
"Kalau punya mamak mu baru beda. Karena mamak mu udah punya anak dua. Trus, dia juga gak merawat diri dan area pribadi nya sendiri." jelas Darma.
"Lihat aja badan sama kaki mamak mu, banyak hitam-hitam bekas koreng nya. Jauh beda dengan badan Ayu, yang mulus kayak jalan tol." lanjut Darma lagi.
Yuni tampak semakin kesal dan jengkel mendengar penuturan Darma. Dia tidak suka jika Darma terus-terusan memuji Ayu di depan nya.
Bahkan yang lebih menjengkelkan lagi, Darma terang-terangan membandingkan tubuh Ayu dengan tubuh ibu nya.
Yuni memanyunkan bibir nya dan memasang wajah cemberut di hadapan Darma. Dia berharap kalau Darma tahu, bahwa dia sedang merajuk dan langsung membujuk nya.
Tapi harapan lain dengan kenyataan. Darma sama sekali tidak menghiraukan raut wajah Yuni. Dia tetap saja memuji-muji Ayu di depan Yuni, hingga membuat wajah Yuni semakin memerah akibat menahan emosi.
"Maka nya bapak gak bisa lepas dari Ayu, karena bapak sangat menyukai tubuh yang bersih dan juga wangi."
"Bahkan sampai bagian yang paling terdalam pun, tidak ada bau sedikit pun." tutur Darma.
Karena sudah tidak sanggup lagi mendengar kata-kata yang terlontar dari mulut Darma, emosi Yuni pun akhirnya pecah dan meluapkan kekesalannya itu kepada Darma.
"Stop! Gak usah ngomongin tentang dia lagi. Lama-lama bisa tambah sakit kuping ku ini, gara-gara mendengar nama dia terus."
Omel Yuni sembari menutup mulut Darma dengan telapak tangan nya. Yuni menatap tajam mata Darma lalu berkata...
"Gak usah muji-muji dia terus di depan ku. Aku paling gak suka itu, paham!" bentak Yuni dengan suara lantang.
Yuni melepaskan tangan nya dari mulut Darma secara kasar, lalu menjatuhkan tubuh nya di atas ranjang dengan kuat.
Hingga membuat ranjang yang sedang mereka duduki itu langsung bergoyang, karena terkena hempasan kuat dari tubuh Yuni.
Melihat kelakuan Yuni, Darma hanya menggeleng-gelengkan kepala nya. Dia semakin bingung dengan sikap Yuni yang semakin hari semakin egois dan keras kepala.
Bukan nya membujuk Yuni yang sedang ngambek di samping nya, Darma malah semakin acuh dan tidak memperdulikan Yuni sama sekali.
Dia malah kembali menceritakan tentang sikap dan perlakuan Ayu, selama tujuh tahun hidup bersama nya.
"Ayu itu sebenarnya orang baik. Dia jadi berubah kasar dan keras seperti itu, juga karena kesalahan bapak." jelas Darma.
"Dulu bapak terlalu mengacuhkan nya, dan bapak sama sekali tidak memperdulikan kebutuhan batin nya."
"Hingga membuat nya mencari kehangatan di luar, karena tidak mendapatkan nya dari bapak." lanjut Darma.
Yuni tidak menghiraukan ucapan Darma. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong menerawang. Karena tidak ada komentar apa pun dari Yuni, Darma pun kembali melanjutkan ceritanya.
"Begitu juga dengan mamak mu. Dulu bapak juga mengacuhkan nya, hingga membuat nya selingkuh dengan laki-laki lain." ujar Darma.
"Tapi bapak gak menyesal sedikit pun, karena sudah menceraikan mamak mu. Karena sikap nya jauh berbeda dengan Ayu."
"Mamak mu terlalu kasar dan egois sejak pertama kami menikah dulu. Dan sikap jelek nya itu berlanjut sampai sekarang."
