
* Kembali ke Ayu dan Agus *
Baru satu jam terlelap, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel yang cukup memekakkan telinga.
"Ck, siapa sih itu? Ganggu istirahat ku aja, hoam."
Gerutu ku kesal, lalu menguap dan mengucek-ngucek mata yang masih terasa perih akibat mengantuk.
Dengan langkah yang sedikit sempoyongan, aku pun mulai berjalan menuju tas yang terletak di atas meja rias untuk mengambil ponsel. Setelah mendapatkan nya, aku memutar bola mata malas, saat melihat nama yang tertera di layar ponsel ku tersebut.
"Ck, mau ngapain lagi sih demit satu ini? Suka kali mengganggu ketenangan ku, kayak gak ada kerjaan lain aja." gerutu ku lagi.
Dengan terpaksa dan berat hati, akhirnya aku pun menerima panggilan dari suami gila ku tersebut.
Dan ternyata, dia menghubungi ku hanya karena ingin menanyakan obat untuk biduran. Setelah mengetahui siapa yang sedang mengalami penyakit gatal itu, akhirnya aku pun memiliki ide untuk mengerjai mereka.
Aku menjawab pertanyaan itu dengan asal kepada bang Darma. Dan itu berhasil membuat nya emosi, lalu menutup panggilan nya sepihak.
"Hahahaha, sukurin! Emang enak di kibulin. Makan tuh biduran, hahaha." oceh ku sambil terus tertawa ngakak.
Setelah panggilan berakhir, aku kembali merangkak naik ke atas ranjang, dan melanjutkan tidur yang sempat tertunda akibat ulah bang Darma.
Tanpa terasa waktu berjalan begitu cepat. Karena kelelahan akibat pergumulan panas dengan bang Agus tadi, sampai membuat ku ketiduran hingga pagi.
Begitu juga dengan bang Agus, dia juga tampak kelelahan, hingga ketiduran setelah selesai memijat seluruh badan ku.
Aku mulai terjaga dari tidur panjang ku, karena mendengar suara yang cukup berisik, dari luar kamar hotel yang sedang aku huni tersebut.
"Hoamm, udah jam berapa sih ini? Kok udah pada berisik di luar?" gerutu ku sambil menggeliat dan menguap berulang-ulang.
Dengan gerakan sedikit malas, aku berjalan beberapa langkah untuk mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Setelah itu, aku menyalakan benda pipih ku itu untuk melihat jam.
"Lah, udah jam tujuh ternyata. Pantesan aja mereka udah pada berisik." gumam ku sambil terus menatap layar ponsel yang ada di tangan ku.
Sesudah melihat jam, aku mengalihkan pandangan kepada sosok laki-laki botak, yang masih tampak anteng dengan mimpi indah nya.
"Apa si botak gak kerja ya? Kok masih molor aja tuh orang?" batin ku heran.
Karena takut bang Agus akan terlambat pergi bekerja, akhirnya aku berinisiatif untuk membangunkan nya. Aku kembali naik ke atas ranjang, lalu mengguncang-guncang pelan bahu nya.
"Bang, bangun bang, udah siang nih! Hari ini abang kerja gak?" tanya ku.
Setelah beberapa kali guncangan, bang Agus pun mulai membuka mata nya. Dia menggeliat dan mengucek-ngucek mata nya, lalu bertanya...
"Emang udah jam berapa?" tanya bang Agus dengan suara serak khas bangun tidur.
"Udah jam tujuh, botaaak. Emang masuk kerja nya jam berapa?" tanya ku balik.
"Jam delapan." jawab bang Agus.
"Oh, masih sempat lah kalo gitu. Ayo cepetan mandi, siap tu kita langsung keluar!" ujar ku.
"Loh, kok langsung keluar sih? Gak ngambil jatah dulu ya?" tanya bang Agus dengan kening mengkerut.
__ADS_1
"Lain kali aja lah, waktu nya udah mepet tuh." jawab ku.
"Ck, kok lain kali sih. Abang tu mau nya sekarang, bukan lain kali." oceh bang Agus lalu memanyunkan bibir tebal nya.
Aku menghela nafas panjang, ketika mendengar keinginan selingkuhan lima langkah ku itu. Setelah beberapa saat berpikir, akhirnya aku pun menyetujui permintaan nya tersebut.
"Ya udah, tapi jangan lama-lama ya! Kita main nya di kamar mandi aja, biar sekalian mandi." tutur ku.
Setelah mendengar jawaban ku, wajah bang Agus yang tadi nya kusut dan kucel, kini langsung berseri-seri dan menyungging kan senyum manis nya pada ku.
"Yes, akhirnya luluh juga dia, hahaha." ujar bang Agus girang.
"Udah, gak usah pake haha hihi segala. Cepat buruan, nanti abang telat loh pergi kerja nya!" desak ku.
"Oke, sayang ku." balas bang Agus.
Dengan semangat empat lima, bang Agus langsung turun dari ranjang, dan mengangkat tubuh ku ala bridal style ke dalam kamar mandi.
Aku tidak menolak atau pun berontak atas kelakuan nya tersebut. Aku hanya menurut dan melingkarkan kedua tangan ku di leher nya.
Sampai di kamar mandi, bang Agus menurunkan ku secara perlahan. Kemudian menyalakan shower dan menyetel nya dengan suhu hangat.
Dia bawah guyuran air shower, kami berdua kembali memadu kasih dengan berbagai gaya dan posisi. Bang Agus tampak sangat bersemangat, saat memacu gerakan cepat nya. Hingga membuat ku melayang-layang dan semakin tidak terkendali.
Setelah hampir satu jam melampiaskan hasrat nya, akhirnya kami berdua pun mencapai puncak kenikmatan secara bersamaan. Bang Agus menyemburkan lahar hangat nya di dalam milik ku, lalu berkata...
