
Kembali ke kediaman Darma. Setelah tertidur selama beberapa jam, Darma pun terbangun dengan sendiri nya. Dia melirik ke arah jam dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore.
"Loh, udah sore gini kok belum balek-balek juga dia. Kemana ya kira-kira ngeluyur nya istri nakal ku ini?" gumam Darma.
Karena Ayu tidak kunjung pulang ke rumah, akhirnya Darma pun memutuskan untuk menghubungi Ayu untuk menanyakan tentang keberadaan nya.
Dan yang paling utama adalah, menanyakan tentang uang yang akan di pinjam nya dengan Ayu. Setelah selesai menghubungi Ayu, Darma merasa sangat kecewa karena Ayu menolak mentah-mentah permintaan nya.
Ayu tidak mau memberikan sepeser pun uang nya kepada Darma, dan itu membuat Darma sangat kecewa dan frustasi. Dia bingung harus mencari kemana uang biaya pernikahan nya dengan Dina.
"Kurang ajar, berani sekali dia menolak keinginan ku. Awas aja nanti kalau ketemu, aku akan kasih pelajaran berharga dengan nya, biar dia tau cara menghargai suami." gerutu Darma geram.
Darma terus saja berusaha untuk menghubungi ponsel Ayu, tapi lagi-lagi Darma harus menerima kenyataan pahit, karena Ayu sama sekali tidak menghiraukan panggilan dari nya.
"Aaagghhh, dasar istri gak tau diri. Udah untung aku masih mau mengizinkan dia tinggal di rumah ini. Kalau tidak, dia pasti udah jadi gembel di jalanan sana." umpat Darma kesal.
Setelah puas mengumpat dan memaki-maki Ayu, Darma pun beranjak dari ranjang dan membersihkan diri nya di kamar mandi.
Setelah selesai, Darma langsung bergegas memakai pakaian dan segera pergi dari rumah nya dengan menggunakan ojek pangkalan. Dia kembali ke rumah Dina dengan wajah murung dan hati yang sedikit was-was.
Sesampainya di depan rumah Dina, Darma pun segera turun dari motor dan langsung membayar ongkos ojek nya.
Setelah tukang ojek itu pergi, Darma pun melangkah dengan gerakan malas ke depan pintu, lalu mengetuk nya sambil mengucapkan salam.
Tok tok tok...
"Assalamualaikum," salam Darma dengan suara pelan.
Tak lama kemudian, terdengar suara Dina menyahut dan membukakan pintu untuk Darma.
"Wa'laikum salam, ya sebentar!" pekik Dina.
Setelah pintu terbuka, Dina pun langsung terpaku saat melihat wajah murung Darma. Tanpa di persilahkan masuk oleh Dina, Darma pun langsung nyelonong masuk ke dalam rumah mantan istri nya itu.
Dina yang sedari tadi mematung di depan pintu pun langsung mengekori langkah Darma dan duduk di depan nya.
"Muka mu kenapa murung gitu, Dar?" tanya Dina penasaran.
"Aku gagal membujuk Ayu untuk meminjam uang nya." jawab Darma.
"Ck, kenapa bisa gagal sih? Tadi kan udah ku bilang rampas paksa aja! Ngapain mesti di bujuk-bujuk segala sih, bikin emosi aja." gerutu Dina.
Dina merasa sangat kesal sekaligus cemburu, karena Darma tidak bertindak tegas kepada istri nya. Darma tidak mau mengikuti saran yang sudah di berikan nya tadi kepada Darma.
"Gimana mau di rampas paksa? Orang nya aja gak ada di rumah dari tadi." balas Darma.
"Loh, emang nya dia kemana?" tanya Dina sambil mengernyitkan dahi nya.
"Entah, kalau aku tau dia ada dimana, pasti udah aku datangi lah." jawab Darma.
__ADS_1
"Aku tau dia ada dimana, pasti dia lagi bersenang-senang dengan para selingkuhan nya di hotel." tebak Dina sembari tersenyum miring.
