
Hari terus berganti, tiba lah waktu nya untuk mengambil uang bulanan, ke rumah bapak. Sebelum pergi kesana, hati ku sudah berdebar-debar tidak karuan. Aku takut buk Ayu akan marah, kalau dia tau tentang emas pemberian nya itu.
"Aku pakai hijab aja lah kesana, biar aman. Buk Ayu pasti gak bakalan tau, kalau aku tutupi pakai hijab."
Dengan perasaan was-was, aku pun memakai hijab, dan segera pergi ke rumah bapak. Sesampainya di depan teras rumah bapak, aku lupa kalau bapak belum pulang kerja, jam segini.
"Di dalam rumah, cuma ada buk Ayu saja. Kalau aku balik pulang lagi, buk Ayu pasti bakalan curiga, dengan gerak-gerik ku. Aku harus bagaimana sekarang?" batin ku mulai gelisah.
"Hufff, mudah-mudahan saja buk Ayu tidak marah, amin."
Gumam ku sambil melangkah masuk, ke dalam rumah bapak. Setelah mengucapkan salam, aku duduk di ruang tamu. Buk Ayu mengerutkan kening, melihat penampilan ku yang tidak biasa ini.
Ternyata benar dugaan ku, buk Ayu mulai curiga, dan menyuruh ku untuk membuka hijab ku. Awal nya, aku enggan untuk membuka nya.
Tapi, karena buk Ayu terus mendesak. Akhirnya, aku pun menurut dan membuka hijab pashmina, yang sedang aku pakai itu.
Dan, yang aku takutkan sedari tadi pun, akhirnya terjadi juga. Buk Ayu marah besar pada ku, karena melihat leher dan telinga ku kosong. Tidak ada lagi, perhiasan pemberian nya itu.
Buk Ayu, tampak sangat geram dan emosi. Dia mengatakan, tidak akan pernah lagi memberikan apa pun pada ku. Kecuali, uang bulanan ku saja. Aku hanya bisa tertunduk lemas, mendengar semua ucapan nya itu.
Aku hanya bisa pasrah, dan menerima dengan ikhlas. Semua keputusan dan ocehannya, yang cukup membuat ku tersinggung itu. Semua ini memang salah ku, yang tidak bisa menjaga amanah, dari ibu sambung ku.
Setelah menerima uang bulanan ku itu, aku langsung pamit kepada buk Ayu. Aku langsung pulang, ke rumah ibu ku. Sesampainya di rumah, ibu langsung menanyakan tentang apa tanggapan buk Ayu, setelah tau kalau emas pemberian nya itu, di jual tanpa izin.
Aku pun langsung menceritakan kepada ibu, tentang semua ucapan buk Ayu pada ku tadi. Setelah aku selesai bercerita, ternyata reaksi ibu sungguh di luar dugaan ku sebelum nya.
Aku pikir, ibu akan menerima dengan lapang dada, semua kata-kata dari buk Ayu. Karena,itu semua memang real kesalahan dari ibu sendiri.
__ADS_1
Ternyata, dugaan ku itu salah besar. Ibu sangat emosi, mendengar semua penjelasan ku barusan. Ibu tidak terima, dan tidak mau di salah kan atas perbuatan nya itu.
Hingga akhirnya, ibu mengajak ku untuk datang ke rumah bapak lagi. Sebenarnya, aku ingin menolak ajakan ibu itu. Tapi, ibu terus saja memaksa ku, untuk menemani nya ke rumah bapak.
Dengan sangat terpaksa, aku pun menurut dan menemani ibu, untuk melabrak buk Ayu. Sesampainya di rumah bapak, aku masuk duluan ke dalam rumah, dan bertemu dengan buk Ayu.
Beberapa menit kemudian, ibu datang dan langsung memaki-maki buk Ayu, dengan kata-kata yang sangat kasar, menurut ku.