"Waaahh, nikmat nya, say. Abang puas banget rasa nya." ujar bang Agus dengan mata terpejam, dan kepala yang mendongak ke atas.
"Iya sama, aku juga puas banget." balas ku sembari menggigit bibir bawah ku.
Setelah selesai, kami berdua langsung bergegas memakai pakaian, dan bersiap-siap untuk keluar dari kamar hotel tersebut.
"Udah, say?"
Tanya bang Agus sambil memakai sepatu sport nya, dan menyampirkan tas ransel di pundak nya. Aku yang sedang merapikan ranjang pun langsung menoleh, lalu mengangguk kan kepala.
"Udah, ayo kita keluar!" jawab ku.
"Oke, yok!" balas bang Agus.
Setelah mengunci pintu, aku dan bang Agus berjalan menyusuri lorong dengan bergandengan tangan. Kami melewati beberapa kamar yang sedang di bersihkan, oleh cleaning servis hotel tersebut.
Sesampainya di meja resepsionis, bang Agus menyerahkan kunci kamar, dan kembali menggandeng tangan ku untuk menuju ke parkiran.
Setelah sampai di motor masing-masing, bang Agus mengeluarkan dompet nya, dan menyerahkan beberapa lembar uang merah ke tangan ku.
"Nah, ini untuk beli bedak." ujar bang Agus.
"Untuk apa beli bedak? Aku tuh gak pernah pake bedak, tau gak?" balas ku sembari menerima uang pemberian bang Agus.
"Lah, trus pake apa?" tanya bang Agus bingung.
"Pake tepung terigu, hahaha." gelak ku.
__ADS_1
Mendengar jawaban nyeleneh ku, bang Agus pun ikut tertawa terpingkal-pingkal bersama ku.
"Hahaha, edan. Masa iya pake tepung? Pake cat aja sekalian biar awet." oceh bang Agus.
"Eh, bener juga ya. Ide bagus tuh, jadi kan gak perlu keluar uang lagi buat beli tepung, hihihi." balas ku cekikikan.
"Huuuuu, dasar gemblung!" lanjut bang Agus lalu menoyor jidat ku.
Selesai bercanda ria berdua, bang Agus pun pamit untuk pergi bekerja. Dia mengecup kilat kening ku, lalu berucap...
"Abang berangkat kerja dulu ya, say." ujar bang Agus.
"Iya, hati-hati di jalan ya, botak ku." balas ku sembari mencium punggung tangan nya.
"Ya, say. Dirimu juga hati-hati di jalan. Kalau ada apa-apa, cepat hubungi abang!" pesan bang Agus.
"Oke," balas ku.
Selesai berpamitan, aku dan bang Agus mulai menaiki motor masing-masing, dan berlalu pergi meninggalkan parkiran hotel tersebut.
Setiba nya di depan rumah, aku langsung memarkir kan motor di teras, lalu merogoh saku celana untuk mengambil kunci. Setelah mendapatkan nya, aku segera membuka pintu dan melangkah masuk, sambil mengucapkan salam...
"Assalamualaikum, wa'laikum salam." aku menjawab salam ku sendiri.
"Sepi amat nih rumah, udah kayak kuburan aja." gumam ku.
Aku celingukan kesana kemari, memperhatikan setiap sudut ruangan sambil terus melangkah menuju kamar. Sampai di kamar, aku menyimpan tas di dalam lemari pakaian lalu mengunci nya.
Setelah itu, aku mendudukkan diri di tepi ranjang lalu menyalakan rokok. Karena merasa bosan, aku pun memutuskan untuk membuka kios, yang sudah cukup lama tidak aku peduli kan tersebut.
"Dari pada suntuk, mendingan buka kios aja lah. Siapa tau ada rezeki nomplok hari ini." gumam ku.
Setelah mematikan api rokok di dalam asbak, aku segera berjalan keluar dari kamar dengan langkah cepat.
Sesampainya di depan pintu kios, aku segera membuka nya dan mulai membersihkan barang-barang dagangan ku tersebut.
Setelah semua nya bersih dan tertata rapi, aku kembali masuk ke dalam rumah, dan duduk selonjoran di atas sofa panjang. Aku mengambil remote tv lalu menyalakan nya.
Tak lama kemudian, terdengar suara bang Darma mengucapkan salam, dan masuk ke dalam rumah dengan wajah masam nya.
"Assalamualaikum," salam bang Darma lalu mendudukkan dirinya di sofa, yang berada tepat di depan ku.
Aku yang sedang asyik menonton tv pun langsung menoleh, dan menjawab salam nya dengan kening mengkerut.
"Wa'laikum salam," balas ku.
Aku terus saja memperhatikan gerak-gerik bang Darma, yang sedikit terlihat aneh menurut ku. Karena merasa di perhatikan, bang Darma pun mengalihkan pandangan nya pada ku, lalu bertanya...
"Apa tengok-tengok? Gak pernah lihat orang ganteng ya?" ujar bang Darma dengan kepedean tingkat tinggi.
"Idih, ge er banget sih jadi orang." cibir ku ketus.
"Asal kau tau ya, Darma. Mata ku ini masih normal, belum rabun seperti yang kau kira. Jadi aku masih bisa bedain, mana yang ganteng dan mana yang jelek." lanjut ku.
__ADS_1
"Udah, gak usah ngeles lagi lah. Kau pasti terpesona kan dengan kegantengan ku ini? Iya kan, ngaku aja deh?" oceh bang Darma masih dengan mode narsis nya.
"Gak usah kepedean kali jadi orang. Siapa juga juga yang terpesona dengan muka jelek mu itu. Huuuu, sorry la yau!" cibir ku lagi.