Dina sengaja mengucapkan kata-kata itu untuk memanas-manasi Darma, agar Darma semakin membenci Ayu dan segera menceraikan istrinya.
"Kalau kau gak percaya, coba aja kau video call dia! Pasti dia gak bakalan mau menerima panggilan mu itu." lanjut Dina.
Dina merasa sangat senang saat melihat raut wajah Darma yang tampak memerah, karena menahan emosi setelah mendengar ucapan nya.
"Mampus kau perempuan gila! Darma pasti akan semakin benci dengan mu, hahaha." batin Dina girang.
Dina mengumpat Ayu dalam hati. Dia sangat berharap agar Darma secepatnya berpisah dengan Ayu. Agar dia bisa memiliki Darma seutuh nya, tanpa harus berbagi dengan Ayu lagi.
Karena merasa penasaran, Darma pun menuruti saran Dina untuk menghubungi Ayu melalui video call. Darma ingin membuktikan ucapan Dina benar atau tidak.
Dengan hati yang berdebar-debar, Darma segera mengambil ponsel dari dalam saku celana nya. Kemudian dia pun langsung menghubungi Ayu.
Dan ternyata ucapan Dina benar ada nya. Ayu sama sekali tidak mau menerima panggilan nya. Bahkan Ayu langsung menonaktifkan ponsel nya, agar Darma tidak terus mengganggu ketenangan nya.
"Nah, bener kan dugaan ku tadi. Dia pasti gak akan mau menerima panggilan video call dari mu." tutur Dina.
"Iya, bener." balas Darma lirih.
Darma meletakkan ponsel nya begitu saja di atas meja yang ada di depan nya. Dia sangat kecewa karena Ayu tidak mengangkat panggilan nya.
Melihat ekspresi wajah Darma yang di tekuk lesu, Dina pun kembali mengeluarkan kata-kata berbisa nya untuk terus mempengaruhi Darma.
"Udah, ceraikan aja lah istri mu itu! Untuk apa lagi sih di pertahankan perempuan gila kayak dia itu. Udah lah jelek, tukang selingkuh pulak tu." ujar Dina.
"Aku masih mencintai nya, Din. Biar bagaimana pun tingkah nya di belakang ku, aku masih tetap mencintai nya." jawab Darma.
"Tadi kan udah aku bilang sama mu, aku gak akan menceraikan nya sampai kapan pun." lanjut Darma lagi.
Raut wajah Dina langsung berubah masam, ketika mendengar penuturan Darma yang sangat menyakitkan bagi nya.
Darma terang-terangan menyatakan perasaan nya kepada Ayu, tanpa memperdulikan Dina yang sangat kecewa dan kesal, saat mendengar kata-kata yang di ucapkan nya.
Setelah beberapa saat saling berdiam diri, akhirnya Darma pun kembali membuka suara nya.
"Di dalam kamar mu ada Yuni gak?" tanya Darma.
"Gak ada, Yuni lagi keluar sama teman-teman nya. Emang nya kenapa?" tanya Dina balik.
"Kebetulan lah kalo gitu, ayo kita masuk ke kamar! Aku mau memakan mu lagi." ajak Darma.
"Oke, dengan senang hati aku akan melayani mu." balas Dina dengan wajah berbinar-binar.
Darma langsung beranjak dari tempat duduk nya, lalu menarik tangan Dina untuk masuk ke dalam kamar.
Sampai di dalam, Darma segera mengunci pintu dan mulai membuka seluruh pakaian yang melekat di tubuh nya.
__ADS_1
Begitu juga dengan Dina, dia membuka semua pakaian nya sampai polos tak bersisa sehelai benang pun. Setelah mereka berdua sama-sama polos, Darma pun langsung melancarkan serangan nya.
Darma kembali melakukan kegiatan panas nya kepada Dina dengan lincah dan gesit. Darma tampak sangat menikmati permainan nya di atas tubuh Dina.
