
Sekitar kurang lebih satu jam, melakukan kegiatan panas bersama bang Agus. Akhirnya, kami berdua pun tumbang. Dengan nafas yang tidak karuan di atas ranjang.
"Capek ya, say?" tanya bang Agus.
"Gak lah, siapa juga yang capek. Kegiatan enak gini kok di bilang capek." balas ku.
"Hahaha, udah makin pintar sekarang ngomong nya ya, say!" ucap bang Agus.
"Ya iya lah, Ayu gitu loh." jawab ku asal.
Bang Agus langsung menoleh pada ku. Dan akhirnya, kami berdua pun tertawa berjamaah.
"Hahaha,"
"Mandi yok, say!" ajak bang Agus.
"Yok, badan ku pun udah lengket banget nih, rasa nya." jawab ku.
Aku dan bang Agus beranjak dari ranjang, dan berjalan menuju kamar mandi.
"Mau mandi pakai air hangat atau air dingin, say?"
"Air dingin aja, bang! Biar seger badan ku." jawab ku.
"Oke, say."
Bang Agus pun mulai menghidupkan air dari shower, dan menyetel suhu nya menjadi dingin. Setelah selesai, dia mengajak ku untuk mandi bersama dengan nya.
"Sini, say! Kita mandi nya barengan aja."
"Iya, bang."
Aku yang sedari tadi berdiri di depan pintu pun, langsung mendekat ke tempat bang Agus berdiri. setelah sampai, bang Agus langsung memeluk tubuh ku, di bawah guyuran shower yang sedang mengalir deras.
"Kalau kita main disini, enak kayak nya, say!"
"Lakukan lah, bang! Aku akan selalu siap menerima pemberian mu itu." balas ku.
Bang Agus berbisik manja di telinga ku. Dia membalikkan tubuh ku, untuk membelakangi nya. Lalu, bang Agus pun kembali melancarkan aksinya. Dia kembali menggerayangi tubuh ku dari belakang.
Dengan keadaan yang basah kuyup, kami berdua pun kembali melakukan permainan, di bawah guyuran shower tersebut.
Seperti layak nya pengantin baru, yang sedang di mabuk cinta. Permainan itu pun terjadi lagi, lagi dan lagi. Tanpa kenal lelah sedikit pun.
Kegiatan mandi yang seharusnya, hanya memakan waktu sekitar lima atau sepuluh menit, kini menjadi satu jam lebih. Akibat ulah si botak tuyul.
Setelah permainan berakhir, aku dan bang Agus segera melanjut kan acara mandi, yang sempat tertunda tadi.
"Beli nasi padang sana, bang! Perut ku udah lapar banget, nih."
Aku meminta bang Agus, untuk membeli nasi bungkus di luar hotel. Mendengar ucapan ku, bang Agus pun bergegas memakai pakaian dan sepatu nya.
"Mau pakai lauk apa, say?" tanya bang Agus sambil mengikat tali sepatu sport nya.
"Pakai rendang daging, ayam goreng, telor dadar, ayam bakar, ikan bak..."
"Stop!"
Mulut ku langsung berhenti berucap, karena mendengar suara bang Agus.
"Diri mu itu mau makan, atau mau jualan sih, say?" tanya bang Agus heran.
"Mulut ku kebablasan, bang. Lupa nge rem tadi, hihihi!"
Aku terkikik melihat raut wajah bang Agus, yang imut-imut seperti marmut, kalau sedang terbengong begitu.
"Di tanya in bener-bener, kok malah bercanda terus kerjaan nya."
Bang Agus menggerutu, dan mencubit pelan hidung ku. Aku pun langsung berpura-pura menjerit kesakitan, akibat ulah nya itu.
"Adoooh! Sakit, bang." rengek ku.
Bang Agus langsung terlonjak kaget, mendengar suara jeritan ku yang cukup nyaring itu. Dia pun langsung beristighfar, sambil mengelus dada nya.
"Astaghfirullah! Kaget abang, say. Masa di sentuh gitu aja, menjerit nya udah kayak orang lagi kesurupan." balas bang Agus.
Aku langsung nyengir kuda, melihat bang Agus yang tampak begitu terkejut, karena tingkah ku barusan.
__ADS_1
"Halah, masa dengar suara gitu aja, kaget nya kayak sedang lihat roh halus aja." jawab ku asal.
Bang Agus menggeleng-gelengkan kepala nya, mengahadapi segala macam tingkah konyol ku itu.
"Ya udah, gak usah di bahas lagi!" balas bang Agus.
"Jadi, makan nya mau pakai lauk apa, sayang kuu?" lanjut bang Agus.
"Pakai rendang daging aja, bang!"
"Oke, masih ada lagi yang mau di beli gak?" tanya bang Agus sambil memakai helm, dan berdiri tepat di depan ku.
"Gak ada, bang. Itu aja udah cukup!" balas ku.
"Oke lah kalo gitu, abang berangkat sekarang, ya. Jangan nakal-nakal ya, sewaktu abang keluar!"