Buk Ayu pun tak tinggal diam, dia melawan ibu dengan kata-kata yang lebih kasar lagi. Aku hanya duduk diam di ruang tamu, sambil melihat ibu kandung dan ibu tiri ku itu, sedang beradu mulut di depan pintu.
"Huh, ibu ku memang wanita yang egois, dan sangat keras kepala. Sudah jelas-jelas dia yang bersalah, malah gak terima pulak di salahin, heran!"
Aku menarik nafas dalam-dalam, melihat tingkah laku ibu ku, yang sedang melampiaskan amarahnya kepada buk Ayu.
Ketika ibu ingin berbuat kasar, tangan ibu langsung di cengkram oleh buk Ayu, dengan sangat kuat. Sampai-sampai, ibu meringis kesakitan.
Aku tidak tega, melihat wajah ibu yang sedang kesakitan itu. Dan akhirnya, aku pun ikut campur, dalam perdebatan mereka berdua. Aku memihak ibu, untuk melawan buk Ayu.
Tidak seperti ibu, yang mencak-mencak dan histeris, persis seperti orang yang sedang kesurupan. Seandainya saja, aku yang berada di posisi buk Ayu saat ini, mungkin aku sudah berbuat kasar kepada ibu.
Setelah capek mengoceh dan memaki-maki buk Ayu, selama kurang lebih satu jam. Akhirnya, ibu mengajak ku untuk pulang ke rumah.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga perang dunia nya." batin ku lega.
Ibu menarik tangan ku, untuk keluar dari rumah bapak. Aku pun menurut dan membawa ibu kembali, pulang ke rumah kontrakan kami.
Sampai di rumah, ibu langsung mengambil air minum dari dispenser. Beliau meneguk air putih itu dengan cepat, sampai tandas satu gelas besar.
__ADS_1
Aku memperhatikan gerak-gerik ibu, yang sedang kehausan itu. Seperti, habis lari maraton di gurun pasir Sahara, hihihi.
Setelah itu, ibu langsung duduk melantai sambil selonjoran, dan menyandarkan punggung nya di dinding. Nafas nya masih terlihat ngos-ngosan, aku sampai kasihan melihat keadaan ibu ku itu.
Aku mulai mendekati ibu, dan memijat-mijat pelan kaki nya. Agar ibu bisa lebih rileks dan nyaman, pikir ku.
"Capek ya, mak?" tanya ku basa-basi.
"Gak lah, masa gitu aja capek!" jawab ibu ketus.
"Tenaga mu kemana gak ada sih, Yun? Mijat kaki aja kok, gak terasa apa-apa!" protes ibu.
"Masa gak terasa sih, mak? Padahal, Yuni udah pakai tenaga dalam loh ini."
Balas ku sambil terus memijat-mijat, dengan sekuat tenaga. Sedang asyik memijat, tiba-tiba ibu menyuruh ku melakukan hal yang lebih gila, dari sebelumnya.
"Yun, kau berani gak minjam motor bapak mu? Motor mereka kan ada dua tuh, Yun!" ucap ibu.
Aku langsung terperangah, mendengar permintaan ibu, yang tidak masuk akal itu. Mana mungkin, aku senekat itu kepada bapak. Lagian, kasian juga bapak kalau sampai motor nya di jual lagi, oleh mamak.
"Ya Allah, mamak ini kok gak ada kapok-kapok nya sih." batin ku.
Aku hanya diam, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Aku pura-pura tidak mendengar, ucapan ibu tadi. Aku terus saja fokus, memijat kaki ibu sambil menunduk kan kepala.
"Yun, kau itu budek atau gimana sih! Mamak lagi ngomong, bukan nya di dengerin, malah di cuekin." bentak ibu.
Aku langsung tersentak kaget, mendengar pekikan ibu yang melengking itu.
__ADS_1
"Iya, mak. Yuni dengerin kok dari tadi. Emang nya, buat apa meminjam motor bapak, mak?" tanya ku penasaran.
"Ada lah pokok nya, kau gak boleh tau!" Jawab ibu sambil tersenyum aneh pada ku.