Karena saking asyik nya bergumul di atas ranjang, hingga mereka tidak menyadari bahwa Yuni sedang mengintip adegan ranjang mereka dari lubang kunci pintu kamar.
Yuni masuk ke dalam rumah tanpa sepengetahuan Darma dan Dina. Saat mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar Dina, Yuni pun menjadi penasaran dan langsung menempel kan mata nya di lubang pintu.
"Waaahh, ternyata bapak hebat juga main nya. Pasti mamak puas banget tuh, maka nya sampe teriak-teriak gitu." batin Yuni.
"Kira-kira kalau aku di gituin enak gak ya?" lanjut Yuni.
"Wow, ternyata punya bapak besar juga rupa nya. Pantesan aja mamak ketagihan terus main sama bapak."
"Hmmmm, jadi pengen."
Yuni terus saja membatin dalam hati sambil mengintip kegiatan panas Darma dan Dina.
Karena terlalu asyik dengan tontonan nya, tanpa sadar Yuni pun memasukkan tangan nya ke dalam celana nya, dan mulai mengelus-elus area pribadi nya sendiri.
Yuni tampak sangat menikmati saat melihat aksi Darma dan Dina. Hingga akhirnya, Yuni pun mulai mengeluarkan suara yang sama, seperti yang keluar dari bibir Dina saat bermain dengan Darma.
Tak lama kemudian, Darma pun menyelesaikan permainan nya dan langsung ambruk di atas tubuh Dina.
"Yaaaahh, kok udah selesai sih. Padahal aku masih ingin melihat nya." batin Yuni kecewa.
"Nanti malam kalau mereka main lagi, aku intip lagi ah. Ternyata lebih enak nonton secara langsung gini, dari pada nonton di ponsel ku." lanjut Yuni.
Setelah selesai mengintip permainan Darma dan Dina, Yuni pun langsung bergegas masuk ke dalam kamar nya.
Setelah menutup pintu tanpa menguncinya, Yuni pun menjatuhkan tubuh nya di atas kasur, dan kembali mengingat kejadian yang di lihat nya tadi.
Yuni mulai mengkhayal yang tidak-tidak, saat mengingat punya Darma yang besar dan sangat menggiurkan bagi nya.
Bahkan Yuni juga membayangkan kalau dirinya lah yang ada di posisi Dina saat itu.
"Gimana ya rasa nya kalau di masukkan ke dalam sini?" gumam Yuni sembari terus mengelus bawah perut nya.
Karena sudah tidak tahan dengan khayalan nya sendiri, akhirnya Yuni pun mulai membuka semua pakaian nya dan berbaring telentang di atas kasur milik nya.
Dengan keadaan polos seperti itu, Yuni pun membuka kedua kaki nya dan kembali memberikan sentuhan-sentuhan lembut di bawah perut nya.
Saat sedang asyik-asyiknya menikmati kegiatan nya sendiri, tiba-tiba Darma langsung nyelonong masuk ke dalam kamar Yuni, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Melihat kedatangan Darma yang secara tiba-tiba ke dalam kamar nya, Yuni pun langsung terlonjak kaget dengan mata yang membulat sempurna.
Yuni sangat terkejut saat melihat tubuh Darma yang yang masih berkeringat, dan hanya memakai handuk di pinggang nya. Dan yang lebih membuat mata Yuni mendelik adalah yang menonjol dari balik handuk Darma.
Begitu juga dengan Darma, dia juga tak kalah terkejut melihat tubuh polos Yuni yang sedang berbaring, dengan posisi yang sangat menantang di depan mata nya.
__ADS_1
"Ba-bapak mau ngapain kesini?" tanya Yuni gugup dengan pandangan mata yang terus menatap ke arah handuk Darma.
Tanpa menjawab pertanyaan Yuni, Darma pun langsung mengunci pintu kamar dan mulai mendekati Yuni dengan senyum menyeringai.