"Iya, bawel."
Selesai memberikan peringatan pada ku, bang Agus pun mulai melangkah keluar dari kamar, dan mengunci pintu dari luar. Setelah kepergian bang Agus, aku segera memakai celana short pendek dan baju tanktop.
Setelah itu, aku memoles sedikit wajah ku dengan bedak padat dan lipstik. Lalu, aku juga menyemprot parfum ke seluruh tubuh ku.
"Naaah, kalau udah cantik, seksi dan wangi gini kan enak. Kalau di pandang sama bang Agus nanti." gumam ku.
"Gak kayak tadi. Udah lah kucel, acak-acakan pulak." lanjut ku.
Aku terus saja ngedumel sendiri di depan kaca rias, sambil memutar-mutar kan tubuh ku ke kanan dan ke kiri. Aku memperhatikan bentuk dan lekuk tubuh ku, yang masih terlihat seksi dan padat berisi.
Tak lama berselang, bang Agus pun muncul dari balik pintu. Setelah mengunci pintu kembali, bang Agus segera meletakkan semua bungkusan makanan, yang di bawa nya itu ke atas meja.
Setelah itu, bang Agus langsung mendekap tubuh ku dari belakang. Aku yang sedang fokus melihat ke arah kaca pun, langsung terperanjat saking kaget nya.
"Ya ampun, bang! Bikin jantungan aja." ucap ku.
"Cantik banget sih, say. Bikin abang gak tahan aja, ingin terus mencium aroma tubuh mu, yang wangi dan menggairahkan ini." ucap bang Agus.
"Iya, cium sih boleh aja. Tapi, sepatu dan helm nya itu di lepas dulu dong, bang!" balas ku.
"Hehehe, sampe lupa abang, say!" jawab bang Agus salah tingkah.
Setelah membuka helm dan sepatu nya, bang Agus juga membuka seluruh pakaiannya, tanpa terkecuali. Mata ku langsung terbelalak lebar, melihat ulah nya yang aneh menurut ku.
"Gak papa, say. Biar nanti abang gak susah-susah lagi membuka nya. Selesai makan, kita langsung tempur aja!"
Bang Agus menjawab, sambil melilitkan handuk di pinggang nya. Setelah itu, dia langsung duduk, dan membuka satu persatu bungkusan yang berada di atas meja.
Aku masih berdiam diri di depan kaca rias, sambil memperhatikan tingkah kekasih gelap ku itu.
Setelah semua makanan terhidang di meja, bang Agus pun menoleh pada ku. Dia mengajak ku untuk duduk di hadapan nya, sambil melambaikan tangan nya ke arah ku.
"Sini duduk, say! Ngapain masih bengong disitu, ayok kita makan sekarang! Tadi kata nya udah lapar berat." ucap bang Agus.
"Iya, bang."
Aku segera melangkah menuju kursi, dan duduk berhadapan dengan bang Agus. Setelah melihat aku, sudah ada di depan mata nya. Bang Agus pun langsung meletakkan makanan itu, tepat di depan ku.
"Di habisin makanan nya ya, say! Malam ini, kita akan olahraga sampai pagi."
"Jadi, harus banyak-banyak stok tenaga. Biar gak capek, saat bertempur nanti!" jelas bang Agus.
Aku hanya tersenyum, menanggapi celotehan bang Agus.
"Ayo kita mulai makan nya, say!" ajak bang Agus.
"Iya, bang."
Setelah melewati banyak drama. Akhirnya, kami berdua pun mulai memakan makanan itu, dengan santai dan tenang. Tanpa percakapan apa pun lagi.
Selesai makan, aku dan bang Agus pun menyalakan rokok masing-masing. Sambil menghisap rokok, aku pun mulai membuka suara lagi.
"Besok, jam berapa kita check out nya, bang?" tanya ku.
"Jam 12 siang, say."
"Jangan jam 12 lah, bang! Kalau bisa, sebelum bang Darma pulang makan siang, aku sudah harus ada di rumah." balas ku.
"Oh, gitu. Jadi, mau nya jam berapa kita pulang?" tanya bang Agus balik.
__ADS_1
"Jam 9 aja ya, bang. Biar aku bisa masak, buat makan siang bang Darma."
Setelah berpikir sejenak. Akhir nya, bang Agus pun menyetujui permintaan ku.
"Oke, say. Besok, jam 9 kita keluar dari sini!"
Selesai merokok, bang Agus mulai mendekati ku lagi. Dia membungkuk kan tubuh nya, dan menatap mata ku dengan tatapan yang sulit di artikan.
"Ini tuyul mau ngapain lagi, sih? Bikin jantung ku dag-dig-dug gak karuan aja." batin ku.
Aku langsung membuang muka ke samping, dan mendorong pelan badan bang Agus, agar sedikit menjauh dari hadapan ku.
"Kita mulai sekarang yok, say! Abang udah siap tempur lagi nih."