"Sedangkan Ayu, dia baik dan lembut. Dia selalu melayani kebutuhan bapak dengan sabar dan telaten. Tapi sikap nya itu langsung berubah drastis, setelah kau menjual emas pemberian nya." jelas Darma panjang lebar.
__ADS_1
Yuni yang sedari tadi hanya diam membisu, kini dia kembali duduk dan menatap wajah Darma dengan mata elang nya.
"Kenapa mesti di ungkit-ungkit lagi sih masalah itu? Cerita udah basi pun, masih aja di ceritakan lagi." omel Yuni kesal.
Yuni melipat kedua tangan nya di atas perut dengan raut wajah yang semakin masam. Karena saking masam nya, sampai-sampai jeruk nipis pun kalah di buat nya, hahaha.
"Bukan di ungkit-ungkit, tapi bapak cuma mengingat kan mu aja. Kalau Ayu dulu nya sangat menyayangi mu seperti anak nya sendiri." jelas Darma.
"Dia bahkan sampai rela mengumpulkan hasil jualan nya, hanya untuk membelikan mu perhiasan. Apa kau gak ingat akan semua kebaikan nya selama ini dengan mu?" lanjut Darma.
"Gak, aku gak ingat. Dan gak akan pernah ku ingat lagi." jawab Yuni masih dengan mode keras kepala nya.
Darma hanya tersenyum kecut mendengar penuturan Yuni. Dia tidak menyangka kalau anak yang selama ini di besar kan nya dengan penuh kasih sayang, kini malah bersikap egois dan kasar seperti itu.
Ya, Darma sangat menyayangi Yuni dengan sepenuh hati. Walaupun dia tahu kalau Yuni bukan darah daging nya, tapi dia tetap menyayangi Yuni seperti anak kandung nya sendiri.
"Yun...Yun... Seharusnya nya kau itu bersyukur, punya ibu sambung yang baik seperti Ayu. Bukan malah membenci nya seperti ini."
Tutur Darma kembali menggeleng-gelengkan kepala nya.
"Untuk apa aku harus bersyukur punya ibu tiri kayak dia?" tanya Yuni.
"Dia itu hanya perempuan gila yang mandul dan tukang selingkuh, yang ada malah aku malu punya ibu tiri kayak dia itu." lanjut Yuni lantang.
"Jaga ucapan mu, Yun! Kau gak boleh ngata-ngatain dia seperti itu. Biar bagaimana pun juga dia itu tetap istri bapak, ibu sambung mu. Ingat itu!" bentak Darma dengan suara menggelegar.
Walaupun Ayu sudah mengkhianati nya, tapi hati kecil Darma masih tidak rela jika ada orang yang menghina Ayu, termasuk Dina dan Yuni.
Mendengar bentakan Darma yang cukup kuat, Yuni pun langsung terlonjak kaget di tempat duduk nya. Dia sama sekali tidak menyangka jika Darma akan melakukan hal itu dengan nya.
"Kok bapak malah bentak-bentak Yuni sih?" tanya Yuni dengan mata yang mulai berembun.
"Maka nya kalau ngomong itu di pikir dulu, jangan asal njeplak aja." jawab Darma
"Bapak gak suka kalau kau terus-terusan menghina dan merendahkan Ayu seperti itu, paham!" tambah Darma masih dengan nada tinggi nya.
"Bapak, JAHAT!" pekik Yuni sembari memukul-mukul dada Darma.
"Bapak tega memperlakukan Yuni seperti ini hanya demi membela perempuan gila itu." lanjut Yuni lagi.
Mendapat perlakuan seperti itu dari Yuni, Darma pun langsung menepis tangan Yuni dengan kasar sambil berkata...
"Bapak bukan nya jahat, tapi bapak hanya menasehati mu. Agar kau bisa lebih menghormati orang yang lebih tua dari mu." jelas Darma.
"Bohong, bapak sengaja kan memanas-manasi aku, biar aku menjauh dari bapak. Iya, kan?" tanya Yuni.
