku pun mulai menceritakan masalah rumah tangga ku itu kepada Rendi.


"Saat aku sedang berada di kamar sendirian, tiba-tiba suamiku datang bersama mantan istri nya."


"Dia menyuruh ku untuk keluar dari kamar, karena dia ingin memakai kamar itu untuk bercinta bersama mantan istri nya." jelas ku panjang lebar.


"HAH, masa sih, Yu!" pekik Rendi dengan mata yang terbelalak.


"Iya, bang. Itu lah kejadian yang aku alami tadi di rumah." jawab ku sambil menghisap rokok kembali.


"Lama-kelamaan sikap nya kok semakin gila gitu sih suami mu itu, Yu?" tanya Rendi geram.


"Entah lah, bang. Aku juga gak tau harus bagaimana lagi menghadapi kegilaan suami ku itu." jawab ku.


"Udah lah, akhiri aja hubungan kalian itu! Untuk apa lagi di pertahankan kalau cuma bikin sakit hati mu aja nanti nya." balas Rendi.


Aku hanya terdiam mendengar penuturan Rendi yang benar ada nya. Aku memang sedikit terluka akibat perbuatan bang Darma suami ku.


"Kamu itu masih muda, Yu. Perjalanan hidup mu itu masih panjang. Jangan sia-sia kan masa muda ini hanya untuk laki-laki yang tidak berperasaan seperti suami mu itu." tutur Rendi.


"Iya, bang. Nanti aku pikir-pikir dulu." jawab ku.


Rendi membuang nafas kasar setelah mendengar jawaban ku. Dia tampak kesal dan kecewa karena melihat ku masih tetap kekeuh, untuk mempertahankan rumah tangga yang sudah berantakan itu.


"Terserah kau aja lah, Yu. Kalau memang kau masih sanggup dan masih ingin terus di sakiti seperti ini, ya silahkan aja teruskan hidup bersama suami mu itu!"

__ADS_1


"Abang udah gak tau harus ngomong apa lagi, untuk menghadapi sikap keras kepala mu itu." ujar Rendi kesal.


__ADS_2