Aku langsung reflek menoleh pada bang Agus, yang masih di posisi yang sama, seperti tadi. Setelah melihat tatapan mata bang Agus, yang semakin lama semakin sayu, aku pun hanya tersenyum sebagai jawaban.
Tanpa basa-basi lagi, bang Agus pun langsung mengangkat tubuh ku dari atas kursi, menuju ranjang. Dia meletakkan tubuh ku perlahan, sambil mencium bibir ku.
"Kita mulai ya, sayang!" ucap bang Agus.
Aku hanya membalas dengan anggukan kepala, sambil tersipu malu di hadapan bang Agus. Setelah melihat anggukan ku, bang Agus pun memulai kegiatan panas nya lagi.
Dia kembali membuat ku merem melek, dan menjerit-jerit tidak karuan, akibat perbuatannya itu.
"Kau memang lelaki hebat dan perkasa, sayang. Aku sangat bahagia, merasakan kenikmatan yang sangat luar biasa ini."
Tanpa sadar, aku mengucapkan kata-kata itu, dengan mata yang masih terpejam. Dan tangan yang menggenggam erat bantal, yang ada di bawah kepala ku.
Bang Agus yang sedang asyik menggempur pun, langsung menjawab tanpa menghentikan aksinya itu.
"Serius, say? Jangan menggoda gitu, ah! Nanti, abang ge er sendiri jadi nya."
"Iya, bang. Aku serius, dirimu memang lelaki kuat, hebat dan perkasa di ranjang. Aku sangat menyukai itu, karena kita mempunyai hasrat yang sama." jawab ku.
"Ah, sayangku Ayu lestari. Kau memang segala nya bagi ku. Untuk hari ini, esok, dan selama nya." balas bang Agus
Aku dan bang Agus terus saja tanya jawab, saat kegiatan itu sedang berlangsung. Sehingga membuat aksinya itu, semakin lama selesai nya.
Setelah melayaniku selama beberapa jam, bang Agus pun menyelesaikan tugas nya. Dia menindih tubuh ku dengan keringat, yang membasahi tubuh nya.
"Kita bersih kan dulu yok, bang! Habis tu, kita langsung bobok."
Bang Agus mengangguk dan beranjak dari atas tubuh ku. Begitu juga dengan ku. Aku mengikuti langkah nya dari belakang, tanpa memakai handuk atau apa pun di tubuh ku.
Selesai membersihkan bagian bawah, kami berdua pun kembali berjalan menuju ranjang, dan merebahkan diri masing-masing.
Bang Agus memeluk tubuh ku dan mulai memejamkan mata nya. Aku juga sama seperti bang Agus. Mulai menutup mata dan memegangi tangan nya ,yang berada di atas perut ku.
Tak butuh waktu lama, akhirnya kami berdua pun tertidur lelap. Tanpa sehelai benang pun, di bawah selimut.
Waktu terus berjalan, dan tanpa terasa, pagi pun menjelang. Aku mulai membuka mata perlahan, dan meraih ponsel yang terletak di atas nakas.
"Hah, udah hampir jam 9, hoam!"
Mata ku langsung membulat, melihat jam yang ada di layar ponsel ku itu. Aku langsung duduk dan kembali menguap. Kemudian, mengucek-ngucek mata, yang masih terasa sangat berat.
"Bangun, bang! Ayo kita pulang, udah jam 9 nih!"
Aku mengguncang pelan bahu bang Agus. Setelah membuka mata nya, bang Agus menggeliat dan duduk di hadapan ku.
"Kita mau langsung pulang ya, say? Apa kita gak bisa main sekali?" tanya bang Agus dengan suara serak, dan muka bantal nya.
"Lain kali aja kita kesini lagi, bang. Sekarang kita pulang aja dulu, biar aku bisa masak setelah pulang dari sini nanti!" jawab ku.
"Oh, ya udah deh kalo gitu." balas bang Agus.
Setelah menutup percakapan, aku dan bang Agus pun membersihkan diri masing-masing, di kamar mandi. Lalu, kami pun bergegas memakai pakaian, dan merapikan barang milik masing-masing.
Selesai merapikan sedikit, kamar hotel yang kami tiduri itu. Aku dan bang Agus pun berjalan keluar menuju lantai satu.
Setelah tiba di meja resepsionis, bang Agus langsung menyerahkan kunci kamar itu, kepada petugas resepsionis hotel tersebut.
Sesampainya di parkiran motor, bang Agus menyerahkan helm pada ku. Aku pun langsung memakai nya, dan naik ke atas motor bang Agus.
"Mau di antar kemana, say?" tanya bang Agus, sambil melajukan motor nya perlahan.
"Ke rumah sepupuku aja, bang! Motor ku ada di sana, soal nya." balas ku.
__ADS_1
"Oke, say."
Setelah mendengar jawaban ku, bang Agus pun langsung tancap gas. Menuju ke rumah sepupu ku, yang berjarak sekitar kurang lebih 15 menit dari hotel, tempat kami menginap semalam.