Air mata yang tadi nya hanya menggenang di pelupuk mata Yuni, kini berhasil tumpah membasahi pipi kedua pipi nya. Yuni sangat sedih dan terluka karena mendapatkan perlakuan yang cukup kasar dari Darma.
"Bu-bukan gitu maksud bapak, Yun." jawab Darma gugup.
__ADS_1
"Bapak hanya ingin menjadikan mu anak yang baik dan lemah lembut, bukan kasar dan egois kayak gini." tambah Darma.
"Halah, alasan. Bilang aja bapak udah bosan melayani Yuni, trus bapak mau balikan lagi sama perempuan gila itu. Ya kan, ngaku aja deh!" oceh Yuni.
"Jangan salah paham gitu lah, sayang! Bapak gak pernah bosan kok untuk melayani mu. Bapak hanya tidak ingin kau memiliki sikap jelek seperti ini terus." bujuk Darma.
Yuni tidak menjawab ucapan Darma lagi. Dia memalingkan wajah nya ke samping, lalu menghapus air mata nya dengan kasar.
Karena merasa sakit hati dengan ucapan Darma, akhirnya Yuni pun turun dari ranjang dan bergegas memakai pakaian nya.
Setelah itu, Yuni menyampirkan tas di pundak nya dan melangkah keluar dari kamar, tanpa berkata sepatah kata pun pada Darma.
Melihat kepergian Yuni, Darma sama sekali tidak melarang atau bertanya apa pun kepada Yuni. Dia hanya membiarkan nya dan kembali menyalakan rokok nya.
Dengan air mata yang mengalir di kedua pipi nya, Yuni pun bergegas menuruni anak tangga dengan langkah yang tergesa-gesa.
Sampai di lantai dasar, Yuni terus saja melangkah sampai keluar pintu, lalu berdiri di depan gedung hotel.
Yuni celingukan kesana kesini, untuk mencari tukang ojek yang mangkal di sekitaran tempat nya berdiri.
"Ojek, bang!" pekik Yuni sembari melambaikan tangan nya.
"Oke, kak."
Jawab si tukang ojek sembari menyalakan motor nya, dan bergegas menghampiri Yuni.
Sesudah memanggil tukang ojek, Yuni menghapus air mata nya dengan punggung tangan nya. Dia tidak ingin air mata nya di lihat oleh orang lain, termasuk si tukang ojek.
Tak butuh waktu lama, tukang ojek itu pun tiba di depan Yuni. Tanpa pikir panjang lagi, Yuni pun langsung naik ke atas motor, lalu memakai helm yang di berikan si tukang ojek pada nya.
"Tolong antar kan ke perumahan X ya, bang!" ujar Yuni.
"Oke siap, kak." jawab si tukang ojek.
Setelah mengetahui alamat yang dituju, si tukang ojek pun langsung melajukan kendaraan roda dua nya, menuju alamat yang di sebutkan Yuni.
Sedangkan Darma, dia masih saja melamun memikirkan sikap Yuni, sambil terus menghisap rokok yang ada di tangan nya.
"Sikap dan kelakuan ibu mu ternyata menurun pada mu, Yun. Bapak benar-benar kecewa dengan mu." gumam Darma.
"Biarin aja lah dia pergi, nanti kan bakalan balek sendiri kalau dia membutuhkan pelayanan ku."
"Dia pasti gak akan tahan, kalau lama-lama jauh dari ku." lanjut Darma.
"Aku yakin pasti satu jam lagi dia akan kembali ke kamar ini. Trus merengek-rengek minta kepuasan dari ku, hahaha." gelak Darma.
Darma sangat bangga dengan diri nya sendiri, karena merasa di butuhkan oleh Yuni.
Dengan kepercayaan diri yang tinggi, Darma sangat meyakini kalau Yuni pasti akan kembali lagi. Lalu memohon-mohon kepada nya untuk minta pelayanan nya.
__ADS_1