SELINGKUH LIMA LANGKAH

SELINGKUH LIMA LANGKAH
Menolak


__ADS_3

Setelah kepergian Dina, aku melangkah masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi aku kembali masuk ke dalam kamar, lalu memakai pakaian dan sedikit berdandan.


"Kira-kira bang Darma kemana ya? Apa mungkin dia lagi bersama Yuni sekarang?" gumam ku.


"Ah, biarin aja lah. Udah malas ngurusin hal yang gak penting kayak dia itu." lanjut ku.


Aku mendudukkan diri di tepi ranjang dan mulai mengotak-atik ponsel. Sedang asyik bermedia sosial, tiba-tiba ponsel yang ada di tangan ku itu pun berdering tanda panggilan masuk.


"Halaaah, botak tuyul maneh."


Gumam ku sembari memutar bola mata malas, melihat nama yang tertera di layar ponsel. Dengan sedikit terpaksa, aku pun menerima panggilan dari bang Agus, selingkuhan lima langkah ku itu.


"Ya halo, ada apa?" tanya ku ketus.


"Assalamualaikum, say." salam bang Agus.


"Wa'laikum salam, ada perlu apa?" tanya ku lagi.


"Bah, jangan galak-galak gitu lah, say! Ntar cepat tua loh." canda bang Agus.


"Udah, gak usah bertele-tele ngomong nya. Cepat katakan, ada perlu apa?" tanya ku masih dengan nada ketus.


"Ck, marah-marah aja pun kerjaan nya kekasih ku ini. Orang mau romantis-romantisan dikit pun gak bisa." gerutu bang Agus.


"Gak usah banyak bacot, botaaaakkk! Cepat ngomong, ada perlu apa nelpon-nelpon aku?" tanya ku lagi dengan nada tinggi.


"Iya iya, sabar dikit kenapa sih! Emosian terus tiap hari." oceh bang Agus.


"Kalo gak ngomong-ngomong juga, aku matiin nih ponsel nya." ancam ku kesal.


"Oke oke, abang ngomong nih. Tadi abang gak sengaja lihat suami mu masuk ke dalam hotel, tempat kita nginap semalam." tutur bang Agus.


"Hah, serius?" pekik ku.


"Iya serius, say. Tapi dia sendirian aja masuk nya, gak ada bawa cewek." jelas bang Agus.


"Halah, gak mungkin dia check in di hotel sendirian. Palingan cewek nya udah nungguin di kamar." balas ku.


"Bisa jadi, say." ujar bang Agus.


"Aku yakin, pasti dia lagi sama anak gatal nya itu disana." lanjut ku.

__ADS_1


"Hah, masa sih? Kok dirimu bisa seyakin itu?" tanya bang Agus penasaran.


"Ya iya lah, tadi kan babon nya baru dari sini nyariin suamiku. Dia bilang anak nya kabur dari rumah." jawab ku.


"Oalah, pantesan aja dia masuk nya sendirian tadi. Mungkin mereka udah janjian duluan, trus biar gak terlalu mencolok, mereka masuk nya sendiri-sendiri." tutur bang Agus.


"Yupz, betul sekali." balas ku.


"Trus sekarang gimana, say? Apa dirimu gak mau memergoki mereka berdua?" tanya bang Agus.


"Buat apa, buang-buang tenaga aja? Percuma aja di pergoki, mereka gak bakalan kapok-kapok juga." jawab ku santai.


"Emang dirimu gak cemburu ya?" selidik bang Agus.


"Enggak, aku udah mati rasa sama dia. Biarin aja dia berbuat semau nya. Aku udah gak perduli lagi." jawab ku.


"Oh, bagus lah kalo gitu. Berarti dirimu udah gak cinta lagi sama dia, ya kan?" lanjut bang Agus.


"Iya, aku udah capek ngurusin manusia-manusia gak tau diri kayak mereka. Dari pada bikin pusing kepala ku, mendingan aku masa bodo aja." tutur ku.


"Iya, bener juga sih." balas bang Agus.


Aku dan bang Agus terdiam sejenak, kami berdua sibuk dengan isi kepala masing-masing. Tak lama kemudian, bang Agus pun kembali membuka suara nya.


"Ogah, ah. Aku lagi malas kemana-mana. Aku mau istirahat di rumah aja, mau nenangin otak dulu." tolak ku.


"Yaaaahh, kok gitu sih, say? Ayo lah, mumpung suami mu gak ada di rumah, pliiiiss!" rengek bang Agus.


"Kalo aku bilang enggak, ya enggak. Budeg ya kuping nya!" balas ku kesal.


"Iiiisss, kejam kali pun. Masa sama kekasih sendiri tega gitu sih? Gak kasihan apa sama abang?" lanjut bang Agus.


"Enggak," balas ku cuek.


"Jangan gitu lah, say! Abang kan masih..."


Sebelum bang Agus melanjutkan kata-katanya, aku langsung memotong nya dengan cepat.


"Udah ah, aku ngantuk mau tidur dulu, bye." bohong ku sembari memutuskan panggilan sepihak.


Setelah panggilan berakhir, aku mengambil bungkus rokok di atas meja lalu menyalakan nya.

__ADS_1


Dengan pandangan kosong menerawang, aku memikirkan bagaimana cara memberikan pelajaran kepada bang Darma dan Yuni, tanpa harus turun tangan sendiri.


"Apa aku kasih tau Dina aja ya, dimana keberadaan dua manusia luknut itu sekarang? Biar Dina aja yang menghajar mereka berdua." gumam ku.


Setelah beberapa saat berpikir keras, akhirnya aku pun memutuskan untuk menghubungi Dina, dan mengatakan tentang keberadaan anak gatal nya tersebut.


Dengan tekad yang sudah bulat seperti bola kaki, aku pun segera mencari nomor kontak Dina lalu menghubungi nya.


Tut tut tut...


"Ada apa lagi kau ngubungi aku, hah?" pekik Dina dengan suara cempreng nya.


Dina langsung marah-marah saat menerima panggilan dari ku. Dia seperti nya masih sangat kesal dengan ku, akibat pertengkaran kami tadi.


"Heh, hantu! Gak usah ngomel-ngomel dulu muncung mu itu. Aku cuma mau ngasih tau, dimana keberadaan anak gatal mu itu sekarang." balas ku santai.


"Helehh, alasan." cibir Dina.


"Beneran, aku gak bohong. Kau mau tau gak, dimana anak mu sekarang?" tanya ku.


Dina terdiam seketika, seperti nya dia sedang memikirkan ucapan ku barusan. Setelah beberapa saat hening, Dina pun kembali berceloteh dengan suara lantang nya.


"Ya udah, cepat katakan! Dimana mereka sekarang?" desak Dina.


"Di hotel XX. Kalau nomor kamar nya sih aku gak tau, tapi yang pasti nya mereka lagi check in di sana sekarang." jawab ku.


"Hah, mereka? Mereka siapa maksud mu?" pekik Dina.


"Anak mu dan suamiku." jawab ku.


"APA? Jangan sembarangan ngomong kau perempuan gila. Mana mungkin anak ku berani nginap di hotel sama laki-laki luknut itu." umpat Dina penuh emosi.


"Kalau kau gak percaya, coba aja kau pantau hotel itu. Biar kau lihat sendiri, dengan mata kepala mu itu." balas ku ketus.


"Oke, aku akan intai kesana. Awas aja kalau kau bohong, aku akan bikin perhitungan dengan mu!" ancam Dina.


"Ya ya ya, terserah kau aja. Mau bikin perhitungan kek, perkalian kek, pertambahan kek, bodo amat." cibir ku.


"Dasar, perempuan sedeng!" umpat Dina memutuskan panggilan ku.


"Hahaha, Dina...Dina...Semoga saja kau kuat melihat kenyataan pahit itu nanti." gelak ku sembari menatap panggilan yang sudah terputus di layar ponsel ku.

__ADS_1


Aku meletakkan ponsel kembali ke atas meja, lalu menghisap rokok yang ada di tangan ku dengan senyum yang mengembang di bibir ku.


"Rasakan lah pembalasan ku itu benalu-benalu gila, hahaha!" gumam ku sembari tertawa ngakak sendirian di dalam kamar.


__ADS_2